
Namora menatap Aran dengan serius tanpa berkedip. Meski ia adalah siswa biasa saja di akademi, namun tetap saja banyak yang mengakui kemampuannya. Baik itu dalam hal kecepatan maupun jari saktinya.
"Saya mengaku kalah, jarak antara saya dan Mahapatih bagai bumi dan langit"
Namora menyadari bahwa Mahapatih tidak pernah serius menghadapinya, padahal ia sendir sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Jika saja Mahapatih serius menghadapinya, mungkin dalam hitungan detik ia akan kalah.
Aran tersenyum dari balik topengnya melihat kepribadian Namora. Walau Namora kalah tapi ia adalah petarung sejati.
Akhirya adu tanding itu selesai, Raja Muda meminta semuanya untuk kembali memasuki kediaman.
Didalam ruangan Namora yang sebelumnya tidak memperhatikan Mahapatih dengan serius, kini ia justru terus menatap Mahapatih. Kemudian ia merasa perlu mengenal dengan mereka yang dekat dengan Mahapatih, jadi ia menatap Lingga dan Varya.
Ketika pandangannya menatap Varya, ia baru menyadari sesuatu.
"Nona, wajahmu sangat familiar. Dan juga, pakaian yang kamu pakai sepertinya bukan dari negeri ini. Boleh saya tau darimana kamu berasal"
Aran yang sedang berbicara dengan Raja Muda jadi mengalihkan perhatiannya kepada Varya.
"Saya memang bukan dari negeri ini. Saya berasal dari benua tengah, tepatnya Sekte Bulan Merah"
Brakk.
Perkataan Varya membuat Namora memukul meja didepannya dan langsung berdiri.
"Ulangi perkataanmu, apa benar kau berasal dari sekte sialan itu"
Namora menatap Varya dengan tatapan membunuh.
"Ya, itu benar. Apakah ada masalah"
Varya menajwabnya dengan tenang. Karena menurutnya, gadis dihadapannya ini hanyalah gadis biasa. Jadi ia tidak terlalu ambil pusing dengan sikap Putri Namora.
"Adikk, sudah hentikan. Sikapmu ini benar-tidak sopan, Nona Varya datang kesini bersama Mahapatih. Tolong jaga sikapmu" Raja Muda lalu berdiri dan menarik tubuh Namora untuk kembali duduk
"Karena kamu bersama Mahapatih, kali ini aku memaafkanmu. Selama kamu bukan pengikut Hongli si pembunuh"
Namora kembali duduk dan meminum teh.
"Aku memang pengikut Hongli"
Jawaban Varya membuat Namora menyemburkan air teh yang masih berada dimulutnya.
Air teh itu menyembur mengenai semua yang ada di meja.
"Adikkk, kau benar-benar tidak tau sopan santun. Cepat minta maaf atau sebaiknya kamu pergi dari tempat ini. Kamu benar-benar membuat aku malu"
Raja Muda langsung berkata dengan nada sedikit tinggi kepada adiknya. Ia benar-benar malu melihat sikap adiknya ini.
Aran yang berada disebelah Raja Muda langsung memegang pundak Raja Muda.
"Sudah tidak perlu marah-marah. Ini hanyalah masalah kecil tidak perlu dibesar-besarkan"
"Tapi Mahapatih, adik saya ini.."
"Sudah Raja Muda, adikmu ini hanyalah sedikit kaget itu hal wajar" Patih Lawana menambahkan.
Raja Muda hanya bisa mendesah pelan dan melirik dengan marah ke wajah adiknya.
Sementara Lingga tidak mau ikut campur urusan ini, baginya ini adalah urusan generasi muda.
"Kakak, bukan begitu. Kamu tidak tau kekejaman kelompok Hongli seperti apa. Sudah banyak teman-temanku yang dibunuh oleh mereka"
Namora terus bercerita dan mencoba meyakinkan Kakaknya terkait kelompok Hongli.
"Nona Varya, aku tidak akan pernah memaafkan kelompok Hongli"
Karena melihat aura permusuhan dari Namora, Varya memutuskan untuk berkata kembali padanya.
"Saya memang dulunya kelompok Hongli, tetapi sekarang sudah tidak. Karena sekarang saya adalah pengikut Mahapatih"
Perkataan Varya yang begitu tenang membuat Namora memasang ekspresi datar diwajahnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Jika kamu bukan pengikut Hongli, lalu dimana Hongli"
Namora bertanya kepada Varya. Tapi Varya malah melirik ke arah Mahapatih, apakah ia boleh menceritakannya atau tidak.
Mahapatih lalu menengok ke arah Raja Muda dan Lingga, namun mereka berdua malah pura-pura sibuk sambil meminum teh.
"Nona Varya, apa maksudnya ini. Saya bertanya pada kamu, tapi kenapa kamu malah melirik ke arah Mahapatih. Dan juga, saya lihat Mahapatih sepertinya juga melihat ke arah Kakak saya. Sebenarnya ada apa ini"
Namora menjadi terlihat sangat kesal dengan semua orang yang ada ditempat ini.
"Putri Namora, karena kamu belum lama sampai ditempat ini. Jadi mungkin kamu belum mengetahui bahwa kelompok Hongli sebenarnya sudah tidak ada"
Aran akhirnya memutuskan untuk berbicara pada Namora. Daripada nantinya gadis muda dihadapannya ini semakin kesal.
"Maksud Mahapatih, bisa tolong ceritakan kepada saya"
"Ah begini adik. Biar saya saja yang menceritakannya"
Sebagai Kakak, Raja Muda merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan ini semua.
Raja Muda lalu mulai menceritakan semua yang dilihatnya pada saat pertempuran Mahapatih melawan kelompok Hongli dari awal sampai akhir secara detail.
Mendengar cerita Kakaknya ini membuat Namora menjadi begitu mengagumi Mahapatih. Ia jadi semakin yakin untuk mengajak Mahapatih agar bisa bergabung di Akademi Bimasakti. Tapi entah kenapa hatinya belum bisa yakin bahwa Mahapatih mampu mengalahkan Hongli.
"Mahapatih, aku selalu percaya dengan perkataan Kakakku. Karena selama ini ia tidak pernah berbohong padaku. Namun untuk kali ini, aku tidak bisa mempercayainya"
Namora masih sulit untuk percaya bahwa Hongli yang sangat kuat dan begitu terkenal di benua tengah bisa dikalahkan oleh Mahapatih.
'Lelucon apa ini' Namora hanya bisa menggerutu didalam hatinya.
~**Note**~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan
* Follow Author.
* Terakhir, mohon bantu share.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt