Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kebersamaan



Aran kembali terbang bersama Berliana, ia mengajak Berliana berkeliling sebentar menikmati keindahan negeri ini.


Tidak terasa mereka sudah cukup lama terbang, Aran memutuskan untuk membawa Berliana kembali ke rumahnya.


"Kita akan kembali ke rumahku"


Berliana juga menyetujui saran Aran. Dengan cepat mereka sudah berada di atas kediaman Aran dan langsung mendarat di halaman.


Varya dan Lingga yang merasakan aura kuat menghampiri mereka segera keluar dari rumah. Ternyata mereka melihat Aran dan Berliana sudah berada dihalaman. Dari yang mereka lihat sepertinya Aran dan Berliana sudah baikan. Lingga dan Varya hanya saling lirik melihatnya.


Aran bersama Berliana berjalan mendekati Lingga dan Varya.


"Aran"


"Tuan"


Lingga dan Varya memberi salam kepada Aran.


Aran menjawabnya dengan menganggukkan kepala dan mengajak mereka semua untuk masuk kedalam rumah.


Karena kali ini sudah suasana antara kedua gadis sudah membaik, Aran kemudian mulai membicarakan mengenai beberapa hal kepada Berliana dan Lingga.


"Berliana, bagaimana keadaaan Kanto dan gerakan apa yang kelompok mereka lakukan"


"Baik Mahapatih"


Aran langsung memotong perkataan Berliana.


"Mulai sekarang, jika kita sedang bersama seperti ini panggil nama asliku saja"


Mereka semua lalu menganggukkan kepalanya.


"Berliana lanjutkan"


Berliana lalu melanjutkan perkataannya. Ia mulai menceritakan bahwa Kanto mash berada di ruang tahanan rahasia. Ia juga bercerita bahwa Fraksi Merah mulai membantu mencari keberadaan anak Pejabat Kehakiman yang sudah hilang berhari-hari. Mereka juga sempat meminta masuk kedalam markas URC untuk memeriksa ruang tahanan mereka. Namun hal itu ditolak oleh Berliana, karena URC tidak berada dibawah Menteri Kehakiman, melainkan berada di bawah kendali Mahapatih. Bahkan sempat terjadi adu mulut diantara mereka semua.


"Berani sekali mereka mengusik orang-orangku"


Aran berkata sambil tersenyum dingin.


"Kumbang, Putih keluarlah, gunakan wujud bayangan kalian dan laporkan hasil pemeriksaan kalian juga"


"Siap Tuan"


Kumbang dan Putih langsung keluar dari udara kosong dalam bentuk bayangan hitam.


Mereka yang bersama Aran sudah tidak kaget lagi dengan kedatangan Kumbang dan Putih.


"Laporkan hasil penyelidikan kalian"


"Baik Tuan"


Kumbang dan Putih mulai menceritakan hasil penyelidikan mereka.


Hasilnya sesuai dengan prediksi Aran, bahwa Fraksi Merah memang ingin menggulingkan kerajaan. Namun mereka menundanya karena keberadaan Mahapatih.


"Huhuhu, sangat menarik"


Aran diam-diam tertawa pelan.


"Kumbang Putih, pergilah jemput Ze. Setelah itu, teruskan penyelidikan kalian"


"Baik Tuan. Kami undur diri"


Dalam sekejap bayangan Kumbang dan Putih menghilang dari pandangan mereka semua.


"Kalian semua tunggu disini sebentar, aku akan menyiapkan makanan"


Aran lalu berdiri dan memegang poci teh.


"Sambil menunggu, kalian bisa meminum.."


Belum selesai ia berkata, ia merasa bahwa poci teh ini sangat ringan yang menandakan teh tersebut sudah habis.


"Kalian berdua menghabiskannya?"


Lingga dan Varya hanya tersenyum sambil tertunduk malu. Aran hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya dan membawa teko teh tersebut kedalam.


Berliana kembali menginjak kaki Lingga dan memelototinya yang menyebabkan Lingga jadi salah tingkah.


