
Di sebuah hutan, terdengar rintihan suara burung.
Aska dan Aranya berada di posisi masing-masing.
Jarak antara Aska dan Aranya sangat jauh, pandangan hanya terlihat seperti semut.
Aranya mengangkat busur panahnya. Aska menutup mata dan menghela nafas pembuka.
Setelah beberapa ketukan, Aranya melepaskan anak panahnya, melesat cepat dan lurus tepat ke arah Aska.
Aska membuka mata langsung mengelak menghindari anak panah Aranya. Aska langsung berlari sembari menghindari dan menepis serangan anak panahnya.
Aranya melepaskan anak panah begitu cepat, sampai menghujani Aska dari depan. Aska melompat berguling ke pohon untuk bersembunyi dari serangan anak panah Aranya.
Jarak Aska dan Aranya sudah setengah dari jarak Awal. Sekarang Aska lebih sulit untuk mendekat, karena berada pada jarak menguntungkan bagi pemanah.
Ditambah Aranya sangat cepat dalam melepaskan anak panahnya, hanya satu ketukan peranak panah.
Aska mencoba mengintip, guna mengamati keadaan Aranya.
Namun, belum Aska menampakan sebelah matanya dari balik pohon, anak panah Aranya sudah melesat ke arahnya. Aska secara reflek menarik kembali kepalanya.
"Apa-apaan itu? Belum juga keluar, sudah lepas aja... Tapi dilihat dari manapun, perempuan ini memang hebat dalam memanah. Matanya tajam," batin Aska terkaget-kaget.
Aska menarik nafas dan menutup mata. Lalu Aska berlari memutari Aranya. Rencananya, Aska sedikit demi sedikit untuk mendekati Aranya.
Aranya melepaskan anak panahnya tepat di arah Aska sebelum langkah selanjutnya. Serangan tersebut membuat lari dan rencana Aska terhenti.
Secara langsung, Aranya menembakan anak panahnya bertubi-tubi. Aska menghindari dan menepisnya. Serangan tersebut membuat Aska berjalan mundur.
Tidak kuat dengan serangan Aranya, Aska kembali berlari dan melompat ke dalam semak-semak. Namun anak panah Aranya masih saja menghujani Aska. Hingga Aska merangkak mundur.
Anak panah Aranya menacab di tanah mengelilingi Aska. Aranya melepaskan serangan terakhirnya, serangan itu melesat dan tertancab di dekat burung Aska. Membuat Aska ketakutan setengah mati.
"Berhenti... Sudah-sudah. Aku menyerah," teriak Aska yang masih duduk di tanah dan mengangkat tangannya.
Aranya menghampiri Aska, mengacungkan busur panahnya.
"Dan...," ucap Aranya mengintimidasi.
Aska gemetar, takut Aranya melepaskan anak panahnya.
"... Dan kamu pemenangnya," ucap Aska.
Aranya tersenyum, lalu menurunkan busur panahnya. Dan langsung mendekati Aska yang tengah duduk di tanah.
"Sini aku bantu," ucap Aranya tersenyum bahagian dan mengulurkan kedua tangannya.
"Ga usah... Aku bisa sendiri," tolak Aska langsung berdiri kesal, karena dikalahkan.
"Berarti sesuai perjanjian, sekarang aku boleh ikutkan?" tanya Aranya.
"Yasudah... Sana siap-siap," ucap Aska menahan kekesalan.
"Langsung berangkat aja. Dari tadi aku udah siap," ucap Aranya.
***
Aska memulai kembali perjalanannya bersama Aranya Drwya.
Aranya belajar memanah sejak kecil, dilatih oleh Kakeknya sendiri. Aranya belajar memanah karena berkeinginan menjadi seorang pemburu yang handal, dan kemampuannya dapat diakui orang-orang desa dan sekitarnya.
Kemampuan memanahnya bisa dibilang sangat hebat dari kebanyakan orang, ditambah mata dan penglihatannya yang tajam.
***
Sudah cukup jauh Aska dan Aranya berjalan di kedalaman hutan. Namun suasana begitu hening tanpa pembicaraan. Mereka berdua saling membisu.
Aska berjalan di depan, diikuti Aranya dari belakang.
Aranya memulai pembicaraan.
"Tempat tujuanmu sekarang kemana?" tanya Aranya.
Aska sedikit menoleh ke belakang.
"... Padepokan Gagak Hitam," jawab Aska.
"Apa?" ucap Aranya terkejut.
"Kenapa?" tanya Aska penasaran melihat reaksi Aranya.
Aranya berjalan mendekati Aska.
"Dengar ya... Mendingan kita ga usah pergi ke tempat itu," ucap Aranya cemas.
"Memangnya kenapa?" tanya Aska dengan tatapan dingin.
"Di Padepokan Gagak Hitam itu banyak orang sakti, bahkan ilmu kanuragannya tinggi," balas Aranya.
"Terus?" tanya Aska.
"Kita ke sana hanya berdua, itu namanya cari mati. Masalah sama orang-orang kemarin jangan dipikirkan, mungkin mereka hanya membual tentang suruhan orang dari Padepokan Gagak Hitam, mungkin tujuannya untuk membuat kita membalas dendam ke tempat yang salah," ucap Aranya.
Aska berhenti berjalan, lalu mendekati Aranya dan mendekatkan wajahnya.
"Kalau sudah tau hanya membual, kenapa kalian diam saja? tidak melawan," ucap Aska kesal dengan nada tinggi.
Aska kembali berdiri tegak dan memegang keningnya. Lalu kembali berjalan.
Aranya kebingungan melihat reaksi Aska.
"Hei... Kenapa ga bicara? tanya Aranya berjalan cepat ke hadapan Aska.
"Tujuan kamu mengikutiku kemana saja dan kamu sudah setuju dengan apapun yang terjadi dalam perjalanan. Jadi kamu jangan banyak berkomentar," ucap Aska kesal.
"Jadi tugasmu saat sudah sampai di Padepokan Gagak Hitam hanya melindungiku dari belakang dengan anak panahmu... Mengerti!" ucap Aska dengan nada kesal.
"...I.. Iya," jawab Aranya.
"Bagus... Ayo jalan lagi keburu petang," ucap Aska kembali berjalan.
***
Sore hari.
Aska tiba di Padepokan Gagak Hitam.
Dari gerbang Padepokan Gagak Hitam, keluar sebuah rombongan dengan pakaian pendekar beserta dilengkapi senjata.
Aska dan Aranya bersembunyi di balik semak-semak.
"Siapa mereka?" tanya Aska berbisik.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Aranya.
Aska dan Aranya menunggu hingga rombongan tersebut pergi menjauh.
"Mereka sudah pergi... Sekarang apa rencanamu? Tidak mungkinkan kita menyerang secara terang-terangan, apalagi di sana banyak sekali orang," ucap Aranya.
Aska berfikir keras, benar juga apa yang Aranya katakan.
"Aku tidak punya rencana," ucap Aska.
"Hah...," Aranya kebingungan.
"Ayo kita masuk lewat depan," ucap Aska langsung pergi.
"Hei Aska... Yang benar aja? Ga ada dari sananya kita menyerang secara terang-terangan," ucap Aranya mengejar Aska.
Aska menghiraukan ucapan Aranya dan terus berjalan menghampiri gerbang Padepokan Gagak Hitam.
Sembari berjalan, Aska memakai topengnya dan Aranya menutup wajahnya dengan kain syal batik.
Sesampainya di pintu gerbang, tanpa berfikir panjang, Aska langsung menerobos masuk ke dalam Padepokan Gagak Hitam.
Di dalam Padepokan Gagak Hitam, Aska melihat ada banyak murid padepokan yang sedang bersemedi.
Aska dan Aranya berjalan diantara murid-murid padepokan yang sedang bersemedi.
Mereka tidak sadar akan kedatangan Aska, dikarenakan Aska memakai Topeng Nawadewata Penahan Aura. Sedangkan Aranya tidak memiliki hawa energi tenaga dalam, jadi tidak dapat dirasakan hawa keberadaannya. Bahkan para petinggi di Padepokan Gagak Hitampun tidak menyadarinya.
Aska terus masuk ke dalam Padepokan Gagak Hitam. Hingga sampai di ujung padepokan.
Di sana Aska melihat ada sebuah bangunan yang lebih besar dari pada bangunan lainnya.
Aska berfikir, mungkin orang yang mengaku menjadi salah satu pendekar legenda ada di bangunan itu.
Aska mendobrak masuk pintu bangunan tersebut menggunakan Jurus Tapak Sakti, hingga pintu tersebut hancur.
Di dalam bangunan itu ada sebelas orang yang sedang duduk. Sepertinya mereka sedang melakukan pembicaraan. Satu orang duduk paling dalam dan sepuluh orang lainnya berjajar saling berhadapan.
Semua orang di dalam bangunan tersebut terkejut dan langsung menoleh kepada Aska dan Aranya.
"Siapa kau? Tidak pernah ada orang luar yang berani masuk ke dalam padepokan ini," teriak salah satu dari sebupuluh orang di bangunan tersebut yang berjajar.
Orang-orang di bangunan tersebut masih duduk di tempatnya. Seperti tidak terkejut akan kedatangan Aska.
"Aku sedang mencari orang yang bergelar pendekar legenda di padepokan ini," ucap Aska.
Orang-orang di bangunan tersebut terdiam sejenak dan saling menoleh satu sama lain.
"Ada keperluan apa pendekar sakti ini mencari pendekar legenda?" ucap seorang kakek tua yang duduk terpisah di bagian paling dalam.
Kakek tua tersebut memanggil Aska pendekar sakti karena dia tidak dapat merasakan aura hawa energi Aska.
"Bertarunglah denganku," balas Aska.
"Kenapa harus melakukan pertarungan yang tidak berarti? Kemarilah kita mengobrol, sesama pendekar harus saling menyantuni," ucap kakek tua tersebut.
"Kalian menindas para penduduk desa, bahkan mengambil barang-barangnya... Itu tidak bisa dimaafkan. Aku bertanya kepada orang yang mengambil barang dari peduduk desa dan dia berkata suruhan dari pendekar legenda yang berada di Padepokan Gagak Hitam... Apakah itu benar? Jadi bertarunglah denganku, jika aku menang, berhentilah mengganggu orang-orang desa," ucap Aska.
Kakek tua tersebut tersenyum.
"Benar apa yang kamu katakan...," ucap kakek tua itu.
Berdirilah salah satu orang yang duduk berjajar paling ujung dan berjalan ke arah Aska.
"Lawanlah dia... Jika pendekar sakti ini dapat mengalahkannya, aku akan berhenti mengambil barang dari penduduk desa, bahkan aku akan mengembalikan barang yang sudah kami ambil," ucap kakek tua tersebut tersenyum.
Aska berhadapan sangat dekat dengan salah satu orang yang manghampirinya.
Keduanya saling menatap, membuat suasana di ruangan tersebut mencengkam.