
"Sungguh luar biasa. Jarang sekali ada anak muda setangguh ini," ucap orang tua tersebut berbicara sendiri sembari memerhatikah Aska.
"Siapa namamu wahai anak muda?" tanya orang tua tersebut.
Aska bingung sekalikus terkejut, orang tua yang menyerangnya secara tiba-tiba bertanya mengenai namanya.
"Aska... Askara Paramanda," jawab gugup Aska.
"Huah...Huahhaha. Sungguh nama yang hebat," orang tua tersebut tertawa terbahak-bahak.
(Askara Paramanda berarti sosok yang memiliki kesempurnaan dan karunia utama)
Sekali lagi Aska dibuat terkejut dengan sikap orang tua tersebut yang tiba-tiba tertawa.
"Dari manakah asalmu wahai anak muda dan kemanakah tujuanmu?" tanya orang tua tersebut.
"Saya dari kampung Salaeurih menuju ke pasar Caringin," jawab Aska.
Orang tua tersebut hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.
Fajar sang suryapun terbit.
"Pergilah dan jadilah pendekar hebat," setelah mengucapkan kata itu, orang tua tersebut pergi berjalan membelakangi Aska.
Askapun berdiri. "Mohon maaf Ki. Kalau boleh tau nama Kisanak siapa?" Tanya Aska sembari memberi hormat.
"Panggil saja Ki Cakrabuana," jawab orang tua tersebut membelakangi Aska.
"Berhati-hatilah saat di pasar Caringin," ucap Ki Cakrabuana.
Ki Cakrabuana pergi menuju sang surya, sedangkan Aska pergi diikuti sang surya.
Setelah pertemuananya dengan Ki Cakrabuana, Aska melanjutkan perjalanannya menuju pasar Caringin.
***
Dalam beberapa jam, Aska tiba di penghujung kaki gunung Cikiruh.
Setelah cukup jauh melewati gunung Cikiruh, terdengar suara keramaian. Aska mengikuti suara tersebut hingga sampai di tempat tujuan pasar Caringin.
Dari jauh terlihat ada dua buah pohon beringin besar. Pohon beringin itulah yang menjadi pintu masuk di pasar Caringin.
Tanpa banyak berfikir aska langsung memasuki kawasan pasar tersebut.
"Dicoba dulu sarung kebatnya bu."
"Batu akiknya banyak jenisnya ayo dipilih-dipilih."
"Lima keping tiga kilo ya kang."
Aska melewati jalan lorong-lorong pasar.
"Apa yang membuat pasar ini begitu banyak pengunjung? Padahal letak pasarnya begitu jauh dari pemukiman penduduk. Bahkan pengunjungnyapun ada yang dari luar daerah," batin Aska penuh dengan pertanyaan.
"Aaaaaaa...," jeritan salah sorang pengunjung perempuan.
"Copet tolong...," teriak pengunjung perempuan itu.
Aska berbalik melihat ke arah pengunjung yang berteriak meminta tolong tersebut.
Pengunjung tersebut berteriak sambil menunjuk-nujuk ke salah seorang yang berlari melewati Aska.
Ternyata itu si pencopet. Yang membuat heran Aska, kenapa tidak ada seorangpun yang membantu mengejar pencopet tersebut, bahkan para pendekarpun tidak ada.
Tanpa berfikir panjang Aska mengejar pencopet tersebut.
Aska dengan cepat mengejar pencopet tersebut dengan mengikuti jejaknya. Loncat melewati meja pedagang untuk berpindah jalur pasar dan loncat ke atap melewati balok kayu dan melewati pagar-pagar. Hingga kemudia pencopet tersebut terkejar oleh Aska.
Saat berlari Aska memegang kerah baju pencopet tersebut dan menariknya kebelakang. Pencopet itupun terjatuh.
"Kembalikan barang Ibu pengunjung yang kamu ambil!" Ucap Aska dengan nada suara mengintimidasi sembari memegang kerah baju si pencopet.
Pencopet tersebut tidak merespon ucapan Aska. Yang dilakukan pencopet tersebut hanya menoleh ke kiri dan ke kanan.
Secara tiba-tiba pencopet tersebut menendang Aska dengan kedua kakinya. Askapun terjatuh. Pencopet tersebut kabur dari Aska.
Aska berbegas berdiri dan mengambil sebuah kelapa milik penjual.
"Paman, saya beli kelapannya!" ucap Aska sambil mengambil dan meleparkan kelapa itu ke atas.
Aska menendang kelapanya hingga mengenai dan menghantam pungung si Pencopet. Alhasil pencopet itu terjatuh.
Ketika Aska mulai berlari menghampiri si Pencopet, baru saja tiga langkah dari pijakannya, seorang penjual daging melemparkan pisaunya ke arah kepala Aska. Secara reflek Aska menghindari lemparan pisau penjual daging tersebut. Pisaunya sampai menancab ke dinding pasar.
Tentu Aska terkejut, entah kenapa penjual daging itu menyerang Aska.
Sesaat setelah pisau penjual daging tersebut menancab, penjual daging keluar dari ruangannya dan diikuti enam orang penjual lainnya.
Salah satu penjual tersebut menghampiri Aska.
"Hheeaah...," tanpa berkata penjual tersebut langsung mengarahkan pukulan kepada Aska. Aska menangkis pukulannya dan memukul perut penjual tersebut.
Setelah Aska membalas, keenam penjual lainya ikut menyerang.
Orang pertama menyerang dengan pukulan lurus. Aska menangkisnya dan membalas memukul dengan siku kanan ke bagian perut si Penjual pertama, lalu Aska memukul perut itu dengan telapak tangan kirinya hingga si Penjual pertama terjatuh ke belakang.
Sesaat setelah itu, orang kedua menyambung menendang Aska. Aska menahan serangan tersebut lalu merobohkan penjual ke dua.
Kelima orang penjual lainnya menyerang Aska secara bersamaan. Beberapa Saat Aska bertarung sengit dengan lima orang penjual tersebut.
Empat orang penjual berhasil Aska robohkan. Hingga si Penjual terakhir.
"Hhaah... Hiah... Tsaah...," pertarungan sedikit sengit.
Aska menangkis pukulan dan memegang tangan kanan penjual terakhir dengan tangan kanan, disambung tangan kiri Aska dijulurkan ke bagian leher penjual tersebut dan Aska menyambung dengan menendang kaki bagian belakang si penjual guna menjatuhkan orang tersebut.
Sesaat akan roboh, penjual tersebut secara cepat memutar balikan badannya di udara. Dengan kemampuannya yang hebat, penjual tersebut tidak jadi jatuh.
Askapun sedikit tercenggang melihat kemampuannya. Dengan cepat Aska memukul perut si Penjual dengan jurus Tapak Sakti hingga penjual tersebut terpental beberapa meter dan terjatuh.
Jurus Tapak Sakti adalah jurus pukulan telapak tangan dengan melepaskan hentakan tenaga dalam ketika memukul target.
Tidak lama kemudian, setelah penjual terakhir dirobohkan, para penjual itu berdiri dengan ekpresi kesakitan dan mengambil senjata tajam masing-masing.
Tiga orang pertama yang mengambil senjata langsung menyerang Aska.
"Khee...aahh...," penjual tersebut menyerang Aska dengan kekuatan penuh.
Aska berusaha menghindari serangan ketiga pedagang itu. Namun, saat menghindari serangan terakhir, pipi kanan Aska tergores senjata yang dipakai pedagang tersebut. Askapun melangkah mundur.
Ketujuh pedagang tersebut sudah berkumpul memegang senjata masing-masing.
Saat para pedagang itu hendak menyerang, tiba-tiba ada seorang perempuan berlari menarik lengan Aska. Secara tidak sadar Askapun ikut berlari.
Para pedagang itu langsung mengejar. Perempuan yang menarik Aska membawanya keluar dari area pasar dan masuk ke dalam hutan.
Aska bertanya-tanya heran. "Siapa perempuan ini? Dilihat dari penampilannya bukan pengunjung yang dicuri tadi!" batin Aska.
Setelah berlari cukup jauh kedalam hutan, berkat bantuan perempuan minterius itu akhirnya Aska berhasil kabur dari kejaran para pedagang pasar.
Perempuan misterius tersebut masih membawa Aska berlari sambil menggenggam pergelangan tangan Aska.
Ketika berlari, tiba-tiba perempuan misterius itu berhenti.
Aska merasa aneh, setelah berlari begitu jauh, nafas perempuan misterius tersebut tidak terengah-engah.
"Terima kasih Nyi sudah membatu saya, kalau boleh tau nama Nyai siapa?" tanya Aska sembari memberi hormat.
Perempuan misterius itu hanya membisu dan mengabaikan pertanyaan Aska. Setelah sesaat saling diam, perempuan misterus itu sedikit menoleh ke arah Aska dengan tatapan dingin.
Setelah menoleh dengan tatapan dingin, perempuan itu langsung berjalan tanpa kata.
Aska berjalan mengikuti perempuan misterisus tersebut dari belakang.