"Tuan, biar saya bantu"


Varya lalu berdiri, melihat Varya berdiri Berliana juga ikut berdiri.


"Aku juga akan membantumu"


Lingga langsung terdiam melihat kedua gadis dihadapannya ini.


'Gawat ini' gumamnya dalam hati.


Beruntung Aran langsung berfikir dengan cepat melihat situasi dihadapannya ini.


"Emm, kalian berdua tidak perlu membantuku. Dalam hal memasak dan membuat hidangan, aku memiliki rahasia. Jadi mohon hargai privasiku"


Berliana dan Varya saling menatap dan kembali duduk di tempat mereka masing-masing.


Didapur, Aran dengan cepat memasaka berbagai macam masakan. Ia mengambil ikan ekor merah dari alam gioknya, serta berbagai daging hasil buruannya.


Ia juga mencampurkan masakannya dengan wayn yang membuat aroma masakannya menjadi luar biasa harum.


Aroma masakan Aran terus menyebar sampai ke indera penciuman Lingga, Berliana dan Varya.


"Apa yang Aran siapkan, baunya sampai begitu harum. Perutku langsung berontak seperti ini"


Lingga tanpa sadar berkata pelan yang dapat didengar oleh yang lainnya.


Aran memang memasak banyak makanan untuk teman-temannya ini.


"Akhirnya selesai"


Aran lalu membawa makanan tersebut menuju ruang tengah dimana teman-temannya berada.


Mereka semua melihat Aran membawa banyak makanan dengan aroma yang sangat harum. Melihat Aran mulai meletakkan makanan tersebut, mereka lalu ikut membantunya dalam menata semua makanan ini.


"Ayo semuanya mari kita makan"


Setelah semua hidangan telah siap, Aran memimpin mereka semua untuk mulai makan.


"Mari makan"


Tanpa menunggu lama mereka lalu mulai memakan berbagai macam hidangan yang telah Aran persiapkan.


Dari semua makanan, hanya sup ikan ekor merah saja yang membuat mereka semua begitu bersemangat.


Semua teman Aran langsung berebutan untuk memakan sup ikan tersebut.


"Aran, ini ikan apa. Dalam seumur hidupku baru kali ini aku memakan ikan senikmat ini"


Berliana dan Varya juga ikut menambahkan perkataan Lingga.


"Apa yang dikatakan Senior memang benar. Baru kali ini aku memakan ikan selezat ini. Rasanya benar-benar sulit aku ungkapkan"


Varya menganggukkan kepalanya mendengar Berliana.


"Benar Tuan, aku benar-benar tidak menyesal menjadi pelayanmu jika bisa terus memakan ini setiap harinya"


Lingga lalu ikut menambahkan kembali.


"Aran, jika saja aku wanita. Mungkin aku tidak akan pernah melepaskanmu"


Mendengar perkataan Lingga, membuat Aran langsung mual.


"Senior, tolong jangan berkata yang tidak-tidak. Aku bisa muntah mendengarnya"


"Dasar tak tau malu" Berliana kembali menginjak kaki Lingga yang menyebabkan Lingga teriak pelan.


Mereka semua kembali tertawa menikmati semua hidangan. Aran juga mengeluarkan minuman wayn dengan kadar yang sangat rendah, membuat suasana semakin semarak dengan kebahagiaan.


Setelah acara makan selesai. Berliana dan Varya memutuskan untuk mencuci piring dan gelas. Sementara Lingga dan Aran mengobrol bersama di halaman rumah.


Tidak lama terdengar suara langkah prajurit.


"Lapor Mahapatih, didepan ada pengirim pesan yang mengantarkan surat. Katanya surat ini sangat penting"


Aran lalu mengambil surat itu dan membacanya bersama Lingga.


"Para anggota Fraksi Merah sudah memasuki markas URC"


"Lancang"


Lingga begitu marah melihat surat tersebut.


 


~Note~


Hello pembaca setia Novel Pendekar Nusantara.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt