
Ki Braja Merah terus menjerit dengan sangat keras. Bahkan jeritannya lebih keras dibandingkan dengan jeritan dari bangsa jin sebelumnya.
Ki Braja Hitam yang berada sangat dekat dengan Ki Braja Merah benar-benar hampir pingsan melihat penyiksaan yang dilakukan oleh Aran pada Kakak Seniornya. Bahkan celana yang ia gunakan sudah banjir oleh air seninya.
Ki Braja Merah ingin meminta Aran agar mengampuninya namun ia tidak sanggup untuk berkata-kata. Rasa sakit luar biasa yang ia terima sampai membuat seluruh matanya putih dan lidahnya terjulur keluar.
Para gadis yang menonton metode penyiksaan Aran sudah memalingkan wajah mereka dan menutup rapat telinga mereka. Semua yang ada disana berharap suara ini segera menghilang.
Hingga akhirnya suara kesakitan Ki Braja Merah tidak terdengar lagi. Semua yang menutup mata lalu mencoba melihat ke arah Aran.
Kini Aran tengah berdiri tenang menghadap ke arah Ki Braja Hitam. Sementara Ki Braja Merah sudah masuk kedalam botol dan disimpan di alam giok langit.
"Keluarlah kau! atau kau ingin aku menggunakan rantaiku untuk menyeretmu kemari"
Tiba-tiba Aran berkata dengan keras, membuat semua orang kaget dan penasaran akan sosok yang dipanggil oleh Aran.
Lalu dari balik pohon keluar lelaki tua yang menggunakan pakaian berwarna emas. Sosok pria ini tidak lain adalah senior tertua dari Ki Braja bersaudara.
"Tuan, maafkan kelancangan saya"
Pria itu memberikan hormatnya kepada Aran. Ia bersikap seperti itu karena ia tau, bahwa dirinya bukan apa-apa dimata pemuda bertopeng ini.
"Siapa kau, kenapa dari tadi kau bersembunyi"
Aran langsung bertanya kepadanya dengan aura pembunuhan yang masih sangat kental.
"Saya adalah Ki Braja Emas, Kakak pertama dan yang paling tua dari Ki Braja Hitam dan Ki Braja Merah"
Kata Ki Braja Emas menjawab pertanyaan Aran penuh hormat. Ia melihat langsung bagaimana pemuda dihadapannya ini menarik sukma dari Ki Braja Merah. Hal itu membuat tubuhnya bergidik ngeri.
"Apa urusanmu disini, apakah kau juga ingin melawanku"
Perkataan Aran langsung membuat Ki Braja Emas gugup karena takut. Tidak menunda lama, ia langsung menjawab kembali perkataan Aran, karena takut pemuda bertopeng ini marah padanya.
"Tidak, saya tidak ingin melawanmu. Saya hanya mengawasi adik-adik saya saja"
Jawab Ki Braja Emas dengan kening yang sudah berkeringat.
"Jadi kau adalah Kakak pertama mereka, apakah dirimu yang mengajarkan ilmu hitam pada Kakek berbaju merah tadi?"
"Tidak Tuan, saya tidak mengajarkannya. Dia memang selalu berlatih ilmu hitam. Sedangkan kami sebenarnya berlatih ilmu putih tapi kami memang banyak menyimpang dengan melakukan perampokan"
Aran sebenarnya sangat ingin menghabisi semua kelompok Ki Braja bersaudara, tapi hal ini urung ia lakukan.
"Aku akan memberi kalian satu kesempatan. Bertaubatlah sekarang juga atau aku akan menyiksamu melebih siksaan yang aku berikan kepada Kakek setan tadi"
Kata Aran sambil melirik ke arah Ki Braja Hitam dan Emas.
"Kami bersedia, kami bersedia. Mulai hari ini kami akan bertaubat"
Ki Braja Emas dan Ki Braja Hitam berkata sambil berlutut kepada Aran. Mereka begitu takut akan sosok pemuda bertopeng dihadapan mereka ini.
"Hmm, bagus. Aku perintahkan kepada kamu Ki Braja Emas untuk kembali ke markasmu dan beritahukan semua bawahanmu. Mulai hari ini kalian adalah pendekar aliran putih"
"Baik Tuan"
"Sekarang diamlah dan jangan melawan"
Aran lalu mengeluarkan rantai jiwa yang langsung bergerak ke hadapan Ki Braja Emas.
"Tunggu, apa kamu akan menarik sukmaku? seperti yang kamu lakukan pada saudaraku"
Ki Braja Emas takut Aran akan melakukan hal yang sama seperti kepada saudaranya.
"Berisik, jika kamu tidak percaya padaku maka matilah saja"
Aran tidak ingin banyak berkata karena sebenarnya ia sangat ingin membunuh Braja bersaudara ini.
"Baik Tuan saya percaya"
"Maka diamlah"
Aran lalu melanjutkan tindakannya kepada Ki Braja Emas. Rantai miliknya langsung melilit tubuh Ki Braja Emas, sama seperti proses sebelumnya kepada pelayan Aran yang lain. Rantai itu lalu meninggalkan tanda V di jantung Ki Braja Emas.
"Selesai, sekarang pergilah"
Ki Braja Emas begitu senang dengan perintah Aran ini. Ia langsung bergerak secepat kilat meninggalkan tempat itu. Baginya, Aran itu adalah Dewa Kematian.
Kini tinggal Ki Braja Hitam yang berdiam diri dihadapan Aran sambil berlutut.
Aran melirik dingin ke arah Ki Braja Hitam.
"Pilih mati atau menjadi pelayanku"Aran langsung memberikan pilihan kepada Ki Braja Hitam.
"Aku.. aku akan menjadi pelayanmu Tuan"
Tidak menunggu lama, Ki Braja Hitam lebih memilih menjadi pelayan daripada harus mengalami siksaan yang pedih.
~Note~
Minggu ini saya sedang di audit. Jadi mohon maaf jika saya telat update. Karena saya harus menyiapkan banyak data.
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir, mohon bantu share.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt