Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Ujian Bakat III



Kepala Sekolah dan para Guru begitu senang dengan kemunculan bakat langit ini. Mereka tidak menyangka akan ada tiga orang yang memiliki bakat langit.


"Sekarang cobalah kamu tarik pedang itu"


Taeyang langsung mencoba apa yang diperintahkan kepadanya.


Saat Taeyang menariknya, ia langsung terlempar karena serangan balik dari pedang bintang.


Kepala Sekolah langsung menangkap Taeyang.


"Maafkan saya Tuan"


Kata Taeyang dengan sangat sopan.


"Tidak apa-apa"


Meski Taeyang tidak berhasil menarik pedang itu, tapi Kepala Sekolah sudah cukup senang dengan kemunculan tiga bakat langit di akademinya.


Kini tinggal Xiao Jun, Fuma dan Aran yang tersisa.


"Silahkan selanjutnya"


Xiao Jun lalu melangkah tenang menuju altar batu.


Dengan tenang ia memegang pedang langit dihadapannya. Sesaat pedang langit itu menyentuh telapak tangan Xiao Jun, energi kuat langsung mengelilinginya. Bahkan angin yang sangat kencang tiba-tiba muncul.


"Ada apa ini"


Semua orang begitu kaget dengan apa yang terjadi di dalam menara.


"Lihat pria di atas altar batu"


Pedang Bintang yang di pegang oleh Xiao Jun berubah warna menjadi ungu.


"Tidaaaakkk, itu bakat surga"


"Ya Tuhan, siapa pemuda itu"


"Bakat surga hanya muncul 1000 tahun sekali"


Kepala Sekolah sampai diam menatap Xiao Jun, ia tidak menyangka akan melihat bakat surga di umurnya sekarang ini.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat ini"


Kepala Sekolah sampai menitihkan air mata karena terharu.


"Kakak Xiao Jun memang yang terbaik"


Gumam Xiao Fei. Ia begitu bangga dengan kekuatan Kakaknya.


"Kakak memang selalu yang terhebat"


Xiao Ling juga berkata pelan.


Varya, Srikandi, Octavia dan Siswa lainnya hanya bisa menatap bengong dengan kejadian yang terjadi dihadapannya.


"Anak muda, coba kamu tarik pedang itu. Saya sangat berharap padamu"


Perkataan Kepala Sekolah dijawab Xiao Jun dengan anggukkan kepalanya. Dengan sungguh-sungguh ia lalu menarik pedang itu.


Bang!


Sama seperti sebelumnya, ia juga terlempar karena serangan balik dari pedang bintang.


Kepala Sekolah langsung menangkapnya dengan cepat.


"Tuan, maaf telah mengecewakanmu"


Kata Xiao Jun kepada Kepala Sekolah.


"Tidak apa-apa, kamu juga sudah berusaha"


Kepala Sekolah sebenarnya sangat kecewa di dalam hatinya. Bakat Surga adalah bakat yang langka, tapi belum bisa menarik pedang itu. Sebenarnya siapa yang bisa menariknya.


Pertanyaan itu terus terngiang di pikirannya.


"Pemuda selanjutnya"


Kepala Sekolah berkata kepada dua pemuda yang tersisa.


Fuma lalu berjalan menghampiri altar batu dan memegang pedang bintang.


Fuma adalah seorang elit ninja dari negeri matahari terbit. Pasukan elit seperti dirinya adalah orang-orang yang tidak banyak bicara. Keinginannya untuk menjadi siswa Akademi Bimasakti sebenarnya ditentang oleh banyak orang di tempat asalnya. Karena Clan ninja Fuma adalah Ninja yang menggunakan seni beladiri kuno dan sangat berbeda dengan ninja lain yang ada di negeri matahari terbit. Mereka semua khawatir, keberadaan Clan mereka akanĀ terekspos dunia luar.


Saat Fuma menyentuh pedang itu, terciptalah luapan energi yang sangat besar mengelilinginya. Sama seperti Xiao Jun energi ini begitu kuat.


