
Kelompok Berliana melihat bahwa markas mereka benar-benar sudah dikepung dari berbagai arah. Bahkan setiap jalan yang menuju markas sudah diblokir.
"Benar-benar bosan hidup para jancok sialann ini"
Lingga juga meminta Kumbang untuk mempercepat gerakannya.
Dihadapan mereka kini terlihat para prajurit yang memblokir jalan.
Karena mendengar suara hentakan yang sangat keras, para prajurit lalu melihat ke arah datangnya suara tersebut. Mereka melihat kedatangan dua macan yang sangat besar ke arah menuju ke arah mereka
"I.. itu ma.. macan Mahapatih"
Seorang prajurit berkata dengan terbata-bata. Siapa yang tidak mengenal Macan Mahapatih.
"Minggir kalian, atau mati"
Teriakan Lingga membuat para prajurit langsung melompat mundur ke samping, tanpa ragu sedikitpun memberikan jalan kepada kelompok Berliana.
"Itu benar kedua macan Mahapatih, yang diatas mereka itu Ketua Berliana dan Ketua Lingga. Gawat, rencana kita kali ini pasti gagal"
Para prajurit yang memberikan jalan kepada kelompok Berliana memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dengan adanya kedua macan Mahapatih mereka yakin bahwa rencana ini pasti akan gagal. Mereka lebih menyayangi nyawa mereka karena ada keluarga yang menunggu dirumah.
Roaarr
Roaarr
Auman Putih dan Kumbang membuat semua prajurit menghentikan gerakan mereka.
Mereka semua lalu melirik ke arah sumber suara tersebut. Terlihatlah wujud Putih dan Kumbang berlari menuju markas.
Sepanjang jalan mereka menuju markas, para prajurit tidak ada yang berani menghalangi jalan. Mereka semua tanpa sadar membukakan jalan untuk kelompok Berliana.
Berliana bersama Lingga langsung memasuki pintu gerbang markas.
Didalam mereka melihat banyak pasukan URC yang terluka, beruntungnya tidak ada yang sampai meninggal dunia.
URC adalah pasukan elit, setiap individunya memiliki kemampuan diatas rata-rata prajurit pada umumnya.
Lingga dan Berliana lalu turun dari macan tunggangannya masing-masing.
"Siapa yang bertanggung jawab terhadap penyerangan ini"
Sekilas Berliana melirik ke arah para pejabat di kejauhan yang ditutupi oleh para pengawal pribadi mereka.
Karena semuanya tampak diam, Lingga lalu berteriak "Jawab pertanyaannya atau kalian semua akan dihukum sesuai aturan yang berlaku"
Namun semua diam, tidak ada yang mau menjawab.
"Kurang ajar kalian semua, berani memasuki tempat ini"
Berliana begitu murka. Ia lalu menatap ke arah semua prajurit luar yang bukan anggota URC.
Melihat Berliana, Melati dan Juni segera menghampirinya.
"Kakak"
Kedua wanita itu lalu memberikan hormatnya kepada Berliana.
"Juli, Melati. Ceritakan padaku apa yang terjadi disini"
"Baik Kakak"
Melati dengan dibantu Juli mulai menceritakan semuanya dengan detail.
Para prajurit ini dengan surat penggeledahan dari Kementerian Kehakiman meminta untuk melakukan pemeriksaan dan penggeledahan.
Tentu saja para prajurit URC menolaknya. Namun ternyata semua yang menolak dianggap pengkhianat kerajaan, oleh karena itu Kementrian Kehakiman meminta bantuan dari Kementrian Pertahanan untuk membantunya dalam menangkap semua anggota URC.
"Bajingann busuk"
Lingga begitu marah mendengarnya. Begitupun Berliana, ia lalu menatap ke arah para Pejabat yang bersembunyi dalam perlindungan pengawal pribadi mereka.
"Sialann kalian semua, berani mengatakan kami ini pengkhianat. URC berada dibawah kendali Mahapatih, bukan dibawah kendali Kementrian sialann kalian. Berani melakukan penyerangan seperti ini, sama juga kalian tidak menghormati Mahapatih"
Menteri Kehakiman akhirnya berani buka suara. Ia merasa dengan kemampuan para pengawalnya tidak ada yang perlu ditakutkan.
Ia memang mendengar kabar kemampuan Mahapatih, namun ia merasa kabar itu sengaja dibesar-besarkan.
"Hahahaha. Kau benar-benar berani berkata seperti itu. Sepertinya kau sudah tidak sayang pada nyawamu"
Berliana menertawakan kebodohan Pejabat dihadapannya ini.
Lingga juga hanya menggelengkan kepalanya melihat manusia bodoh ini.
"Kau itu bodohh atau idiot. Berani berkata seperti itu terhadap Mahapatih. Aku saja jika diberikan gunungan emas tidak akan berani. Tapi kamu berkata tanpa rasa takut sedikitpun. Aku berikan hormatku kepadamu atas keberanianmu ini"
Lingga lalu memberikan hormatnya kehadapan Pejabat tersebut.
"Lingga, jaga ucapanmu terhadap Menteri Kehakiman. Kau fikir kami takut kepada kedua macan kalian itu"
Pejabat Kementrian Pertahanan berkata sambil mengarahkan pedangnya ke hadapan Lingga. Pejabat Kementrian Pertahanan bukanlah orang yang ikut berperang. Jadi ia tidak melihat langsung kehebatan Mahapatih dan pengikutnya.
"Kalian semua berani menghina Tuanku, berarti kalian semua sudah siap mati"
Putih berkata sambil memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Hahaha, kami semua tidak takut pada Tuanmu. Kalian hanyalah dua kucing liar, mana mungkin kami takut. Dan juga, Mahapatih panutan kalian tidak ada disini. Semua tentang kehebatan Mahapatih terlalu dibesar-besarkan"
Dengan sombongnya Pejabat Kementerian Pertahanan berkata dan tertawa keras.
Begitupun para pengikutnya beserta sekutunya, mereka tertawa bersama-sama tanpa memperdulikan keberadaan Putih dan Kumbang.
"Huhuhu, Menarik, sangat menarik. Seumur hidup kami, baru kali ini ada manusia rendahan yang tidak takut kepada kami"
Kumbang membalas perkataan mereka sambil tersenyum dingin.
"Tidak usah banyak omong kucing kampung. Kau bersama Mahapatih adalah rakyat rendahan yang menipu Raja demi jabatan. Kami semua tidak takut pada kalian. Seluruh prajurit tangkap mereka semua, jika berani melawan bunuh ditempat. Majuu!"
Pejabat Kementerian Pertahanan memimpin seluruh pasukan untuk menyerang seluruh kelompok Berliana.
Kini kedua kelompok bersiap untuk berperang. Bahkan Menteri Kehakiman menyuruh sebagian pengawal pribadinya untuk ikut membantu Kementerian Pertahanan memerangi kelompok Berliana.
Lingga dan Berliana benar-benar sangat marah menatap para musuhnya ini. Mereka berdua bertekad untuk bertempur habis-habisan ditempat ini.
"Semuanya jangan gentar, kalian semua adalah pasukan elit dibawah Mahapatih. Kalian semua adalah kebanggan Kerajaan ini. Kalian semua yang pernah bertempur bersama Mahapatih, tunjukkan kebanggaan kalian sebagai prajurit elit Unit Reaksi Cepat"
"Demi Kehormatan Mahapatih"
Perkataan Berliana membuat semua pasukannya bersemangat untuk berperang. Moral mereka dalam seketika naik.
"Demi Kehormatan Mahapatih!"
"Demi Kehormatan URC"
Seluruh pasukan berteriak bersama-sama sambil membenturkan senjata mereka, sehingga menimbulkan suara yang begitu keras membakar gelora didada.
~Note~
Hello pembaca setia Novel Pendekar Nusantara.
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan
* Follow Author.
* Terakhir, mohon bantu share.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt