Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Rehat Sejenak II - Persiapan Menuju Daratan Tengah.



"Kopi svarga? ini pertama kalinya saya mendengar nama ini"


Varya yang lama hidup di daratan tengah saja tidak mengetahui sama sekali tentang kopi svarga.


"Hmm.. Wajar kamu baru pertama kali mendengarnya"


Aran sendiri juga tau ada kopi ini karena diberitahu oleh Raja Naga. Aran lalu melanjutkan kembali perkataannya kepada Varya.


"Ini adalah kopi yang keberadaannya bisa dibilang sudah Punah"


Varya terus mendengarkan perkataan Aran dengan sangat serius. Tidak disangka bahwa Tuannya ini memiliki kopi yang sangat langka.


"Mana Tuan kopinya. Saya penasaran ingin melihatnya"


"Baiklah"


Dalam kedipan mata, kopi svarga yang ada di alam giok langsung ada dihadapan Aran.


Kini dihadapan Aran dan Varya ada botol kaca bening yang berisi bubuk kopi berwarna hitam.


"Apakah ini.."


Varya yang sangat penasaran langsung memegang botol kaca tersebut.


"Boleh saya buka"


"Silahkan"


Jawab Aran.


Ketika Varya membukanya, langsung tercium aroma kopi yang sangat harum.


"Tuannn, apakah saya boleh mencobanya"


"Oke. Tapi kamu jangan kaget melihat proses yang akan aku lakukan"


"Siap Tuan"


Aran lalu memulai proses penyeduhan bubuk kopi. Ia mengeluarkan teko yang tahan panas dari alam gioknya, teko itu sudah berisi air danau merah. Kemudian dengan api hitamnya ia memanaskan air tersebut.


Setelah suhu panasnya dirasa cukup, ia baru memasukkan bubuk kopi svarga. Tidak lupa ia meneteskan setetes wayn murni.


Setelah semua proses selesai terciumlah wangi yang sangat harum.


"Sebentar, saya harus menyegel ruangan ini agar bau kopi ini tidak keluar"


Aran lalu melakukan segel tangan untuk mengeluarkan tenaga dalamnya.


"AJian Naga Langit, sinar penyegel"


Sama seperti sinar pelindung yang biasa Aran gunakan dalam pertarungan, hanya bedanya sinar ini untuk menyegel semua yang ada didalam agar tidak bisa keluar begitupun sebaliknya.


"Selesai, mari minum"


"Mari Tuan"


Varya yang sudah tidak sabar langsung segera meminumnya. Sama seperti Aran waktu pertama kali meminum kopi svarga, Varya juga langsung terdiam dan tatapannya kosong karena jiwanya ikut merasakan kenikmatan kopi ini.


Ternyata bau wangi ini sudah memasuki bagian dalam ruangan tempat mereka menginap.


"Bau wangi ini, entah kenapa hanya mencium baunya saja membuat tubuh saya menjadi segar"


"Iya suamiku, saya juga merasakan hal yang sama"


Mereka berdua lalu melihat anak mereka yang sedang tertidur. Kini mereka melihat anak itu berwajah ceria dan sedikit bercahaya. Ini adalah efek dari mencium bau kopi svarga.


"Suamiku, apakah kita perlu kedepan untuk melihat sebenarnya apa yang sedang penolong kita lakukan sampai bisa mengeluarkan wangi seperti ini"


Sang Suami awalnya ragu, namun ia juga penasaran.


"Baiklah, mari kita berdua ke depan. Mumpung anak kita sedang tidur"


Mereka berdua lalu memutuskan untuk ke ruang depan dimana ada Aran dan Varya.


"Permisi Tuan"


Sang Suami langsung menyapa Aran dengan sopan.


"Ah iya, mari silahkan. Saya tau pasti kalian kesini karena mencium wangi kopi ini. Mari silahkan tidak usah malu-malu"


"Ah hahaha.. terima kasih Tuan. Kami berdua penasaran karena mencium bau yang sangat wangi. Ternyata wangi itu berasal dari kopi"


Sang Suami begitu pemalu untuk menjawab Aran. Mereka berdua lalu mulai duduk bersama Aran dan Varya.


"Oh iya, dari awal kita belum berkenalan. Perkenalkan nama saya Asura dan ini yang disebelah saya namanya Varya"


"Nama saya Enre dan ini istri saya Akko. Saya berasal dari Sulawesi"


"Waah jauh sekali. Bagaiman kalian berdua bisa sampai kemari"


Aran penasaran dengan saudara yang baru ditemuinya ini. Jarak antara Sumatra dan Sulawesi cukup jauh.


"Waahh ceritanya sangat panjang Tuan Muda.."


Sebelum ia berkata kembali, Aran memotongnya.


"Maaf panggil nama saya saja. Nama asli saya Aran tapi disini saya dikenal dengan nama Asura. Oh iya sebelum cerita, lebih baik kita ngopi dulu"


Mendengar kata kopi membuat mereka kembali tertawa, karena itulah yang mereka tunggu.


"Hahaha"


Mereka semua lalu tertawa bahagia bersama-sama. Menikmati kopi itu membuat Enre merasa berada disurga. Pikiran dan jiwanya begitu tentram. Begitupun dengan Akko, bahkan wajahnya terlihat menjadi lebih bersih dan bercahaya.


Enre lalu mulai menceritakan kenapa ia bisa berada di Sumatra.


Awalnya Enre bersama keluarga akan pergi menuju kerabatnya yang berada ditanah Jawa. Namun ditengah jalan, kapal laut yang mereka tumpangi di bajak oleh perompak. Berbulan-bulan kapal mereka diikat mengikuti kapal perompak. Keluarga Enre bersama penumpang kapal yang lain disuruh terus bekerja didalam kapal. Hingga akhirnya kapal mereka dilepaskan ditengah laut, tanpa persediaan makanan.


Berhari-hari mereka tidak makan hingga akhirnya mereka berhasil mendarat di Sumatra. Enre bercerita bahwa masih banyak kerabat mereka yang masih menetap dihutan dekat pesisir pantai. Tapi tinggal dihutan juga, mereka selalu ketakutan karena banyak perampok dan preman yang selalu meminta banyak hal dari mereka.


Enre yang sudah tidak tahan akhirnya memutuskan ke kota untuk mencari bantuan. Tapi di jalan anaknya lapar dan ingin makan, sedangkan ia sudah tidak memiliki uang banyak. Hanya beberapa perak saja yang ia punya.


"Kamu benar-benar pria sejati"


Aran benar-benar bangga dengan Enre. Ia juga tidak menyangka bahwa masih banyak perampok diwilayahnya.


"Saudara Enre, kamu tenang saja. Saya pasti akan membantumu"


Mendengar jawaban kawan barunya membuat Enre begitu senang. Lalu mereka kembali menikmati kopi svarga.


Hingga akhirnya pelayan yang membawakan makanan datang. Karena Aran menempati ruangan khusus maka makanan yang datang juga merupakan makanan-makanan yang mewah dan banyak.


Setelah makanan diletakkan dimeja makan, Aran lalu mengajak semuanya untuk menikmati semua hidangan yang tersedia.


"Saudara Enre, ayo bangunkan anak kamu untuk makan bersama"


"Ah iya, terima kasih"


Karena dirasa semuanya sudah lengkap, Aran lalu meminta semuanya untuk segera menyantap makanan bersama-sama.


Ketika mereka tengah asik makan terdengar suara ketukan dipintu. Aran memutuskan untuk membuka pintu. Ternyata itu adalah pelayan yang ditugaskannya untuk membeli pakaian.


Pelayan itu datang dengan membawa banyak tas yang berisi pakaian.


"Tuan, saya datang membawakan pakaian terbaik. Saya belikan khusus untuk dewasa dan anak-anak"


"Aha, terima kasih. Letakkan saja disini"


Aran lalu mengarahkan pelayan itu untuk meletakkannya disudut ruangan.


"Kalau begitu saya permisi Tuan"


"Baik-baik. Silahkan, terima kasih banyak"


"Sama-sama Tuan"


Setelah itu Aran kembali masuk untuk menikmati makanan bersama-sama. Aran lalu berkata bahwa pakaian untuk Keluarga Enre sudah tersedia. Aran meminta nanti setelah makan mereka bisa mencobanya. Mendapatkan berkah yang begitu banyak dari Aran membuat Enre sampai menitihkan air mata. Ia tidak menyangka akan bertemu pemuda yang begitu baik pada dirinya dan keluarganya.


***


Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Aran, Varya dan Keluarga Enre berjalan bersama-sama. Aran memutuskan untuk mengajak Enre menetap dirumahnya.


Sepanjang jalan setiap kali bertemu prajurit pasti para prajurit memberikan hormatnya kepada Varya. Karena para prajurit itu sudah tidak asing dengan Varya yang merupakan asisten Mahapatih.


Enre dan Istrinya benar-benar bingung melihatnya. Kenapa hampir setiap prajurit memberikan hormatnya kepada Varya tapi tidak kepada Asura. Padahal dari cerita yang mereka dengar semalaman, bahwa Varya adalah pelayan Asura.


Kelompok Aran terus berjalan sampai mendekati kediaman Mahapatih.


"Maaf saudara Asura, bukankah sepanjang jalan ini merupakan wilayah kediaman Mahapatih negeri ini"


Sebelum bertemu Aran, Enre telah lebih dulu menjelajahi kota ini. Jadi ia sebagian besar tau nama-nama orang penting dinegeri ini. Baru memasuki wilayah ini saja, ia sudah dihadang oleh pasukan berpakaian tertutup dan menanyakan dirinya ada keperluan apa. Karena para pasukan itu tau betul siapa saja yang merupakan penduduk asli negeri ini dan mana yang bukan. Jadi wajar sebelumnya Enre dihadang.


Tapi kali ini tidak ada yang berani menghadang mereka. Sepanjang jalan keadaan sangat tenang, membuat Enre semakin penasaran akan sosok sebenarnya dari Asura.


Ketika mereka sampai digerbang masuk terlihat dua penjaga kepercayaan Aran yang sedang berjaga. Para penjaga ini adalah penjaga dari awal Aran menjadi Mahapatih, jadi mereka sangat mengetahui karakter atasan mereka ini.


Mereka tau bahwa yang berjalan bersama Varya pasti Mahapatih, karena mereka sangat mengenal topeng yang digunakan Asura. Terdapat sebuah simbol kecil yang membedakannya dengan topeng lainnya. Dan simbol itu selalu ada disetiap topeng yang Mahapatih gunakan. Lagian juga siapa lagi pria yang mau jalan bersama Varya. Gadis yang begitu tegas dan keras, hanya kepada Aran saja Varya bersikap lemah lembut.


"Salam Mahapatih"


Kedua penjaga itu langsung memberi hormat pada Aran yang sudah berada didekat mereka.


Aran dan Varya hanya tersenyum. Para penjaga langsung membukakan pintu untuk mereka masuk.


Enre dan keluarganya langsung bengong mendengar nama Mahapatih.


"Apa aku tidak salah dengar?"


Enre bertanya kepada Istrinya yang berada disebelahnya.


"Iyah, saya juga mendengar mereka menyebut nama Asura dengan sebutan Mahapatih"


Ketika mereka memasuki kediaman Mahapatih, mereka kaget dengan kemegahan kediaman ini.


"Saudara Enre, aku punya permintaan untuk kamu"


Setelah berada di halaman rumah, Aran bertanya kepada Enre.


"Apa itu saudaraku"


"Tidak lama lagi aku akan pergi meninggalkan negeri ini untuk waktu yang agak lama, apakah kamu bersedia menjaga kediamanku ini. Disini ada banyak kamar, kamu boleh memilih kamar yang kamu inginkan"


Aran dapat melihat karakter pekerja keras dan bertanggung jawab dalam diri Enre, jadi ia memutuskan agar Enre yang menjaga kediamannya.


"A.. apakah kamu serius saudaraku"


Enre benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia jadi semakin penasaran akan jati diri Asura.


"Saya serius saudaraku, kamu pasti penasaran siapa diriku ini. Baiklah saya akan kasih tau padamu. Saya adalah Mahapatih Asura"


Mendengar nama Mahapatih langsung membuat Enre dan Istrinya berlutut. Nama Mahapatih begitu mendominasi dinegeri ini. Mereka yang pendatang saja sudah ratusan kali mendengar cerita tentang Mahapatih.


Sebelum saudaranya berlutut, Aran langsung bergerak cepat untuk menahan mereka berdua melakukan hal tersebut.


"Jangan pernah berlutut seperti itu padaku. Kita adalah saudara sekarang"


Keluarga Enre begitu senang dengan kebaikan hati saudara baru mereka ini. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang menyelamakan mereka ini adalah orang nomer dua tertinggi di negeri ini. Mahapatih Asura.


Aran lalu mulai menjelaskan terkait kediamannya, Aran meminta mereka semua boleh menggunakan ruangan manapun asalkan jangan menggunakan ruangan miliknya. Karena disitu banyak kenangan yang ingin Aran jaga.


Aran juga memanggil Lingga untuk mengenalkan kepadanya terkait saudara baru mereka Enre. Tapi Aran tidak memanggil tiga pengikutnya yang lain, karena ia takut mengganggu waktu latihan mereka.


"Saudara Enre, saya bisa merasakan energi ditubuhmu. Saya yakin kamu adalah pendekar hebat, untuk itu saya meminta tolong padamu agar bersama dengan Senior Lingga bisa menjaga negeri ini"


"Terima kasih Mahapatih atas budi baiknya. Mulai hari ini saya akan bersumpah setia kepadamu"


Enre lalu mengucapkan ikrar untuk setia kepada Mahapatih dan akan menjaga negeri ini dengan nyawanya.


Aran lalu meminta Lingga untuk memberikan jabatan yang sesuai kepada Enre di URC dan juga Aran meminta Lingga untuk mengatur kediaman beberapa kerabat Enre yang masih berada dihutan. Tidak lupa ia meminta Lingga untuk membasmi semua perampok dan preman yang ada disana.


***


Beberapa hari kemudian diatas sebuah gunung.


"Akhirnya, waktu keberangkatan tiba"


Aran berdiri diatas gunung menatap kejauhan. Ia sudah tidak sabar untuk segera berangkat menuju daratan tengah.


~**Note**~


Mohon maaf sebelumnya, mungkin ada beberapa pembaca yang sangat detail melihat penggunaan penulisan kata saya dan aku. Terkait gaya penulisan saya yang menggunakan kata 'aku' dan 'saya' ini dikarenakan kebiasaan penulis dikehidupan nyata.


Jika berbicara dengan teman, saya selalu menggunakan kata 'aku'. Tapi jika berbicara dengan atasan, manager atau orang yang lebih tua, saya selalu menggunakan kata 'saya' karna jika bicara menggunakan kata aku kepada yang lebih tua, saya merasa itu kurang sopan.


Sekali lagi saya mohon maaf dengan hal ini.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt