Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Pembalasan Tuntas



Beberapa hari kemudian.


Luka pada Raka, Yasa dan Citta sudah hampir sembuh total berkat ramuan obat yang dibuat Ki Salawi.


Ki Salawi sedang menatap Gunung Manglayang di salah satu saung pesawahan.


Aska menghampiri Ki Salawi.


"Kek," Ucap Aska memanggil.


"Iya Aska. Ada apa?" Tanya Ki Salawi.


"Aska mau meminta izin Kakek untuk pergi ke istana kerajaan," ucap Aska.


"Untuk apa pergi ke sana?" tanya Ki Salawi penasaran.


"Aska mau menemui adik Prabu Siliwangi yaitu Amuk Marukul. Untuk menuntut pertanggung jawaban dan memberinya pembalasan supaya jera," ucap Aska.


"Tidak, Kakek tidak mengizinkan," ucap Ki Salawi.


"Kenapa Kek? Jika tidak diberi pembalasan supaya jera, dia pasti melakukan hal sama lagi," ucap Aska.


"Apakah kamu melupakan ucapan Kakek untuk tidak besar diri hanya karena sedikit kuat. Dan Kakek tidak mengizinkan hal yang bernama balas dendam," ucap Ki Salawi.


"Aska tidak berniat balas dendam Kek. Hanya saja Aska ingin memberinya hukuman supaya dia tidak melakukan hal yang sama kepada kita dan orang lain. Bayangkan Kek, hanya karena kesombongannya, berapa banyak orang yang menderita ditindasnya. Cepat atau lambat dia pasti mengirim kembali orang-orang seperti kemarin kepada kita. Dan menyakiti kembali Citta, Raka serta Yasa," ucap Aska.


"Lupakanlah yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tidak perlu membuat masalah yang tidak-tidak," ucap Ki Salawi.


"Kek, Aska tidak bisa tinggal diam mengenai hal ini. Kalau dia mengirim orang-orang itu kembali. Mungkin jika ada Kakek Citta, Raka dan Yasa akan baik-baik saja. Bagaimana jika Kakek sedang tidak ada. Mungkin lain kali bisa lebih kejam dari sebelumnya. Dan tujuan Aska menjadi pendekar itu untuk melindungi teman Aska Kek. Melindungi orang lemah menjungjung tinggi kebaikan dan melindungi orang yang harus dilindungi," ucap Aska.


"Tetap, apapun alasannya Kakek tidak mengizinkan," ucap Ki Salawi berdiri dan berjalan ke arah rumah.


"Kek...," ucap Aska memanggil dengan penuh kesedihan dan kekhawariran.


***


Beberapa saat kemudian.


Sang surya begitu terik berada tepat di atas kepala, seperti sedang mengawasi setiap orang di Bumi Nusantara.


Raka, Yasa dan Citta sedang beristirahat duduk di emper rumah.


"Raka, Yasa, Citta, apakah kalian melihat Aska?" tanya Ki Salawi cemas.


"Tidak Kek. Kami belum melihat Aska lagi setelah tadi menghampiri Kakek di saung," ucap Citta.


"Memangnya ada apa Kek?" tanya Raka.


"Tidak ada apa-apa... Kalian jaga rumah, Kakek mau pergi dulu sebentar," ucap Ki Salawi.


"Baik Kek," ucap Raka, Yasa dan Citta serentak.


***


Istana Kerajaan Sunda Galuh.


Pintu gerbang istana.


Aska berjalan ke arah pintu gerbang mengenakan topeng.


"Hei... Siapa kamu?" tanya penjaga gerbang berteriak.


"Jangan mendekat. Siapa kamu dan dari mana asalmu?" tanya penjaga gerbang dengan nada menyentak dan mengacungkan senjata.


Tanpa berkata, Aska langsung menyerang kedua penjaga gerbang tersebut hingga terkapar.


Aska mendobrak pintu gerbang yang sangat besar dan terbuat dari baja dengan Jurus Tapak Sakti dan membuat pintu gerbang tersebut terbuka lebar. Suara terbukanya pintu gerbang sampai mengagetkan seluruh orang di dalam Istana Kerajaan Sunda Galuh.


"Penyusup... Penyusup...," teriak para prajurit kerajaan berlarian ke arah pintu gerbang.


Aska berjalan masuk ke dalam istana. Sewaktu berjalan Aska di hadang banyak prajurit kerajaan.


"Siapa kamu? Beraninya menerobos masuk ke dalam istana," ucap Panglima Kerajaan.


"Kamu tidak perlu tau siapa aku. Tolong panggilkan saja orang yang bernama Amuk Marukul dan suruh menghadap kepadaku," ucap Aska dengan nada dingin dan tenang.


"Lancang sekali penyusup sepertimu memanggil namanya... Tangkap dia...," ucap Panglima Kerajaan.


Aska berlari menerobos gempuran para prajurit kerajaan dengan susah payah di karenakan jumlahnya yang sangat banyak.


"Kejar... Jangan biarkan dia menghampiri istana pusat," teriak Panglima Kerajaan.


Istana pusat adalah bangunan yang berada di posisi paling tengah di wilayah istana. Diantara lain yaitu aula singgasana dan tempat pribadi keluarga raja.


Aska berlari menuju istana pusat dan dikejar banyak prajurit kerajaan.


Setelah melewati beberapa penghalang, Akhirnya Aska tiba di depan gerbang istana pusat. Secara langsung Aska mendobrak pintu tersebut dengan Jurus Tapak Sakti dan langsung berlari kedalam.


"Tangkap dia hidup atau mati," Ucap Senopati yang tepat berada di hadapan Aska.


"Hiaaaaahhh...," mendengar perintah senopati tersebut, para prajuri yang jumlahnya sangat banyak menyerang Aska secara bersama-sama.


Aska bertarung sekuat tenaga di tengah gempuran para prajuri kerajaan.


"Amuk Marukuuul... Keluar kau...," ucap Aska berteriak.


Suara pertarungan Aska dengan para prajuri terdengar diseluruh istana.


Aska sudah hampir kewalahan melawan prajurit kerajaan yang jumlahnya begitu banyak.


"Berhenti...," ucap Raden Kiansantang.


Mendengar perintahnya, para prajuritpun berhenti dan berjalan mundur.


Datanglah Raden Kiansantang bersama saudaranya Raden Walangsungsang dan Nyai Rarasantang.


"Siapa kamu? Apa tujuanmu menyusup ke dalam istana secara terang-terangan?" ucap Raden Kiansantang.


Aska berdiam sejenak. Sampai hembusan angin yang mengelilinginya menghilang.


"Aku hanya ingin menemui Amuk Marukul," ucap Aska.


"Ada keperluan apa kamu dengan Pamanku?" tanya Raden Kiansantang.


"Bawa saja dia kehadapanku," ucap Aska.


Secara tiba-tiba Raden Kiansantang menyerang Aska tepat di bagian perut dengan telapak tangannya. Lalu Aska secara reflek menggunakan Ajian Panolak Hawa dengan memposisikan kedua telapak tangannya di tangan Raden Kiansantang. Efek serangan Raden Kiansantang tertahan dan Aska terpukul mundur beberapa langkah. Lalu secara langsung dan cepat, Aska menyerang balik dengan Ajian Tapak Salaras.


Ajian Tapak Salaras adalah jurus yang hampir sama denga jurus Jeblag namun jaraknya sangat dekat beberapa meter dan efek kekuatannya lebih kecil dengan menggunakan terlapak tangan.


Raden Kiansantang terkena telak oleh serangan balik Aska tepat di bagian dadanya dan terpental kebelakang. Namun, setelah terkena jurus tersebut, Raden Kiansantang masih berdiri.


Raden Kiansantang terkejut, serangannya tidak berpengaruh dan hanya membuat Aska terpental beberapa langkah saja. Dan dari awal Raden Kiansantang sudah curiga bahwa orang tersebut adalah Aska. Orang yang pernah dikalahkannya. Tapi yang membuatnya heran adalah tidak dapat merasakan hawa energi pada tubuh Aska sedikitpun dan juga hawa energi yang kecil misterius itupun tidak dapat dirasakannya.


Beberapa saat saling diam.


Datanglah Prabu Siliwangi beserta istrinya Nyai Subang Larang berada di bangunan lantai kedua. Dan dari sebelah kiri datang juga Amuk Marukul beserta anak dan istrinya.


Semua orang di kerajaan berkumpul di tempat tersebut dan terpokus kepada Aska.


"Siapa kau? lancang sekali berteriak memanggil namaku dengan mulut rendahmu itu," ucap Amuk Marukul dengan sombong.


Melihat wajah sombongnya membuat Aska semakin kesal. Aska langsung berlari ke arah Amuk Marukul.


"Keparat...," teriak Aska sembari berlari.


Saat berlari Aska di hadang oleh para Panglima Kerajaan dan Senopati hingga terpukul mundur. Tiba-tiba seorang Patih Kerajaan berlari ke arah Aska dan melemparkan jurus Jeblag kepada Aska hinggal terpental.


"Tangkap dia... Langsung bawa kehadapanku," ucap Amuk Marukul.


Aska kesakitan terkena serangan tersebut yang begitu keras. Seluruh prajurit berlari mengarah kepadanya. Aska hanya berdiri dan menarik nafas terengah-engah.


Sewaktu para prajurit hampir mendekati Aska, tiba-tiba ada aura hawa energi berputar selintas di dekat Aska dan membuat seluruh prajurit kerajaan disekitarnya terpental hingga terkapar.


Setelah aura hawa energi tersebut menghilang tiba-tiba Ki Salawi berada di dekat Aska.


"Aska... Aska... Kamu satu-satunya murid yang suka membuat masalah untuk gurumu ini," ucap Ki Salawi tersenyum.


Seluruh orang di area istana itu terkejut dan bertanya-tanya di dalam benaknya. Siapa orang itu? Bahkan Prabu Siliwangipun terkejut Ki Salawi tiba-tiba ada di istana.


"Kakek juga suka membuat murid terkejut," ucap Aska memberi hormat.


Ki Salawi mengeluarkan hawa energi yang mencekam. Sampai-sampai orang yang tidak memiliki tenaga dalampun dapat merasakan hawa energinya. Semua orang yang berada di tempat itu mematung dan keringat dinginpun bercucuran.


Ki Salawi mengetukan tongkatnya ke tanah, tiba-tiba Amuk Marukul jatuh ke tanah dan pada kedua pergelangan kaki bagian belakangnya terdapat begas gigitan dan darah bercucuran.


"Amuk Marukul. Aku menghukummu atas nama keadilan di Bumi Nusantara. Kesombonganmu membuat banyak orang di tanah Padjajaran menderita. Terimalah dan memintalah maaf. Sebagai ganti dari kesombonganmu. Aku mengambil kedua kakimu. Apakah Ananda Siliwangi keberatan?" ucap Ki Salawi.


Semua orang yang berada di tempat itu tidak berani melangkah satu langkahpun, karena hawa energi yang dikeluarkan Ki Salawi membuat mereka ketakutan, bahkan Prabu Siliwangi dan Raden Kiansantang.


Prabu Siliwangi turun menghampiri Ki Salawi.


"Hormat saya kek. Saya tidak keberatan Kek, sudah sepantasnya adik saya mendapatkan apa yang harus ia dapatkan karena ketidak adilan dan kesombongannya," ucap Prabu Siliwangi.


"Terima kasih Ananda Prabu. Kamu memang orang yang bijaksana. Kalau begitu Kakek undur diri," ucap Ki Salawi.


"Sama-sama Kek," ucap Prabu Siliwangi.


"Ayo Aska," ucap Ki Salawi.


Aska mengikuti Ki Salawi dari belakang. Dan kembali ke kediaman Ki Salawi.


Amuk Marukul cacat untuk selamanya. Dan orang yang pernah ditindas oleh Amuk Marukul semuanya mendapatkan kompesasi dari kerajaan. Kedatangan Aska dan Ki Salawi menjadi perbincangan hangat di istana kerajaan.