
Padepokan Gagak Hitam
Tengah Lapangan.
Aska berada di tengah lapang bersama orang yang menjadi lawannya dari Padepokan Gagak Hitam. Dikelilingi murid-murid padepokan tersebut.
Orang yang menjadi lawan Aska bernama Huntur Ageung.
"Aku Huntur Ageung dari Padepokan Gagak Hitam," ucap Huntur memberi hormat dengan nada tinggi.
"Aku Sang Penari dari Cahaya Ilahi," balas Aska memberi hormat dengan nada tinggi.
Aska hanya mengasal dalam memilihan nama. Karena Aska harus menutup identitasnya.
Mendengar Aska menyebutkan namanya seperti itu, Aranya menahan tawanya.
Semua orang di area lapang tersebut bersorak.
Huntur melakukan kuda-kuda pembuka, begitu juga Aska menarik nafas kuda-kuda pembuka.
Keduanya melakukan sikap pasang berjalan, saling memutar untuk melihat celah dari lawan.
Melihat celah dari lawan itu, ketika ia melakukan sikap pasang berjalan, bisa dilihat dari cara berjalan dan pertahanan kuda-kudanya.
Setelah dua putaran melakukan sikap pasang berjalan, keduanya langsung menyerang.
Huntur menyerang dengan tendangan silang belakang loncat. Aska menyerang dengan tendangan silang bawah.
Serangan keduanya tidak ada yang mengenai satupun.
Aska langsung berguling ke depan dan memasang kuda-kuda. Begitu juga huntur malangkah mundur beberapa langkah lalu memasang kuda-kuda.
Keduanya menyerang kembali dan bertarung cukup sengit.
Beberapa ketukan bertarung, Huntur menyerang Aska dengan tendangan lurus depan. Aska menahan serangan huntur dengan mengangkat lututnya dan menjulurkan kedua telapak tanganya dekat lutut, Aska menambah pertahanan dengan Ajian Panolak Hawa.
Ketika tendangan Huntur tertahan oleh Aska, keluar hentakan hawa energi dari kedua serangan tersebut.
Secara langsung Aska menyerang Huntur dengan Ajian Tapak Salaras yang sudah diperkuat dengan Jurus Jeblag.
Serangan Aska kena telak pada Huntur, membuatnya terpental keras kebelakang.
Huntur kesakitan tidak bisa berdiri dan batuk mengeluarkan darah.
Semua orang yang berada di area lapang Padepokan Gagak Hitam berdiam diri tanpa suara menatap Aska.
"Kalian berdua maju, cepat habisi orang itu," ucap kakek tua tersebut dari dekat ruangan.
Dua orang dari sepuluh orang yang berjajar masuk ke dalam arena pertarungan.
Aska merasakan perasaan tidak enak.
"Aku sudah mengalahkannya. Mana janjimu? Kenapa kamu mengirim petarung lagi untuk bertarung denganku?" teriak Aska.
Dari kejauhan kakek tua itu hanya tersenyum.
Kedua petarung itu berada tepat dihadapan Aska.
Tubuhnya sedikit lebih besar dari pada Aska dan terlihat begitu kokoh. Auranya kuat dan pandangannya begitu tajam.
Aska memasang kembali kuda-kuda pembuka. Begitu juga kedua orang tersebut.
Aska bertarung sengit dengan kedua orang tersebut, hingga beberapa saat kemudian, ada seseorang masuk ke area pertarungan dan langsung ikut bertarung melawan Aska.
Akhirnya Aska terpukul mundur.
Aska terkejut melihat orang itu, Karena orang yang baru saja ikut bertarung adalah Huntur.
"Kenapa dia masih bisa bediri? Bukannya barusan dia sudah terluka dari dalam?" batin Aska bertanya-tanya.
Tidak hanya Aska, Aranyapun ikut terkejut.
Keadaan semakin tidak memihak kepada Aska. Apapun yang terjadi, mereka seperti tidak akan melepaskan Aska dan Aranya.
Aranya terlihat begitu cemas.
Aska menutup mata dan menarik nafas. Begitu membuka mata, Aska melakukan kuda-kuda pembuka jurus aneh yang tidak pernah dipelajarinya.
Setalah beberapa ketukan, Aska melakukan kuda-kuda jurus tersebut.
"Punten kang... Abdi kabur heula...," teriak Aska.
Aska langsung berlari ke belakang dan menarik lengan Aranya.
"Kejar...!" teriak Huntur.
Murid-murid di Padepokan Gagak Hitam berlari mengejar Aska dan Aranya.
"Kenapa orang itu masih baik-baik saja? Seperti tidak pernah terluka...," tanya Aska sembari berlari.
"Sepertinya itu Ajian Rawa Rontek," jawab Aranya.
"Hah... Ajian apa itu?" tanya Aska.
"Nanti aja nanyanya.. Sekarang kemana tujuan kamu selanjutnya?" teriak Aranya kesal.
"Kolam...," balas Aska.
"Kolam apa?" tanya Aranya.
"Kolam.. Kolam besar...," jawab Aska.
Aranya menoleh ke arah Aska dengan tatapan tajam marah.
"Mu.. Mungkin danau," ucap Aska ketakutan oleh tatapan Aranya.
Aranya melepaskan beberapa anak panahnya ke atas dan terjatuh tepat di arah langkah murid-murid Padepokan Gagak Hitam yang mengejarnya. Membuat langkah murid-murid Padepokan Gagak Hitam yang mengejarnya melambat karena dihujani anak panah Aranya.
"Ayo... Ikuti aku," ucap Aranya berlari mendahului Aska.
Aska mengikut Aranya dari belakang.
Para pengejar sudah tidak terlihat, sepertinya mereka sudah kehilangan jejak Aska dan Aranya.
Aska dan Aranya sudah cukup jauh berlari ke dalam hutan.
"Sepertinya mereka sudah tertinggal," ucap Aranya nafas terangah-engah.
"Padepokah Gagak Hitam benar-benar tidak menepati janjinya, aku sudah mengalahkan orang itu tapi malah mengrim lagi dua orang untuk bertarung," ucap Aska.
Aranya hanya menoleh ke arah Aska.
"Ohya.. Orang yang aku kalahkan sembuh secara tiba-tiba... Tadi kamu bilang Ajian Rawa Rontek. Ajian apa itu?" tanya Aska.
"Kamu ini benar-benar pendekar bodoh.. Apa gurumu tidak pernah memberutahukan jurus ajian yang ada di Bumi Nusantara?" ucap Aranya kesal.
"Bagaimana bisa ada orang sakti seperti dia tidak mengetahui hal seperti itu," batin Aranya kesal.
"Hehehe... Guruku cuma bilang, kalau seseorang bisa dikalahkan jika kita lebih kuat dari orang tersebut," ucap Aska
"Kenapa juga bisa ada guru yang mengajari muridnya seperti itu," batin Aranya.
"Walaupun aku tidak bisa Pencak Silat dan juga tidak punya tenaga dalam, tapi aku tau kalau setiap ajian itu hanya ada sebuah cara untuk mengalahkannya. Artinya kelemahan sebuah ajian tersebut," ucap Aranya.
"Jadi apa Ajian Rawa Rontek itu?" tanya Aska penasaran.
"Ajian Rawa Rontek itu ajian yang membuat pengunanya tidak bisa mati, bahkan walaupun ada bagian dari tubuhnya yang terputus, pengguna Ajian Rawa Rontek bisa menyatukan kembali bagian tubuhnya yang terputus itu," ucap Aranya.
"Sesakti itukah? Terus apa kelemahan Ajian Rawa Rontek?" tanya Aska.
"Entahlah, aku tidak tau mengenai kelemahannya, yang aku tau hanya sebatas itu," ucap Aranya.
Aska dan Aranya berjalan menuju tempat yang harus ditujunya.
"Ohya Aranya... Bagaimana bisa kakek dan nenekmu mengizinkan pergi mengembara?" tanya Aska.
"Ya katanya sih aku sudah cukup dewasa," ucap Aranya sedikit grogi.
Yang sebenarnya terjadi, karena kakek dan nenek Aranya percaya kepada Aska. Jika Aranya melakukan petualangan bersamanya akan lebih aman, karena mereka melihat sendiri kemampuan Aska.
Aska tidak bertanya lebih jauh mengenai hal itu.
"Ohya.. Kamu tau lokasi danau yang aku bicarakan?" tanya Aska.
"Iya... Di daerah sini tidak ada danau lain selain danau yang aku tau," balas Aranya.
"Tapi, perjalanan menuju sana sangat berbahaya, makanya para murid dari Padepokan Gagak Hitam berhenti mengejar. Danau itu biasa di sebut Danau Ranau," ucap Aranya.
"Seberbahaya itukah?"
"Iya.. Konon katanya di perjalanan ke Danau Ranau banyak sekali hewan buas," ucap Aranya.
Aska melamun sejenak.
"Berapa lama dari sini menuju Danau Ranau?, tanya Aska.
"Dari sini jika perjalanan lancar, kita bisa sampai beberapa hari saja. Ya... Sekitar satu atau dua minggu," jawab Aranya.
"Kalau begitu, kita percepat langkah berjalan kita... Ayo..," ucap Aska langsung mempercepat langkah.
Aska dan Aranya pergi mengarungi hutan belantara menuju Danau Ranau.