
Setelah semua orang mengejar Taeyang, hanya Octavia yang berhasil menangkapnya. Karena dari awal, Lady Octavia memang memiliki level di atas Kim Taeyang.
“Berikan atau aku buat kamu mengalami halusinasi panjang”
Lady Octavia berkata kepada Kim Taeyang sambil mengeluarkan kabut berwarna silver. Salah satu kemampuan Lady Octavia adalah kabut halusinasi, siapapun yang terkena kabut ini akan mengalami halusinasi yang memabukkan. Juga, setiap korbannya akan mendapatkan halusinasi berbeda-beda, tergantung keinginan terdalam dari hati mereka.
“Baik-baik. Tolong tenang My Lady, tidak perlu seperti ini”
Jawab Kim Taeyang yang kini sudah terpojok di dinding batu. Ia juga tau bahwa Lady Octavia berada di level yang berbeda dengan dirinya.
“Inih”
Dengan pasrah, Taeyang lalu menyerahkan pil itu kepada Octavia.
Melihat pil di tangan Taeyang, Octavia lalu mengambilnya dengan mudah sambil tersenyum manis.
“Terima kasih”
Meleleh hati Kim Taeyang melihat senyuman di wajah Lady Octavia.
“Haaahh.. Gawat jika seperti ini terus, kapan aku naik tingkatnya”
Berkata Taeyang setelah melihat Lady Octavia pergi meninggalkannya. Tidak menunggu lama, Ia juga bergerak kembali ke tempat awal mereka semua berkumpul. Di tempat itu selain Octavia dan Varya, semua temannya sudah berkumpul dan berdiri di depan Aran.
“Hei Taeyang, kenapa kamu kembali kesini. Apa kamu tidak ingin memurnikan pil penguat jiwa tersebut”
Tanya Rumbun kepada Kim Taeyang.
“Memurnikan apanya, pil milikku berhasil di rebut oleh Octavia”
“Hahaha”
Mendengar temannya tidak berhasil mempertahankan pil tersebut, membuat Rumbun tertawa senang.
“Alahh, kamu percaya sama omongan Taeyang. Paling dia dengan ikhlas memberikan pil tersebut kepada Octavia”
Kata Namora menyindir.
“Sepertinya begitu Kakak Namora, aku juga tidak percaya ucapannya”
Srikandi menambahkan.
Mereka berdua sangat mengetahui bahwa Taeyang sangat mengidolakan Octavia. Jadi mereka merasa agak janggal dengan pernyataan Taeyang.
“Hei, hei.. Senior Namora dan Srikandi. Apa kalian sungguh tidak percaya padaku”
Taeyang mencoba membela dirinya di hadapan para gadis cantik ini.
“Huh, musyrik jika aku percaya padamu”
Kata Namora.
“Sama”
Srikandi juga kembali ikut menambahkan.
Omongan kedua gadis ini membuat Taeyang terdiam. Hancur sudah image dirinya dihadapan para gadis cantik ini. Sementara Rumbun hanya tertawa pelan melihat ini semua. Ia dari awal sama sekali tidak ingin bersaing dengan semua temannya ini. Baginya persahabatan adalah segalanya.
“Sudah-sudah, kalian semua harap tenang”
Terdengar suara Aran yang memotong pembicaraan mereka semua. Dalam hatinya sebenarnya ia sangat menikmati perdebatan semua temannya ini.
Perkataan Aran ini berhasil membuat semua orang diam dan kembali menatap lurus padanya.
“Begini, aku ingin memberitahukan kepada kalian semua bahwa dari awal aku tidak pernah bilang bahwa aku hanya memiliki satu pil saja”
Perkataan Aran ini tentu saja membuat semua temannya ini tersenyum cerah. Mereka begitu senang mendengarnya, karena dengan begini mereka masih memiliki kesempatan untuk dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi.
"Waaahh"
Beberapa teman Aran memperlihatkan sukacitanya.
