Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Aran bergerak II



Aran bersama Xiao bersaudara bergerak dengan sangat cepat menembus hutan terlarang. Saat mereka sedang bergerak cepat, Aran bisa merasakan banyak aura kuat yang berada tidak jauh darinya.


"Berhenti"


Kata Aran.


Xiao Jun yang memimpin jalan langsung berhenti mendengar teriakan Aran, begitu juga dengan Xiao Ling.


"Ada apa Senior?!.."


Tanya Xiao Jun.


"Aku merasakan banyak aura kuat yang sepertinya juga menuju ke tempat tujuan kita"


Xiao Ling dan Xiao Jun langsung saling pandang mendengar perkataan dari Asura.


"Apakah itu dari kelompok manusia atau monster"


Tanya Xiao Jun.


"Entahlah, tapi aku merasa bahwa mereka adalah manusia. Mulai sekarang aku yang akan memimpin jalan, kita akan mengikuti mereka dengan jalur memutar yang lebih cepat"


"Baik"


Jawab Xiao Ling dan Xiao Jun.


Mereka kemudian bergerak kembali dengan di pimpin oleh Aran.


Tapi diam-diam dengan gerak cepatnya Aran merangkul Xiao Ling dan Xiao Jun di tangan kanan dan kirinya.


"Kalian terlalu lambat"


Wuzzzhh.


Dengan Ajian Gerak Langitnya, Aran membawa Xiao bersaudara bergerak dengan sangat cepat.


"Seniorrrrr"


Xiao Ling merasakan tubuhnya seperti di Tarik dengan sangat kuat. Begitu juga dengan Xiao Jun, ia tidak menyangka bahwa Senior Asura memiliki kemampuan seperti ini.


"Kita berhenti di sini"


Kata Aran yang membuat Xiao Jun dan Xiao Ling bernafas lega. Mereka tidak terbiasa dibawa dengan kecepatan seperti itu,membuat mereka mual dan ingin muntah.


"Lihatlah, sebentar lagi mereka akan melewati kita"


Xiao Ling dan Xiao Jun hanya bisa diam mempercayai perkataan Aran. Kini mereka semua berada di atas pohon tinggi dengan daun-daun yang sangat besar.


Tidak lama, mereka semua bisa merasakan tekanan energy yang sangat kuat mendekati mereka.


"Mereka datang"


Benar saja, dalam hitungan detik banyak manusia yang sudah berumur tua bergerak dengan beriringan. Mereka bergerak dengan sangat cepat tanpa memperdulikan sekeliling mereka.


"Itu para Tetua Akademi"


Kata Xiao Jun yang mengenali mereka semua.


"Bisa jadi mereka datang untuk membantu Master Xiao"


Kata Xiao Ling menambahkan.


"Hmm.. Baiklah. Mari kita ikuti mereka semua dengan tetap menjaga jarak"


"Mari Senior"


Dengan tetap dipimpin Aran, mereka mulai bergerak kembali.


Mereka semua mulai memasuki wilayah Jenderal Gerbang Pertama, tempat di mana Xiao Jun pingsan sebelumnya.


Aran melihat para Tetua di depan sudah mulai bertarung. Ia kemudian meminta kedua temannya untuk berhenti.


"Para Tetua sudah mulai bertarung, kita mendekat ke sana pelan-pelan"


Arahan Aran langsung di ikuti oleh Xiao Ling dan Xiao Jun.


Mereka bergerak dengan sangat perlahan. Hingga mereka dapat melihat pertarungan antara para Tetua dengan para Monster. Mereka yang tengah bertarung tidak akan bisa merasakan kedatangan kelompok Aran, karena banyaknya aura yang berkumpul di sini sehingga aura kelompok Aran tersamarkan.


Terlihat para Tetua dan Guru mulai banyak yang terluka. Aran mengenal beberapa dari mereka, yaitu Tetua Mu yang pernah menyeleksinya juga ada Nona Fang yang menjadi mentornya saat penerimaan murid baru.


'Tidak ada Kepala Sekolah'


Batin Aran.


"Senior, sepertinya mereka sudah sangat terpojok bagaimana ini"


Xiao Jun berkata kepada Aran, karena ia juga melihat para Tetua ini sudah mulai kelelahan.


"Sabar, kita tunggu sebentar. Ada seseorang yang sangat kuat sedang mengawasi mereka semua"


Aran dapat merasakan aura yang sangat kuat dari langit di balik awan. Ia yakin bahwa aura kuat itu tidak lain adalah milik Kepala Sekolah.


"Aura kuat? Apakah itu manusia atau monster"


Tanya Xiao Ling.


"Manusia, ia berada di langit. Kalian tidak perlu melihat ke atas, anggap saja kita tidak tau kehadirannya"


"Baik Senior"


Jawab Xiao Ling dan Xiao Jun berbarengan. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Senior bertopeng ini memiliki intuisi yang sangat kuat sehingga dapat mengawasi lingkungan sekitarnya.


"Hahaha, dasar lemah kalian semua. Menghadapi aku saja tidak mampu, bagaimana kalian akan menghadapi para seniorku"


Jenderal Gerbang Pertama terus saja menghina para Tetua akademi.


Mendengar hinaan ini, para Tetua hanya bisa menggertakan gigi mereka.


"Sialann, kenapa monster terkutuk ini begitu kuat"


Tetua Mu berkata sambil meludah ke tanah.


Kini para Tetua benar-benar sudah mulai kelelahan. Tenaga dalam mereka sudah sangat menipis.


"Ayo sini maju lagi. Kenapa manusia sekarang ini begitu lemah berbeda saat jaman perang dulu dimana para manusia begitu kuat. Apa kalian ini generasi sampah"


Monster itu semakin berkata yang sangat merendahkan, membuat wajah para Tetua begitu merah menahan marah.


"Semuanya, serang monster terkutuk ini dengan kekuatan maksimal kalian"


Teriak Tetua Mu.


"Serang!"


"Hahahaha.. dasar sekumpulan sampah daur ulang"


Bang!


Bang!


Dalam hitungan detik para Tetua terlempar kesegala Arah.


"Uaaarrrgghh"


"Arrggghh"


Jerit kesakitan para Tetua terdengar begitu keras. Hampir semua Tetua mengalami patah tulang di beberapa anggota tubuh mereka.


"Dasar Lemah"


Kata Monster itu sambil berjalan mendekati salah satu Tetua.


"Matilah kau"


Monster itu menggunakan kuku jarinya untuk menusuk tubuh salah seorang Tetua yang sudah sangat lemah karena tenaga dalamnya habis.


Sesaat sebelum kuku panjang itu menembus tubuh Tetua, saat itulah ada tangan kuat yang menangkap tangan Monster tersebut.


"Monster terkutuk, berani kau mencoba membunuh saudaraku"


Pria ini tidak lain adalah Kepala Sekolah.


Bang!


Dengan telapak tangannya ia memukul perut Monster itu yang menyebabkannya terlempar jauh.


Meski terlempar tapi monster itu masih dapat berdiri tegak di tanah.


"Cuhh"


"Datang lagi manusia sampah"


Kata Monster itu sambil menatap ke arah Kepala Sekolah.


"Mari kita bertarung kembali"


Monster itu langsung bergerak cepat menuju Kepala Sekolah.


"Huh"


Kepala Sekolah juga maju menerjang Monster tersebut.


Bang!


Bang!


Kedua energy saling beradu. Dengan gerakan cepatnya mereka bertarung tanpa memperdulikan lingkungan sekitar yang terkena efek ledakan aura mereka.


"Tidak aku sangka ada manusia berlevel Raja tingkat 9 di dunia ini"


Dari kedalaman hutan, sesosok makhluk menakutkan berkata dengan sangat dingin. Sejak awal ia sebenarnya sudah mengawasi para manusia yang memasuki wilayahnya. Bahkan kehadiran Aran dan kelompoknya juga ia mengetahui.


Pertarungan antara Kepala Sekolah dan Jenderal Monster itu menimbulkan kekacauan di lingkungan hutan terlarang. Kini terlihat Jenderal Monster itu mulai kesulitan menghadapi serangan Kepala Sekolah.


"Huh, asal kau tau Monster terkutuk. Aku baru mengeluarkan setengah kekuatanku"


Kepala Sekolah yang berada di atas angin kini mulai menindas Jenderal Monster di hadapannya ini.


