Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Petualangan Baru



Pagi hari.


Aska sedang bersiap-siap untuk melanjutkan petualangannya di Bumi Nusantara.


"Sudah siap?" tanya Ki Salawi.


"Sebentar lagi Kek," jawab Aska.


"Kakek tunggu di depan."


"Baik Kek."


***


Beberapa saat kemudian.


Halaman rumah.


Aska bersalaman perpisahan dengan Ki Salawi, Raka dan Yasa.


"Citta mana?" tanya Aska sedari tadi belum melihatnya.


"Tunggu dulu sebentar," ucap Yasa.


Terlihat dari kejauhan Citta berlari membawa buntelan.


Sesampainya Citta di halaman rumah, ia langsung memeluk erat Aska dan meneteskan air mata.


"Hati-hati," ucap Citta dengan nada sedih.


Aska tersenyum kepadanya.


Citta memberikan buntelan makanan kepada Aska.


"Ini buat dalam perjalanan," ucap Citta.


"Terima kasih." Aska menerimanya dengan senang hati.


"Aska kemari," ucap Ki Salawi.


Askapun menghampirinya.


"Iya Kek?" ucap Aska penasaran.


Ki Salawi mengulurkan tangannya kedepan. Keluar sebuah aura berwana jingga dari telapak tangannya. Aura jingga tersebut berubah wujud menjadi harimau.


Aska, Raka, Yasa dan Citta terkejut sekalikus tercengan melihatnya.


"Ini hadiah dari Kakek," ucap Ki Salawi tersenyum.


Aura berbentuk harimau tersebut langsung masuk ke dalam tubuh Aska.


"Apa itu Kek?" tanya Aska penasaran.


"Bukan apa-apa. Itu hanya hadiah kecil," ucap Ki Salawi.


"Terima kasih Kek," ucap Aska tidak ingin memperpanjang obrolan.


Aska langsung pergi untuk memulai petualangannya.


"Pergilah dan jadilah pendekar hebat. Teruslah berlatih dalam keadaan apapun. Jangan ragu untuk melangkah. Carilah jati dirimu sendiri. Lalui kesulitan, jalani ujian dan menanglah dalam hatimu untuk menciptakan kedamaian dan keadilan wahai cucuku Askara Paramanda." Ucap Ki Salawi.


Ucapan Ki Salawi mengiringi kepergian Aska dalam memulai perjalanannya untuk menjadi pendekar sejati di Bumi Nusantara.


***


Bumi Nusantara adalah tanah di mana perkumpulan para pendekar. Banyak konflik yang terjadi dalam dunia persilatan dari sesuatu yang dipercaya ataupun tidak. Tapi keberadaan sesuatu yang menggemparkan Bumi Nusantara itu benar adanya.


Bumi Nusantara terbagi ke dalam empat daerah daratan yaitu Kashi, Dasarna, Magadha dan Wanga.


Bumi Nusantara juga terbagi dalam tujuh belas wilayah kerajaan. Namun tidak semua tempat di Bumi Nusantara sudah terjelajahi.


***


Tujuan selanjutnya Aska ialah pergi ke daerah Daratan Dasarna.


Dalam buku kecil Aska halaman kedua tertulis dan bergambar:


1.Daratan Dasarna. 2.Gambar kolam besar. 3.Gambar sebuah garis pembatas antara dua gerbang besar. 4.Sang keangkuhan, bergambar sebuah rumah di tengah dataran pegunungan.


***


Perjalanan awal Aska ke pantai utara Kerajaan Sunda Galuh untuk menyebrangi laut ke Daratan Dasarna.


Aska berangkat memakai kuda guna mempercepat perjalanan. Kuda tersebut pemberian dari Prabu Siliwangi untuk Aska sebagai hadiah dalam memulai perjalanannya.


***


Dua minggu berlalu.


Aska tiba di pelabuhan pantai utara Kerajaan Sunda Galuh.


"Wah... Pelabuhan ini ramai sekali... Banyak nelayan," gumam Aska berjalan menyusuri pelabuhan.


Di pelabuhan itu banyak sekali nelayan dan kapal pengiriman barang juga menjadi pasar ikan teramai di wilayah Kerajaan Sunda Galuh.


Setelah bertanya kepada orang-orang dan pemilik kapal sekitar. Ada salah satu kapal pengirim barang yang cukup memadai menerima permintaan Aska. Kapal ini jika dibandingkan dengan kapal pengirim barang lain ukurannya paling kecil. Aska memberikan beberapa koin emas beserta kudanya kepada pemilik kapal.


Aska langsung menaiki kapal, karena tidak lama lagi kapal akan berangkat dari dermaga. Di dalam kapal hanya ada beberapa orang awak kapal dan barang kiriman. Untuk pemilik barang mereka berpisah menaiki kapal umum untuk menyebrang.


Kapal yang dinaiki Askapun berangkat.


***


Beberapa saat di tengah lautan setelah kapal yang dinaiki Aska berangkat dari Dermaga.


Aska berada di geladak kapal depan. Menatap panorama lautan yang begitu biru membentang luas.


Pemilik kapal menghampiri Aska.


"Laut itu biru membentang luas seperti kebalikan dari langit. Salah satu yang membuat para pelayar betah mengarungi lautan dikarenakan ketenangan diantara hamparan air yang begitu luas," ucapnya berjalan menghampiri Aska.


Askapun menoleh.


"Ada tujuan apa pendekar muda ini menyebrang ke Dataran Dasarna?" tanya pemilik kapal yang bernama Abar.


"Saya melakukan perjalanan untuk mencari seseorang," jawab Aska.


"Sepertinya orang itu begitu penting sampai berani menyebrang ke daerah lain," ucap Abar.


Aska hanya tersenyum membalas ucapannya.


"Paman, kira-kira berapa lama sampai pelabuhan di sebrang?" tanya Aska penasaran.


"Jikalau cuaca bagus, angin kencang dan tanpa halangan, paling cepat kita sampai dua minggu," jawab Abar.


"Maksud halangan itu apa Paman?" Aska penasaran karena untuk cuaca dan angin sudah dimengertinya. Namun, halangan ini mungkin maksud lain.


"Ya... bukan apa apa. Masksud halangan itu tidak lebih dari cuaca," ucap Abar sedikit grogi seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Askapun tidak bertanya lebih jauh lagi.


***


Beberapa hari kemudian.


Malam hari.


Beberapa hari ini perjalanan Aska di lautan antara Dataran Kashi dan Dasarna berjalan lancar.


Aska membaringkan tubuhnya di geladak kapal atas. Menatap langit malam yang begitu indah dihiasi dengan jutaan cahaya kecil. Membuat suasana malam semakin tenang.


Tidak lama kemudian Aska bangun dan memulai bersemedi. Sewaktu bersemedi Aska merasakan aroma laut yang begitu besar mengelilinginya. Sang bulanpun seperti sedang memberi kekuatan alam kepadanya bersama dengan jutaan bintang di langit. Mega hijau malam begitu indah cahayanya memberikan kesejukan mendalam bagi semedi Aska.


Beberapa saat kemudian setelah Aska selesai bersemedi, Aska berjalan ke geladak kapal depan. Tiba-tiba keluar cahaya terang dari bawah lautan. Seperti cerminan dari cahaya langit malam.


Askapun mencoba melatih tariannya. Benar-benar aroma dan suasana yang begitu indah. Alunannya selaras, angin seperti berbisik kepada Aska.


"Teruslah menari, ikuti iramaku."


Tidak terasa sudah lama sekali Aska menari. Mega langit berubah menjadi warna putih. Itu artinya sudah mendekati pagi. Laut berubah seperti sediakala dan Askapun berhenti dari tariannya.


Para awak kapalpun bangun dan memasang kembali layar kapal. Kapal kembali melaju mengarungi lautan.


***


Beberapa hari kemudian.


Malam hari.


Seperti biasa, laut begitu tenang di balut hiasan lentera alam, jutaan gemerlap kecil dan mega hijau menerangi lautan.


Aska sedang tertidur pulas di geladak kapal dalam beserta awak kapal.


Tidak lama kemudian seorang awak kapal berteriak sesudah membuang air kecil, masuk mengejutkan sekaligus membangunkan Aska dan seluruh para awak kapal.


"Perompak... perompak... Paman bangun ada perompak... semuanya bangun ada perompak...," teriaknya membangunkan seluruh orang yang berada di geladak kapal dalam.


"Apa perompak?" tanya kembali Abar terkejut langsung bangun diikuti para awak kapal lainnya.


"Iya paman."


"Cepat ambil senjata kalian," ucap Abar.


Para awak kapal berlarian mengambil senjatanya masing-masing dan berlari keluar dari geladak dalam kapal.


"Paman, apa itu perompak?" tanya Aska penasaran, karena Aska baru pertama kali berlayar di lautan sekaligus cemas melihat reaksi semua orang.


"Perompak itu jika di daratan sama dengan perampok. Mereka merampok barang yang kita bawa. Ayo...," ucap Abar langsung berlari keluar.


Askapun mengikutinya.


Terlihat sebuah kapal yang cukup besar berlayar mendekati kapal yang dinaiki Aska.


Perompak yang berada di kapal tersebut cukup banyak, sekitar lima belas orang. Sedangkan orang di pihak Aska hanya ada tujuh orang dihitung bersama Aska.


"Jangan gentar... pertahankan apa yang kalian bisa pertahankan. Saling melindung satu sama lain dan jangan berpisah, tetap saling berdekatan," teriak Abar memberi komando.


Aska menutup matanya dan menghela nafas.