Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Hutan Terlarang



Sementara di tempat lain..


Varya, Namora, Srikandi sedang bertarung sengit dengan monster berwujud laba-laba raksasa.


“Namora gunakan kecepatanmu untuk menyerang semua kakinya”


Teriak Varya yang kini tengah berjuang berhadap-hadapan menghadapi serangan gencar kaki laba-laba.


“Baik”


Namora dengan kecepatannya langsung bergerak zig-zag untuk menyerang kaki laba-laba tersebut.


“Srikandi, gunakan panahmu untuk memecah konsentrasinya”


“Siap Kakak Varya”


Srikandi yang memang masih sangat muda memanggil Varya dan Namora dengan sebutan Kakak.


Kerja sama ketiganya langsung membuahkan hasil. Laba-laba level tiga itu kebingungan dengan serangan gabungan mereka.


“Hahaha, kita berhasil”


Teriak Namora sambil ia terus menebas kaki laba-laba itu yang menyebabkan laba-laba itu mulai hilang keseimbangan karena kakinya yang terluka.


Sementara Srikandi terus melepaskan panahnya menghujani mata dari laba-laba tersebut.


Varya yang berhadapan langsung dengan laba-laba itu juga merasakan bahwa lawannya ini sudah mulai melemah.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Varya menebas kepala laba-laba itu dengan pedangnya.


“Mati kau!”


Tebasan Varya berhasil merobohkan laba-laba itu.


“Fiuhhh akhirnya kita berhasil”


Kata Namora.


Mereka bertiga lalu berkumpul bersama.


“Sebelum kita mengambil inti roh hewan ini, sebaiknya kita selesaikan dulu orang yang dari tadi mengawasi kita”


Kata Namora kepada Varya.


“Aku setuju denganmu”


Jawab Varya.


Mereka berdua memang memiliki kepekaan yang tinggi dibandingkan dengan para siswa yang setingkat dengannya. Hanya Srikandi yang tidak mengetahuinya.


“Hahh, ada yang mengawasi kita?”


Kata Srikandi yang kebingungan.


“Ya adik, kamu diam saja di sini, biar kami berdua yang menyergapnya”


Kata Varya.


“Namora”


“Hmm”


Jawab Namora yang memahami perkataan Varya. Ia lalu menggunakan ilmu gerakan cepatnya untuk sampai di tempat orang yang mengawasinya.


Orang itu berada di atas pohon dan bersembunyi di balik dedaunan yang lebat.


Dari arah belakang, Varya langsung mengarahkan belati miliknya ke leher orang yang mengawasi mereka.


“Apa maksud dan tujuanmu mengawasi kami dari tadi”


Orang itu langsung kaget dengan kedatangan Varya.


“Maaf, aku tidak punya maksud apapun kepada kalian”


Jawab orang itu.


Tampilannya sangatlah misterius, karena ia menggunakan jubah bertudung dan topeng kucing berwarna putih.


“Lepaskan topengmu”


Kata Varya yang kini sudah ada dihadapan orang misterius tersebut. Sambil menghunuskan pedangnya.


“Baiklah, baik”


Orang itu lalu melepas topengnya dan terlihatlah wajah yang mereka kenal.


“Lady Octavia!”


Karena mereka mengenal orang misterius itu, Varya dan Namora lalu menurunkan senjata mereka.


“Apa yang kau lakukan di tempat ini”


Tanya Varya yang curiga dengan Lady Octavia.


“Ah maaf sebelumnya, panggil saja nama saya langsung”


Lady Octavia sebenarnya agak risih jika dipanggil dengan kata Lady di depan namanya.


“Aku di sini karena penasaran dengan kalian bertiga yang selalu bertiga kemanapun pergi. Aku juga penasaran dengan teman kalian yang bernama Aran. Karena aku yakin ia pasti masih hidup, jadi aku merasa jika aku mengikuti kalian aku akan menemukan keberadaannya”


Kata Octavia kepada mereka semua.


“Hmm, begitu rupanya. Apa kamu tidak menjalankan misi dari akademi?”


Tanya Varya kepada Octavia.


“Hehehe, misi dari akademi telah di lakukan oleh orang-orang dari kakakku”


Jawab Octavia sambil tersenyum malu-malu.


Kini giliran Namora yang berkata. Ia sangat mengetahui kehebatan dari Senior Xavier yang berada dalam peringkat atas siswa di akademi.


“Hehehe, ya begitulah”


Jawab Octavia kembali. Ia jadi merasa tidak enak dengan kedua temannya ini.


“Kalau begitu, apa kamu ingin ikut bersama kami”


Tanya Varya kembali.


“Boleh, jika kalian mengijinkan. Tapi aku tetap memakai topeng, karena aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya”


“Hmm baiklah”


Varya dan Namora menyetujui permintaan dari Octavia. Mereka juga merasa bahwa jika orang lain tau bahwa mereka bersama dengan Lady Octavia, pasti akan menimbulkan masalah yang tidak perlu.


Setelah itu, Varya dan Namora membawa Octavia ke tempat Srikandi menunggu. Varya dan Namora lalu menjelaskan bahwa orang berjubah ini adalah Octavia, tapi mereka meminta agar Srikandi merahasiakannya.


Setelah semua setuju untuk merahasiakan keberadaan Octavia, kini mereka semua melanjutkan perjalanan mereka ke bagian dalam hutan. Tentunya setelah mereka mengambil inti roh dari monster laba-laba.


>>>


Aran bersama kedua temannya juga mulai bergerak cepat dan semakin memasuki bagian dalam hutan.


“Aku merasakan perbedaan aura di tempat ini. Bisa jadi ini adalah wilayah monster berlevel tinggi, apa kalian yakin akan memasukinya”


Tanya Aran kepada kedua temannya. Ia tidak yakin apakah akademi sengaja membiarkan para siswa memasuki hutan ini atau mereka yang tanpa sengaja memasuki wilayah terlarang ini.


“Maksud Hyung apa?”


Taeyang penasaran dengan perkataan Aran, karena jelas-jelas mereka sedang menjalankan misi yang diberikan oleh pihak Akademi.


“Aku hanya merasakan bahaya di tempat ini, aku jadi tidak yakin dengan misi yang diberikan oleh akademi”


Sebenarnya kekhawatiran Aran ini adalah benar. Bahwa ada seseorang yang membuka segel pembatas hutan yang seharusnya tidak bisa dimasuki manusia kini terbuka dan bisa dimasuki oleh manusia.


Parahnya lagi pihak akademi merasa bahwa keamanan segel ini tidak akan ada yang bisa membukanya, sehingga mereka tidak perlu memantau situasi di tempat ini. Para panitia hanya menunggu para siswa ditempat lain. Jika memang ada siswa yang membutuhkan bantuan atau menyerah, maka siswa itu bisa melepaskan sinyal darurat yang diberikan pihak akademi untuk ditembakkan ke udara.


Aran bersama kedua temannya semakin dalam memasuki wilayah hutan. Semakin mereka masuk, semakin mencekam keadaan di dalam hutan. Bahkan bulu kuduk mereka seringkali berdiri karena adanya angin dingin yang berhembus.


“Kenapa aku merasa sangat ketakutan”


Berkata Rumbun yang tiba-tiba saja tubuhnya merinding.


“Aku juga, bulu kudukku sampai berdiri. Hutan ini sangat aneh”


Kata Taeyang menambahkan.


Sementara Aran yang memang dari awal sudah bersiap tidak merasakan takut sama sekali. Karena kini Aran sudah berada di level yang berbeda.


Sebenarnya bukan hanya kelompok Aran yang memasuki hutan terlarang ini, banyak kelompok lain yang sudah memasukinya dan sampai sekarang pihak akademi belum menyadarinya.


“Sssshhhh”


Terdengar desisan ular dari atas kelompok Aran.


“Suara ini, seperti suara ular. Tapi kenapa suaranya begitu keras dan menakutkan”


Taeyang yakin bahwa suara desisan ular tidak mungkin sekeras ini. Sebesar-besarnya ular tidak akan mengeluarkan desisan yang begitu menakutkan seperti yang mereka dengar saat ini.


“Iya, kamu benar Taeyang”


Kata Rumbun.


Sementara Aran langsung mengaktifkan mata surgawinya untuk memindai area sektiar mereka. Ia begitu kaget melihat ular berwarna hitam bercorak coklat dan hijau berada di atas pohon tinggi. Tapi yang membuat Aran kaget adalah ukuran ular itu yang sangat besar. Ular itu bisa dibilang sebesar gajah dewasa dan memiliki panjang puluhan meter.


‘Gila, ada ular sebesar ini di sini’


Batin Aran.


“Kalian semua dengarkan perkataanku dan jangan menoleh. Di atas kita sekarang ada ular yang sangat besar sedang mengawasi kita. Ia bersembunyi di balik dedaunan”


Ular itu memang bersembunyi di balik dedaunan pohon. Pohon-pohon di hutan ini adalah pohon yang sangat besar dan tingi, dengan daun-daun yang lebar dan besar.


Aran bersama kedua temannya tepat berada di bawah ular tersebut.


“Ular”


Kata Rumbun sambil menelan ludahnya setelah mendengar perkataan Aran.


“Sebesar apa Hyung”


Tanya Taeyang dengan suara yang sangat pelan, tapi bisa didengar oleh Aran dan Rumbun.


“Sebesar gajah dewasa dan panjang puluhan meter”


Jawab Aran dengan suara pelan juga.


Perkataan Aran ini membuat mereka semua syok dan hampir jantungan.


“U..ular sebesar gajah dewasa”


Taeyang berkata sambil tergagap-gagap. Ia sampai merinding membayangkan ular sebesar gajah yang dikatakan oleh Aran.


“Ma.. maaf Mahapatih. Kamu sedang tidak bercanda dengan kami kan”


Kata Rumbun menambahkan. Ia juga takut dengan ular besar yang dikatakan oleh Aran kepada mereka.


“Jika kalian tidak percaya, kalian bisa melihat ke atas kepala kalian. Kebetulan ular itu sudah tidak bersembunyi lagi dan kini ia sedang menatap kita”


Perkataan Aran ini tentu saja membuat Rumbun dan Taeyang ketakutan. Tapi karena penasaran, mereka berdua lalu melihat ke atas kepala mereka dengan perlahan-lahan.


Ketika mereka melihat ular itu, jantung mereka hampir berhenti berdetak. Karena kini mereka dapat melihat dengan jelas kepala ular itu benar sebesar gajah dewasa dengan taring yang sangat panjang. Mata ular itu kini tengah menatap ke arah mereka.


“Omooo, tolongg”


Reflek Taeyang berkata seperti itu.