Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Istana Kerajaan



Aran bersama kelompoknya pergi menuju istana kerajaan bersama-sama.


Karena istana jaraknya tidak terlalu jauh, mereka memilih untuk berjalan kaki.


Aran kini memakai jubah hitam dengan topeng giok berwana putih yang hanya menutupi bagian mata dan hidung.


Melihat Mahapatih keluar dari kediaman, para penjaga URC yang ditugaskan untuk melindungi kediaman Mahapatih langsung turun dan berjalan mengawal Mahapatih.


Sepanjang perjalanan semua orang memandang ke arah Aran. Melihat rombongan Mahapatih membuat semua orang seperti mematung, seketika suasana dijalan tersebut sunyi. Mereka semua kini menatap ke arah Aran.


Karakter Aran sudah sangat dikenal luas oleh rakyat negeri ini. Tidak ada satupun orang yang berani menyinggungnya.


Mereka semua bahkan reflek memberikan jalan untuk Mahapatih.


Varya yang melihat semua kejadian ini menjadi sangat mengagumi Tuannya, begitupun dengan Lingga.


Semua masyarakat kini berada disisi kanan dan kiri jalan. Bahkan setiap prajurit yang berada di jalan, langsung memberikan hormatnya kepada Mahapatih. Karena semua prajurit negeri ini sangat mengagumi Mahapatih. Mereka semua sangat berharap bisa menjadi bawahan langsung Mahapatih ataupun menjadi bagian dari pasukan URC.


"Mahapatih berjalan kaki"


"Itu Mahapatih"


"Akhirnya aku bisa melihat Dewa Perang lagi"


Berbagai macam obrolan terdengar disana sini. Tapi dari semua obrolan itu, tidak ada yang menjelekkan Mahapatih. Mereka semua sangat mengaguminya. Apalagi mereka dengar bahwa pasukan Mahapatih berhasil menumpas kelompok Patih Kehakiman yang sangat korup.


Aran terus berjalan bersama rombongan hingga akhirnya mereka bisa melihat gerbang istana.


"Kalian semua kembalilah ke pos kalian masing-masing"


Berkata Aran kepada pasukan URC yang mengikutinya.


"Baik Tuan"


Dalam sekejap mereka semua menghilang. Kini tinggal mereka bertiga lagi disini.


Aran lalu mengajak Lingga dan Varya untuk kembali berjalan menuju gerbang istana.


"Berhenti tunjukkan surat ijin kalian. Ini wilayah terbatas"


Para penjaga menghadang Aran dan meminta surat ijin kepadanya.


Para penjaga tersebut adalah pasukan yang belum lama ditempatkan di gerbang kerajaan. Jadi mereka tidak pernah melihat Aran, mereka hanya pernah mendengar ceritanya saja.


"Kami semua tidak memiliki surat ijin, hanya ada surat dari Raja Muda. Tapi surat dari Raja Muda sangat rahasia, kami tidak bisa memperlihatkannya"


Berkata Aran kepada penjaga tersebut.


"Tidak memiliki surat ijin ingin masuk, jangan mimpi kalian. Segala berpura-pura mengenal Raja Muda. Dasar penipu"


Berkata prajurit penjaga tersebut.


Tapi Aran sama sekali tidak marah dengan perkataannya.


Sementara Lingga hanya tersenyum melihat penjaga didepannya ini yang berani berkata kasar pada Mahapatih.


"Hei orang tua, kenapa kau tersenyum. Apa kau menghina kami"


Salah seorang penjaga yang melihat Lingga tersenyum langsung membentaknya.


"Aku hanya tersenyum karena ketidaktahuan kalian. Karena sikap kalian ini, kalian bisa berumur pendek"


Lingga menjawabnya dengan tenang. Ia tidak perlu menanggapi serius perkataan anak muda dihadapannya ini.


"Apa kau menantang kami, kami adalah prajurit penjaga istana kerajaan. Sementara kau, hanya rakyat jelata berani berkata kurang ajar seperti itu"


Salah seorang prajurit kembali menghina kelompok Aran. Jika saja bukan karena peraturan yang melarang mereka bertindak kasar, mungkin mereka semua akan menghajar Lingga.


"Kalian tidak pantas memakai pakaian seperti itu untuk memasuki istana. Apalagi datang kesini berjalan kaki, apa kalian sebegitu miskinnya sampai tidak bisa menyewa kereta kuda"


Berkata penjaga yang lain. Perkataan penjaga itu sebenarnya cukup merendahkan harga diri Lingga. Tapi ia tetap diam dan malahan bertanya kepada Aran.


"Apakah kita ini memang terlihat seperti rakyat jelata"


Aran dan Varya langsung melihat pakaian yang mereka kenakan.


"Aku memakai jubah apa yang mau dilihat, tapi memang aku adalah rakyat jelata"


Varya dan Lingga langsung melihat Aran.


"Percuma aku bertanya padamu yang sehari-harinya memakai jubah"


Lingga mendengus kepada Aran. Sementara Varya hanya tertawa dengan menutup mulutnya menggunakan tangan.


Tidak lama ada kereta kuda berlapis emas menuju gerbang masuk istana dengan dikawal oleh puluhan pasukan berkuda.


"Lihat, itu kereta kuda Patih Lawana, cepat beri jalan"


Prajurit yang melihat kereta kuda tersebut langsung meminta para prajurit penjaga untuk segera membukakan jalan.


"Kalian para rakyat jelata minggir, jangan disini"


"Cepat kalian pergi, merusak pemandangan saja. Kau orang tua cepat pergi dari sini, bawa anak gadismu pergi. Serta pria berjubah itu, buat apa ia memakai jubah. Dasar pengemis"


Kelompok Aran langsung saling melihat.


"Anak gadis"


"Orang tua"


"Pengemis"


"Hahaha"


Aran malah tertawa mendengar ocehan prajurit penjaga tersebut.


"Apakah jubah yang aku pakai ini benar-benar seperti pengemis"


"Sedikit"


Jawab Lingga pelan.


Varya langsung kembali tertawa mendengarnya.


Mereka bertiga lalu menepi kesisi gerbang dan sedikit menjauh.


Lalu rombongan Patih Lawana yang semuanya menaiki kuda perlahan-lahan mulai memasuki gerbang.


Para prajurit gerbang segera memberikan hormatnya kepada rombongan tersebut.


Ada hal aneh yang langsung terjadi ketika rombongan paling depan mulai memasuki gerbang dan sekilas melihat ke arah Aran.


'Tampilannya sedikit familiar, dimana aku pernah melihatnya'


Batin prajurit barisan depan tersebut. Ia mencoba mengingat-ingat lelaki berumur yang tidak lain adalah Lingga.


"Hei, saudara, rasanya muka pria yang berada dipintu depan tadi sangat familiar"


Prajurit yang lain berkata kepada temannya. Mereka lalu mencoba bergerak perlahan setelah melewati rombongan Aran, mencoba mengingat-ingat. Hal tersebut membuat prajurit yang berada dibelakang mereka juga ikut bergerak pelan dan akhirnya mereka jadi seperti berbaris.


"Kenapa kereta melambat"


Patih Lawana yang berada didalam kereta mencoba melihat ke arah gerbang masuk.


Ia menggunakan kemampuannya untuk melihat jauh kedepan. Begitu inderanya melihat sosok berjubah hitam digerbang hatinya langsung berdetak kencang, jantungnya terasa mau copot.


Patih Lawana lalu melihat pria disamping pemuda itu yang ternyata adalah Lingga. Mana mungkin ia tidak mengenal Lingga, karena mereka sudah berkali-kali berperang bersama.


"Jika itu Lingga, berarti pria berjubah itu... mati aku"


Patih Lawana langsung keringat dingin karena melihat Mahapatih yang berdiri diam digerbang masuk. Sebagai seorang Mahapatih seharusnya ia mendapatkan kehormatan, tapi kini ia merasa justru seolah-olah ia merendahkan Mahapatih dengan menaiki kereta kuda.


"Berhenti!"


Teriak Patih Lawana dengan sangat kencang. Hal itu membuat semua prajurit kaget dan langsung menghentikan kuda mereka.


"Patih, ada apa"


Seorang Komandan langsung menuju kereta kuda Patih.


Tanpa memperdulikannya, Patih Lawana langsung membuka pintu kereta dan berjalan bergegas ke arah kelompok Aran.


Melihat sikap Patih membuat semua prajurit bingung.


"Patih ada apa"


Para Komandan pasukan langsung berlarian berdiri disisi Patih Lawana.


Namun Patih Lawana tetap diam tanpa menghiraukan mereka semua. Ia terus berjalan menuju tempat Aran berdiri.


"Patih"


Para prajurit kini berkata bersamaan.


"Berisik kalian, cepat ikuti aku jika kalian masih ingin hidup"


Jawaban Patih membuat semua prajurit yang berada disana terdiam.


'Apa yang sebenarnya terjadi'


Batin para prajurit tersebut, tapi mereka langsung kaget dengan adegan yang terjadi dihadapan mereka. Kini Patih Lawana berjalan kehadapan seorang pria berjubah hitam.


"Mahapatih, maafkan sikap kami yang tidak sopan dihadapanmu"


Patih Lawana langsung sedikit menekuk lututnya memberi hormat kepada Aran.


"Hahaha, akhirnya ada yang mengenali dirimu"


Lingga hanya tertawa pelan disebelah Aran.


Sikap Patih Lawana yang memberi hormat kepada Aran membuat semua orang yang ada disana menjatuhkan rahang mereka.


"Mahapatih"


"Dewa Perang Asura"


~Note~


Sedikit Info.


Saya sebenarnya sangat ingin memiliki cover novel yang bagus. Tapi saya belum bisa membuat sendiri untuk pembuatan cover. Saya juga tidak berani mengambil gambar dari google, karena saya takut itu memiliki hak cipta. Jadi saya tidak ingin mengambilnya untuk kepentingan pribadi saya, begitupun dengan ilustrasi karakter dalam novel saya ini.


Cover novel saya sekarang ini adalah hasil foto dan editan saya sendiri.


Mohon maaf ya, jika kurang bagus.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt