Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Awan Kelam III



*Raja Naga, jangan bercanda. Sialann, perutku rasanya sakit sekali*


*Sabar anak muda, jangan manja. Baru segitu saja sudah sakit*


*Ya ampun, masih saja kau bercanda Raja Naga*


Aran terus merintih kesakitan memegangi perutnya, karena organ dalam tubuhnya masih saja bergetar.


*Aku sudah membantumu mengobati luka dalam yang kamu derita. Untuk menghadapi formasi itu sebenarnya sangatlah mudah, kamu saja yang terlalu malas untuk berfikir*


*Aku sibuk Raja Naga, tidak ada waktu untuk berfikir. Cepatlah bantu aku menghancurkan formasi itu*


*Sibuk memancing kemarahan orang maksudmu. Cara menghancurkan formasi itu adalah dengan menggunakan mata surgawimu. Ilmu yang kuberikan padamu itu bisa melihat titik lemah dari segala macam formasi*


*Ah iya, Mata Surgawi* Aran tertawa didalam hatinya *Kamu pintar Raja Naga, aku sangat mengagumimu*


*Bodo amat* Raja Naga kembali dalam keheningan.


Dialam nyata Aran berdiri tersenyum menatap formasi musuh dihadapannya.


"Kenapa kau tersenyum, apakah kamu sudah pasrah atas ajalmu sekarang ini"


"Saya tersenyum karena melihat formasi kalian, layaknya melihat sekumpulan babii hutan"


"Cari mati kau, semuanya serang!"


Sekumpulan anggota Sekte Hantu Hitam langsung menyerang Aran kembali dengan formasinya.


Kali ini Aran tidak takut lagi menghadapi formasi tersebut.


'Huh, Mata Surgawi'


Seketika Aran melihat garis-garis berwarna emas yang saling terhubung. Diantara garis-garis yang terhubung ada titik-titik yang menyala lebih terang. Titik tersebut adalah titik lemah dari formasi.


'Sepertinya aku harus berurutan menyerang titik-titik itu'


Walau Aran sedang melihat titik-titik itu, ia tetap fokus dalam pertempurannya. Tapi kali ini ia hanya terus menghindar.


"Kenapa kau terus menghindar, apa kau takut menghadapi kami"


Salah satu Tetua curiga melihat Aran yang terus menghindar, jadi ia juga mencoba mencari taunya.


Namun Aran tetap diam, ia tengah fokus memperhatikan titik lemah dari formasi dihadapannya ini.


"Kenapa kau diam saja anak setann"


Aran akhirnya memahami formasi musuh ini.


"Tidak ada sejarahnya makhluk terhormat seperti saya menanggapi perkataan hewan babii macam dirimu"


"Anak ini benar-benar memiliki mulut yang tajam"


"Mulutku tajam hanya kepada bangsa babii macam kalian. Sebaiknya sekarang kalian berlutut memohon pengampunan. Jika tidak, jangan salahkan saya bertindak kejam"


Aran yang sudah mengetahui kelemahan formasi musuhnya, sudah tidak takut lagi kepada mereka. Kini ia mulai memikirkan rencana untuk menghancurkan formasi tersebut.


"Banyak omong kau. Jika kau memang mampu, coba kau hancurkan formasi ini"


"Hahaha, oke"


Aran langsung menyerang ke titik-titik yang sudah dianalisanya, ia menyerangnya secara berurutan.


"Satu"


Bamm


Terdengar ledakan kecil ditempat yang Aran serang.


"Dua"


Bamm


Kembali terdengar ledakan kecil.


Semua yang berada diformasi menatap Aran dengan curiga.


'Kenapa setiap yang ia pukul menimbulkan ledakan'


Batin mereka semua.


"Sudah dua titik yang aku hancurkan, tinggal satu lagi"


Aran tersenyum licik melihatnya.


"Sebenarnya Apa yang dilakukannya tadi, seketika aku merasakan goncangan hebat"


Tapi Aran hanya tertawa melihat mereka semua.


"Kenapa kalian semua memandangku, apa sekarang kalian begitu mengagumiku"


Aran hanya bisa kembali tertawa dibalik topengnya.


"Sialan busuk, pergi mati kau"


Kini mereka kembali menyerang Aran, tapi kali ini Aran tidak diam saja.


Aran langsung menyerang titik ketiga dan terakhir.


"Ajian Karang Wesi!"


Bam


Craacckk


Lapisan pelindung formasi mereka retak.


Boomm


Terdengar ledakan keras dari tempat itu disertai asap putih.


Tidak lama terlihat para anggota sekte yang menggunakan formasi tergeletak ditanah.


Nafas mereka putus-putus dan sebagian memuntahkan banyak darah. Ini adalah reaksi berantai dari hancurnya formasi mereka, karena formasi tersebut menyatu dengan tubuh dan jiwa mereka.


Mereka semua menatap Aran dengan ngeri.


"Bagaimana mungkin?" Wakil Ketua menatap Aran dengan tidak percaya.


Formasi hebat mereka dapat dihancurkan oleh Aran.


"Didunia ini tidak ada yang tidak mungkin kisanak"


Aran lalu mengeluarkan ajiannya yang terakhir untuk membunuh mereka semua


"Ajian Naga puspa!"


Aran membentuknya menjadi bunga teratai berwarna biru terang. Ketika Aran ingin melemparkan bunga tersebut, tiba-tiba muncul sesosok makhluk dihadapannya yang langsung memberi hormat kepada Aran.


"Tuan, mohon ampuni mereka"


Melihatnya, Aran langsung menghentikan gerakannya.


"Kenapa saya harus menurutimu Tuan Kay, mereka semua pantas mati"


Aran berhenti sejenak dengan Bunga Teratai ditangannya yang terus berputar.


"Tuan, setelah kejadian ini saya yakin mereka akan berubah. Apalagi sekarang tubuh mereka terluka parah. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mereka bisa kembali seperti semula"


Aran mulai berfikir kembali.


*Memang sepertinya mereka tidak akan bisa kembali normal seperti sebelumnya. Atma dan jiwa mereka sudah terluka*


*Aku juga merasakannya Raja Naga, mereka sudah sangat lemah. Aura mereka kacau*


"Baiklah, untuk menghormati dirimu dan Tuan Ghafar. Aku tidak akan membunuh mereka semua"


"Terima kasih Tuan"


Kay memberi hormatnya.


Aran lalu bergerak dengan sangat cepat memotong kepala Wakil Ketua Sekte.


Slasshh


Kepalanya menggelinding ditanah.


Mereka semua yang berada ditempat itu langsung menjauh dari Aran.


"Tuan! kenapa kamu membunuhnya. Bukankah kamu sudah berjanji"


"Aku hanya berkata tidak akan membunuh mereka semua, kau harus lebih memahami perkataanku"


Aran lalu membalik tubuhnya dan pergi dari tempat itu.


'Wakil Ketua adalah makhluk yang sangat berbahaya. Jika aku tidak membunuhnya sekarang. Aku takut dimasa depan ia akan mengganggu Tuan Ghafar dan yang lainnya' Batin Aran sambil ia terus melangkah pergi menuju tempat pertarungan Tuan Ghafar dan Leluhur.


Sementara Kay hanya bengong menatap Aran pergi.