
Gerbang kerajaan Sunda Galuh (Padjajaran)
"Wah... Jadi ini gerbang kerajaan, benar-benar luar biasa, ukirannya sama persis seperti gambar dalam buku," ucap Aska terpukau.
"Sekarang gerbang dalam buku cataan sudah ketemu, selanjutnya apa yang harus dilakukan? Apa masuk kedalam kerajaan?" batin Aska.
"Hei... Siapa kamu?" tanya penjaga gerbang kerajaan dengan nada menyentak.
"Maaf paman, saya hanya lewat," ucap Aska.
"Cepat pergi... Jangan melamun di situ," ucap penjaga gerbang.
"Iya iya... Saya cuma mau bertanya paman," ucap Aska merendah.
"Tidak boleh bertanya di sini! Cepat pergi! Atau kamu mau di anggap sebagai penyusup?" ucap penjaga kerajaan sembari menodongkan senjata.
"Iya paman saya pergi," ucap Aska kesal.
Aska langsung pergi menjauh dari gerbang kerajaan dengan penuh kekesalan kepada penjaga gerbang yang mengusirnya.
"Penjaga gerbang sialan. Melihat-lihat gerbang saja sudah marah-marah, mana merendahkan lagi. Kalau saja bukan penjaga gerbang kerajaan, dari tadi sudah jadi dodol," batin Aska menggerutu kesal.
***
Di jalan pemisah antara istana kerajaan dan ibu kota kerajaan.
Pada saat berjalan keluar dari wilayah istana kerajaan Sunda Galuh, seseorang mencegat Aska.
"Berhenti!" ucap seseorang yang mencegat Aska, diantara lain yaitu putra bungsu Prabu Siliwangi, Raden Kiansantang.
Secara langsung Askapun berhenti.
"Hormat saya Raden," Ucap Aska memberi hormat.
"Siapa kamu? Sepertinya kamu bukan berasal dari ibu kota kerajaan," tanya Raden Kiansantang.
"Saya bukan siapa-siapa Raden. Hanya seorang pengembara yang sedang lewat," ucap Aska merendah.
"Yang aku tanyakan, siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu seorang pengintai dari kerajaan lain?" tanya Raden Kiansantang.
"Mohon maaf Raden, saya kurang mengerti dengan pertanyaan Raden. Saya hanya orang biasa," ucap Aska.
"Orang biasa tidak mungkin berani mendekati pintu gerbang istana kerajaan," ucap Raden Kiansantang.
"Saya tidak tau apa-apa raden, kalau saya tau dari awal mendekati pintu gerbang istana dilarang, saya tidak akan mendekat," ucap Aska.
"Bohong!" ucap Raden Kiansantang menyentak.
Secara tiba-tiba Raden Kiansantang menyerang Aska. Aska berhasil menghindari pukulan pertamanya yang mengarah ke kepala Aska. Secara beruntun Raden Kiansantang menyerang perut Aska dengan telapak tangan. Aska tidak dapat menghindarinya dan terpental.
"Tekanan macam apa ini? Kenapa sulit sekali menghindari serangannya? langkah serasa menjadi berat," batin Aska.
"Tidak perlu menahan diri, keluarkan kemampuanmu yang sebenarnya," ucap Raden Kiansantang.
Setelah mendengan ucapan tersebut. Semangat Aska meluap-luap. Ternyata Raden Kiansantang menganggap tinggi kemampuan silat Aska.
Aska dan Raden Kiansantang mengambil kuda-kuda sikap pasang.
Setelah beberapa ketukan bertatapan, pertarunganpun dimulai.
Aska menyerang lebih dulu menggunakan tendangan silang kaki kanan. Namun, dengan mudahnya Raden Kiansantang menahan serangan Aska. Menangkap dan mencengkram pergelangan kaki Aska, lalu secara cepat memukul pahanya, dilanjutkan memukul bagian perut Aska dengan kedua telapak tangannya, hingga Aska terpental.
Aska tumbang hanya dengan tiga gerakan. Bahkan, Raden Kiansatang hanya melangkah satu pijakan saja.
"Ukhuk...," Aska batuk kesakitan dan mengeluarkan darah.
"Sial... Ternyata kesaktian Raden Kiansantang yang dibicarakan Arya bukan hanya omong kosong belaka. Auranya saja sungguh memberikan tekanan yang kuat. Hanya tiga gerakan membuatku seperti ini," batin Aska.
"Ada apa? Kenapa masih keras kepala menyembunyikan kemampuanmu," ucap Raden Kiansantang.
"Saya tidak mengerti yang Raden maksud. Kemampuan saya memang hanya sebatas ini Raden," ucap Aska sembari menahan rasa sakit.
"Masih saja berusaha mengelak," ucap Raden Kiansantang.
Setelah berucap, tiba-tiba Raden Kiansantang menyerang kembali Aska di bagian perut. Setelah serangan tersebut Aska hilang kesadaran.
***
Istana Kerajaan Sunda Galuh (Padjajaran).
"Hamba merasakan hawa energi kuat dari dalam jiwanya, walaupun ditekan sedemikian kecil," ucap Raden Kiansantang.
"Baiklah, lakukan sesuai yang kamu rencanakan wahai Putraku," ucap Prabu Siliwangi.
"Baik, terima kasih Ayahanda Prabu," ucap Raden Kiansantang sembari memberi hormat.
***
Aula pengobatan.
"Ukh, Dimana ini?" ucap Aska.
"Ini di aula pengobatan istana," ucap Raden Kiansantang, tiba-tiba muncul.
"Kenapa saya bisa ada di tempat ini Raden?" tanya Aska memberi hormat.
Raden Kiansantang menjelaskan semua situasi yang terjadi kepada Aska sewaktu hilang kesadaran.
"Saya meminta maaf sebesar-besarnya, karena sudah salah sangka terhadapmu," ucap Raden Kiansantang.
"Tidak apa-apa Raden, salah saya juga main masuk ke wilayah gerbang istana," ucap Aska.
"Kemanakah tujuanmu? sampai-sampai melewati wilayah istana," tanya Raden Kiansantang.
"Terima kasih Raden sudah bertanya. Saya sedang mencari gunung yang mirip seperti gajah tengkurap. Apakah Raden mengetahui lokasi gunung tersebut?" tanya Aska.
"Gunung seperti gajah tengkurap ya... Ada, aku pernah dengar dari seseorang, ada sebuah gunung yang mirip seperti gajah tengkurap di sebelah timur istana, jalan lurus dari pintu gerbang belakang istana. Lama menempuh jalannya sekitar beberapa hari saja. Apakan itu dapat membantu?" ucap Raden Kiansantang.
"Iya Raden terima kasih, itu sudah lebih dari cukup," ucap Aska sembari bangun.
"Izinkan saya pergi dari istanan Raden," ucap Aska memberi hormat.
"Lukamu bagaimana? kenapa tidak besok saja melakukan perjalanannya," ucap Raden Kiansantang.
"Mohon maaf Raden, saya tidak bisa menunda lagi. Harus segera berangkat," ucap Aska.
"Ya sudah, ayo aku antar," ucap Raden Kiansantang.
"Terima kasih Raden," ucap Aska.
***
Gerbang belakang sebelah timur istana kerajaan.
"Terima kasih Raden, sudah mengantar saya hingga sampai pintu gerbang," ucap Aska sembari memberi hormat.
"Iya sama-sama... Ini ambilah untuk bekal di perjalanan," ucap Raden Kiansantang menawarkan satu kantong koin emas.
"Tidak usah Raden. Untuk makan saya bisa berburu," ucap Aska.
"Tidak apa-apa. Ambil saja, anggap saja sebagai tanda permohonan maaf." Ucap Raden Kiansantang.
"Kalau Raden sangat memaksa, saya tidak bisa menolak. Terima kasih Raden... Kalau begitu saya mohon pamit," ucap Aska.
Askapun pergi dari istana dan melanjutkan perjalanannya
***
Beberapa menit kemudian. Setelah keluar dari istana kerajaan.
"Hehehehe, dapet banyak koin emas, bisa makan dagin sapi kalau begini ceritanya hahahaha," batin Aska.
"Tapi sungguh memalukan, dikalahkan hanya beberapa gerakan sama orang yang seusia denganku. Tunggu saja Raden, beberapa tahun lagi aku akan datang ke istana kerajaan Sunda Galuh dan menantangmu secara resmi... Yang penting sekarang dapat banyak koin emas. Makan enak makan enak hehehe," batin Aska.
Kekalahan dan kehancuran harga diri, menjadikan Aska teguh dalam pendiriannya untuk menjadi seorang pendekar yang kuat di Bumi Nusantara.
***
Beberapa hari kemudian
Udara dingin menembus sampai pori-pori kulit. Langit begitu gelap, diterangi lentera alam dan dihiasi jutaan gemerlap kecil.
Malam hari di antara hamparan rumput perbukitan samping pesawahan dan perkampungan. Aska duduk di sebuah saung sambil menatap indahnya langit malam.
"Sepanjang perjalanan serasa ada yang mengikuti. Siapa mereka? Mau sampai kapan mereka membuntutiku? Merepotkan. Aku harus bisa lepas dari pandangan mereka," batin Aska menggerutu.
Setelah memikirkan sebuah rencana untuk melarikan diri dari pandangan para penguntit, Aska tertidur dengan lelap di antara hembusan-hembusan angin malam.