Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Konflik



Ketika Aran dan Varya sedang menikmati teh, tidak lama terdengar suara teriakan penjaga diluar kediamannya.


"Varya, saya keluar dulu"


"Baik Tuan"


Aran lalu berjalan ke luar dari kediamannya. Dilihatnya, prajurit penjaga sedang berlutut memberikan hormat.


"Lapor Mahapatih, diluar pintu gerbang ada Nona Berliana dan Tuan Lingga meminta ijin untuk memasuki kediaman"


"Baiklah, ijinkan mereka masuk"


"Siap, Daulat Mahapatih"


Prajurit penjaga langsung undur diri dengan cepat.


Aran tidak masuk kedalam, ia memilih berdiri menunggu di pintu masuk kediamannya.


Tidak lama terlihatlah Lingga bersama Berliana berjalan menuju ke tempatnya.


"Aran, ah maaf Mahapatih"


"Senior panggil nama saja"


Aran menjawab sapaan Lingga dengan hormat. Mereka berdua lalu bersalaman.


Sementara Berliana, karena masih kesal ia hanya memberikan salam seadanya.


"Salam Mahapatih"


Aran menjadi serba salah melihat sikap Berliana terhadapnya.


Jadi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.


Aran lalu menanyakan perihal kedatangan mereka berdua.


"Senior boleh saya tau ada keperluan apa tiba-tiba datang berkunjung ke tempat saya"


Aran mencoba bertanya kepada Lingga untuk menutupi kegugupannya.


Namun sebelum Lingga menjawab, Berliana langsung memotongnya.


"Apakah karena kamu sekarang Mahapatih negeri ini, jadi kami tidak boleh berkunjung ketempatmu"


Mendengar jawaban berliana yang jutek membuat Aran menjadi serba salah.


'Kenapa sich dengannya, memang salah saya dimana'


Aran hanya bisa mengusap dadanya.


'Sabar, sabar'


"Kenapa kau mengusap-usap dadamu, apa ada yang salah dengan perkataanku"


Berliana kembali bertanya dengan wajah juteknya.


"Tidak, tidak ada yang salah sama sekali. Ini telapak tanganku agak gatal jadi aku usap-usap ke pakaianku saja"


"Huh"


Berliana hanya menjawabnya dengan mendengus.


Lingga langsung berusaha menengahi mereka.


"Aran, kedatangan kami kesini karena kami melihat manusia bersayap memasuki kediamanmu"


"Oh jadi terkait hal itu. Tidak perlu khawatir, sebenarnya makhluk bersayap itu adalah diriku"


"Apa! jadi itu benar dirimu"


Lingga menjadi semakin takjub dengan kehebatan Aran, ia tidak menyangka pemuda yang pernah bertarung dengannya ini akan benar-benar menjadi pemuda sakti mandraguna.


Berliana juga menatap Aran dengan tidak percaya, jadi benar apa yang ia rasakan sebelumnya terkait aura yang sangat familiar dari tubuh manusia bersayap pada saat ia melintasi langit.


Karena mereka mengobrol sambil berdiri, Aran lalu mengajak mereka semua untuk masuk.


"Ahh, iya. Mari semuanya silahkan masuk"


Lingga dan Berliana lalu mengikuti Aran memasuki kediamannya.


Disinilah awal bencana kesalahan Aran. Karena kepolosannya inilah, sikapnya sering disalah artikan orang lain.


Begitu mereka semua masuk, terciumlah aroma teh yang sangat harum.


"Ahh, harumnya wangi teh ini. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakannya"


Lingga menghirup dalam-dalam udara di ruangan Aran yang berbau teh.


Berliana juga merasakan kesegaran pikiran setelah menghirup udara didalam ruangan Aran. Kekesalannya kepada Aran menjdai sedikit mereda.


Namun matanya tiba-tiba tertuju pada sesosok gadis yang sedang duduk santai sambil meminum teh dari cangkir putih.


Mata Lingga juga langsung tertuju pada gadis muda yang sedang duduk tersebut.


"Siapa itu Aran, dari samping terlihat parasnya sangat cantik"


Lingga yang menatap dari sebelah saja bisa mengatakan cantik, apalagi jika melihat dari depan. Namun Lingga tidak memikirkan dampak dari perkataannya yang bisa menimbulkan bencana bagi Aran.


Mengucapkan kata cantik diantara dua wanita adalah hal yang sangat tabu.


"Namanya Varya, untuk sementara dia akan tinggal disini"


Mendengar ada yang membicarakannya, Varya lalu berdiri dan menatap semua tamu Tuannya.


"Salam Tuan, salam semuanya"


"Benar-benar cantik"


Gumam Lingga pelan yang langsung mendapatkan lirikan tajam Berliana.


"Dasar tak tau malu"


Berliana langsung menginjak sebelah kaki Lingga dengan keras.


"Waddaaaww"


Teriak Lingga kaget, begitupun Aran yang juga kaget melihat tindakan Berliana.


Berliana tanpa melihat ke arah Lingga, langsung menatap ke arah Aran.


"Maaf, tadi sepertinya Mahapatih berkata bahwa gadis ini tinggal disini. Benarkah begitu"


Berliana berkata sambil berjalan pelan ke arah Aran.


"Ii.. iyah benar, dia untuk sementara tinggal disini"


Jawab Aran gugup sambil sedikit memundurkan kakinya takut diinjak oleh Berliana.


"Kenapa kau malah mundur, apa kamu takut aku injak juga"


"Ahh, tidak bukan begitu"


Aran benar-benar menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Lalu saat kau bilang, tinggal disini? apa maksud perkataanmu. Jadi gadis ini sudah tinggal bersama denganmu? dan sebelum kami datang kesini, apa yang kau lakukan berdua dengannya"


Berliana maju melangkah lebih dekat ke hadapan Aran.


"Kami tidak melakukan apa-apa"


Jawab Aran ketakutan.


"Bohhong! mana mungkin seorang pria dan seorang wanita berduaan didalam ruangan tidak melakukan apa-apa"


Kini kekesalannya Berliana kepada Aran kembali meluap-luap. Jika bukan karena aroma teh yang begitu menenangkan, mungkin akan langsung terjadi perang bar-bar di ruangan ini.


"Benar nona, kami tidak melakukan apa-apa"


Varya ikut menambahkan. Karena ia memang merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Diam kau! aku tidak bertanya padamu"


Bentakan Berliana membuat ciut Varya. Ia langsung bersembunyi dibelakang tubuh Aran. Karena ia melihat, wanita dihadapannya ini terlihat sangat murka padanya.


Tapi sikap Varya yang bersembunyi dibelakang Aran semakin membuat Berliana marah, ia merasa bahwa ternayta Varya dan Aran sudah memiliki hubungan yang sangat dekat. Bagaiman hatinya tidak panas melihat mereka berdua.


"Aku tidak menyangka Aran, kalau kau ini ternyata buaya darat"


"Buaya darat? apa maksudmu Berliana. Saya ini seorang manusia bukan buaya, lagian mana ada sich buaya hidup didarat"


Aran menjawab perkataan Berliana dengan polosnya.


"Jangan bercanda dan tidak usah pura-pura lugu"


Berliana yang melihat sikap Aran menjadi bertambah kesal. Mana ada didunia ini yang tidak tau istilah buaya darat.


"Aku benar-benar tidak tau, apa itu buaya darat"


Aran tetap pada pendiriannya. Ia lalu mencoba bertanya kepada Varya.


"Varya, apa kau tau buaya darat itu apa"


"Tidak Tuan, saya juga tidak tau"


Varya yang hidupnya selalu menyendiri dan cuek juga tidak mengetahui istilah seperti itu.


Sikap mereka berdua malah membuat wajah Berliana memerah karena marah.


Karena suasananya sedikit lagi meledak, Lingga langsung menghampiri Aran.


"Aran, ah maaf Mahapatih. Maksudnya, buaya darat itu adalah mata keranjang. Hal seperti itulah, masa kau tidak tau"


"Mata keranjang? apalagi itu. Mana ada keranjang dimataku. Senior jangan berkata yang aneh-aneh. Tolong pergunakan bahasa kerajaan yang baik dan benar. Saya tidak seperti kalian yang hidup di kota. Dari kecil hingga dewasa saya hidup di gunung, jadi tidak mengenal istilah seperti itu"


"Diaaaaammm"


Teriakan Berliana membuat Aran menutup mulutnya. Karena ia melihat wajah Berliana tampak sangat marah padanya.


 


~Note~


Hello pembaca setia Novel Pendekar Nusantara.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Terima kasih ^^


Instagram :


@yukishinamt