“Namora, Srikandi”
Kata Aran kepada kedua gadis.
“Iya Aran”
"Iya Mahapatih"
Jawab kedua gadis berbarengan.
“Sebelumnya kalian sudah terluka parah. Aku tersanjung dengan kesetiakawanan kalian. Untuk itu, aku akan memberikannya kepada kalian berdua”
Aran lalu mengeluarkan dua pil berwarna biru dan diperlihatkannya kepada mereka.
“Ini, ambillah”
Dengan senang hati, kedua gadis itu segera mengambilnya dari tangan Aran. Mereka menatap Aran dengan senyuman manis.
“Terima kasih Mahapatih”
“Terima kasih Aran”
Kata mereka berdua.
“Sudah, kalian cepat murnikan kedua pil itu”
Mendengar Aran, mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat itu sambil melirik ke arah Rumbun dan Taeyang dengan tatapan mengejek.
“Issh”
Kata Taeyang sambil ia menggerutu pelan dengan bahasa negerinya.
Setelah Aran memberikan kedua pil, ia lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
“Hyung-nim, tunggu”
Teriak Taeyang yang melangkah cepat menghampiri Aran.
“Ya, ada apa Taeyang”
“Hyung-nim, apa kamu tidak melupakan sesuatu?”
“Melupakan apa?”
Dihadapan Taeyang, Aran pura-pura bersikap biasa saja. Padahal ia tau maksud Taeyang memanggilnya.
“Hyunggg.. Jika mereka para gadis berhasil naik tingkat. Dimana harga diri kami sebagai lelaki yang tingkatannya berada di bawah mereka”
“Memang kenapa dengan harga dirimu? Apa mereka semua sudah melecehkanmu?”
Aran balik bertanya kepada Taeyang, meski dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak.
“Bukan melecehkan Hyung-nim. Ahh, sulitlah aku mengatakannya"
Jawab Taeyang sambil bersikap serba salah.
Kemudian dalam sekejap, Aran menghilang dari pandangan mereka berdua.
“Hyuuunggg”
Teriak Taeyang melihat Aran yang sudah menghilang dari pandangannya. Gagal sudah keinginannya untuk naik level.
Taeyang lalu berbalik menatap Rumbun.
“Aisssshh, kenapa kamu tidak membantuku berbicara padanya”
Kata Taeyang kepada Rumbun yang sedari tadi hanya diam saja.
“Aku tidak enak meminta seperti itu kepada Mahapatih”
Jawab Rumbun datar.
“Aigooo.. kau ini. Ah, sudahlah”
Taeyang yang gemas dengan sikap Rumbun segera menggunakan seni bayangannya untuk menghilang meninggalkan Rumbun.
Kini hanya tersisa Rumbun yang sendirian di tempat ini. Tidak menunggu lama ia lalu melangkahkan kakinya pergi untuk kembali berlatih.
Villa Langit.
“Aran, mengapa kamu begitu menyebalkan seperti ini”
Tanya Raja Naga di villa langit. Kini Aran bersama Raja Naga tengah duduk santai menikmati kopi svarga.
“Maksud Raja Naga?”
Kata Aran sambil menyeruput kopi miliknya.
“Tidak perlu pura-pura lugu, aku tau kamu memiliki banyak pil penguat jiwa. Kenapa kamu tidak memberikannya kepada semua temanmu”
“Ah, hahaha.. Ternyata Raja Naga mengetahuinya. Sebenranya, aku hanya senang menggoda mereka saja”
Aran malah membalas pertanyaan Raja Naga dengan tertawa geli. Karena ia begitu senang bisa mengerjai semua temannya.
“Haaahh.. Beruntung dulu aku tidak memiliki teman sepertimu”
Kata Raja Naga membalas perkataan Aran. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah muridnya ini.
“Jika kamu memiliki teman sepertiku, hidupmu tidak akan hambar seperti ini”
Celetuk Aran yang membuat Raja Naga mengusap dadanya.
‘Sabar-sabarr’
Batin Raja Naga.
Kerajaan Suci Phoenix Es.
Di tempat yang sangat jauh dimana tempat itu sangatlah dingin. Terlihat seorang gadis muda berjalan seorang diri menembus badai salju.
“Di sinilah portal itu berada”
Dengan gerakan tangannya ia membuka portal yang berbentuk transparan. Portal ini berada di tengah-tengah badai udara dingin. Sehingga tidak akan ada orang yang mengetahuinya.
Bahkan untuk membukanya memerlukan beberapa segel formasi.
Wuzzzhh
Dari udara kosong keluarlah pusaran es yang berada tepat dihadapanan gadis itu. Ia lalu melangkahkan kakinya memasuki portal tersebut. Begitu ia melangkahkan kakinya keluar dari portal, terlihatlah pemandangan menakjubkan dihadapannya.
“Akhirnya aku sampai di rumah”
Gadis itu menatap pemandangan dihadapannya dengan perasaan takjub. Ia mengabaikan para penjaga yang tengah bengong memandanginya. Para penjaga ini ditugaskan untuk selalu menjaga portal khusus ini. Karena portal ini adalah portal yang hanya di gunakan oleh keluarga dan keturunan raja.
“Siapa kau! Aku tidak pernah melihatmu”
Penjaga yang sudah hidup ratusan tahun tentu saja sangat mengetahui siapa saja anggota kerajaan yang berada di wilayah ini.
Ada dua penjaga yang kini menatapnya dengan hawa membunuh. Karena mereka adalah pasukan khusus pengawal kerajaan, jadi mereka memiliki tugas untuk selalu menjaga kerajaan terutama anggota keluarga Raja dari berbagai ancaman.
Para penjaga portal adalah manusia yang sangat kuat, minimal level yang ditugaskan untuk menjaga portal ini adalah level Jenderal.
Dihadapan para penjaga yang terlihat sangat murka, Gadis itu hanya menatap para penjaga dengan diam. Ia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk mengurusi para penjaga rendahan ini.
“Aku tidak punya waktu meladeni kalian”
Kata gadis itu sambil ia berjalan santai meninggalkan mereka.
“Lancang! Cari mati kau!”
Salah seorang penjaga langsung menghunuskan pedangnya dan tanpa ragu menebas tubuh gadis tersebut.
Melihat pedang mengarah padanya, gadis itu hanya diam dan terus berjalan.
Klanggg…
Terdengar suara pedang yang patah karena menyentuh tubuh gadis tersebut.
“Huh.. Jika saja kalian ini bukan rakyatku, mungkin aku akan langsung menguliti kalian hidup-hidup”
Kata gadis itu tenang.
“Sssiii.. siapa kau. Pedang kelas langit langsung hancur seperti ini”
Penjaga yang menyerang gadis itu begitu kaget melihat pedangnya hancur hanya karena ia menyentuh tubuh gadis itu. Ia merasa saat menebas tubuh gadis itu, pedangnya seperti menghantam plat baja yang sangat keras. Bahkan tangannya masih tidak berhenti gemetar akibat efek benturan pedang dengan tubuh gadis tersebut.
Gadis itu lalu menghentikan langkahnya dan membalik badannya ke arah para penjaga.
‘Benar juga, sebaiknya aku minta diantarkan oleh mereka menuju istana'
Batinnya.
“Aku adalah Ratu Selatan”
Perkataannya yang tenang disertai hawa sedingin es membuat para penjaga itu diam membeku.
“Ra.. Rattu Selatan”
Kompak kedua penjaga itu berkata dengan tergagap-gagap.
*\~*\~*\~*\~*\~*\~*\~*\~*\~*
Teruntuk para pembaca yang sangat setia menunggu novel saya ini.
Follow IG baru saya ya, gratis ko. ^^
Instagram :
@yukishinamt