
'Rasanya dunia sempit sekali, apa yang dilakukannya sampai dikepung banyak prajurit seperti ini'
Aran masih terus memperhatikan keadaan Berliana dari tempatnya bersembunyi.
"Hahaha, ternyata mereka semua cantik-cantik. Ayo teman-teman kita tangkap mereka hidup-hidup agar bisa menjadi budak kita"
Mereka kembali tertawa sambil memikirkan para wanita dihadapannya.
"Laknat, semuanya bertempur sampai mati"
Perkataan Berliana, membuat kedua saudara memancarkan niat pembunuhan yang tinggi 'lebih baik mati daripada menjadi tahanan mereka'
Serangan kelompok Berliana menjadi lebih ganas dari sebelumnya, kali ini mereka sudah tidak memperdulikan luka yang mereka derita. Karena, mereka sudah berniat untuk mati dengan membawa nyawa para musuhnya.
'Gawat, mereka bertiga bisa mati'
Aran lalu memakai topeng gioknya dan menggunakan tudung jubahnya untuk menutupi kepala.
'Untuk sementara aku akan menutupi jati diriku dulu dan mengubah suaraku'
Aran lalu berdiri dan bersiap melompat, karena sekarang dilihatnya Berliana benar-benar sudah terpojok.
"Lemparkan jaring, mereka sudah kelelahan"
Pasukan belakang langsung melemparkan jaring besar ke arah kelompok Berliana.
Jaring itu langsung mengunci pergerakan mereka bertiga.
"Hahahaha, gadis manis. Sekarang kalian semua tidak akan bisa kabur"
Melihat senyuman mesum penjahat dihadapannya membuat Berliana mengambil keputusan ekstrem.
"Kedua saudaraku, sampai bertemu kembali di kehidupan selanjutnya"
Didalam jaring besar Berliana langsung memegang pedangnya dengan erat dan menusukkannya ke tubuhnya.
"Kakakkkk jangan"
Sebelum pedang itu menembus tubuhnya, ia merasakan ada tangan kuat yang menahan gerakannya.
"Siapa kau, jangan menghalangi ku"
Berliana melihat sesosok makhluk yang seluruh tubuhnya ditutupi jubah hitam bermotif naga merah.
Tapi Berliana yakin makhluk dihadapannya ini adalah seorang pria.
"Lepaskann"
Berliana menggerakkan tangannya, namun cengkraman pemuda dihadapannya ini begitu keras.
Aran hanya melirik sebentar ke arah Berliana lalu kembali mengalihkan pandangannya ke hadapan para prajurit yang dari tadi melihatnya.
'Ternyata benar ini Berliana, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Dasar gadis ini, cerewet seperti biasanya' Berkata Aran didalam hatinya.
"Siapa kau, jangan menghalangi kami kalau tidak ingin mati"
Pemimpin pasukan berkata sambil memancarkan niat membunuh ke arah Aran.
"Aku hitung sampai lima untuk kalian semua pergi dari tempat ini. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku akan bersikap kejam"
Para prajurit langsung melongo melihat Aran berkata seperti itu.
"Orang ini gila atau kesurupan"
"Hahahha, kau hanya sendirian disini. Besar juga nyalimu"
Perkataan pemimpin prajurit membuat para prajurit lain kembali tertawa.
"Satu"
Aran tidak peduli dengan apa yang dikatakannya.
"Hahh"
Mendengar Aran yang tetap cuek membuat pemimpin prajurit sangat kesal. Ia merasa begitu direndahkan.
"Apa kau sedang belajar berhitung. Aku akan menunggumu juga"
Kembali mereka semua tertawa.
"Dua"
Aran tidak peduli dengan mereka semua, ia hanya mereka semua pergi dan ia tidak perlu mengotori tangannya.
"Tiga"
Pemimpin malah lebih dulu mengucapkannya dihadapan Aran, seolah-olah ia sedang mengajari Aran berhitung.
"Tiga"
Aran kembali berkata dan tetap tidak peduli dengan mereka semua.
"Empat"
Kali ini semua prajurit berkata dengan keras.
Mereka benar-benar menghina Aran yang sedang berhitung.
"Empat"
"Ayo-ayo, satu lagi lima"
"Hahahaha"
Para prajurit terus meledek Aran. Terdengar suara tawa yang begitu keras di hutan ini.
Kelompok Berliana hanya menatap kosong pemuda dihadapannya. Kini tangannya sudah tidak dipegan oleh Aran.
"Kakak, apa pemuda ini benar-benar bisa menghadapi mereka semua. Ia hanya sendirian"
Kedua saudara yang lain tidak menjawabnya, mereka terus memperhatikan pemuda dihadapan mereka.
"Lima"
"Lima"
Dalam sekejap Aran sudah berdiri dibelakang pemimpin yang dari awal berdiri dihadapan Aran dan mengancamnya.
Pemimpin prajurit langsung merasakan dingin dilehernya dan seketika ia tidak bisa bernafas dan pandangannya berubah gelap.
Tanpa sadar kepalanya sudah jatuh ke tanah. Tubuh kakunya tidak bisa berdiri lama dan langsung jatuh disebelah kepalanya.
Dalam sekejap tempat itu langsung sunyi, hanya terdengar suara angin yang sesekali berhembus.
"App..pa yang kau lakukan"
Salah seorang prajurit yang paling dekat dengan pemimpin tergagap melihat kepala pemimpinya yang sekarang berada di tanah.
Aran langsung melihat mereka semua dengan dingin.
Para prajurit yang melihat tatapan Aran, langsung merasakan tubuh mereka gemetaran.
Mereka tidak percaya makhluk dihadapannya ini bisa membunuh secepat ini.
"Pergi"
Aran berkata dengan dingin.
Mendengar Aran, mereka semua langsung melarikan diri dari hidup mereka.
Aran hanya menatap mereka yang telah berusaha melarikan diri darinya, ia benar-benar tidak ingin membunuh mereka semua.
Namun, Aran langsung menangkap satu orang yang dirasanya memiliki pangkat yang tinggi diprajurit tersebut.
Aran langsung mengikat tubuhnya dan membawanya ke hadapan Berliana. Ia juga langsung memotong jaring yang menutupi kelompok Berliana.
"Terima kasih, kalau boleh tau siapa nama saudara ini"
Berkata Berliana kepada Aran.
Melihat gadis yang sudah dikenalnya, ia hanya menatapnya dari balik topengnya. Ia masih tidak percaya bahwa gadis dihadapannya ini adalah Berliana.
Berliana yang merasakan tatapan pemuda dihadapannya menjadi merasa tidak nyaman.
"Namaku Asura"
Aran langsung berkata padanya, karena ia tidak ingin Berliana berfikir yang macam-macam dengan dirinya.
"Asura, hmm, nama yang hebat"
"Kenalkan namaku Berliana, dan mereka berdua adalah saudara seperguruanku"
Kedua saudara Berliana langsung mengucapkan nama mereka masing-masing kepada Aran.
"Melati"
"Juli"
>>>
Kini kelompok Berliana berjalan bersama Aran menuju markas mereka.
Mereka sangat senang bisa membawa salah seorang tahanan yang ternyata seorang wakil pemimpin pasukan.
"Berliana bisa kamu ceritakan apa yang terjadi disini dan siapa para prajurit yang mengejarmu tadi"
Berliana langsung menatap Aran
"Apakah kamu bukan orang sini"
"Ah iya, saya baru datang ke wilayah ini"
Jawab Aran singkat, ia tidak ingin membuka identitas dulu untuk saat ini.
"Kalau boleh tau dari mana kamu berasal"
Ditanya seperti itu, Aran mencoba menjawab dengan asal.
"Saya dari Kediri"
"Kedirii"
Berliana sampai kaget mendengarnya.
"Ada apa ya"
Aran mencoba berkata dengan tenang, karena ia masih tidak tau sekarang ini ia berada dimana.
"Kami semua adalah pasukan bantuan dari Kediri yang dikirim kemari untuk membantu Kerajaan Samudera"
"Kerajaan Samudera?"
Aran tidak sadar berkata seperti itu.
'Dari yang aku tau, Kerajaan Samudera ada di Sumatra' Gumam Aran didalam hatinya. Ia tidak menyangka bahwa portal dimensi tersebut membawanya kesini.
"Ya, Kerajaan Samudera sekarang ini tengah di serang oleh Kerajaan Parsy"
"Parsy, bisa kamu ceritakan sedikit mengenai keadaan sekarang ini. Maaf saya baru datang ketempat ini jadi tidak tau apa apa"
"Baiklah, saya akan menceritakannya padamu"
Berliana lalu menceritakan semuanya kepada Aran.
Bahwa beberapa bulan lalu ia menemani Kangmas nya untuk ikut berperang kesini. Kerajaan Mahwapatih dan Kerajaan Samudera adalah Kerajaan sekutu, jadi mereka akan saling bantu jika salah satu kerajaan mengalami masalah.
Dan juga, karena ini adalah tanah kelahirannya jadi ia memaksa Kangmasnya untuk ikut. Ia tidak rela tanah kelahirannya di jajah bangsa asing.
Berliana menjelaskan bahwa Kerajaan Parsy adalah Kerajaan dari wilayah Benua Timur, yang sangat suka berperang.
Kerajaan Parsy juga bersekutu dengan beberapa aliran hitam di wilayah ini.
'Aliran Hitam, aku ingin lihat seperti apa mereka semua'
Aran hanya berkata didalam hatinya. Ia memiliki Naga Iblis ditubuhnya, dan aliran hitam itu semua berasal dari wilayah iblis. Pasti mereka bersekutu dengan bangsa jin.