Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Hutan Terlarang II



Taeyang hampir pingsan melihat ular sebesar itu. Selama hidupnya baru kali ini ia melihat ular yang ukurannya sangat besar. Kakinya sampai tidak berhenti gemetaran. Kini Taeyang hanya bisa menatap dalam diam ke arah ular besar itu.


“Hyuuungg-nim.. To.. to..tolong.. a..akk..aku”


Dengan tergagap-gagap Taeyang berkata sambil tangannya mencoba menggapai Aran yang berdiri tidak jauh darinya. Melihat Taeyang yang seperti ini malah membuat Aran tertawa.


“Hahahaha, kenapa kamu takut sekali. Lihatlah Rumbun, dia bahkan diam saja tidak takut sama sekali”


Kata Aran yang masih saja tertawa bahagia.


Tidak lama Rumbun menolehkan wajahnya ke arah Aran.


“Ma.. Mahapatih”


Berkata Rumbun dengan wajah yang sangat pucat.


Aran malah semakin ingin tertawa keras melihat wajah Rumbun.


“Wahahahaha, kenapa wajah kamu pucat sekali”


Aran sudah tidak tahan dan akhirnya ia tertawa terbahak-bahak melihat kedua temannya yang kini berwajah seperti mayat, pucat pasi dengan banyak keringat.


Taeyang dan Rumbun serasa mau mati melihat tingkah Aran yang malah tertawa terbahak-bahak.


“Hyungg-nim..”


Ketika Taeyang kembali berkata. Kemudian terdengar desisan keras dari atas kepala mereka. Kali ini ular itu memajukan kepalanya turun ke bawah menghampiri kelompok Aran.


“Ommmaaaaaa”


Dengan segenap kekuatannya, Taeyang bergerak cepat dengan melompat jauh ke belakang. Tapi apa yang dilakukan Taeyang justru membuat ular itu semakin tertarik kepadanya dan berusaha mengejarnya.


Berbeda dengan Rumbun yang masih diam membeku melihat ular itu mengejar Taeyang.


“Hyunngggggg, tolong akuuu”


Dalam pelariannya, Taeyang berteriak dengan sangat keras.


Bukan secepatnya menolong Taeyang, Aran malah kembali tertawa terbahak-bahak.


“Wuahahahahha, hahahahha. Kamu itu minta tolong sama aku atau sama Omma kamu. Hahahaha, Mamam kamu”


Perkataan Aran ini membuat Taeyang hampir terpleset karena candaannya.


Bahkan kini Aran tertawa sambil memegangi perutnya.


“Hyuungggg, jangan bercandaaa. Tolong aku, ular ini hampir memakanku”


Teriak Taeyang dari kejauhan.


“Mahapatih, jangan ketawa terus. Tolong selamatkan saudara Taeyang”


Berkata Rumbun dengan wajah yang masih pucat. Selama hidupnya,baru kali ini juga ia melihat ular sebesar dan sepanjang itu. Di tempatnya sendiri ia tidak pernah melihat ular yang besarnya sama dengan gajah dewasa.


“Hahahaha.. iya iya, baiklah. Kamu tunggu di sini. Kalian berdua sungguh lucu”


Kata Aran yang akhirnya menyudahi ketawanya. Ia lalu melompat dan bergerak cepat untuk mengejar Taeyang.


Aran dapat melihat bahwa kini jarak antara Taeyang dan ular besar itu hanya berjarak beberapa meter saja. Tiba-tiba ular itu mengeluarkan lidahnya yang sangat panjang dan melilit tubuh Taeyang.


“Hyuuunngg”


Ketika ular itu akan menarik lidahnya kembali ke dalam mulut, saat itu juga Aran memotong lidah ular itu.


Slaaashhh


Potongan lidah ular yang masih melilit tubuh Taeyang langsung jatuh ke tanah. Sementara ular yang terpotong itu seperti menjerit kesakitan dengan mulut berlumuran darah. Ular itu sampai berguling-guling di hutan yang menyebabkan banyak pohon hancur berantakan.


Dengan cepat, Aran turun dan menolong Taeyang. Ia segera membantu Taeyang melepaskan lilitan lidah ular itu.


“Hahahaha, tampilanmu kini sangat menjijikan Taeyang”


Aran masih saja menggoda Taeyang yang kini sekujur tubuhnya berlumuran lendir ular.


Taeyang benar-benar tidak bisa berkata-kata melihat tingkah Aran yang terus saja menggodanya.


“Hyung-nim, kamu sepertinya terlihat bahagia sekali melihat aku begini”


Kata Taeyang pelan sambil ia terus membersihkan tubuhnya dari sisa lendir ular. Perkataan Taeyang ini malah membuat Aran semakin tertawa keras.


Ketika mereka masih asik mengobrol, terlihat ular itu menghampiri mereka dengan sangat cepat. Tapi kali ini ular itu terlihat sangat marah pada mereka.


“Puuhh”


Ketika jarak ular itu sudah dekat, ia melepaskan ludah asam ke arah Aran dan Taeyang.


“Taeyang, menghindar”


Dengan gerakan cepatnya, Aran bergerak mengangkat tubuh Taeyang dan membawanya pergi.


Ludah asam itu langsung mengenai pepohonan yang menyebabkan beberapa pohon dan tanaman hingga melepuh.


“Taeyang pergilah ke tempat Rumbun, biar aku yang menghabisi ular ini”


“Baik Hyung, hati-hati”


Jawab Taeyang yang langsung bergerak cepat meninggalkan Aran. Ia begitu takut dengan ular itu, jadi ia begitu bersemangat ketika Aran memintanya untuk segera pergi.


Melihat Taeyang yang sudah pergi jauh, Aran lalu melompat ke hadapan ular itu.


“Ular besar, aku sebenarnya tidak ingin membunuhmu. Tapi karena kau telah berani menargetkan kami, maka aku tidak akan segan untuk membunuhmu”


Kata Aran dihadapan ular besar itu.


Kini mata ular itu terlihat seperti menyala karena marah, ia begitu benci dengan manusia yang berdiri dihadapannya ini karena telah berani memotong lidahnya. Di hutan ini, ular itu berada di puncak strata dengan makhluk-makhluk kuat lainnya. Ia tidak menyangka bahwa hari ini ia akan mengalami nasib sial seperti ini. Lidahnya dipotong oleh manusia.


Dengan gerakan cepat, ular itu maju menerjang Aran.


“Huh, ular sepertimu ingin menyerangku”


Gumam Aran.


Begitu ular itu membuka mulutnya, Aran langsung menghajar ular itu dan memukulnya ke atass.


Bugghh


Pukulan Aran menimbulkan dorongan yang sangat kuat dan menyebabkan ular itu terbang ke langit.


Aran kemudian melompat ke udara dan memukul kepala ular itu.


“Rasakan ini”


Buaagghhh


Boommm


Debu besar langsung memenuhi udara disekitar tempat ular itu jatuh. Bahkan suara jatuhnya ular itu sampai terdengar ke beberapa tempat.


“Suara apa itu”


Beberapa orang berhenti melakukan aktifitasnya karena mendengar suara dentuman yang cukup keras.


Taeyang dan Rumbun yang mendengar suara itu berasal dari tempat Aran, segera berlari dengan sangat cepat. Mereka khawatir Aran akan terluka karena bertarung dengan ular besar yang menyerang mereka sebelumnya.


Ketika Taeyang dan Rumbun sampai, mereka malah kaget dengan pemandangan dihadapan mereka.


Terlihat Aran yang sedang duduk santai di atas kepala ular itu.


“Hyung-nim”


Teriak Taeyang.


“Ah kalian, akhirnya datang juga”


Aran lalu berdiri dan menjelaskan kepada kedua temannya ini atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Setelah itu, Aran meminta kedua temannya untuk mengambil inti roh dari ular raksasa tersebut.


Dengan cekatan, Taeyang dan Rumbun segera melaksanakan perintah dari Aran. Mereka langsung membelah ular itu dan mengambil intinya.


“Hyung-nim, ini inti roh kelas 4!”


Taeyang sangat kaget melihat inti roh ditangannya ini. Begitupun dengan Rumbun, ia juga kaget melihat inti roh tersebut.


“Pantas ular ini sangat besar dan hebat, ternyata ini ular kelas 4”


Kata Rumbun menambahkan.


“Hyung-nim, ini inti rohnya”


Taeyang lalu memberikan inti roh itu kepada Aran. Tapi Aran hanya meliriknya dan tidak tertarik sama sekali.


“Untuk kalian saja, aku tidak tertarik”


Jawaban Aran ini seketika membuat Taeyang dan Rumbun saling pandang.


“Mahapatih, ini inti roh kelas 4. Harganya sangat mahal, kami tidak pantas menerimanya”


Perkataan Rumbun ini langsung dipotong oleh Aran.


“Aku tidak butuh hal seperti itu. Sudah untuk kalian saja, jika kalian tetap memaksa memberikannya padaku, nanti malah aku berikan kepada para gadis”


Jawaban Aran ini langsung membuat wajah Taeyang dan Rumbun manyun.


Tentu saja mereka tidak terima jika inti level 4 ini diberikan kepada para gadis.


“Enak sekali mereka jika menerima ini, ya sudah akan aku simpan saja. Nanti hasil penukarannya akan aku bagi dua dengan Rumbun”


Jawab Taeyang yang langsung memasukkan inti roh itu ke ruang dimensi miliknya.


Aran hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua temannya ini.


“Ayo kita pergi”


Setelah selesai pembicaraan mereka, Aran lalu mengajak semua temannya untuk pergi memasuki kedalaman hutan. Mereka bertiga tidak sadar bahwa semakin mereka memasuki hutan itu, semakin banyak bahaya yang mengintai mereka.


>>>


Di sisi hutan yang lain.


Para gadis juga mulai memasuki bagian dalam hutan terlarang. Sampai dengan detik ini para panitia dari akademi tidak mengetahui bahwa formasi pelindung yang menuju hutan terlarang telah di rusak, sehingga kini sudah banyak siswa yang mulai memasuki hutan terlarang.


“Namora, kenapa suasana di sini sangat mencekam”


Varya bertanya kepada Namora yang lebih senior sebagai siswa akademi. Srikandi dan Octavia juga penasaran dengan lingkungan hutan yang begitu mencekam. Seringkali ada udara dingin yang berhembus tiba-tiba dan juga kadang terdengar suara lolongan hewan yang sangat menakutkan.


"Aku juga tidak tau, karena baru kali ini aku memasuki hutan ini"


Jawab Namora yang juga penasaran dengan lingkungan hutan ini. Ia merasa, selama menjadi siswa akademi baru kali ini ia memasuki hutan seperti ini.


“Tubuhku merinding”


Kata Srikandi.


“Aku juga”


Octavia menambahkan.


Mereka semua lalu saling pandang dan mulai mendekatkan diri mereka untuk berjalan berbarengan.


Kini mereka berempat tengah berjalan di tengah-tengah tanaman ilalang yang lumayan tinggi. Sejauh mata memandang hanya ada ilalang berwarna hijau dan cokelat.


Ketika mereka tengah berjalan, terdengar suara geraman dari balik ilalang.


“Apa kalian mendengarnya”


Namora berkata kepada semua temannya.


“Ya kami mendengarnya”


Para gadis yang lain juga mendengar suara geraman itu. Mereka lalu mencoba mencari tau asal suara itu sambil melihat sekeliling.


“Arrrrrrr’


Tidak lama muncul dua ekor serigala yang ukurannya lebih besar dari serigala pada umumnya. Serigala ini memiliki tubuh sebesar sapi dewasa. Serigala ini memiliki taring panjang yang menjulang panjang dari mulut hingga ke bawah.


Walau mereka berjalan di antara ilalang, tapi mereka dapat melihat serigala itu karena ukuran tubuh hewan tersebut yang cukup besar.


“Serigalaa”


Kata para gadis berbarengan.


“Awoooooooo”


“Awoooooo”


Kedua serigala itu melolong dengan sangat keras menghadap langit.


Setelah selesai melolong, kedua serigala itu langsung berlari menerjang ke tempat para gadis.


“Lariiiiii”


~Note~


Bagi yang mau promo dan berkomentar silahkan ya. Anggap aja rumah sendiri.


See u next chapter.