Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Siluman Ular



Beberapa saat kemudian. Di saat Aska berjalan mengikuti perempuan misterius itu, Aska melihat ada sebuah warung terbuka di tengah hutan.


Aska memiliki firasat buruk tentang warung tersebut. Dikarenakan di warung terbuka tengah hutan itu terdapat 6 orang pengunjung yang sedang makan.


Sesampainya di warung terbuka. Perempuan misterius itu berhenti dan berbalik kehadapan Aska.


"Namaku Karni! kalau kamu?" ucap Perempuan misterius tersebut dan bertanya balik.


"Saya Aska!" jawa Aska gugup.


Nyi Karni tersenyum setelah Aska memberitahukan namanya.


Aska sedikit terkejut, orang yang tadinya membisu dan dingin, tiba-tiba berbicara kepadanya.


"Silahkan duduk dulu!" ucap Nyi Karni.


"Terima kasih Nyi!" balas Aska memberi hormat.


Tanpa banyak berkata Aska langsung duduk. Nyi Karni mengambilkan Aska makanan, lalu duduk di sebelahnya.


"Nyai mohon maaf, kalau boleh tau, kenapa para penjual di pasar tadi menyerang saya? padahal saya berniat baik membantu mengejar pencopet," tanya Aska dengan gugup dikarenakan situasinya yang canggung.


"Tadi itu para preman pasar," jawab Nyi Karni sembari memandang mata Aska.


"Biasanya para pencopet bekerja sama dengan preman di pasar itu," ujar Nyi Karni.


"Oh... Pantesan," ucap Aska sembari mengunyah makanan.


"Kenapa Nyai bisa ada di pasar itu dan membatu saya?" tanya Aska.


"Kebetulan lagi berbelanja. Kamu kelihatanya orang baik, jadi aku bantu," jawab Nyi Karni.


"Sekali lagi terima kasih Nyai sudah membantu saya," ucap Aska.


"Iya sama-sama... Ngomong-ngomong ada keperluan apa kamu di pasar itu?" tanya Nyi Karni.


"Tidak ada apa-apa. Saya hanya seorang pengembara yang kebetulan melewati pasar tersebut," jawab Aska.


Tiba-tiba saja Nyi Karni mendekati Aska dan menempelkan badannya.


"Kamu benar-benar sempurna," ucap Nyi Karni berbisik ke telinga Aska.


"Pendekar muda... Kamu hanya miliku," ucap Nyi Karni dengan nada pelan dan menjulurkan lidahnya ke dekat pipi Aska.


Mata Aska mulai kehilangan cahayanya dan detakan jantungnya melemah. Aska hanya mematung seperti boneka tanpa jiwa.


Nyi Karni menjilat pipi Aska. Sesaat setelah itu, tiba-tiba Aska mendorong Nyi Karni sampai terjatuh dan Askapun langsung berdiri mundur dari tempat duduk.


Nafas Aska terengah-engah. Sekilas teringat...


"...Berhati-hatilah saat bertemu siluman ular. Godaan dan hasutannya berbahaya dan juga licik. Jika dalam perjalanan bertemu siluman ular dan kamu mulai tergoda dengan hasutanya, kamu bakal terhipnotis serta pendengaran dan detak jantung melemah. Bagaimana cara mengatasinya...? Itu bisa dikatakan mudah juga sulit. Pertama fokuskanlah pendengaran ke jantung. Selanjutnya berusahalah bernafas dengan cepat. Terhakhir Alirkan tenaga dalam ke bagian jantung untuk mempercepat detakanya...," ucap Mang Asep sewaktu Aska belajar beberapa pengetahuan di Bumi Nusantara.


Dengan mempraktekan hal tersebut, Akhirnya Aska terbebas dari hasutan hipnotis siluman ular itu.


"Sial... Mentalku masih lemah. Hanya karna dibantu kabur dari preman dan mulai merasa suka karena kebaikan sesaat siluman ini, jadi terjerumus hasutanya. Pantas saja, serasa ada yang janggal. Kalau tau bakal begini, dari tadi mendingan kabur," batin Aska menggerutu dengan nafas terengah-engah.


Setelah Aska mendorong jatuh Nyi Karni, Keenam pengunjung warung yang ternyata anak buah Nyi Karni itu berdiri dengan tatapan khas siluman ular.


Aska tersudut.


"Hahehihihi... Pendekar muda yang mengesankan... Benar-benar mangsa spesial," ucap Nyi Karni sembari ketawa cekikikan.


"Serang!" Nyi Karni memerintahkan anak buahnya.


Salah satu anak buah Nyi Karni mulai menyerang Aska. Aska menghindari pukulan pertama terus menahan tendangan lutut siluman tersebut. Siluman itu menyambung serangannya menggunakan pukulan lengan siku. Aska berhasil menghalau setiap serangannya.


Pada saat Aska menghindari pukulan siku siluman tersebut, salah satu anak buah Nyi Karni yang lain menyerang Aska dengan tendangan yang cukup keras, membuatnya terpental hingga menerobos pintu keluar warung.


"Uukh..." Aska bangun kesakitan.


"Sial... Situasinya sangat tidak menguntungkan. Hanya ada satu cara," batin Aska.


"Hiah... heuah... tsaaah...," Aska mengeluarkan gerakan aneh yang bahkan belum pernah diajarkan oleh mang Asep.


Para siluman anak buah Nyi Karni menyiapkan sikap pasang.


"Ajian macam apa itu?" batin Nyi Karni.


"Kabuuurrr..."


Nyi Karni hanya melongo melihat Aska kabur. Seakan Aska tidak mungkin bisa keluar dari cengkramannya.


"Hihihihi... Sungguh pendekar muda yang lucu," ucap Nyi Karni dengan tenang.


"Anak-anaku... kejar!"


Begitu menerima perintah, para siluman anak buah Nyi Karni langsung mencabut senjata tajamnya dan mengejar Aska.


"Aaaaa... Tolong silumaaan...," Aska lari terbirit-birit dengan kekuatan penuh sambil berteriak.


Dengan cepat para siluman itu sudah berada dibelakang Aska.


Aska menoleh ke belakang, "Ah sialan... Kenapa pada ngejar...," batin Aska menggerutu.


"Apa-apaan senjatanya itu... Segede gaban...," batin Aska resah.


"Aaaaa... Tolong maaang... Sayamah kurus ga ada dagingan...," teriak Aska.


***


Sudah cukup lama Aska berlari dikejar para siluman. Namun, masih belum keluar dari kawasan hutan.


Hingga sampai di hutan yang penuh dengan pohon jeungjing/sengon.


Setelah masuk lebih dalam di hutan tersebut, Aska melihat ada dua orang laki-laki sedang berjalan satu arah denganya.


"Woyy... Lari woyy lari...," teriak Aska.


Mendengar teriakan Aska, kedua orang laki-laki tersebut menoleh ke belakang.


Aska melewati dan mendahului kedua orang tersebut. Karena merasa tidak tega, akhirnya Aska berhenti dan memperingatkan kembali untuk berlari.


Kedua orang laki-laki itu berdiam diri menghadap ke arah sewaktu Aska datang.


Dari kejauhan, para siluman anak buah Nyi Karni berlari dengan kecepatan penuh. Askapun malah ikut berdiam diri melihat ke arah para siluman yang sedang berlari mendekat.


Pada saat beberapa meter lagi sampai kepada kedua laki-laki itu.


"Gubrakkk...," Keenam siluman itu kesandung dan tersungkur secara bersamaan.


Dengan gigihnya para siluman itu berdiri.


Pada saat melangkahkan kaki pertamanya, ke enam siluman tersebut kesandung dan tersungkur lagi untuk yang kedua kalinya hingga sampai dihadapan kedua laki-laki itu.


Aska hanya melongo melihat keenam siluman tersebut kesandung dan tersungkur untuk yang kedua kalinya.


Sungguh hina, harga diri mereka sebagai siluman ular jahat ruksak.


Pada saat para siluman itu jatuh untuk kedua kalinya, tiba-tiba kedua laki-laki itu berlari dan melewati Aska.


"Wuaaaa... Silumaaan...," teriak kedua laki-laki tersebut.


Dalam sesaat Aska mengeluarkan ekspresi wajah polos dan datar dengan penuh kekecewaan. Aska mengira kedua orang tersebut mau melawan para siluman itu. Nyatanya mereka juga ketakutan. Saking takutnya mereka sampai gemetar tidak bisa bergerak.


"Apa-apaan barusaaan...," teriak kesal Aska sembari berlari mengikuti kedua orang tersebut.


Para siluman ular anak buah Nyi Karni kembali bangun dan mengejar Aska serta kedua laki-laki tersebut dengan penuh amarah dan kekesalan.