
Di alam giok, Aran berlatih dengan sangat giat. Karena Aran tidak ingin gagal dalam seleksi masuk Akademi Bimasakti.
Selama berlatih di alam giok, Raja Naga juga meminta Aran untuk berlatih membuat pil. Karena selama ini ia hanya berhasil membuat pil level 2, Raja Naga berharap Aran bisa membuat pil level 3 secepatnya. Walau Aran sudah berhasil mengendalikan api murni, tapi tetap saja setiap tingkatan level pil memiliki kesulitannya masing-masing.
Pil Level 1 dapat dengan mudah Aran kuasai karena hanya dengan memahami api abadi miliknya.
Pil Level 2 membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi dan pemahaman api.
Pil Level 3 membutuhkan pemahaman dan pengendalian api. Serta harus memahami semua bahan obat yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Tidak lupa, Aran juga memproduksi wayn miliknya hingga kini jumlahnya sangat banyak. Wayn tersebut Aran simpan didalam setiap gentong besar yang memiliki kran air. Jadi ia tinggal membuka kran air itu untuk mengisinya kedalam botol-botol kecil.
Sementara untuk kopi svarga Aran tetap membuatnya tapi dalam jumlah yang tidak banyak.
Aran terus melakukan semua hal itu hingga akhirnya ia keluar dari alam giok. Untuk sementara Aran duduk didalam kamarnya hingga pagi menjelang.
Hari masih shubuh tapi di luar sudah banyak orang yang berlalu-lalang.
Aran lalu turun kelantai bawah restoran. Dibawah ia melihat seorang gadis yang tidak lain adalah Manajer restoran ini.
Melihat raut wajahnya yang seperti banyak masalah, Aran lalu mendekatinya.
"Boleh saya duduk disini"
Suara Aran membangunkannya dari lamunan.
"Ah, silahkan Tuan Aran"
"Panggil saya Aran saja, saya masih lebih muda darimu"
"Baiklah"
Manajer itu menjawabnya dengan sopan.
Mereka berdua lalu duduk berhadapan disebelah jendela yang memperlihatkan pemandangan pagi kota ini.
Aran melihat bahwa Manajer ini memiliki paras yang sangat cantik, ia tidak menyangka bahwa disini dapat menemukan wanita secantik Manajer. Entah sudah berapa banyak pria yang mencoba mendekatinya.
Daripada terus diam, Aran memutuskan untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
"Sepertinya kamu sedang banyak pikiran Manajer"
Perkataan Aran membuatnya sedikit kaget dan kembali menunduk memainkan gelas dihadapannya.
"Ya, aku memang sedang banyak pikiran"
"Aku adalah pendengar yang baik, mungkin saja aku bisa memberikanmu sedikit solusi"
Jawab Aran sambil tersenyum. Meski ia menggunakan topeng yang menutupi mata sampai dengan hidung, tapi tetap saja senyuman tulusnya dapat terlihat jelas.
"Terima kasih, mungkin aku akan menceritakannya padamu sedikit masalahku"
Manajer lalu melanjutkan ceritanya.
"Nama saya adalah Xi Fentian, saya merupakan cucu kesebelas dari pemilik Pasifik Inn"
Manajer kembali melanjukan ceritanya bahwa ia bersama Kakeknya adalah pemimpin bagian tengah selama beberapa periode.
Tapi kali ini karena kinerja mereka kurang bagus, pemimpin pusat akan melakukan penilaian dimana jika ternyata hasilnya buruk dan tidak sesuai target yang mereka tentukan, maka mereka akan di pindahkan ke tempat lain. Dimana tempat itu adalah tempat terpencil, hal itu sama juga mereka dibuang oleh pemimpin.
Manajer tidak mempermasalahkan dirinya, tapi ia memikirkan Kakeknya yang sangat berharap banyak padanya. Karena Pasifik Inn ini merupakan bisnis yang sangat besar yang Kakeknya rintih dari masih muda. Kakeknya merintih dari Pasifik Inn hanya satu lantai hingga menjadi sebesar sekarang. Ia tidak rela jika Pasifik Inn ini jatuh ke pihak lain. Tapi masalahnya sekarang adalah mereka tidak memiliki produk unggulan yang membedakannya dari Pasifik Inn yang lain, belum lagi pemasukan mereka yang masih stagnan.
"Jadi intinya kamu ingin agar Pasifik Inn yang kamu kelola ini bisa dikenal banyak orang dan memiliki pendapatan yang lebih baik dari sebelumnya"
Kata Aran pada Manajer.
"Ya, bisa dibilang seperti itu"
Jawab Manajer sambil menatap keluar jendela.
"Hmm, sepertinya aku bisa membantu sedikit permasalahanmu"
"Maksudmu? kamu bisa membantuku dengan cara apa"
"Begini, dari ceritamu intinya kamu memerlukan suatu produk atau barang baru yang dapat meningkatkan laba perusahaan dan juga dapat dikenal oleh masyarakat luas"
"Hmm, lalu"
Kini Manajer semakin penasaran dengan ucapan Aran.
"Aku akan membantumu dengan ini"
Aran lalu mengeluarkan botol wayn miliknya kepada Manajer.
"Ini.."
Manajer diam menatap botol dihadapannya.
"Ini dinamakan wayn. Jika kau mau, aku akan memberikan supply yang banyak padamu. Tentunya dengan sedikit syarat"
Ucapan Aran ini merupakan titik terang baginya yang sudah mengalami jalan buntu.
