Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Seni Akupunktur IV



Aran berjalan keluar dari kamarnya. Ia bersandar di tepian pagar pembatas didepan kamarnya, menatap ke langit luas.


"Master guru, kamu dimana sekarang"


Aran seketika teringat masa-masa bersama Masternya.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu"


Ketika sedang asik menikmati pemandangan langit malam, terdengar suara langah kaki yang sangat ringan menuju tempatnya. Aran sudah mengetahui siapa pemilik langkah kaki ini, jadi ia tetap menikmati pemandangan langit.


"Aran"


Mendengar namanya dipanggil, Aran memalingkan wajahnya ke sumber suara itu.


"Tuan Tua, kenapa kamu berjalan mengendap-endap. Seperti seorang pembunuh saja"


"Hahaha, ternyata kamu sudah mengetahuinya"


Tuan Tua tertawa dan muncul dengan gerakan kilat dihadapan Aran.


"Hormat pada Tuan Tua"


"Tidak perlu terlalu sopan" Tuan Tua lalu mengajak Aran berjalan bersama.


"Bagaimana Aran, apa kamu sudah siap untuk membantu menembus batasku"


"Tenang saja Tuan Tua, saya sudah siap"


"Bagus, saya mengagumi anak muda yang berbakat sepertimu. Mari kita makan malam dulu, cucuku khusus memasaknya untukmu, dengan dibantu kedua saudaramu" Tuan Tua berkata sambil tertawa kecil.


"Ah, saya jadi tidak enak jika benar seperti itu"


Aran hanya bisa menjawab dengan malu-malu, mereka lalu berjalan bersama ke ruang makan utama rumah ini.


Sesampainya diruang makan, terlihat banyak hidangan mewah. Berbagai macam makanan tersusun rapi dimeja yang cukup besar dengan kursi yang mengelilingi meja itu.


"Aran mari silahkan duduk" Tuan Tua mengajak Aran untuk duduk dikursi yang sudah disiapkan.


"Tuan Tua, ada acara apa ini. Kenapa makanannya begitu mewah" Aran menatap semua makan dimeja, Makanan-makanan ini terlihat sangat nikmat. Di tengah meja ada kambing guling yang sangat besar, belum lagi berbagai sayur dan buah-buahan mengelilinginya.


"Jamuan ini sebagai rasa syukur kami atas kesembuhan cucu kami. Entah bagaimana kami mengucapkan terima kasih kepadamu Aran"


Tuan Tua berkata dengan sangat lembut dan duduk disebelah kursi Aran.


"Tuan tidak perlu seperti ini, saya benar-benar tulus membantu keluarga Tuan"


Tuan Tua membalasnya dengan senyuman dan tawa yang hangat, mereka lalu makan bersama dengan sesekali berbicara mengenai keadaan dunia jin. Banyak hal yang tidak Aran tau didunia ini, jadi ia juga banyak bertanya.


Setelah makan, mereka lalu duduk bersama kembali diruangan keluarga.


"Aran, aku masih tidak percaya kalau kamu benar-benar bisa membantuku menerobos"


"Saya yakin 70% bisa membantumu Tuan"


Dalam hati Tuan Tua, 70% itu adalah angka keberhasilan yang lumayan tinggi.


Sementara yang lain hanya mendengarkan saja apa yang dibicarakan oleh Aran dan Tuan Tua.


Setelah cukup lama mereka mengobrol bersama, Aran lalu mengajak Tuan Tua untuk melakukan proses penyembuhannya. Tuan Tua langsung mengiyakan ajakan Aran dan ia memimpin jalan membawa Aran untuk mengikutinya.


Kali ini Tuan Tua mengajak Aran ke bagian dalam rumah. Hanya Aran yang diajak masuk kedalam rumah itu, sementara yang lainnya tidak ikut. Bulan dan Bintang dibawa oleh Eliza untuk menemaninya malam ini.


Aran bersama Tuan Tua terus berjalan ke bagian dalam sampai akhirnya mereka tiba didepan pintu besar dengan corak iblis merah.


Didepan pintu ada dua penjaga setingkat jenderal. Dengan aura yang begitu menindas.


"Tuan" Mereka langsung menyapa Tuan Tua sambil memberi hormat.


"Baik Tuan" Jawab kedua penjaga.


Tuan Tua lalu mengajak Aran untuk memasuki ruangan tersebut.


Mereka memasuki kamar yang lumayan besar, dengan berbagai furniture yang lengkap dengan berbagai macam ornamen sihir di beberapa tempat.


Aran juga memperhatikan beberapa kertas yang sepertinya jimat pelindung di sekitarnya.


"Itu adalah jimat pelindung, jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka ruangan ini bisa digunakan sebagai tempat persembunyian"


Aran mengangguk mendengarkan penjelasan Tuan Tua.


"Mari Tuan kita lakukan proses nya"


"Baik Aran"


Aran lalu meminta Tuan Tua untuk tidur telentang, Tuan Tua menuruti perintah Aran.


Aran tidak ingin menunda waktu, ia lalu mengambil jarum-jarum akupunkturnya. Ia menotok beberapa bagian tubuh Tuan Tua dengan sangat cepat, Tuan Tua merasakan tubuhnya bergetar hebat merasakan totokan Aran.


Setelah Aran menotok tubuh Tuan Tua, ia dapat melihat aliran darah Tuan Tua sudah kembali normal. Tidak ingin menunda lama, ia lalu menusukkan jarum-jarum akupunkturnya dengan kecepatan tinggi. Aran mempraktekkan Seni Naga Langitnya ke tubuh Tuan Tua.


"Organ dalammu rusak, aku sekarang sedang memperbaikinya. Tahanlah, karena ini akan sangat menyakitkan"


Tuan Tua menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Aran.


Aran lalu mempraktekkan Seni Naga Langitnya ke tubuh Tuan Tua. Dengan kecepatan tinggi ia kembali menusukkan jarum dan memasukkan tenaga dalamnya kedalam tubuh Tuan Tua, Api biru memasuki tubuhnya dan mulai merekontruksi bagian tubuh Tuan Tua yang rusak.


Tuan Tua langsung menjerit ketika organ dalam tubuhnya terkena api biru, jeritannya sangat keras sampai membuat kuping Aran sakit.


"Aku kan sudah bilang, tahanlah sedikit. Jangan teriak seperti itu, malu dengan umurmu"


Mendengar ucapan Aran, rasanya ia ingin menyumpal mulut Aran dengan jari kakinya.


'Sialan, kenapa rasanya sakit sekali' Batin Tuan Tua, ia merasakan organ dalam tubuhnya seperti ditarik-tarik.


"Apa yang kau lakukan pada tubuhku Aran" Ditengah-tengah rasa sakitnya, ia berkata kepada Aran.


"Sudah kamu diam saja Tuan. Jika kamu masih bicara, akan aku sentil jantungmu dengan api biruku ini"


Ucapan Aran menyebabkan Tuan Tua memuntahkan darahnya menahan kesal. Baru kali ini ia dikerjai oleh pemuda yang umurnya jauh dibawahnya.


>>>


Catatan Penulis,


Saya tidak tau apakah saya perlu menulis ini. Jika ada yang mau membacanya silahkan, jika tidak suka silahkan di skip.


Saya memang akan lama untuk update novel ini, dikarenakan keadaan saat ini.


Ada beebrapa perusahaan yang sampai harus memberhentikan karyawannya. Ada beberapa teman saya juga yang sudah tidak bekerja lagi. Sekarang ini saya sedang berjuang di kehidupan nyata ini, bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan masih bisa bekerja.


Mungkin banyak teman-teman disini yang sudah full wfh.


Updatean ini saya tulis dijam istirahat kantor, dikarenakan pekerjaan yang semakin menumpuk saya tidak bisa update tiap hari.


Untuk para pembaca yang baik hatinya dan masih mau membaca tulisan ini. Terima kasih banyak.


Semoga Tuhan membalasmu dengan rejeki yang berlimpah dan dijaga seluruh keluarganya.


Untuk mereka yang tidak sabar menunggu update dan ingin menghapus novel ini, silahkan saja. Saya tidak memaksa untuk tetap membaca novel ini.


Jaga kesehatan selalu, taati aturan pemerintah.


Salam.