Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Antara Hidup & Mati



Setelah perbincangan dengan Clan Kucing, Aran dan mereka semua mulai berlari menuju Makam Dewa Naga Iblis. Perjalanan yang mereka semua lalui lumayan jauh, berbagai rintangan mereka lalui bersama. Melintasi perbukitan yang indah, berenang menyebrangi sungai yang deras. Berkali-kali Clan Kucing hampir terbawa arus, karena Clan Kucing adalah Clan yang tidak pandai berenang. Aran dan Xiao Ling kadang harus menggendong mereka.


Setelah cukup lama mereka berlari akhirnya mereka sampai di sebuah gua yang tertutupi oleh pepohonan yang sangat rindang.


"Akhirnya kita sampai" Xiao Ling berkata kepada mereka semua sambil memandangi sekeliling gua "Ayo masuk"


Mereka lalu masuk bersama. Ketika melewati pintu masuk, mereka merasa seperti ada portal penghubung karena begitu masuk suasana didalam gua berbeda. Sekeliing dinding terdapat obor yang menerangi gua. Obor obor ini tersusun rapi dan jarak antara obor yang satu dengan yang lainnya seperti sudah diatur sama kurang lebih 2 meter.


Mereka semua terus berjalan kedalam gua. Dinding gua nampak lembab dan memancarkan hawa yang sejuk. Ketika sampai di ujung gua ternyata adalah sebuah lorong yang kanan kirinya ada 4 patung yang saling berhadapan.


Walau hanya patung tapi memancarkan aura yang membuat tubuh merasakan perasaan tidak nyaman.


"Hati-hati, patung ini adalah suku kegelapan yang di sihir menjadi patung. Jika tercium bau darah, patung ini akan hidup" Perkataan Aqila membuat Aran dan Xiao Ling mengerutkan kening. Merubah makhluk menjadi batu, kemampuan ini sangatlah menakutkan. Aran dan Xiao Ling menjadi ngeri dengan membayangkannya.


"Senior, saya merasakan bahaya didepan" Berkata Aqila ketika mereka semua sedang berjalan perlahan. Mereka memutuskan berhenti.


Klik


"Ada yang memicu perangkap!!" Teriak Aqila.


Naluri spiritual Aran langsung ditingkatkan ke batas maksimal. Aran merasakan pergerakan sesuatu benda.


"Bahaya, semuanya berdiri dibelakangku!" Teriak Aran.


"Pelindung, Naga Puspa"


Sshuuu


Seketika Aran mengaktifkan pelindung Naga Biru, disaat itu pula ratusan panah menerjang mereka dari berbagai arah.


Sesaat sebelum aura biru membungkus mereka semua, salah satu panah berhasil masuk dan melukai tangan Azumi. Darah langsung keluar dari tangan Azumi. Bau darah memenuhi ruangan, entah mengapa digua ini bau darah terasa sangat menyengat.


Panah panah terus meluncur kearah mereka. Di dalam perlindungan Naga Biru tidak ada lagi panah yang menembus mereka. Sekarang bukan panah yang mereka takutkan, melainkan patung patung yang sekarang mengeluarkan aura menindas.


Seketika mata mereka terbuka.


"Lariii, ikuti saya jangan jauh jauh agar semua terlindung aura biru" Aran mengajak mereka untuk berlari kedalam gua.


Perasaan mencekam menghampiri mereka, entah kenapa patung patung itu mengeluarkan aura yang membuat hati begitu takut. Bulu kuduk mereka langsung berdiri.


Mereka terus masuk kedalam gua, tidak lama serangan panah-panah itu berhenti. Sekarang mereka berada disebuah aula yang besar.


Banyak patung patung raksasa berdiri. Tungku tungku api yang sangat besar tiba tiba menyala.


"Tempat apa ini" Xiao Ling berkata karena tempat ini juga sangat menakutkan.


Banyak mural mural di dinding tentang pengorbanan makhluk yang di masukkan kedalam tungku.


Bruk bruk bruk


Terdengar suara langkah kaki yang berat menuju ke tempat mereka.


"Itu suara patung patung suku kegelapan" Teriak Aqila gemetaran di belakang tubuh Aran.


"Xiao Ling gunakan jubah penghilangmu, sembunyilah bersama para kucing" Aran berkata dengan tenang, walau Aran berusaha berkata tenang tapi mereka semua bisa melihat dari sikap Aran bahwa ia sangat khawatir.


"Aran jubah ini" Xiao Ling berkata ragu-ragu kepada Aran.


"Aku tidak membutuhkannya, hanya dengan melihat kalian semua selamat itu sudah membuatku bahagia, percayalah aku bisa menghadapi mereka"


Aran tidak ingin membuat mereka semua khawatir, jadi dia terus berusaha bersikap tenang.


Xiao Ling lalu membawa para kucing menjauh, mereka bersembunyi di balik patung yang sangat besar dan tinggi.


*Aran\, berhati hatilah. Suku kegelapan memiliki kemampuan yang sangat di luar akal. Mereka mampu menghipnotis dan membawamu selamanya kedalam alam mimpi*


*Raja Naga\, apakah kamu bisa membantuku*


*Aku pasti akan membantumu\, namun saat ini aku hanya bisa memberikan 10% kekuatanku*


*Terima kasih Raja Naga*


Dalam sekejap muncul 4 makhluk yang sangat menakutkan.


Sekarang wujud mereka bukanlah patung ladi, melainkan layaknya seperti makhluk di dunia jin. Tampilan mereka sangat menyeramkan, di kening mereka ada dua tanduk panjang melengkung ke atas, rambut mereka merah dengan mata yang juga merah. Seluruh tubuh mereka ditutupi rambut-rambut halus berwarna hitam. Lengan mereka terdapat tulang yang menonjol keluar dan terlihat sangat tajam.


"Aku mencium bau manusia disini" Salah satu makhluk berkata kepada teman temannya.


"Ya, aku juga merasakannya. Sudah berapa ribu tahun kita tidak makan daging manusia" Makhluk lain menambahkan.


"Aku masih belum bisa melupakan kenikmatan tersebut"


Mereka berempat melangkah lebih dekat kehadapan Aran.


"Walau kamu memakai jubah, kami tau bahwa kamu adalah manusia" Berkata makhluk yang paling senior diantara mereka.


"Aku memang manusia, adakah yang salah dengan hal itu wahai kakek tua buruk rupa" Aran tidak ingin menunjukkan kesopanannya kepada siapapun yang ingin melukainya.


"Anak ini benar benar tidak memiliki sopan santun. Sepertinya aku perlu menyiksamu terlebih dahulu sebelum membunuhmu" Senior suku kegelapan berkata sambil mengeluarkan senjata sabit yang sangat besar.


"Kakak pertama, kamu ingin menyelesaikannya sendiri atau perlu bantuan kami" Kata salah satu makhluk.


"Tidak perlu, menghabisi seorang manusia seperti ini hanya seperti membunuh seekor lalat" Makhluk tertua lalu berjalan pelan kehadapan Aran.


"Manusia, aku akan mengulitimu hidup hidup dan memotong semua tendonmu. Selama proses itu kau akan merasakan penderitaan yang sangat menyakitkan. Aku sangat menyukai menyiksa manusia sebelum memakannya"


Ucapan Makhluk tersebut membuat Aran sedikit takut, sementara Xiao Ling bersama para kucing juga ikut merasakan ketakutan. Keringat dingin mengalir deras ditubuh mereka. Saking takutnya untuk bernafaspun mereka lakukan secara perlahan-lahan.


"Aku tidak bisa membayangkan ada makhluk didunia ini yang begitu jelek wujudnya. Orang tua kalian pasti membuang kalian dari kecil karena wujud kalian yang buruk rupa. Bahkan langitpun enggan melirik wajahmu. Untuk


itu biarlah aku disini mencabut nyawamu dengan tenang" Aran berkata tanpa takut sedikitpun kepada mereka.


"Manusia ini benar benar memiliki mulut yang tajam, aku ingin lihat setelah lidahnya aku potong apakah dia masih bisa berkata sombong"


Makhluk tertua langsung melepaskan auranya. Aura yang keluar membuat suhu didalam gua begitu dingin dan mencekam.


"Mati kau!"