
Mendengar perkataan Aran yang terus menghinanya, Ki Braja Hitam langsung menerjang Aran dengan kekuatan penuhnya.
"Heaaa"
Tangannya dalam sekejap menjadi besar dan mengeluarkan api. Ki Braja Hitam adalah pendekar yang sangat menyukai api. Jadi semua jurus dan ilmunya menggunakan element api.
Aran yang melihat jurus yang dikeluarkan oleh Ki Braja hanya tersenyum. Dengan mudahnya ia menghindari pukulan cepat Ki Braja Hitam.
"Hiattt"
Ki Braja Hitam terus melakukan pukulan api kepada Aran.
'Sialan, bocah ini masih lincah bagai belut. Padahal selama ini aku mati-matian berlatih meningkatkan kemampuanku'
Batin Ki Braja yang begitu kesal, karena semua serangannya dapat dengan mudah dihindari oleh Aran.
"Hahaha.. Bambang.. Bambang.. Tidak aku sangka ternyata sekarang ini kemampuanmu sudah meningkat pesat"
Aran yang saat ini sedang menghindari serangan cepat Ki Braja Hitam masih sempat-sempatnya memancing emosi Ki Braja Hitam.
"Bajingaaann! Kau hanya bocah ingusan berani mengomentari kemampuanku"
Ki Braja Hitam tentu saja naik pitam mendengar perkataan Aran. Itu sama saja musuhnya ini meremehkan kemampuannya.
Sekian lama, Ki Braja Hitam terus melakukan serangan cepatnya kepada Aran. Tapi selama itu pula, Aran masih tetap saja bisa menghindarinya.
"Bambang ooh bambang. Jika seperti ini terus, sebaiknya aku pergi saja dari sini. Buang-buang waktu saja bertarung denganmu"
Aran langsung melompat mundur menjauh dari Ki Braja Hitam, sebenarnya ia sengaja memancing seseorang yang terus mengawasinya dari jauh.
Tiba-tiba dari belakangnya ada sebuah bola api besar menyerangnya.
"Araan awass"
Teriak Namora dan Varya.
"Bang!"
Bola api itu menghantam tubuh Aran. Dalam sekejap Aran terjatuh ketanah, dan perlahan-lahan ia berdiri. Akibat serangan kejutan tersebut, kini jubah yang ia pakai sampai banyak yang bolong. Sebenarnya Aran sudah mengetahui adanya serangan bola api yang mengarah padanya, namun ia sengaja terkena bola api itu agar yang menyerangnya mau menunjukkan wujud aslinya.
"Hahaha, mampuss kau bocah cilik"
Ki Braja Hitam tertawa puas melihat Aran terluka.
Tidak lama muncul pria berbaju merah yang tidak lain adalah Ki Braja Merah.
"Kakang"
Ki Braja Hitam memberikan hormatnya kepada Ki Braja Merah.
"Hmm"
Hanya itu jawaban dari Ki Braja Merah.
"Jadi ini bocah cilik yang dulu menghinaku dan berhasil melarikan diri dari seranganku"
Ki Braja Merah kembali berkata, karena selama ini ia mendengar pembicaraan Ki Braja Hitam dan pemuda bertopeng yang tidak lain adalah Aran.
"Benar Kakang, dialah bocah cilik sontoloyo yang dulu pernah menghina kita"
Ki Braja Hitam berkata sambil tersenyum puas. Karena kedatangan Kakak seniornya ini, dia yakin dapat meringkus Aran.
"Lalu siapa para gadis itu"
"Gadis yang berada dijaring adalah Putri Kerajaan Malaya yang memberontak, sementara kedua gadis itu adalah teman dari bocah sontoloyo ini"
Ki Braja Hitam menjawab pertanyaan Kakaknya dengan sopan.
Ki Braja Merah lalu melirik kedua gadis yang tidak lain adalah Varya dan Namora.
"Kedua gadis itu adalah milikku, aku akan menjadikannya gundik. Sementara Putri Kerajaan itu, bisa dijadikan hadiah yang besar kepada Jenderal Tolu dan Jenderal Kanru"
Dengan senyuman mesumnya Ki Braja Merah berkata sambil melirik ke arah Varya dan Namora.
"Siapa yang sudi menjadi istrimu!"
Namora langsung berkata dengan sangat keras. Ia lalu mencoba bergerak menyerang Ki Braja bersaudara, namun tindakannya dihalangi oleh Varya.
Varya langsung memberikan kode kepada Namora untuk tetap tenang, karena ia tau bahwa Aran dari tadi hanyalah berpura-pura. Sudah cukup lama ia menjadi pekayan Aran, jadi ia sangat mengetahui karakteristik Tuannya ini. Walau Varya dan Namora sering bertengkar, tapi dalam keadaan ini mereka sama-sama saling memahami.
"Kenapa? apa kalian mau melawan kami hah! Liat temanmu itu yang sekarang babak belur"
Ki Braja Hitam berkata sambil tertawa dengan sangat bangga.
Aran yang dari tadi berdiri, terus saja berpura-pura merasa kesakitan.
"Hei bocah cilik, aku sengaja mengurangi tenagaku untuk menyerangmu tadi. Sekarang cepat kamu memohon ampun kepada kami dengan berlutut. Setelah itu kamu potong lidah busukmu. Dengan begitu, aku akan membiarkanmu hidup"
Ki Braja Merah berkata kepada Aran sambil mengeluarkan aura membunuh yang kental. Sebenarnya ia sangat ingin menghabisi bocah kurang ajar dihadapannya ini, tapi ia masih menunggu agar bocah ini meminta maaf dulu padanya.
Mendengar perkataan Ki Braja Merah, Aran perlahan-lahan berjalan mendekati kedua Ki Braja bersaudara.
Sambil menangkupkan kedua tangannya Aran berkata "Ki Braja Hitam atau yang biasa saya panggil Bambang Tamvan di seluruh Nusantara. Saya hari ini ingin.."
Belum selesai Aran bicara, terdengar teriakan Ki Braja Hitam.
"Bangsaddd, namaku Ki Braja Hitam, tidak ada yang mengatakan namaku ini Bambang"
Ki Braja Hitam begitu murka kepada Aran, ia ingin bergerak menghajar bocah kurang ajar dihadapannya ini tapi dihalangi oleh Ki Braja Merah.
Berkata Ki Braja Merah dengan tatapan pembunuh.
Aran lalu berdiri dan menatap ke arah kedua Ki Braja "Berani kalian menyentuh mereka bedua, maka saat itu juga kalian mati"
Kini giliran Aran yang menatap kedua Ki Braja dengan tatapn membunuh. Siapapun yang berani mengusik orang-orang terdekatnya, hanya ada dua pilihan. Mati atau Cacat.
"Varya, Namora selamatkan gadis itu. Biar aku membereskan kedua cecunguk bodoh ini"
Berkata Aran sambil melirik ke arah para gadis.
"Baik"
Varya dan Namora menjawab dengan sangat hormat.
"Hahaha, mau jadi sok jagoan rupanya bocah cilik ini"
Berkata Ki Braja Hitam. Dalam sekejap ia langsung bergerak cepat ke arah Aran.
"Terimalah ajian saktiku. Ajian Pelebur Raga!"
Ki Braja menggunakan ajian terkuatnya untuk menyerang Aran. Dari tangannya keluar api berbentuk tengkorak yang langsung menerjang ke arah Aran.
"Ajian Karang Wesi"
Kali ini Aran menggunakan ajiannya tidak dengan kekuatan penuh.
Bang!
Benturan kedua ajian langsung menimbulkan ledakan hebat.
Efek ledakan itu mengarah kepada Ki Braja Hitam, karena ajiannya di tekan oleh ajian Aran.
Ki Braja Hitam terlempar jauh kebelakang tapi sebelum menyentuh pohon besar dibelakangnya, Ki Braja Merah langsung menangkap tubuhnya dan sedikit mengalirkan tenaga dalamnya kedalam tubuh Ki Braja Hitam.
"Uhukk"
Ki Braja Hitam memuntahkan seteguk darah karena tekanan tenaga dalam yang menghantam tubuhnya.
"Bagaimana rasanya, pasti sekarang perutmu sangat mual seperti diaduk-aduk"
Aran berkata dengan sangat tenang, membuat Braja bersaudara menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Keparaatt"
Ki Braja Merah yang merasa sangat direndahkan oleh anak kemarin sore ini benar-benar menjadi sangat marah. Ia lalu meletakkan tubuh Ki Braja Hitam ke tanah.
Ki Braja Merah lalu berdiri dan melakukan gerakan tangan.
"Ini adalah ajian tingkat tinggi yang aku dapat dari leluhur makhluk gaib di tanah Nusantara. Ajian Setan Geni!"
Tiba-tiba didepan Ki Braja Merah muncul sesosok makhluk gaib berwarna hitam bertanduk. Dalam sekejap mata, makhluk gaib itu langsung menyatu dengan tubuh Ki Braja Merah.
Setelah makhluk itu menyatu, kini tubuh Ki Braja Merah berubah menjadi seperti setan bertanduk dan mengeluarkan api di kedua tanduknya.
"Aku tau selama ini kamu masih menyimpan kekuatan aslimu. Tapi dihadapan Ajian ini, kamu hanyalah bocah ingusan"
Berkata Ki Braja Merah sambil berjalan perlahan-lahan mendekati Aran. Wujudnya yang berubah menjadi seperti setan benar-benar sangat menakutkan untuk dilihat. Semua yang berada disana sampai merinding melihat penampilan Ki Braja Merah saat ini.
'Makhluk apa ini, wujudnya sangat menyeramkan' Batin para gadis yang berada disana.
Sementara Ki Braja Hitam yang sudah pernah melihat wujud Ki Braja Merah seperti ini hanya tersenyum bangga. Ia yakin dengan wujud Kakangnya sekarang ini, sangat sedikit makhluk yang dapat menandinginya.
*Aran\, ini adalah ilmu yang ia dapat dengan bersekutu kepada makhluk gaib dengan memberikan persembahan setiap selesai menggunakan ajian ini. Tapi makhluk gaib ini hanyalah kelas rendahan. Manusia ini tidak sadar\, bahwa ia diperalat oleh makhluk gaib tersebut. Kamu yang pernah ke dunia jin pasti mengetahui siapa makhluk gaib tersebut*
Berkata Raja Naga di alam kesadaran Aran.
*Saya memang merasakan aura yang familiar dari makhluk itu*
Berkata Aran yang memang merasakan aura yang sangat ia kenal.
*Kamu sangat mengenalnya, karena makhluk itu tidak lain adalah pelarian dari Sekte Tengkorak Hitam"
Jawaban Raja Naga membuat Aran mengeluarkan aura membunuh dari tubuhnya.
\~**Note**\~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt