
Rombongan Aran bersama Patih Lawana mulai memasuki istana utama, mereka disambut oleh penjaga yang langsung diarahkan ketempat kediaman Raja Muda.
Raja Muda bersama seorang gadis sudah menunggu di depan pintu kediaman.
"Salam Raja Muda"
Aran bersama Patih Lawana memberikan salamnya kepada Raja Muda.
"Salam Mahapatih dan Patih terbaikku"
Raja Muda memberikan salamnya kepada kedua Patih terbaiknya dan juga memberikan salamnya kepada Lingga dan Varya.
"Ah iya, perkenalkan ini adikku namanya Namora"
Raja Muda memperkenalkan adiknya kepada para tamunya. Putri Namora adalah sosok wanita anggun yang selalu menjaga penampilan serta sikapnya. Oleh karena itu, banyak orang yang sangat menyukai kepribadian Putri Namora.
"Salam Mahapatih Asura dan Patih Lawana, serta Nona dan Senior"
Karena Namora hanya mengenal Mahapatih dan Lawana jadi ia menyebut Varya dan Lingga tidak dengan nama.
"Salam Putri Namora"
Setelah perkenalan singkat, Raja Muda mengajak semua tamunya untuk memasuki kediamannya.
Setelah semuanya duduk didalam ruangan, Raja Muda memulai pembicaraannya.
"Aku meminta kalian datang dikarenakan ada hal yang menurutku penting untuk disampaikan.."
Raja Muda lalu meneruskan ceritanya.
Bahwa akan ada seleksi untuk memasuki Akademi Bimasakti. Akademi ini adalah akademi paling bergensi di Benua Tengah. Seleksi masuknya sangat ketat, setiap kerajaan yang berada di Nusantara sudah mengirimkan para wakil mereka. Tinggal Kerajaan Samudera yang belum mengirimkan wakilnya.
Putri Namora adalah salah satu siswa di akademi tersebut, namun ia hanyalah siswa biasa dibandingkan dengan para siswa jenius didataran tengah. Namora bisa memasuki akademi karena adanya seorang master yang membawanya memasuki akademi tersebut.
Kedatangan Namora kesini adalah ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa ksatria Nusantara adalah ksatria hebat. Untuk itu ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya untuk membawa kandidat dari negerinya.
Putri Namora sudah mendengar perihal kehebatan Mahapatih dalam perjalanannya pulang. Jadi ia begitu bersemangat untuk segera kembali dan bertemu dengan Mahapatih.
Varya yang berasal dari dataran tengah tentu saja mengetahui hal tersebut, namun sekte tempatnya mengabdi bermusuhan dengan Akademi Bimasakti.
"Mahapatih, saya mendengar banyak kisah mengenai kehebatanmu. Apakah saya boleh mencoba adu tanding denganmu"
Putri Namora yang sudah sangat penasaran dengan kemampuan Mahapatih jadi tidak sabar untuk menunggu.
"Adik, jangan bersikap tidak sopan kepada Mahapatih"
Raja Muda mengingatkan adiknya untuk bersikap sopan dihadapan Mahapatih.
"Tidak apa-apa, jika kamu memang menginginkannya kenapa tidak"
Aran hanya tersenyum terhadap wanita yang berani menantangnya ini.
Mendengar Mahapatih menerima tantangannya membuat Putri Namora tersenyum senang.
"Kapan kamu maua bertanding denganku"
Tanya Aran pada Putri Namora.
"Jika boleh , saya mau sekarang juga"
Mana mungkin Putri Namora mau menundanya. Jadi ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aran menyetujui permintaan Putri Namora.
Mereka semua lalu keluar menuju halaman rumah yang lumayan luas.
Kini Namora dan Aran sudah saling berhadapan.
"Mahapatih, mari kita mulai"
"Mari, silahkan Putri"
Mengetahui bahwa lawan tandingnya adalah seorang Mahapatih, Namora dari awal berkeinginan untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya.
"Heaaaa"
Namora langsung melesat ke arah Aran dengan cepat. Ia langsung menyerang Mahapatih dengan tendangan cepatnya.
Wuzzshh
Tendangannya hanya beberapa senti dari wajah Aran. Serangan seperti ini bagaikan mainan bagi Aran.
Wuzzhh
Wuzzhh
Serangan demi serangan terus dilancarkan Namora. Tapi Aran terus menghindarinya dengan mudah.
"Hebat, ini adalah serangan fisik tercepatku tapi kau mampu menghindarinya. Aku akan meningkatkan kecepatanku"
"Gerbang Langit Tingkat 3, Buka!"
Tiba-tiba kecepatan Namora menjadi sangat cepat.
'Wow, ternyata ada yang memiliki kecepatan seperti ini disini'
Aran mengagumi kecepatan yang diperlihatkan Namora. Tapi kecepatan segini bagi Aran hanyalah kecepatan biasa.
'Sial, aku masih belum bisa menyentuhnya'
Namora yang merasa dengan tingkat 3 saja pasti bisa menyentuh Mahapatih namun nyatanya hal itu masih terlalu jauh.
"Gerbang Langit Tingkat 5, Buka!"
"Heaaaaa"
Bang!
Wuzzh
Dalam sekejap ia sudah berada dihadapan Mahapatih.
Bang!
Dengan telapak tangannya, Mahapatih menghalau pukulan Namora. Tapi dampak dari bentrokan itu menimbulkan riak energi yang besar.
"Sebenarnya siapa kamu"
Namora tidak percaya serangannya dapat dihalau Mahapatih.
Bang!
Bang!
Serangan demi serangan terus ia lancarkan kepada Mahapatih. Hingga akhirnya ia mundur jauh kebelakang.
"Mahapatih, aku tidak menyangka ternyata kamu sehebat ini. Baiklah, aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku"
"Gerbang Surga Terbukalahh"
Bang!
Aura hijau keluar dari tubuh Namora dengan sangat kental.
"Huhuhu, kamu adalah pendekar tipe kecepatan. Mungkin kamu adalah wanita tercepat yang pernah aku lawan. Untuk itu aku akan menggunakan salah satu ajian terbaikku"
"Ajian Lembu Sekilan, Buka"
Sebenarnya bukan Namora yang lemah, tapi Aran yang sekarang bukanlah Aran yang dulu. Semakin kuat tubuhnya maka semakin kuat juga ilmu kanuragannya. Sementara Namora walaupun memilki kemampuan Gerbang Langit, tapi tubuhnya masih belum sanggup untuk menanggung ilmu sehebat itu.
Kini tubuh Aran terlihat berbayang yang membuat Namora terlihat kagum dengan ilmu yang dimiliki oleh Mahapatih.
"Ilmu yang dimilikinya sungguh menarik"
"Heaaa"
Namora kembali maju menyerang Mahapatih"
Wusshh wussh
Kini kecepatan yang dikeluarkan Namora sangatlah cepat. "Sekarang aku bisa melihat gerakanmu Mahapatih"
"Benarkah"
Aran hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia akui bahwa Namora ini sangatlah hebat. Kini Namora memutari tubuh Aran dengan sangat cepat. Ketika ia melihat Aran memiliki celah, Namora langsung menyerang celah tersebut.
"Kena kau, Jari Penghancur Gunung"
Dari jarak yang sangat dekat Namora yakin ia mengenainya.
Bzztt
Jarinya yang memancarkan warna emas menusuk tubuh Mahapatih dari belakang. Ia merasa begitu senang bisa mengenai Mahapatih. Ilmu jarinya sangatlah hebat karena hal itu ia dapat dari Masternya. Sebenarnya ia tidak ingin menggunakan ilmu ini, karena dampaknya kepada tubuh sangatlah fatal. Tapi ia berfikir bahwa orang seperti Mahapatih tidak akan mati jika terkena ilmu ini, paling hanya harus istirahat beberapa bulan saja.
Tapi ternyata jarinya seperti menembus udara kosong, sosok Mahapatih juga lambat laun menghilang.
"Appaa"
Namora terkejut, ternyata jarinya benar-benar menembus udara kosong.
"Aku dibelakangmu"
Berkata Aran dikuping Namora.
Hal yang dilakukan Aran membuat Namora reflek melompat jauh.
"Bagaimana mungkin kamu bisa menghindarinya"
Namora benar-benar diam menatap ke arah Mahapatih. Ia tidak percaya, bahwa seluruh kemampuannya ini tidak berdaya dihadapan Mahapatih.
Sementara bagi para penonton yang melihat pertarungan Aran dengan Namora benar-benar dibuat terkejut. Walaupun mereka sering melihat Mahapatih bertarung, tapi melihatnya bertarung dari jarak sedekat ini rasanya sangat sulit diungkapkan.
"Kemampuan bertarung yang hebat"
"Ilmu Kanuragannya benar-benar ditingkat ekstrem"
"Putri Namora benar-benar dibuat tidak berdaya"
Berbagai macam komentar terus bermunculan diantara para penonton.
~**Note**~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan
* Follow Author.
* Terakhir, mohon bantu share.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt