
Aran bergerak dengan kecepatan sedang menuju tempat pertarungan Ghafar dan Leluhur Sekte Hantu Hitam.
Karena Ghafar dan Leluhur sudah semakin jauh dari tempat awal pertarungan mereka. Dibeberapa tempat sudah banyak terlihat bekas pertempuran hebat dengan beberapa bagian tanah dan pohon yang hancur berantakan.
"Apa yang mereka lakukan sebenarnya. Benar-beanr kurang kerjaan, sampai mengacak-acak tanah seperti ini"
Aran berhenti sejenak dan melihat sekelilingnya yang benar-benar berantakan. Ia lalu kembali bergerak cepat menuju aura Ghafar.
Tidak lama ia melihat kedua petarung tersebut sudah menjaga jaraknya dan sepertinya mereka berdua juga sudah kelelahan.
Aran langsung mendekat ke tempat Ghafar berdiri.
"Tuan, apa kamu butuh bantuan saya. Kenapa membereskan lansia seperti itu lama sekali, jangan sampai memalukan nama baik saya loh"
Aran teriak dari jarak yang bisa dilihat pandangan mata, tidak dekat dan tidak jauh. Namun cukup baginya untuk tidak terkena dampak serangan mereka.
Ghafar sampai mengusap dadanya mendengar teriakan Aran.
"Bocah sialann, justru kau yang merusak nama baik ku"
Leluhur juga kaget melihat kedatangan Aran dan tiba-tiba berkata seperti itu
'Anak ini tidak biasa, dia bisa sampai kesini berarti para sesepuh sekte sudah dikalahkannya'
"Hei makhluk laknat, siapa yang kau panggil lansia"
Sebenarnya Leluhur ingin segera menghabisi Aran, bisa-bisanya seorang junior menghina dirinya.
Aran hanya tertawa dibalik topengnya "Siapa lagi kalau bukan dirimu Tuan. Tidak perlu malu untuk mengakui kalau kau lansia yang sudah renta"
"Keparatt bosan hidup kau!"
Leluhur meningkatkan kekuatannya kembali dan langsung bergerak ke tempat Aran.
Melihat itu, Ghafar langsung bergerak menghadangnya.
"Lawanmu adalah aku Kakek Tua"
Ghafar menghadang jalan Leluhur yang sudah tinggal beberapa meter dari Aran.
"Sungguh tak tau malu kau Kakek Tua, beraninya menindas junior seperti dirinya"
Ghafar juga kembali meningkatkan kekuatannya, walau ia sudah merasa sangat lelah.
Pertarungan antara dirinya dan Leluhur Sekte benar-benar menguras energi. Tidak disangka bahwa mereka berdua berada dilevel yang benar-benar sama.
"Cih, benar-benar Kakek Tua peyot yang tak tau malu" Gumam Aran pelan.
"Apa kau bilang! bajingann sialan ini benar-benar bosan hidup" Leluhur benar-benar sudah murka terhadap perkataan Aran. Seandainya Ghafar tidak menghalanginya, sudah pasti ia akan menyiksa Aran perlahan-lahan untuk melampiaskan kekesalannya.
Ghafar hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk dan berkata didalam hatinya 'Apa yang salah dengan anak ini, untung saja aku bukan musuhnya'
Leluhur hanya mendesah pelan dihadapan Ghafar.
"Ghafar, kita sudahi saja pertempuran kita ini. Jika kau ingin menghancurkan Sekte Tengkorak Hitam lakukan saja. Walau aku berada ditempat tersembunyi, tapi aku bisa mendengar semua yang kamu katakan sebelumnya. Jika diantara kita berdua mati, maka musuh wilayah lain akan memanfaatkan kesempatan ini"
"Hmm, aku memang sudah merasakan ada beberapa Alam Kaisar Iblis diwilayah ini. Aku tidak tau niatan mereka. Tapi jika kau memang mau mengakhiri ini semua, aku akan menyetujuinya. Tapi jangan ikut campur masalahku dengan Sekte Tengkorak Hitam. Karena aku benar-benar akan meratakan sekte tersebut"
"Tenanglah Ghafar, aku tidak akan menarik ucapanku"
Leluhur dan Ghafar kemudian saling memberi hormat.
Mereka berdua mengambil jarak dan memisahkan diri masing-masing. Namun sebelum pergi menjauh, leluhur mengeluarkan teriakan kepada Aran.
"Makhluk kecil sialann, aku harap kita bisa bertemu lagi"
Aran hanya tertawa mendengarnya "Baik Senior, aku harap kamu masih bisa tetap hidup sampai kita bertemu kembali"
Leluhur hampir jatuh ketanah mendengar perkataan Aran 'apa dia mengharapkan aku mati cepat' Tapi, Leluhur lebih memilih diam daripada diterusakan hanya akan membuat hatinya sakit.
"Aran ayo cepat ikuti aku, jangan menggoda orang tua lagi"
"Hehehe, baik Tuan"
Mereka berdua lalu pergi menuju Sekte Tengkorak Hitam.