
Aran sama sekali tidak mengetahui bahwa Kim Taeyang dan Rumbun dalam bahaya. Ia kini tengah berlatih di alam bintang untuk meningkatkan kekuatannya segera. Karena ia berfikir jika ia kuat maka ia bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Kini ia tengah kembali membuat berbagai macam pil. Selain itu ia juga membuat wayn dan kopi svarga. Aran berfikir ia harus mulai kembali memasok kopi dan wayn ini ke Pasifik Inn.
“Hmm, bagaimana kabar Manager Xi ya. Karena aku sudah cukup lama tidak memasok ke tempatnya”
Kemudian Aran berdiri dan meluruskan badannya.
“Kumbang, Putih, Birong. Kemari”
Mendengar panggilan Aran, dalam hitungan detik ketiga pengikut Aran datang.
“Tuanku”
Jawab mereka bertiga.
”Mari kita berlatih bersama”
“Baik Tuan” Mereka bertiga kembali menjawabnya berbarengan.
Latihan mereka bertiga kali ini lebih intens dari sebelumnya. Mereka terus berlatih sampai tubuh mereka tidak bisa bergerak lagi. Bahkan, Aran sampai harus merangkak untuk bergerak karena tubuhnya sudah tidak memiliki energy.
“Apa yang bocah gila ini lakukan”
Kata Raja Naga melihat kelakuan Aran yang membuang energinya sampai batas terbawah.
\~\~\~\~\~
Beberapa hari kemudian di Akademi.
Banyak orang yang masih membicarakan pertarungan Kim Taeyang dan Rumbun melawan kelompok Baron Alan. Kabar terbaru yang mereka dengar bahwa Ta Kong sudah menjadi orang cacat selamanya. Dia sudah menjadi rakyat biasa yang tidak memiliki tenaga dalam sama sekali. Banyak orang yang sangat menyayangkan kejadian ini.
Sementara markas Ganendra terlihat sepi dan bahkan banyak yang mencorat-coret dinding markas tersebut. Serta terlihat banyak kotoran hewan disekitarnya. Hal ini dilakukan oleh mereka yang membenci kelompok Ganendra, terutama kelompok Ta Kong.
Beberapa yang melewati markas tersebut hanya bisa menghela nafas. Tapi banyak juga yang mengucapkan sumpah serapah.
Kebetulan Lady Octavia baru keluar dari latihan tertutupnya. Dari bawahannya ia mendengar bahwa telah terjadi pertarungan antara Kim Taeyang dan Rumbun melawan kelompok Baron Alan. Lady mendengar bahwa pertarungan itu menyebabkan kerugian di kedua belah pihak. Bahkan sampai sekarang Kim Taeyang dan Rumbun tidak diketahui keberadaannya.
“Baron Alan!”
Lady Octavia yang mendengarnya langsung bergerak ke markas Ganendra. Tidak butuh waktu lama baginya untuk ia sudah sampai di markas Ganendra.
“Siapa yang berani kurang ajar merusak markas ini. Jika Aran tau, mereka semua akan habis”
Ucapan Lady Octavia dapat didengar oleh banyak orang termasuk mereka yang membenci Ganendra.
Diantaranya ada pengikut Baron Alan yang segera melaporkan hal itu kepada atasannya. Baron Alan yang mendengar kabar itu segera ke tempat Lady Octavia berada.
“Lady, sangat disayangkan bahwa kamu sangat peduli pada sampah macam mereka. Lebih baik kamu datang kepadaku daripada berteman dengan kelompok kampoeng itu”
Kata Baron Alan dari tengah kerumunan. Mereka yang mendengar Baron Alan berkata segera memberikannya jalan dengan menggeser tubuh mereka. Dengan berjalan perlahan, Baron Alan mendekati Lady Octavia.
“Baron Alan, jaga bicaramu!”
Lady Octavia adalah seorang putri dari kerajaan besar, tentu saja ia tidak takut dengan seorang Baron. Di kerajaannya, ada ratusan Baron yang melayaninya. Apalah arti Baron Alan dihadapannya.
Mata Lady Octavia sangat dingin menatap Baron Alan. Karena ia sendiri sudah mendengar cerita dari bawahannya terkait kejadian yang menimpa Ganendra.
“Mohon maaf Lady, tapi memang kenyataannya bahwa mereka hanyalah sekelompok orang kampoeng yang berbeda dengan kita. Tidak sepatutnya mereka bergaul dengan kita”
Meski Baron Alan berbicara panjang lebar, namun Lady Octavia tetap diam. Ia malah tidak mendengarkan perkataan Baron Alan sama sekali. Ia kini tengah memikirkan keberadaan teman-temannya.
Lalu Lady Octavia teringat bahwa mereka memiliki ruang rahasia, hanya saja Lady tidak pernah ke tempat itu. Hanya Namora dan Srikandi yang mengetahuinya.
*Sial Namora dan Srikandi sedang latihan tertutup*
*Sementara Varya sudah sangat lama ia pergi menemui gurunya*
Batin Lady Octavia.
*Xiao Ling*
Tiba-tiba ia kepikiran dengan Xiao Ling. *Aku harus segera mencarinya* Tanpa pikir panjang Lady segera berlari untuk mencari Xiao Ling.
Sebelum jauh ia berteriak “Mereka yang melukai teman-teman Aran berhati-hatilah. Karena balasan Aran sangatlah kejam”
Lady Octavia hanyalah berkata untuk memberi mereka peringatan, selebihnya ia tidak peduli pada nasib mereka.
“Huh, siapa pula yang takut pada Aran”
Kata Baron Alan sambil berjalan pergi bersama pengikutnya. Sepeninggal mereka tempat itu kembali sepi, karena semua siswa juga pergi kembali kepada urusannya masing-masing.
Di tempat kediaman kelompok Klan Xiao,
Xiao Jun yang mendengar laporan bahwa kelompok Ganendra dihancurkan hanya menggelengkan kepalanya. Ia baru saja kembali dari misi jadi ia tidak tau detail kejadian tersebut.
Ia baru saja mendengarnya dari pengikutnya bahwa saat kejadian tersebut, Aran tidak ada ditempat. Sepertinya hal ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh para penyerang tersebut.
“Mereka benar-benar membangunkan macan tidur”
“Sebentar lagi akan terjadi badai di akademi ini”
Gumam Xiao Jun.
“Cepat hubungi Xiao Ling, katakan padanya terkait hal ini”
Xiao Jun segera memerintahkan bawahannya untuk segera melaporkan hal ini kepada Xiao Ling. Karena ia tau bahwa Xiao Ling memiliki hubungan dekat dengan Aran.
“Baik Tuan Muda”
Jawab bawahan Xiao Jun yang segera menghilang.
Di tempat Xiao Ling berada, ia baru saja menyelesaikan latihan tertutupnya. Tubuhnya memancarkan aura yang berbeda. Ilmu pedangnya kini meningkat pesat.
Xiao Ling kini tengah melamun sambil memandang danau di tempatnya tinggal.
“Sudah lama aku tidak melihat cowo menyebalkan itu, sedang apa dia kira-kira”
Kadang Xiao Ling memikirkan saat ia bersama dengan Aran di alam jin. Banyak hal yang telah ia lalui bersama dengan Aran. Sejujurnya ia memiliki perasaan terhadap Aran. Ia begitu kesal dengan sikap Aran kepada dirinya.
“Menyebalkan, apa ia tidak pernah sedikitpun memikirkanku”
Xiao Ling kadang begitu kesal jika ingat Aran yang datang ke tempat ini tapi tidak segera mencarinya.
Ketika sedang melamun ia merasakan aura familiar yang mendekati kediamannya. Setiap anggota klan Xiao memiliki aura yang unik sebagai identitas mereka.
Xiao Ling segera pergi keluar dari kediaman dan menunggu siapa kira-kira yang datang. Tidak lama ia melihatnya.
“Salam Nona Muda”
Kata pria itu kepada Xiao Ling dengan sopan.
“Hmm.. ada apa. Kau tau kan ini kediaman pribadiku. Siapapun tidak di ijinkan masuk kesini. Kau harus memiliki alasan yang jelas atau aku akan mematahkan kedua tanganmu”
Kata Xiao Ling kepada pria itu.
Di klan Xiao, Nona muda Xiao Ling memang dikenal sangat judes. Hanya kepada Aran dan teman temannya saja ia selalu bersikap baik.
Bawahan itu langsung berkeringat dingin, karena ia tau betul siapa Nona Muda Xiao ini. Ia pernah melihat beberapa pria dipatahkan kedua tangan dan kakinya hanya karena berani menggodanya dengan mengatakan bahwa Nona Xiao terlihat sangat sehat sehingga sedikit gemuk.
“Ampun Nona Muda, saya disini atas perintah Tuan Muda”
Jawab pemuda itu dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.
“Hmm, katakan cepat apa yang ingin kau sampaikan”
Kata Xiao Ling.
“Nona Muda, saya kesini untuk menyampaikan bahwa kelompok Ganendra telah diserang dan dihancurkan. Rumbun dan Kim Taeyang terluka parah dan tidak diketahui keberadaannya”
Mendengar hal itu, Xiao Ling langsung menatap pemuda itu.
“Apa kau tau siapa yang melakukannya”
Nada bicara Xiao Ling penuh dengan niat membunuh. Bahkan aura membunuhnya sudah memenuhi wilayah ini. Ia tau bahwa Taeyang dan Rumbun sangat dekat dengan Aran. Xiao Ling hanya takut bahwa Aran akan menyalahkannya terkait kejadian yang menimpa Taeyang dan Rumbun.
Pemuda itu ketakutan setengah mati, karena aura yang dipancarkan Xiao Ling sangatlah menusuk membuat ia gemetaran.
“Itu Baron Alan dan kelompoknya, Nona Muda”
Berkata pemuda itu sambil terus menunduk tidak berani menatap Xiao Ling.
“Baron Alan ya”
Xiao Ling benar-benar menyimpan dendam kepada Baron Alan. Dengan wajah sinisnya ia menandai Baron Alan sebagai pria yang akan ia hancurkan.
“Pergi”
Kata Xiao Ling kepada pemuda itu.
Perkataan ini membuat pemuda itu begitu bahagia, ia buru-buru menghilang dari pandangan Xiao Ling daripada ia nantinya terkena pelampiasan kekesalan Nona Muda Xiao ini.
Xiao Ling lalu berjalan keluar rumahnya dan menatap langit sore.
“Beberapa manusia sepertinya sudah bosan melihat matahari terbenam”
~Season 1 novel ini sudah berakhir disini ya~
Alasan saya kenapa tidak pernah update atau lama update sudah saya jelaskan sebelumnya.
**Jadi bagi yang mau marah\, kesel\, murka sampai banting hp\, bahkan sampai tendang tong sampah\, monggo saja** selama tidak merugikan orang lain ya.
Saya hanya bisa meminta maaf karena lama update. Mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya melebihi luasnya samudera.
Untuk season 2 saya tidak tau apakah akan melanjutkan disini atau tidak. Terima kasih banyak semuanya.
See u. Keep Healthy ^^,