Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Jalan Pedang II



Kemudian dengan santainya Aran meninggalkan jasad siluman tersebut. Ia lalu berjalan menatap gerombolan monster yang kini berdiri di belakang Jenderal Gerbang 7.


"Apa kalian ingin maju bersama atau satu-satu. Bagiku semua sama saja"


Aran menatap mereka semua dengan pedang neraka di tangannya, membuat semua makhluk merinding ngeri.


Hanya Jenderal SIluman saja yang tampak biasa saja.


Tapi kali ini Jenderal Gerbang 7 itu tidak ingin mengorbankan pasukannya. Ia sadar bahwa percuma saja jika pasukannya yang maju, hasilnya akan sama yaitu pembantaian sepihak.


"Aku tidak menyangka bahwa ada manusia hebat seperti dirimu di dunia kecil ini. Sepertinya aku tidak perlu ragu untuk mengeluarkan seluruh kemampuanku"


Jenderal itu lalu berjalan pelan hingga jarak antara dirinya dengan Aran hanya berkisar kurang lebih 10 meter.


"Heaaaaaa"


Aura tubuhnya meledak dan merubah bentuk fisiknya yang kini dilengkapi dengan pelindung berwarna hitam.


"Sangat jarang aku memperlihatkan wujud asliku ini. Aku adalah petarung sejati, bagiku mati dalam pertempuran adalah suatu kehormatan. Aku harap kau bisa memberikanku pertarungan yang layak"


Karena pihak lain sangat menghormati pertarungan, maka Aran juga akan memberikannya pertarungan yang diinginkannya. Aran dapat merasakan bahwa siluman dihadapannya ini adalah makhluk yang jujur dengan perkataannya. Karena jika ia tidak jujur, maka dari awal bisa saja ia ikut menyerang Aran ketika Aran bertarung dengan para bawahannya.


"Baiklah kalau begitu, mari kita nikmati pertarungan ini. Tapi sebelumnya aku ingin melihat semua orang yang kalian sandera, karena dengan begitu maka aku bisa memberikanmu pertarungan yang terbaik"


Saran Aran tentu saja di setujui oleh Jenderal itu.


Jenderal itu menggunakan gerakan tangan untuk mengeluarkan portal dimensi.


Setelah portal dimensi terbuka terlihatlah para siswa dan para guru yang di tangkap oleh mereka. Yang pertama kali merespon adalah Kepala sekolah.


"Master Xiao, para Tetua dan saudaraku"


Di balik portal dimensi para tahanan dapat melihat Kepala sekolah dan Aran.


Sekilas Aran juga melihat beberapa wajah yang dikenalnya. Seperti Fuma dan Xavier.


"Kepala Sekolah"


"Kepala Sekolah, selamatkan kami"


Kepala sekolah ingin berkata kembali tapi portal itu telah ditutup oleh Jenderal Siluman yang menyebabkan ia mendesah kesal.


"Sudah cukup, aku ingin segera bertarung denganmu. Sebelum bertarung aku ingin tau, siapa namamu manusia"


"Namaku Aran"


"Hmm, Aran. Namaku Shen Long. Aku adalah Jenderal gerbang terakhir, sekaligus penjaga tahanan. Jika kau mengalahkanku maka para tahanan ini bisa bebas"


"Mari kita mulai"


Berkata Shen Long sambil mengeluarkan senjatanya yang berbentuk pedang hitam.


"Mari"


Bzzztt


Trang!


Trang!


Dalam sekejap mata kedua sosok itu sudah bertarung di udara. Suara benturan pedang terdengar sangat keras. Belum lagi berbagai sinar cahaya yang menyilaukan efek dari masing-masing petarung.


"Ternyata kamu sangat hebat, sudah lama sekali aku tidak bertarung seperti ini"


Siluman itu begitu bahagia bisa bertarung sehebat ini, terlihat dari wajahnya yang tersenyum.


"Terima kasih, kau juga sangat hebat"


Kedua petarung ini kembali melakukan pertarungan yang memukau pandangan mata bagi yang menontonnya.


"Jurus Pedang Siluman Penghancur Langit"


Pedang Shen Long langsung berubah menjadi 7 bayangan pedang. Terlihat jelas tubuh Jenderal itu mengeluarkan aura yang lebih mendominasi.  Auranya bahkan meliputi lingkungan pertarungan sekitar.


"Aran ini adalah jurus pedang terbaikku, selain aku hanya Panglima tertinggi yang memiliki ilmu ini. Mungkin ia sekarang sedang menatap kita bertarung. Untuk itu, berikanlah pertarungan terbaik untukku"


Melihat musuhnya menggunakan ilmu pedang yang hebat, Aran merasa juga harus mengeluarkan salah satu ilmu pedangnya. Dari awal Aran juga sudah tau bahwa ada kekuatan tak kasat mata yang telah mengunci dirinya dari tadi. Tapi entah kenapa kekuatan itu tidak melakukan apapun selain mengunci dirinya.


Aran yakin bahwa pihak yang mnguncinya ini adalah Panglima Siluman.


Tapi Aran tidak mau ambil pusing masalah ini, jadi ia ingin memberikan pertunjukkan terbaik kepada Jenderal siluman dihadapannya.


'Sepertinya ini saatnya aku mencoba ilmu ini'


"Seni Pedang Bintang, gaya pertama"


Aran melakukan gerakan memutar pedang yang menyebabkan pedang neraka di tangannya memiliki bayangan yang mengikutinya. Hal ini terlihat sangat indah bagi yang memandangnya.


Seni Pedang Bintang adalah seni berpedang yang diturunkan turun temurun oleh Kerajaan Bintang. Hanya mereka yang merupakan keturunan asli yang dapat mempelajari seni ini. Untuk Pedang Bintang sendiri, Aran tidak mau mengeluarkannya karena ia takut hal itu malah menimbulkan masalah yang tidak perlu bagi dirinya.


Pedang Neraka di tangan Aran ini adalah pedang yang sudah bergabung dengan pedang miliknya. Jadi Aran merasa, dengan pedang ini saja sudah cukup untuk menghadapi para musuhnya.


'Seni Pedang Bintang'


Makhluk yang selama ini mengunci Aran begitu kaget melihat ilmu ini. Karena ia tau siapa pemilik seni pedang ini.


'Bagaimana mungkin manusia dari dunia kecil ini memilki seni pedang ini, asal usulnya pasti bukanlah main-main'


Kembali ke medan pertarungan, Jenderal siluman tanpa ragu menyerang Aran dengan jurus pedangnya.


"Heaaaa"


Aran juga tanpa ragu maju menerjang musuhnya.


"Heaaaa"


Trang!


Trang!


Kilatan cahaya memenuhi tempat ini dan beberapa kali kilatan cahaya itu menghancurkan beberapa pohon dan tanah menjadi hancur.


Boom


"Tebasan pertama"


Slashhh


Sinar cahaya keluar dari pedang Aran yang membentuk tanda silang menghampiri Jenderal siluman dengan sangat cepat. Karena ia merasa tidak dapat menghindarinya ia menahannya dengan ilmunya walau itu terlambat.


Bang!


Sinar pelindung yang dikeluarkan Jenderal Siluman pecah dan menyebabkan ia terlempar kebelakang karena dorongan cahaya tersebut.


"Uarrrghh"


Tubuhnya menghantam beberapa pohon hingga akhirnya ia berdiri dengan noda darah di sudut bibirnya.


"Hahahahaha, ini baru namanya pertarungan"


Bukannya kesal karena terkena serangan musuhnya, Jenderal ini malah tertawa bahagia.


"Heaaaa"


Ia kembali bergerak cepat menyerang Aran. Kali ini ia meningkatkan serangannya ke level yang lebih tinggi. Pedangnya berkelok-kelok membuat Aran kesulitan menghadapinya.


'Sial, siluman ini kenapa kuat sekali padahal sudah terkena ilmu pedangku'


Seketika Jenderal itu melihat Aran lengah, ia langsung menghantam sudut mati tubuh Aran dengan tendangan yang begitu kuat.


Reflek Aran menahannya dengan tangan kirinya yang menyebabkan ia terpental jauh.


'Sial, makhluk ini sangat kuat'


Batin Aran yang kini berdiri setelah terkena tendangan Jenderal siluman.


Melihat Aran berdiri, Shen Long tidak mengendurkan serangannya.


"Api Seribu Siluman"


Dari pedang Jenderal kerluar api berwarna hijau disertai gambar wajah puluhan tengkorak yang maju menerjang Aran.


Shuuuuu.


Api itu bergerak cepat ke tempat Aran berdiri. Melihat api yang sangat menakutkan, Aran berlari menghindarinya tapi ternyata api itu terus mengejarnya.


'Sial, api ini memiliki kesadaran'


Batin Aran.


Setiap tempat yang dilewati api ini pasti akan meleleh.


'Gila efek korosi'


"Gerak Langit level 7"


Bzttt


Tubuh Aran bergerak sangat cepat, meninggalkan bayangan api.


Sesaat jaraknya cukup jauh dari api siluman, Aran mengeluarkan ilmu pedangnya kembali dengan membalik badannya berhadapan dengan api siluman.


"Gaya Pedang, tebasan kedua"


Slassh.


Cahaya pedang maju menerjang api siluman yang langsung melenyapkannya.


Melihat api siluman yang mengejarnya sudah hilang, Aran bergerak  menuju Jenderal untuk kembali menyerangnya. Kali ini Aran melompat tinggi ke udara.


"Oooh, ternyata api siluman ku bisa dilentapkannya"


Melihat api silumannya lenyap, Jenderal sama sekali tidak kaget. Karena ia tau manusia yang dilawannya ini sangat tangguh.


"Hahaha. Kemarilah"


Jenderal itu siap menghadapi serangan Aran yang baru.


"Heaaaa"


Dari udara Aran menerjang musuhnya yang ada di bawah.


Aran melakukan putaran pada tubuhnya untuk menyerang Jenderal siluman.


"Terimalah ini. Seni Bintang gaya ketiga, Putaran Penghancur Bumi"


Jenderal Siluman yang melihat musuhnya menerjang dari langit langsung menguatkan pegangan pada pedangnya.


"Aku juga tidak mau kalah, Pedang Siluman Penghancur Langit"


Dengan senyuman di wajahnya, sosok Jenderal maju menerjang ke udara menghampiri Aran.


 


~Note~


Chapter ini disponsori oleh :


**Mie Ayam Keriting **


Pakde Bintang.


Bagi teman-teman yang ingin mencobanya, Mie ayam ini ada di Bekasi.


Tepatnya, seberang Polsek Bekasi Selatan (Grand Galaxy).


Kalau author suka dengan Mie Ayam Yamin baksonya ya.


Itu enak banget, apalagi pedes. Mantap Jiwa, hehehe.


BTW Mie ayam ini sudah tersedia di aplikasi online ya.


See u next chapter dan ingat selalu patuhi protokol kesehatan.


Terima kasih ^^