Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Menuju Daratan Tengah



Seluruh petinggi Kerajaan Samudera kini berkumpul di pesisir pantai. Mereka semua bersama-sama mengantarkan keberangkatan Putri Namora dan Mahapatih untuk berangkat menuju dataran tengah.


Sebelum berkumpul Aran sudah menginfokan kepada Raja Muda bahwa ia tidak akan pergi menggunakan kapal laut. Tapi ia akan menaiki tunggangannya sendiri. Padahal Raja Muda sudah menyiapkan kapal khusus untuk Mahapatih. Karena menurut Raja Muda seleksi untuk masuk Akademi adalah satu bulan dari sekarang, oleh karena itulah dia memberikan kapal yang mampu bergerak dengan cepat.


Karena Mahapatih bersikeras akan menaiki tunggangannya sendiri, Raja Muda akhirnya mengalah. Tapi ia penasaran dengan tunggangan Mahapatih, berkali-kali ia meminta Mahapatih untuk memperlihatkannya namun selalu di tolak oleh Mahapatih. Karena jawabannya selalu sama "lihat nanti di hari keberangkatan".


Kini dihari keberangkatan, semua sahabat Aran berkumpul.


"Mahapatih, jaga dirimu. Saya titip adik saya juga"


Dihadapan ribuan prajurit yang mengantar kepergian Mahapatih, Raja Muda berbicara kepada Mahapatih layaknya saudara kandung. Karena kini hubungan mereka berdua sangat dekat dan diantara mereka sudah tidaka ada rasa canggung.


Disebelah Raja Muda berdiri Putri Namora yang selalu tersenyum melihat Mahapatih, tapi selalu jutek jika melihat Varya yang berada disebelah Mahapatih.


Dan juga ada Lingga, Jenderal Lawana serta Enre.


"Terima kasih Raja Muda. Terkait adikmu, tenang saja saya akan.."


Sebelum Aran selesai, Varya sudah memotong perkataannya.


"Tenang saja Raja Muda, saya sebagai asisten pribadi Mahapatih akan menjaga adikmu dengan sangaaatt baik"


Berkata Varya sambil memperlihatkan senyum palsunya.


"Tidak usah basa-basi busukk, mari kita selesaikan pertarungan kita sebelumnya"


Namora langsung menantang Varya bertarung kembali.


"Oke, siapa takut"


Jawab Varya.


"Sudah hentikan"


Aran langsung memotong pembicaraan mereka semua.


"Jika kalian masih ribut, aku tidak akan pergi bersama kalian"


Perkataan Aran membuat mereka saling manyun.


"Raja Muda, Senior Lingga dan Patih Lawana. Kami berangkat sekarang"


Mereka semua lalu saling memberikan hormat.


Setelah urusannya selesai dengan para sahabatnya, kini Aran memanggil Ze untuk datang kehadapannya. Dalam sekejap bayangan hitam muncul dihadapan Aran sambil berlutut.


"Ze, kamu tetap disini dan Jaga negeri ini. Kamu tidak perlu khawatir dengan diriku, untuk Kumbang dan Putih, kini mereka ada di dalam diriku dan akan mengikutiku ke daratan tengah"


"Daulat Mahapatih"


Ze memberikan hormatnya kepada Aran, ia kini benar-benar sangat menghormati Tuannya.


Aran lalu sedikit berjalan menjauh dari mereka semua.


Karena ia akan memanggil Saka yang kini ukurannya sangat besar.


"Saka, keluarlah"


Tiba-tiba dari udara kosong didepan Aran keluar perlahan-lahan Burung yang sangat besar.


Semua yang melihat burung sebesar itu keluar dari hadapan Aran langsung bersiaga dan terdiam. Kini mereka semua sangat mengagumi Mahapatih yang banyak memiliki kemampuan sakti.


"Kwaakk"


"Kwaakk"


Burung itu membungkuk dihadapan Aran.


Kini ukuran Saka benar-benar sudah sangat besar.


Aran lalu mendekati kepalanya dan mengusap lembut kepala dan wajah Saka.


Tidak lama, Aran memanggil Varya dan Namora untuk menghampirinya.


"Kita akan menaiki ini"


"Mahapatih, apa benar kita akan menaiki ini"


Namora berkata kepada Aran sambil menatap ke arah Saka. Begitupun dengan Varya, ia begitu mengagumi Tuannya ini yang memiliki banyak sekali rahasia.


"Ya, kita akan menaiki ini. Jika harus menggunakan kapal laut itu akan sangat lama untuk sampai ke daratan tengah. Ayo semuanya naik"


Tidak menunggu lama, Aran lalu melompat ke punggung Saka. Melihat Aran yang sudah duduk di punggung Saka membuat Varya dan Namora juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua melompat ke punggung Saka dan duduk didekat Aran.


"Semuanya, kami pergi dulu"


"Mahapatih, Putri Namora, Nona Varya. Hati-hati, Selamat Jalan"


Semua kerabat Aran dan mereka yang mengenalnya begitu bersemangat memanggil-manggil nama Mahapatih kebanggaan mereka.


Perlahan-lahan bayangan Saka semakin mengecil dan akhirnya menghilang.


"Mahapatih, ini pertama kalinya saya menaiki burung sebesar ini untuk bepergian"


Putri Namora begitu senang bisa menaiki Saka. Ia bahkan terus melihat-lihat kebawah dimana yang ia lihat adalah pemandangan negerinya yang begitu indah.


Varya juga begitu senang menaiki ini. Ia pernah menunggangi hewan terbang hanya dengan masternya. Selain itu, ia tidak pernah lagi.


"Emm, Putri Namora dan Nona Varya. Kedepannya panggil nama saya saja. Tidak perlu sebutan Mahapatih ataupun Tuan. Panggil saya Aran"


"Hmm.. Baiklah. Tapi kamu juga panggil saya dengan sebutan Namora saja. Tidak perlu ada Putri lagi"


Dengan begini, Namora merasa hubungannya dengan Aran bisa lebih dekat.


"Saya tetap akan memanggilmu Tuan"


Jawab Varya tanpa ragu. Baginya, Aran adalah Tuannya.


"Tidak Varya, ini perintah"


Kata Aran menegaskan.


"Baiklah jika ini perintah darimu. Saya akan memanggilmu dengan panggilan Aran"


Aran lalu menganggukkan kepalanya.


Kini mereka semua mulai menikmati perjalanan ini. Perjalanan melintasi langit adalah sesuatu yang sangat berbeda. Melihat segalanya dari atas membuat kita merasa bersyukur akan keindahan alam ini.


Aran sudah diberitahu Raja Naga bahwa jika menggunakan Saka, maka perjalanan menuju dataran tengah dari Sumatra kurang lebih 10 hari. Raja Naga yang selama ini hidup di alam giok sangat mengetahui batas kemampuan Saka.


Saka mampu terbang berhari-hari tanpa berhenti, tapi Aran tidak ingin melihat Saka terus terbang. Jadi ia memutuskan jika terlihat daratan, maka mereka akan berhenti untuk istirahat sejenak. Setelah sekian lama terbang melintasi lautan yang luas, kini Aran mulai memasuki wilayah Kerajaan lain. Terlihat dari udara dikejauhan ada kota yang lumayan besar.


"Kita mendarat disini dulu"


Aran memerintahkan Saka untuk mendarat dan beristirahat di gunung yang jaraknya lumayan jauh dari kota. Hal ini ia lakukan, karena ia tidak ingin menarik perhatian penduduk asli tempat ini. Jika masalah jarak, Aran bisa memanggil kedua macannya untuk menuju kota nanti.


Saka yang mendengar Aran, dengan hormat mengikuti perintah Aran untuk mendarat di tempat yang aman.


Seluruh kelompok Aran akhirnya turun dari punggung Saka. Sampai didarat, mereka langsung sedikit merenggangkan tubuh mereka yang terasa sedikit kaku. Sementara Saka, Aran kirim ia ke alam giok langit untuk beristirahat.


"Kita berada dimana ini. Apakah ada yang mengetahuinya"


Tanya Aran kepada Namora dan Varya saat mereka tengah berkumpul.


"Jika aku tidak salah, ini adalah wilayah Kerajaan Malaya"


Varya yang sebelumnya melintasi tempat ini tentu saja sangat mengetahui. Ia juga sempat beristirahat dikota ini saat perjalanannya menuju Sumatra bersama Hongli.


Namora hanya menganggukkan kepalanya saja, karena ia juga sempat beristirahat disini.


Ketika mereka sedang berbincang terdengar suara minta tolong dikejauhan. Aran bersama kelompoknya langsung bergerak cepat menuju asal suara tersebut.


 


\~**Note**\~


Untuk para pembaca, saat ini saya masih keadaan sakit tidak enak badan. Saya sampai harus cuti kerja, itulah kenapa saya belum bisa update. Hari ini saya paksakan untuk update, walau badan masih terasa tidak enak.


Mohon maaf..


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


 


Instagram :


@yukishinamt