"Memang berapa banyak yang kau punya dan apa syaratnya"
Tanya Manajer.
"Tergantung yang kamu butuhkan berapa banyak, syaratnya hanya kita bisa adil dalam laba penjualan ini. Aku hanya meminta 50% keuntungan dari setiap penjualan wayn. Bagaimana menurutmu"
Manajer itu sedikit berfikir, baginya 50% itu juga angka yang lumayan. Apalagi dia tidak mengeluarkan modal sama sekali hanya menjualnya saja. Dan juga ia sudah melihat efek dari wayn tersebut.
"Aku setuju syaratmu. Kapan kamu bisa memberikan wayn itu padaku"
"Sekarang juga kamu bisa mendapatkannya"
"Benarkah? dimana?
Manajer itu reflek menengok kesekelilingnya.
"Ini"
Dari udara kosong keluar sebuah gentong besar yang berisi wayn.
"Gentong besar ini berisi wayn kualitas sedang"
Melihat gentong besar didekat Aran, Manajer lalu berjalan mendekati gentong tersebut..
Ia lalu membelai gentong itu perlahan-lahan.
"Apa kamu benar-benar percaya pada kami"
Kata Manajer kepada Aran.
"Saya yakin Manajer adalah wanita terhormat yang akan selalu menjaga perkataannya"
"Hihihi"
Manajer Xi hanya tertawa pelan.
"Tidak perlu memanggilku Manajer, panggil saja namaku"
Jawabnya sopan, Xi Fentian benar-benar bersyukur bisa mengenal Aran.
"Baiklah kalau begitu Nona Xi, saya pamit pergi"
Kini Aran tidak perlu lagi khawatir akan kekurangan uang disini.
Sepeninggal Aran, Xi Fentian langsung memanggil karyawannya untuk memindahkan gentong wayn itu kedalam gudang milik mereka.
Xi Fentian lalu berbicara kepada Kakeknya mengenai perjanjiannya dengan Aran terkait wayn. Tentu saja sang Kakek gembira mendengarnya, apalagi kini ia dapat menikmati wayn sepuasnya.
Setelah urusannya selesai, Aran berjalan-jalan keluar kota menikmati pemandangan kota yang mulai ramai.
Semakin siang, keadaan di kota ini semakin ramai. Apalagi mendekati hari pembukaan Akademi, maka semakin banyak orang dari berbagai penjuru dunia datang.
"Aran-ssi"
Terdengar suara yang memanggil namanya.
"Ohh kamu Taeyang"
Kata Aran melihat orang yang memanggilnya kini telah berlari kepadanya.
"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini"
"Ya, aku bosan dikamar. Jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota ini"
Mereka berdua lalu memutuskan berjalan bersama-sama.
"Taeyang, kenapa bangunan itu sangat ramai"
Aran menunjuk sebuah bangunan yang sangat ramai oleh manusia.
"Oh, itu adalah rumah judi. Berbagai macam judi ada disana"
"Apa kamu pernah kesana"
"Tentu saja pernah, tapi nasibku kurang baik sehingga uangku habis"
"Ohh begitu"
Jawab Aran pelan.
"Apa Aran-ssi ingin mencobanya"
Taeyang berkata sambil tersenyum.
"Aku tidak terlalu suka dengan judi. Tapi boleh juga untuk iseng-iseng berhadiah"
Jawab Aran.
"Hahaha, ayo-ayo kita kesana"
Taeyang begitu bersemangat mengajak Aran ke tempat judi tersebut.
Didalam tempat judi semua orang bebas memasukinya, yang penting disini adalah uang.
Taeyang lalu mengajak Aran untuk berjalan-jalan didalam gedung.
Banyak sekali perjudian disini.
"Hei Taeyang"
Seorang pria memanggil Taeyang dari jauh.
Taeyang hanya meliriknya dan berkata kepada Aran.
"Aran-ssi, pria ini adalah bajingann sialan yang mencuri uangku"
"Hmm"
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Aran.
"Hahaha.. Taeyang, tidak kusangka kamu akan kembali lagi kesini. Terakhir kali uangmu habis disini"
Pria yang berkata kepada Taeyang itu berpakaian sangat rapi dan berkelas.
"Ooh, siapa pria disebelahmu ini"
Kata pemuda itu menambahkan.
"Ini Hyungku, ia belum lama datang kesini"
Jawab Taeyang dengan menahan kekesalannya.
"Ooh jadi kamu Kakaknya Taeyang. Perkenalkan namaku Dong Yan"
"Aran"
Jawab Aran sambil mereka berjabat tangan.
"Apa kamu ingin bermain disini juga"
"Hmm.. Tentu saja.. Tapi sepertinya disini hanya bermain taruhan kecil. Aku terbiasa dengan taruhan besar"
Jawab Aran sedikit meninggi.
"Hohoho.. rupanya kamu memiliki keberanian. Berapa taruhan minimal yang kamu inginkan"
"Aku ingin bertaruh minimal 500 keping emas"
Perkataan Aran membuat Dong Yan tersenyum lebar. Ia tidak menyangka bahwa Kakak dari Taeyang adalah orang yang memiliki banyak uang.
"Untuk itu, mari ikut aku ke ruangan VIP"
"Mari, pimpin jalan"
Aran lalu mengikuti Dong Yan menuju ruang VIP dari rumah judi ini.
~Note~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Jika ada yang ingin bertanya bisa lewat instagram saya ya.
Terima kasih.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt