Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Pertarungan di Tengah Lautan



Terlihat dari kejauhan para perompak sudah mengacungkan senjata.


Sesaat setelah Aska menghela nafas, para perompak membenturkan kapalnya dengan kapal yang dinaiki Aska.


"Drruuakkk...," suara benturan kapal.


Setelah kapal berdempetan, para perompak tersebut meloncat dari kapalnya dan langsung menyerang secara membabi buta.


"Khiaaahhk..."


Pertempuranpun terjadi di tengah lautan.


Bagi Aska sangat mudah menghalau serangan para perompak, dikarenakan mereka menyerang secara membabi buta tanpa memperdulikan pertahanan. Mungkin yang mereka pikirnya hanya untuk membunuh.


Perompak itu benar-benar seperti orang gila. Kantung mata mereka hitam dan gaya bertarungnyapun abstrak juga berisik.


Kelima awak kapal sudah terkapar. Sedangkan yang terkapar dari pihak perompak baru tiga orang. Abar sudah terpojok di geladak kapal depan dengan banyak luka sayatan.


Melihat salah satu perompak itu melancarkan serangannya kepada Abar, Aska berlari dan menendang perompak tersebut hingga terpental dan membanting ke dinding pinggir kapal.


"Aska... Kamu larilah. Ada perahu kecil di geladak kapal belakang," ucap Abar kesakitan dengan darah bercucuran dari luka sayatannya.


"Duduklah Paman," ucap Aska.


"Tinggalkan saja aku Aska. Tidak perlu..."


Aska langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam dan dingin. Tatapan itu membuat Abar berhenti bicara dan langsung duduk dibelakang Aska.


Aska menarik nafas pembuka dan memasang kuda-kuda sikap pasang.


"Hehehe... Tinggal seorang, masih keras kepala... Seraaang..."


Para perompak menyerang secara bersamaan.


Aska melawan para perompak tersebut menggunakan gerakan dasar silat Tarian Bunga Melati. Gerakan silat yang digunakan Aska semakin mematikan di bawah sinar bulan dan mega hijau.


Beberapa saat pertarungan berlalu. Aska berdiri di tengah kapal diantara mayat para perompak dengan tubuh penuh keringat.


Melihat Aska bertarung seperti itu, Abar melongo sekaligus ketakutan sampai bola matanya hampir keluar. Ditambah tatapan tajam dan dingin Aska seusai pertarungan.


Setelah pertarungan, laut mengeluarkan sinarnya. Aska menghela nafas penutup dan melihat ke arah langit malam yang begitu terang benderang.


***


Satu hari kemudian.


Siang hari, tengah laut.


Kapal berlayar seperti semula menuju daerah Daratan Dasarna.


Akibat penyerangan para perompak semalam, dua orang awak kapal Abar meninggal, dua orang lagi terluka parah dari sayatan dan satu orang luka sayatan ringan.


Aska mengobati mereka dengan obat ramuan yang dibuat Ki Salawi. Sehingga luka mereka cepat mengering. Sedangkan mayat para perompak dibuang ke laut dan Aska mengambil barang berharga dari kapal para perompak diberikan kepada Abar sebagai ganti rugi atas kerusakan kapal dan meninggal kedua awak kapalnya.


Aska sedang berdiri di geladak kapal depan menatap hamparan laut biru.


"Terima kasih Aska," ucap Abar berjalan dari belakang menghampiri Aska.


"Paman tidak tau kalau kamu sesakti itu," puji Abar.


Aska hanya berdiam diri menatap ke depan.


"Kamu berhak mengambil sebagian barang dari kapal para perompak itu," ucap Abar.


"Tidak perlu. Pamanlah yang lebih membutuhkan," ucap Aska.


"Sekali lagi terima kasih Aska," ucap Abar.


"Sama-sama Paman," balas Aska menganggukan kepala.


Abarpun menatap ke depan dengan senyuman bersama Aska melihat pemandangan panorama alam biru laut.


Angin berhembus melewati rongga-rongga kapal dan mendorong kencang layar.


***


Satu minggu kemudian.


Aska tiba di Dermaga Pelabuhan Daratan Dasarna. Pelabuhan tersebut termasuk kedalam wilayah Kerajaan Salakanegara yang dirajai Prabu Darmalokapala Ajraksa Gapura Sagara.


Abar memberikan satu kantong uang koin kepada Aska sebagai tanda terima kasih dikarenakan Aska tidak mau mengambil sebagian barang yang didapatkan dari kapal perompak.


Tidak lama setelah itu, Aska pergi dari pelabuhan memasuki hutan, dengan berjalan lurus dari arah laut.


***


Aska berjalan cukup jauh ke dalam hutan.


"Haduuh lapar... Kenapa tidak ada desa atau kampung satupun... Sial... punya uang juga tidak berguna," batin Aska berjalan menyusuri hutan.


"Hehehe... Ada rusa... lumayan gede lagi...," batin Aska bersembunyi di belakang semak-semak.


Aska mencabut golok dari sarungnya.


Melihat rusa itu sedang tidak waspada, secara tiba-tiba Aska melompat dan berlari.


Mendengar suara lompatan Aska, rusa tersebut terkejut dan langsung berlari. Aska mengejar rusa tersebut sembari mengacungkan goloknya.


Tidak lama kemudian setelah itu, ada sebuah panah melesat dan mengenai rusa tersebut yang tengah berlari. Rusa tersebut langsung terjatuh.


Keluar seorang perempuan dari balik pohon, yang sekiranya berusia tujuh belas tahun.


"Berhenti," ucap perempuan tersebut mengangkat busur panahnya ke arah Aska.


Askapun berhenti.


Perempuan tersebut bernama Aranya Drwya.


Aranya berjalan menghampiri rusa yang tengah terkapar kesakitan.


"Jangan melangkah satu langkahpun. Atau anak panahku melesat ke kepalanamu," ucap Aranya.


Aska mematung.


"Apa-apaan perempuan ini? Kenapa tiba-tiba muncul," batin Aska.


Aska berdiam diri karena sulit bergerak dari jarak panah sedekat itu. Dan lagi Aska terkagum-kagum dengan kemampuan Aranya yang dapat menembak jatuh rusa yang tengah berlari. Itu artinya kemampuan memanahnya bisa dibilang sangat hebat.


Aranya mengikat kaki rusa tersebut.


"Hey... Kenapa kamu mengikat kakinya?" tanya Aska kesal.


Aranya menghiraukan pertanyaan Aska dan membawa rusa tersebut dengan di tarik kakinya dan di bawah rusa tersebut di alasi kain.


"Sial gara-gara orang ini, buruanku jadi kabur...," gumam kesal batin Aranya berjalan membawa rusa.


"Hei-hei itu rusaku kenapa dibawa," ucap Aska mengikuti dengan menjaga jarak aman.


Aranya berbalik.


"Apa kamu bilang? Aku yang melumpuhkan rusa ini duluan. Jadi rusa ini miliku," ucap kesal Aranya.


"Tapi aku yang pertama memburunya," ucap Aska.


Aranya berbalik mengabaikan Aska dan kembali berjalan membawa rusa tersebut.


"Dasar orang yang tidak tau di untung. Masih untung aku tidak melepaskan anak panah ke otaknya," batin Aranya kesal.


Aska mengikuti Aranya dari belakang dengan menjaga jarak aman. Siapa tahu Aranya tiba-tiba melepaskan anak panahnya kepada Aska.


***


Beberapa saat yang lalu.


"Nek Aranya pergi berburu dulu ya. Sekalian mau mencoba panah baru buatan Aranya," ucap Aranya membuka pintu rumah.


"Iyah hati-hati Aranya. Pulangnya jangan terlalu petang."


Aranya pergi ke dalam hutan dengan suasana hati yang bagus.


Sesampainya di dalam hutan, Aranya melihat seekor rusa jantan besar yang tengah makan rumput.


"Rusa itu besar sekali. Banyak luka di sekujur tubuhnya. Apakah ini raja rusa yang dibicarakan para pemburu dari desa sebelah?" batin Aranya.


Aranya melangkah mendekat dan bersembunyi di balik pohon.


"Katanya rusa ini tidak mudah tumbang walaupun kakinya sudah terpanah. Hm... Ayo kita coba gaya memanah baruku. Apakah masih bisa berdiri seperti yang orang-orang katakan?" batin Aranya tersenyum percaya diri.


Aranya mengangkat busur panahnya dengan menarik dua anak panah sekaligus. Dari balik pepohonan Aranya membidik dengan sangat hati-hati dan fokus, dikarenakan gaya memanah Aranya dengan dua anak panah belum sempurna.


Beberapa saat kemudian, sewaktu Aranya tengah fokus membidik. Mendengar seseorang berlari sembari berteriak-teriak dan membuat raja rusa buruannya kabur.


"Woy rusa... sini jangan lari... Kita makan bersama... Makan daging hahaha...," teriak Aska yang tengah berlari mengejar rusa buruannya.


Hal itu membuat kepala Aranya kesal. Kenapa bisa ada orang yang berburu seperti itu, dan lagi tanpa menggunakan busur panah. Bahkan yang lebih parahnya lagi dia hanya mengacungkan sebuah golok yang sangat pendek.


Sesaat rusa yang tengah dikejar Aska berpapasan dengan arah bidikan Aranya, Aranya melepaskan satu anak panahnya.


Anak panah yang dilepaskan Aranya melesat dengan cepat juga akurat hingga mengenai paha kaki depan rusa. Padahal rusa tersebut sedang berlari dan membuat rusa yang sedang dikejar Aska terjatuh.


***


Aranya sedikit menoleh ke belakang dan melihat Aska masih mengikutinya.


"Ini orang kenapa masih mengikutiku dari tadi. Walapun membujuku dengan segala cara. Aku tidak akan memberikan rusa ini. Jika dibandingkan raja rusa, rusa ini butuh seratus untuk menyamainya," batin Aranya menggerutu kesal.


Aranya mempercepat berjalannya. Begitupun Aska masih mengikuti Aranya dari belakang dengan menjaga jarak beberapa meter dari Aranya.