"Meski aku kalah, tapi aku tidak akan menyerah. Kami para monster tidak takut mati. Asal kamu tau juga, bahwa aku adalah penjaga gerbang pertama. Masih ada tujuh gerbang lagi yang kekuatannya jauh di atas diriku"


Setelah menyelesaikan perkataannya. Monster itu tidak ragu menyerang Kepala Sekolah, meski ia kalah level tapi ia tetap berjuang mati-matian hingga akhirnya Kepala Sekolah memotong kedua tangannya.


Slassshh


Bang!


Setelah memotong kedua tangan monster itu, Kepala Sekolah menghajar monster itu hingga terlempar jauh dan tidak kembali lagi. Karena, Monster yang terlempar itu langsung kehilangan kesadaran terkena pukulan Kepala Sekolah.


Melihat Tuannya kalah, para monster tingkat rendah langsung pergi melarikan diri.


"Kepala Sekolah"


"Ketua"


Para Tetua memanggil Kepala Sekolah berbarengan. Mereka melangkah cepat menghampiri Kepala Sekolah.


"Aku merasakan aura Master Xiao di sana, juga banyak aura lainnya"


Berkata Kepala Sekolah sambil menunjuk ke arah yang ia rasakan.


"Lalu tunggu apa lagi Ketua, kenapa kita tidak segera menyelamatkannya"


"Ia Kepala Sekolah, kenapa kita tidak segera menyelamatkannya"


Para Tetua bersahutan berkata kepada Kepala Sekolah. Mereka semua ingin segera pergi menyelamatkan Master Xiao. Mereka sangat yakin dengan kehadiran Kepala Sekolah maka mereka semua pasti bisa mengalahkan para monster dan menyelamatkan Master Xiao serta yang lainnya.


"Masalahnya, aku merasakan aura yang sangat kuat di dalam sana. Semakin ke dalam, semakin kuat aura tersebut. Aku tidak yakin apakah aku mampu mengalahkan mereka semua."


Kepala Sekolah benar-benar tidak yakin dengan kemampuannya saat ini. Karena ia sangat merasakan betapa kuatnya aura yang berasal dari kedalaman hutan. Ia merasa seperti sedang di awasi oleh makhluk kuat dari dalam sana.


"Aku akan pergi sendiri ke dalam sana, kalian semua tidak perlu ikut"


Perkataan Kepala Sekolah ini tentu saja membuat para Tetua kaget. Mereka tidak akan pernah mau meninggalkan Kepala Sekolah sendirian.


"Kepala Sekolah, kami semua tidak akan pernah membiarkan kamu bertarung sendirian. Lebih baik kami mati dari pada harus melihatmu bertarung sendirian melawan para monster terkutuk itu"


Salah seorang Tetua berkata yang juga di setujui oleh Tetua lainnya.


"Pikirkanlah nasib akademi jika kita semua mati nanti. Siapa yang akan menjaga akademi, siapa yang akan membimbing akademi. Sementara banyak Tetua lainnya serta Wakil Kepala Sekolah yang tengah pergi jauh dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Kalian juga tau bahwa Sekte Bulan Merah selalu mengawasi kita"


Ucapan Kepala Sekolah ini membuat para Tetua dilema. Mereka sangat sadar dengan kondisi akademi saat ini.


"Sekte Bulan Merah keparattt, aku sangat ingin menghancurkan mereka semua"


Kata salah seorang Tetua yang sangat membenci Sekte Bulan Merah, karena sekte itu telah banyak memakan korban dari para siswa akademi.


Di sudut lain dari hutan ini, Aran bersama kelompoknya diam-diam terus mendengarkan pembicaraan para Tetua. Dengan menurunkan aura mereka ke level terendah membuat keberadaan mereka tidak di ketahui oleh para Tetua. Dan juga, karena banyaknya hewan berlevel tinggi di sini menyebabkan aura mereka tersamarkan.


~Note~


Seperti yang saya infokan sebelumnya, saya tidak bisa update rutin lagi. Tapi saya tetap akan update novel ini maksimal tiap 3 hari. Jika kondisi sudah kembali membaik saya akan update rutin kembali.


Terima kasih