Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kerajaan Malaya III



Aran lalu mencoba lebih mendekat kepada Gorilla Ungu tersebut.


"Cukup Aran, dari jarak segini kamu sudah bisa menggunakan ajian saktimu"


"Baik Raja Naga"


Aran lalu mulai melakukan gerakan tangan dan melepaskan segel sukmanya.


"Ajian Rengkah Sukmaaa!"


Sukma ditubuh Aran lalu keluar meninggalkan tubuh fananya dan langsung bergerak cepat ke arah Gorila Ungu.


Sukmanya yang diliputi kilat-kilat kecil langsung menghantam tubuh  Gorila Ungu.


Bang!


Gorila Ungu yang dihantam jiwanya langsung diam tak bergerak. Tubuh fisiknya tidak ada luka sedikitpun tapi  jiwanya sudah hancur dan mati. Dalam sekejap Gorila Ungu terjatuh ke tanah tidak bergerak.


Sukma Aran yang sebelumnya bergerak menghantam Gorila Ungu langsung segera kembali ke tubuh fananya. Ia masih tidak bisa berlama-lama dengan pelepasan sukma.


Fiuhhh


"Tidak aku sangka, ternyata aku berhasil"


Aran lalu menatap ke arah tubuh Gorila Ungu yang sudah jatuh ke tanah. Perlahan-lahan Aran berjalan mendekati jasad Gorila tersebut.


*Bawa masuk tubuh Gorila Ungu itu ke alam giok. Tubuh Gorila ini masih sempurna\, suatu saat nanti bisa kita manfaatkan*


Mendengar arahan Raja Naga di kesadarannya, Aran langsung mengambil jasad tubuh Gorila dan segera memasukkannya ke alam giok.


Setelah itu, Aran lalu kembali meditasi sebentar hingga matahari terbit.


Melihat matahari pagi yang sudah mulai naik, Aran lalu bergerak ke Pasifik Inn untuk menjemput teman-temannya.


>>>


Di depan pintu kamar, Aran lalu mengetuk perlahan-lahan.


Tidak lama pintu kamar terbuka.


Terlihatlah wajah Varya yang sangat cantik berada didepannya, tapi Aran melihat Varya nampak seperti kelelahan.


"Kamu dari mana saja. Aku menunggumu semalaman sampai ketiduran"


Ketika Aran ingin menjawab, terdengar suara dari dalam.


"Varya, apakah itu Aran"


Tidak lama terlihat wajah Namora dihadapan Aran.


"Aran, dari mana saja kamu"


Ditanyai oleh dua wanita yang sangat cantik membuat Aran jadi salah tingkah. Beruntung ia memakai topeng, jadi wajahnya yang memerah tidak terlihat. Untuk menutupi kegugupannya ia berusaha bersikap tenang.


"Biasalah anak muda, kalian berdua tidak perlu tau"


Perkataan Aran membuat para gadis menjadi manyun.


"Dasar menyebalkan"


Kata Namora, sementara Varya hanya diam saja menatap Aran.


"Sudah cepat, kalian semua bersiap-siap. Kita pergi ke alun-alun. Aku tunggu kalian dibawah"


Mendengar Aran, Para gadis lalu memasuki kembali ruangan mereka masing-masing. Sementara Aran turun kebawah dan menunggu didepan penginapan. Sesekali ia melihat orang-orang yang hilir mudik didepannya.


Tidak lama para gadis yang ditunggunya sudah ada dihadapan Aran. Mereka semua juga menggunakan topeng seperti Aran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Kini rombongan Aran mulai bergerak menuju alun-alun kota yang ternyata sudah sangat ramai. Banyak orang yang ingin menonton eksekusi ini. Bahkan di tempat eksekusi terdapat panggung besar yang dijaga ketat oleh prajurit bersenjata


Diatas panggung itu sudah ada para petinggi dan Raja negeri ini. Diantara mereka, ada wajah yang Aran kenal, yaitu Jenderal Tolu yang duduk berdampingan dengan seorang pria yang tidak lain adalah Jenderal Kanru.


Didepan para petinggi negeri ada para tahanan berbaju putih sedang berdiri dengan kedua lutut mereka dan tangan yang terikat.


Suasana disini sudah sangat ramai, banyak orang yang mulai membahas para tahanan. Ada yang berbisik-bisik dan ada juga yang sengaja dikeraskan.


Aran lalu melihat Ki Braja Hitam berada tidak jauh darinya. Mereka saling menatap dan memberikan kode.


Putri Azizah lalu memberitahu Aran bahwa lelaki yang berada ditengah dan bertubuh kurus adalah adiknya. Hari ini ia harus bisa menyelamatkannya apapun yang terjadi.


Aran hanya berkata padanya untuk tetap bersikap tenang. Karena ia yakin bisa menyelamatkan adik dari Putri Azizah. Aran hanya mencoba untuk lebih memperhatikan sekelilingnya, takut-takut ada ahli yang bersembunyi di tempat ini. Ia tidak ingin sampai salah perhitungan dan mendapatkan serangan kejutan dari musuh yang lebih kuat darinya.


Tidak lama acara eksekusi pun dimulai


"Para hadirin sekalian, hari ini kami akan melakukan eksekusi kepada para pemberontak yang telah mengancam keamanan negeri ini"


Pembawa acara adalah lelaki tua berpakaian pejabat negeri ini.


Setelah ia selesai membacakan dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh para pemberontak, tiba saatnya untuk mulai melakukan eksekusi. Pembawa acara lalu memanggil para algojo untuk mulai melakukan eksekusi.


Kini para algojo sudah berdiri diposisi mereka masing-masing untuk mulai melakukan tugas mereka.


Pembawa acara dan algojo menunggu instruksi dari atasan mereka yang tidak lain adalah Raja Negeri ini dan Jenderal Kanru.


Jenderal Kanru lalu memberikan kode tangan untuk segera melakukan eksekusi. Raja hanya mengangukkan kepalanya saja.


Sesaat sebelum para algojo mengangkat senjata mereka, terdengar teriakan yang sangat keras dari arah para penonton.


"Tungguu!"


Suara itu tidak lain adalah suara Aran.


Kini semua mata memandang ke arahnya.


Teriakan Aran juga membuat para algojo menghentikan gerakan meraka dan menatap ke arah Jenderal Kanru


Dengan isyarat tangan, Jenderal Kanru meminta mereka untuk menunggu.


Kemudian Aran perlahan-lahan berjalan menuju tempat eksekusi. Ia lalu melompat dan dalam sekejap sudah berada di tempat eksekusi.


"Saya akan menebus para tahanan ini, berapa yang harus saya bayar"


Aran yang berpakaian layaknya Tuan Muda kaya berkata tanpa rasa takut. Walaupun ia kini berada dihadapan para pejabat negeri.


"Siapa kau anak muda, lancang sekali kau berkata seperti itu"


Pembawa acara langsung menunjuk Aran. Tapi Aran mengabaikannya dan malah berjalan perlahan-lahan mendekati singgasana para petinggi negeri.


"Siapa sebenarnya dirimu dan apa urusanmu dengan para tahanan ini. Mereka semua layak mati"


Berkata Jenderal Kanru dari tempatnya duduk.


"Kau tidak perlu tau siapa aku, disini aku hanya ingin menawarkanmu sedikit keuntungan. Aku akan menebus mereka semua, dengan nilai 1.000 emas per kepala. Bagaimana menurutmu"


Aran berkata dengan tetap menjaga wibawanya.


Nilai emas yang ditawarkan Aran jelas sangat menggiurkan. Jenderal Kanru langsung terdiam dan menatap lurus ke arah Aran.


"Emas apa yang akan kau bayarkan padaku"


Jenderal Kanru tentu saja tidak sembarangan menerima emas. Jadi ia ingin melihat dulu emas seperti apa yang ditawarkannya.


"Huh, ambillah ini"


Aran lalu melemparkan sekantong emas ke arah Jenderal Kanru yang langsung ditangkapnya.


Jenderal Kanru yang menerima kantong emas dari Aran langsung membukanya dan mengambil salah satu koin emas dari dalam kantong.


"Emas benua timur"


Kanru lalu memperlihatkan emas itu kepada Jenderal Tolu.


Jenderal Kanru lalu terdiam dan mulai sedikit berfikir. Ia lalu menatap Jenderal Tolu dan dijawabnya dengan anggukan kepala.


"Baiklah, aku terima permintaanmu"


Perkataan Jenderal Kanru langsung membuat Raja yang sekarang marah.


"Jenderal, mereka adalah pemberontak. Jika dilepaskan, mereka dapat membahayakan Kerajaan ini"


Perkataan Raja hanya dijawab dengan tatapan dingin Jenderal Kanru.


"Huh, itu bukan urusanku"


"Tapi Jenderal"


Raja tidak mau mengalah dan tetap meminta Jenderal untuk mengubah pendiriannya.


"Diam! ini adalah keputusanku atau kau berani melawan kami"


Kini giliran Jenderal Kanru yang marah. Perkataannya berhasil membuat Raja terdiam.


Kejadian ini membuat para penonton diam, mereka tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.


Para kelompok Aran hanya menatap Aran dari tempat mereka masing-masing. Mereka semua telah bersiap untuk segala hal. Hanya tinggal menunggu perintah dari Aran.


"Lepaskan mereka semua"


Teriak Jenderal Kanru.


"Baik Tuan"


Pembawa acara lalu meminta para algojo untuk melepaskan tali ikatan para tahanan.


"Mana sisa tebusan mereka"


Kata Jenderal Kanru kepada Aran.


"Ini ambillah"


Aran lalu mengeluarkan sekantong besar koin emas dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah Jenderal Kanru.


Jenderal Kanru yang menerima kantong itu langsung melihatnya bersama Jenderal Tolu. Mereka langsung kaget dengan jumlah emas yang ada didalam kantong.


Mereka berdua mulai menarik kesimpulan bahwa pemuda dihadapan mereka ini pasti anak bangsawan dari benua timur.


Tapi timbul niatan licik dari diri mereka untuk dapat menguasai seluruh hartanya dengan menggunakan orang lain. Karena jika terjadi sesuatu kepada Aran, mereka tidak perlu disalahkan.


"Raja, urusanku disini telah selesai. Aku tidak punya hubungan lagi dengan para tahanan"


Jenderal Kanru dan Jenderal Tolu saling memberikan kode mata kepada Raja.


Raja yang melihatnya langsung memahami maksud perkataan mereka.


Aran yang kini membantu melepaskan tali bisa mendengar arah pembicaraan mereka semua. Ia sudah dapat menebak bahwa mereka semua tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah.


Setelah itu Jenderal Kanru dan Jenderal Tolu pergi meninggalkan panggung.


Raja yang melihat kedua Jenderal Kerajaan Pasry pergi, mulai melakukan rencananya.


"Kalian para tahanan berhenti"


Teriakan Raja membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Urusan kalian dengan Jenderal Kanru yang mewakili Kerajaan Parsy sudah selesai. Tapi urusan kalian dengan Kerajaan Malaya belum selesai. Untuk itu, semua prajurit aku perintahkan tangkap mereka semua dan mulai lakukan eksekusi, termasuk pemuda bertopeng itu"


"Baik Yang Mulia"


Para prajurit langsung merespon perintah dari Raja mereka.


Aran yang melihat ini semua hanya tersenyum dingin dibalik topengnya.


"Huhuhu, menarik"


~Note~


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Besok saya libur update.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt