
Keesokan harinya.
Terdengar suara kicauan burung dibalut hari yang cerah.
Halaman rumah.
"Aska, Satu hari ini latihlah gerakan dasar silatmu," ucap Ki Salawi.
"Kenapa harus berlatih gerakan dasar Kek?" tanya Aska penasan.
"Gerakan dasar itu kalau diibarakan seperti tiang pada bangunan. Semakin kuat tiang tersebut, maka semakin kokohlah rumahnya. Semakin kuat gerakan dasar silat, maka semakin kokoh dalam gerakan bertarungmu. Kebanyak orang yang berlatih pencak silat mengabaikan hal seperti ini, makanya mereka tidak dapat melewati batas dari kemampuannya," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska langsung menarik nafas pembuka.
Satu hari penuh Aska berlatih gerakan dasar dan diawasi langsung Ki Salawi. Setiap kali Aska berhenti sejenak dari gerakannya, Ki Salawi memukul betis Aska dengan tongkat yang ia pengang.
Setelah selesai berlatih, Aska mengarah ke gunung berbentuk gajah sembari menatap langit senja. Gunung berbentuk gajah tersebut bernama Gunung Manglayang.
"Huuuh... Latihan gerakan dasar lebih berat dari pada latihan jurus. tidak terasa juga hari sudah sore... Eh, ternyata gunung gajahnya ada dua," batin Aska.
Sudah dua hari Aska tinggal di rumah Ki Salawi tanpa memperhatikan area sekitar. Selagi senja, Aska merasakan daerah itu sungguh mempunyai panorama alam yang luar biasa. Rumah Ki Salawi dikelilingi hamparan pesawahan yang luas dan pemandangan dua gunung berbentuk gajah yang berjarak satu kilo meter dari kediamannya. Ditambah, di sebelah kiri pandangannya ada satu gunung besar yang menjulang tinggi berwarna biru. Di bawah dekat ia duduk ada susukan alami dan aliran air yang begitu jernih. Benar-benar anugrah alam.
Pada sore hari Yasa dan Citta pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Raka selalu menginap di rumah Ki Salawi dikarenakan sudah tidak memiliki keluarga dan saudaranyapun mengabaikan keberadaannya.
***
Malam haripun tiba.
Ki Salawi menyalakan obor di setiap pagar rumah pada tengah malam. Setelah menyalakan obor, Ki Salawi membangunkan Aska dan membawanya ke tengah halaman rumah.
Ki Salawi dan Aska duduk di tanah saling berhadapan.
"Aska, pejamkan mata dan tarik nafas secara teratur," ucap Ki Salawi.
Tanpa berkata, Aska langsung mengikuti apa yang diperintahkannya.
Setelah beberapa menit.
"Cukup. Buka matanya," ucap Ki Salawi.
Aska langsung membuka mata.
"Apa yang dirasakan?" tanya Ki Salawi.
Aska sedikit bingung dengan pertanyaan yang diberikan Ki Salawi.
"Aska hanya mendengar suara serangga dari sawah Kek," jawab Aska.
Ki Salawi kurang puas dengan jawaban yang diberikan Aska.
"Tutup lagi matanya," ucap Ki Salawi.
Aska kembali menutup mata.
Beberapa menitpun berlalu.
"Cukup. Apa yang kamu rasakan?" tanya Ki Salawi.
"Saya hanya mendengar suara-suara serangga malam dari sawah Kek," jawab Aska.
Ki Salawi masih belum puas dengan jawaban Aska.
"Tutup lagi matanya," ucap Ki Salawi.
Aska menutup lagi matanya.
Untuk yang keenam kalinya Aska menutup mata dan memberikan jawaban seperti sebelumnya. Sekarang Aska menutup mata untuk yang ketujuh kalinya. Untuk sekarang Aska mencoba lebih serius dan mendalami apa yang bisa dirasakannya pada malam hari.
Setelah beberapa menit, Aska merasakan alunan irama malam, dari mulai keheningan, suara serangga yang begitu banyak dan beragam dari sawah dan udara yang begitu dingin melewati telinganya seperti sedang bernyanyi.
Askapun membuka mata.
"Apa yang kamu rasakan Aska?" tanya Ki Salawi.
"Sungguh indah Kek," jawab Aska.
Ki Salawi terkejut mendengar ucapan Aska.
"Maksudnya?" tanya Ki Salawi.
"Saya mendengar seperti alunan musik dan nyanyian Kek. Di malam hari begitu sunyi dan banyak sekali suara yang dapat didengar seperti halnya serangga dari sawah. Namun, walaupun begitu banyak suara tetap bisa merasakan keheningan malam, begitu udara melewati telinga seperti sedang bernyanyi dan semuanya mengirama," ucap Aska.
Ki Salawi tersenyum tipis mendengar ucapan Aska.
"Menurutmu Aska, Apa itu Pencak Silat?" tanya Ki Salawi.
"Apa hubungannya dengan ucapanmu tadi?" tanya Ki Salawi.
Aska terdiam kebingungan memikirkan hubung Pencak Silat dengan yang ia rasakan pada saat menutup matanya.
"Tidak tau Kek," ucap Aska.
"Dengar baik-baik Aska dan selalu ingat di dalam benakmu. Pencak Silat sebenarnya adalah sebuah tarian yang berirama dengan mengapresiasikan kesenian. Dalam pertarungan kamu harus mengikuti alunan irama pertarungan tersebut, jangan banyak berfikir, karena dalam menari, untuk melanjukan dari gerakan ke gerakan lainnya selalu berirama secara teratur dan menyambung tanpa berhenti satu ketukanpun," ucap Ki Salawi.
"Aska kurang mengerti Kek," ucap Aska.
"Tidak perlu mengerti sekarang, karena itu hanya sebagian kecil dari maksud Pencak Silat. Cukup diingat saja dan carilah kebenarannya," ucap Ki Salawi.
"Berdirilah," ucap Ki Salawi.
Aska langsung berdiri tanpa kata.
"Ikuti gerakan Kakek," ucap Ki Salawi.
Aska mengikuti gerakan Ki Salawi yaitu menari dengan tenang. Aska merasakan sebuah alunan indah dalam tariannya, walapun tanpa alunan musik secara langsung. Tanpa disadari keringatpun bercucuran juga tidak merasakan lelah sedikitpun.
Semalaman Aska menari bersama Ki Salawi mengikuti irama malam hingga mega hijau menghilang.
***
Pagi hari.
"Aska bangun."
"Aska hei Aska bangun."
"Bangun sudah siang."
"Ada apa? tanya Aska sambil mengusap wajah.
"Kakek mengajak kita ke Puncak Gunung Manglayang," ucap Citta.
"Ayo bangun, Kakek sudah menunggu dari tadi," ucap Citta berjalan keluar.
Aska bergegas bangun, cuci muka dan bersiap.
***
Dalam perjalanan ke Puncak Gunung Manglayang.
"Kenapa Kakek mengajak kita ke Pincak Gunung Manglayang?" tanya Aska berbisik.
"Katanya kita berlatih disana," jawab Citta.
"Kalian sudah berapa kali berlatih disana?" tanya Aska.
"Aku baru pertama kali sekarang, mereka berdua juga sama kayaknya baru pertama kali," jawab Citta.
***
Setelah melewati terjalnya jalan. Tibalah di Puncak Gunung Manglayang.
"Huaaah... Akhirnya sampai juga," ucap Citta menghela nafas.
"Wah... ternyata pemandangan disini indah sekali," ucap Citta terkagum.
"Aska sini lihat, semua pemandangan dari sudut puncak gunung ini hanya hamparan pesawahan," ucap Citta memanggil Aska.
Aska menghampiri Citta. Dan memang benar begitu luas hamparan pesawahan di bawah sana.
"Aska... Citta ke sini. Kita makan dulu sebelum berlatih," ucap Yasa.
Aska dan Citta segera bergabung bersama Raka dan Yasa.
"Kalian makanlah yang banyak. Kita akan menghabiskan sepanjang hari disini," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek, dengan senang hati hahaha," ucap Raka dengan mulut penuh makanan.
"Bocah rakus," ucap Citta menyindir.
"Aku rakus makan juga penuh otot. Kamu makan banyak juga badan masih saja kecil," ucap Raka kembali menyindir.
"Aku ini perempuan udah wajar kayak gini juga perempuan," ucap Citta kesal dan memalingkan wajah.
"Sudah-sudah, lanjutkan makan kalian. Kakek ke bawah dulu sebentar," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska dan Yasa.