"Kali ini apa yang terjadi"


Angin kencang tiba-tiba berhembus menyelimuti altar batu.


"Lihaaatt"


Para siswa lalu melihat pedang bintang yang telah berubah warna menjadi ungu.


"Bakat Surgaaaa"


"Ya Tuhan, apa para siswa baru ini sekumpulan monster"


Semua orang benar-benar kagum dengan bakat para siswa baru.


Sama seperti kepada Xiao Jun, Kepala Sekolah juga meminta Fuma menarik pedang bintang.


Fuma tanpa ragu langsung menarik pedang bintang itu.


Bang!


Fuma juga langsung terlempar terkena serangan balik dari pedang tersebut.


"Gilaaa, bahkan Bakat Surga belum bisa menarik pedang itu"


Fuma yang terlempar juga langsung ditangkap oleh Kepala Sekolah.


"Maaf"


Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.


"Tidak apa-apa"


Kepala Sekolah juga menjawab pelan, ia sudah pasrah bahwa kali ini mungkin tidak ada yang akan berhasil menarik pedang bintang itu.


Kini hanya tinggal Aran yang tersisa. Kepala Sekolah menatap Aran dengan tatapan biasa saja, karena ia dapat merasakan bahwa pria bertopeng ini memiliki energi yang lemah. Padahal Aran sengaja menutupi auranya agar semua orang yang menatapnya akan menganggap dia sebagai pemuda biasa.


"Sekarang tinggal kamu, majulah"


Kepala Sekolah meminta Aran untuk segera menuju altar batu. Kepala Sekolah benar-benar sudah tidak berharap banyak pada siswa terakhir


Berbeda dengan para gadis yang sangat penasaran dengan bakat Aran. Kini, mereka semua menatap Aran dengan serius.


'Jika dia benar Aran, pasti auranya akan sangat besar'


Batin Xiao Ling.


"Hyung-nim, aku yakin kamu yang terbaik"


Taeyang sangat optimis bahwa Aran akan memiliki aura yang tidak kalah dengan mereka semua.


"Huh, aku penasaran bakat apa yang akan diperlihatkannya"


Kata Xiao Fei sambil menatap sinis ke arah Aran.


Aran yang berjalan tenang tanpa ragu memegang pedang bintang itu.


Wussshh


Aura lemah lalu mengitari tubuhnya.


Pedang yang berwarna putih itu lalu berubah warna menjadi kuning.


"Apakah ini sebuah lelucon?"


"Siswa inti memiliki bakat kuning, apa kamu bercanda hah!"


Banyak orang yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Mereka menganggap ini sebuah lelucon.


Tapi ada juga dari para siswa yang langsung tertawa dengan sangat keras.


"Wahahahahaha"


"Bakat sampah"


Bahkan Xiao Fei yang melihat itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ternyata pemuda yang selama ini begitu ia benci hanyalah seonggok sampah.


"Hahahahahhaha, kamu hanyalah sampah kotoran sapi"


Teriak Xiao Fei melampiaskan kekesalannya terhadap Aran. Kini ia merasa batu besar di dalam hatinya sudah hancur lebur. Xiao Fei benar-benar sangat puas melihat Aran yang memiliki bakat kuning.


Tapi, perkataan Xiao Fei ini langsung mendapatkan respon dari semua teman Aran. Mereka tidak suka dengan cara bicara Xiao Fei terhadap Aran.


"Kenapa kalian menatapku hah! Lihatlah teman yang selalu kalian banggakan itu. Ternyata ia hanya seonggok kotoran. Hahaha"


Xiao Fei berkata tanpa penyesalan sama sekali.


"Aku ingin sekali menghajar mulutnya itu, lihat saja nanti"


Kata Taeyang.


Begitupun dengan semua teman Aran, mereka mulai menargetkan Xiao Fei sebagai musuh bersama.


"Hahh, aku tidak menyangka ternyata ia selemah ini"


Kata Kepala Sekolah pelan, ia lalu membalik badannya karena kecewa melihat hasil yang Aran keluarkan.


Tapi ketika ia berbalik, seorang Guru berkata padanya.


"Kepala Sekolah lihatlah pedang itu"


Ia lalu menoleh kembali ke tempat Aran. Dilihatnya pedang bintang yang dipegang oleh Aran mulai berubah warna menjadi hijau.


"Apa!"


"Pedang itu berubah warna"


Mereka yang melihatnya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi di atas altar.


Seiring perubahan warna yang terjadi, hal itu juga menciptakan aura yang mengelilingi Aran semakin kuat.


Pedang itu kini berubah warna kembali.


"Biru Muda"


"Biru Tua"


"Lihat, sepertinya ia berhenti di biru tua"


"Akhirnya ia berhenti, hal ini benar-benar membuatku takut"


Beberapa orang enggan melihat bahwa pria di atas altar dapat naik tingkat terus menerus. Paling tidak mereka ingin diantara sekumpulan siswa baru ini ada yang setingkat dengan mereka.


Pedang itu cukup lama berhenti di biru tua dan tiba-tiba bergetar kembali.


"Lihat, pedang itu mulai berubah warna kembali menjadi merah"


Saat berubah menjadi merah, aura kuat yang menyelimuti Aran semakin besar.


Kepala Sekolah dan para Guru benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini"


Kata seorang Guru.


Bang!


Pedang itu berubah kembali menjadi ungu yang menyebabkan ledakan energi disekeliling Aran.


"Gilaaa, ia juga bakat surga"


"Ya Tuhanku"


Para siswa menatap kagum ke arah Aran.


Semua teman Aran juga ikut kagum melihat Aran yang kini tengah berdiri tenang sambil memegang pedang.


Hanya Xiao Fei yang menatap benci ke arah Aran.


'Sialan, sialannnn'


Umpatnya di dalam hati.


Tidak lama luapan energi itu berhenti sejenak.


"Akhirnya ia berhenti"


"Fuuh, aku hampi mati karena kaget dengan kekuatannya"


Ini semua karena energi yang keluar dari Aran sangatlah besar, membuat mereka yang melihatnya merasakan tekanan yang begitu hebat.


Wussshhh


Wuussshhh


Tiba-tiba terbentuk pusaran energi yang begitu besar disekeliling Aran.


"Ada apa lagi ini"


Bahkan kini terdengar gemuruh besar di langit.


Gemuruh di langit terus menerus terdengar membuat mereka yang berada di dalam menara menjadi panik.


"Apa yang sebenarnya terjadi"


Bukan hanya para siswa, para Guru juga langsung panik dengan fenomena alam yang terjadi saat ini.


"Lihatt pedang bintang itu"


Kini semua orang langsung menatap ke tempat pedang bintang yang tenyata mulai bergetar hebat dan sedikit demi sedikit berubah warna menjadi hitam.


"Hitammm"


Pedang itu berubah menajadi hitam dengan garis-garis emas yang menyelimutinya.


"Bakat Dewa"


Kepala Sekolah sampai terduduk menatap ke arah Aran. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Akhirnya, akhirnya aku dapat melihat bakat dewa"


Berkata Kepala Sekolah sambil menitihkan air mata.


Tapi ternyata kekuatan Aran tidaklah berhenti, malah kini semakin besar dan terus membesar.


Menara tempat mereka semua berkumpul sampai bergoncang hebat bahkan daratan di sekitar akademi juga ikut bergetar.


"Ada apa ini, kenapa tanahnya bergetar"


Semua orang juga ikut merasa panik dengan yang terjadi saat ini. Kemudian dari altar batu muncul sinar yang semakin lama semakin membesar hingga menembus atap menara dan membuat semua orang silau akan cahayanya.


Bang!


Bang!


Tiba-tiba terdengar ledakan yang sangat keras dari altar batu.