Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Sebuah Cerita



Sore hari.


Aska, Raka, Yasa dan Citta sedang memandangi matarahi senja tanpa berbicara sepatah katapun. Sepertinya matahari senja membuat mereka melepas rasa lelah yang mereka rasakan.


Matahari sudah hampir terbenam. Citta segera pulang ke rumahnya dan Yasa menginap karena Ki Salawi sedang tidak ada.


"Huuuh... Hari ini terasa sangat melelahkan dari hari-hari sebelumnya," ucap Raka menghela nafas.


Aska hanya berdiam diri masih menatap gunung hingga matahari terbenam.


***


Malam haripun tiba.


Aska sedang melatih gerakan tarianya. mengingat bahwa tujuan utamanya mencari orang dalam buku itu untuk berlatih memperkuat kemampuannya. Sedangkan Raka dan Yasa duduk bersantai di emper rumah.


Tiba-tiba beberapa anak kecil datang berlari dari kejauhan.


"Kak Rakaaa... Kak Rakaaa...," teriak anak kecil itu sembari berlari menghampiri rumah Ki Salawi.


Raka dan Yasa terkejut mendengar suara anak kecil tersebut dan langsung pergi menghampiri.


"Ada apa? Apakah?" ucap Raka panik.


"Kak, Orang-orang itu sedang berjalan ke sini," ucap anak kecil itu dengan nafas terengah-engah.


Mendengar ucapan anak kecil tersebut, Raka dan Yasa langsung panik.


"Cepat kalian pulanglah," Ucap Raka.


Anak-anak kecil itu langsung berlari pulang ke rumahnya.


Aska menghampiri Raka dan Yasa karena merasa heran melihat mereka begitu panik.


"Ada apa?" tanya Aska.


"Jangan bertanya dulu. Ayo ikut, kita pergi dulu dari sini," ucap Raka merangkul Aska.


Raka dan Yasa membawa Aska ke tengah sawah untuk bersembunyi.


"Ada apa ini Raka Yasa?" tanya Aska panik.


"Sudah diam dulu," ucap Raka.


"Iya ada apa? Kenapa kita harus bersembunyi?" ucap Aska.


Aska kesal dan darahnya naik karena mereka tidak memberitahukan situasi apa yang terjadi.


"Shuutt... Mereka datang," ucap Raka berbisik.


Dari arah kampung datanglah sekelompok orang yang cukup banyak membawa obor. Pada saat mereka sudah berada didekat rumah Ki Salawi, mereka melemparkan obor yang dibawanya ke rumah Ki Salawi.


"Apa itu? Siapa mereka? Kenapa mereka melemparkan obor ke rumah Kakek?" ucap Aska marah dan penuh kekesalan.


"Aska mau kemana? Diam dulu, jangan gegabah," ucap Raka.


"Mau pergilah kesana. Kalian lihat dengan jelas rumah Kakek terbakar, kenapa diam saja dan malah bersembunyi disini," ucap Aska marah.


"Aska sabar, diam dulu sebentar. Kamu ingat ucapan Kakek tadi? Jangan buat masalah. Ini yang dimaksud Kakek," ucap Yasa.


"Tapi mereka yang membuat masalah terlebih dahulu," ucap Aska.


"Sini Aska jongkok dulu. Untuk sekarang diam dulu. nanti aku jelaskan," ucap Yasa menarik lengan Aska.


Askapun menurut dan bersembunyi dengan penuh kekesalan hingga darahnya mendidih melihat rumah Ki Salawi terbakar. Aska kesal terhadap dirinya sendiri karena tidak mengetahui dan tidak mengerti dengan situasi tersebut.


Sekelompok orang itu tidak hanya membakar rumah Ki Salawi saja, mereka juga mengacak-ngacak halaman rumah dan meruksak pagar-pagar rumah.


***


Mega hijau menghilang dan munculah mega putih. Pagi hari sudah tiba, tinggal beberapa ketukan lagi matahari terbit.


Aska, Raka dan Yasa kembali ke rumah. Aska melamun betapa tidak bergunanya dirinya yang melihat rumah gurunya sendiri hangus terbakar tanpa melakukan apa-apa.


Citta datang berlari melihat rumah Ki Salawi habis terbakar.


"Mereka datang lagi?" tanya Citta dengan nafas terengah-engah.


"Iya," jawab Yasa.


"Berapa banyak orangnya?" tanya Citta.


"Kali ini lebih banyak dari sebelumnya," ucap Yasa.


Citta berjalan melihat-lihat ke sekeliling rumah yang terbakar.


Melihat Aska duduk melamun, Yasa menghampirinya.


"Aska ada yang mau aku ceritakan," ucap Yasa.


Askapun menoleh ke arah Yasa.


"Kita mengobrol di saung sana," ucap Yasa sembari menunjuk.


Askapun pergi mengikuti Yasa. Karena Aska merasa Yasa akan menceritakan situasi yang terjadi.


***


Sesampainya di salah satu saung pesawahan.


"Ada apa?" tanya Aska penasaran.


"Aku mau menceritakan kenapa kejadian semalam bisa terjadi," ucap Yasa.


"Bagaimana ceritanya?" tanya Aska.


"Dua puluh lima tahun yang lalu ada lima makhluk aneh dari dunia lain mengacau di daerah pedesaan sini," ucap Yasa.


"Sebentar... Maksud makhluk aneh dari dunia lain itu apa?" tanya Aska memotong ucapan Yasa.


"Aku juga tidak tahu, soalnya kejadian ini dua puluh lima yang tahun lalu. Bahkan kita saja belum lahir. Dengarkan dulu ceritanya sampai selesai jangan dipotong," ucap Yasa kesal.


"Iya iya lanjutkan," ucap Aska.


"Nah, kelima makhluk aneh itu sudah menghacurkan banyak desa hingga sampai ke desa ini. Banyak pasukan kerajaan yang mencoba menghentikan makhluk aneh itu bahkan sampai Raja kerajaan Sunda Galuh terdahulu dan Prabu Siliwangi turun tangan, saat itu Prabu Siliwangi belum menjadi Raja. Namun, kekuatan makhluk itu sangat kuat hingga membuat seluruh pasukan kerajaan dan para pendekar yang membantu melawanpun kewalahan. Di saat semua orang sudah kehabisan tenaga, datang seorang pendekar entah dari mana. Pendekar itu melawan kelima makhluk tersebut seorang diri. Di situ terjadi pertarungan sengit antara seorang pendekar dan kelima makhluk aneh dari dunia lain dan disaksikan secara langsung oleh seluruh orang yang berada di daerah itu. Setelah pertarung panjang, akhirnya berakhir dan dimenangkan pendekar tersebut. Pendekar yang mengalahkan makhluk aneh dari dunia lain itu adalah Kakek," ucap Yasa.


"Hah Kakek," ucap Aska terkejut.


"Iya Kakek. Sebenarnya kedatangan Kakek kesini hanya sebuah kebetulan saja, karena Kakek mau membangun rumah di kampung ini. Setelah Kakek mengalahkan makhluk aneh itu, nama Kakek jadi terkenal diseluruh penjuru Bumi Nusantara lewat mulut ke mulut. Nah, dari situlah Kakek terkenal karena kesaktiannya dan banyak orang yang datang ingin berguru menjadi murid Kakek. Bahkan sampai putra putri para bangsawan kerajaanpun berdatangan. Namun, tidak ada satu orangpun yang diterima jadi murid Kakek. Beberapa tahun kemudian Prabu Siliwangi membawa putra pertamanya Raden Walangsungsang dan meminta Kakek menjadikan muridnya, namun Kakek menolak permintaan itu. Prabu Siliwalangi menerima dengan lapang dada. Lalu beberapa tahun kemudian lagi membawa putri keduanya Nyai Rarasantang, masih ditolak sampai Raden Kiansantangpun ditolak Kakek. Padahal waktu itu Raden Kiansantang sudah cukup sakti saat berusia tujuh tahun. Nah disini permasalahannya. Delapan tahun kemudian setelah Raden Kiansantang, Rai Prabu Siliwangi yaitu Amuk Marukul datang membawa anaknya Raden Surawisesa yang berusian tujuh tahun dan meminta anaknya dijadikan murid Kakek. Namun, Kakek menolak permintaan itu. Bahkan sampai menawarkan harta dan tanah yang banyak tetap Kakek tolak. Saat itu Amuk Marukul pergi dengan penuh amarah. Dan karena itulah Amuk Marukul menyewa orang-orang kemarin malam untuk membunuh Kakek. Mereka adalah orang-orang dari kelompok persatuan macan kumbang. Mereka datang setiap beberapa bulan kesini dan selalu membakar rumah Kakek," ucap Raka.


"Terus kenapa Kakek tidak melawan balik?" tanya Aska kesal.


"Bentar belum selesai," ucap Yasa.


"Satu minggu kemudian setelah kedatangan Amuk Marukul, kita bertiga Aku, Raka sama Citta datang ke rumah Kakek. Kami sudah berteman sejak kecil. Waktu itu juga Aku, Raka sama Citta ditolak Kakek. Kami bertiga duduk berdiam diri di halaman rumah Kakek hingga satu hari satu malam. Keesokan harinya kita tertidur di halaman rumah Kakek. Terus Kakek memindahkan kita kedalam rumahnya dan kita diajarkan ilmu pencak Silat. Nah, seminggu kemudian sekelompok orang itu datang membakar rumah Kakek, dan pada saat itu yang ada dirumah hanya ada Aku, Raka dan Kakek, dikarenakan Citta pulang. Kakek menggendong kita keluar rumah pada saat kita sedang tidur. Terus satu bulan kemudian sekelompok orang itu datang lagi membakar rumah Kakek. Pada waktu itu Aku sama Raka sempat mau melawan namun dihalangi oleh Kakek. Katanya tidak perlu meributkan hal kecil," ucap Yasa.


"Hal kecil gimana? Mereka membakar rumah Kakek, terus Kakek bilang itu hal kecil," ucap Aska dengan geram.


"Iya... Setelah itu kita membangun kembali rumahnya. Karena Kakek bilang membangun rumah juga bagian dari pelatihan karena butuh kekuatan, kemampuan dan kesabaran," ucap Yasa.


"Jadi sampai saat ini, jika mereka datang dan membakar rumah Kakek sudah biasa. Besoknya kita membangun rumahnya kembali," ucap Yasa.


"Terus para penduduk desa bagaimana mengenai kejadian ini? Bukannya Kakek sesepuh di sini?" tanya Aska.


"Para penduduk juga sempat marah. Namun, Kakek bilang tidak usah dipikirkan. Jadi sampai sekarang sudah terbiasa," ucap Yasa.


Mendengar ucapan terakhir Yasa, Aska kebingungan entah harus berbuat apa dan bereaksi seperti apa mengenai peristiwa ini, dikarenakan sikap Ki Salawi yang sulit di mengerti.


Setelah selesai bercerita, Aska dan Yasa kembali ke rumah Ki Salawi yang habis terbakar.