Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kerajaan Samudera Vs Kerajaan Parsy (VII)



Aran menatap pria yang sedang memberi hormat padanya, Ia tidak menyangka pria ini akan takut padanya.


Dalam hati Aran, ia tertawa terbahak-bahak melihat semua ini.


Lalu Aran berkata dengan suara yang tegas.


"Sebutkan identitasmu, termasuk jumlah anggota dan markasmu"


Walau Aran berbicara di tengah medan perang, namun tidak ada yang berani mengganggu mereka.


"Ah, sebelumnya suruh pasukanmu mundur"


Walau dalam hati Aran ingin tertawa, tapi di luar ia berbicara dengan serius. Sesungguhnya, Aran mati-matian menahan ketawa.


Raja Naga yang melihat ini semua dari alam kesadaran Aran, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan penerusnya ini.


*Entah apa yang ia makan selama ini\, sampai bisa seperti ini*


Berkata Raja Naga didalam hatinya.


Aran hanya tersenyum mendengar perkataan Raja Naga *Raja Naga jangan ganggu aku dulu\, aku ini sedang berjuang*


*Berjuang? berjuang untuk apa*


Raja Naga bertanya kepada Aran karena bingung dengan perkataan Aran.


*Saya sedang berjuang menahan ketawa*


Jawab Aran geli.


*Pergi mati kau* Raja Naga lalu menutup komunikasinya dengan Aran dan kembali tidur di Alam Giok Langit.


Aran hanya tersenyum kembali dengan jawaban Raja Naga.


Di alam nyata, pria aliran hitam langsung menjawab perkataan Aran tanpa berani menolaknya.


Dia lalu membuat segel tangan dan menembakkan sinar kelangit.  Seketika sinar dilangit menjadi sangat terang dan menyinari semua makhluk yang berada di bawah.


Para monster dan mayat hidup yang terkena sinar tersebut langsung berhenti bergerak. Tidak lama tubuh fana mereka hancur menyatu dengan tanah.


Seluruh pasukan dimedan perang juga langsung menghentikan gerakan mereka.


"Apa-apaan ini"


Para pasukan Parsy bingung menatap sekutu mereka yang tiba-tiba hancur.


Tapi bagi pasukan aliansi tentu saja hal ini merupakan berkah bagi mereka.


"Hahahaha"


Jenderal Mada tertawa melihat ini semua.


"Seluruh pasukan, para monster dan mayat hidup sudah mati. Bersama, mari kita hancurkan Kerajaan Parsy"


"Seranggg!"


Mendengar semangat pertempuran, seluruh prajurit aliansi maju menyerang pasukan Parsy yang sudah patah semangat.


Bang!


Bang!


Tidak lama, Jenderal Tolu hanya bisa menatap pasukan Parsy yang hancur lebur di gempur dari berbagai sisi.


Jenderal Orda juga hanya bisa menatap diam pasukannya. Ia tidak menyangka pasukan yang terkenal dari dataran timur dapat dikalahkan di negeri kepulauan yang jauh ini.


Bagaimana jika hal ini didengar oleh orang-orang dari benua timur. Kerajaan Parsy akan menjadi lelucon dan kemungkinan akan banyak pemberontakan dari negara-negara yang sudah mereka kuasai.


Dengan berat hati, Jenderal Orda menatap Jenderal Tolu.


Melihat Jenderal Orda, Jenderal Tolu hanya bisa menghembuskan nafasnya.


Ia faham maksud Jenderal Orda yang meminta persetujuannya untuk segera mundur dari perang ini.


"Keluarkan isyarat  mundur"


Jenderal Tolu berkata kepada pengawalnya.


Sang pengawal hanya diam menatap ke arah para prajurit yang mulai terdesak. Dengan berat hati ia mengeluarkan bendera isyarat mundur.


Tidak lama terdengar genderang isyarat mundur yang sangat keras.


Genderang itu membuat pasukan Parsy merasa dilema, disatu sisi mereka bersyukur bisa selamat dan tetap hidup. Tapi disisi lain, mereka tidak percaya bahwa Kerajaan Parsy akan mengalami kekalahan seperti ini.


"Munduurr"


"Mundurr"


Para komandan dimedan perang meneriakan mundur kepada para pasukan Parsy yang tengah bertempur. Dengan langkah berat, pasukan Parsy berlari mundur ke garis pertahanan mereka.


Pasukan yang awalnya berjumlah 12.000, kini hanya tersisa kurang lebih 5.000 an. Lebih dari setengah pasukan Kerajaan Parsy mati. Ribuan pasukan Kerajaan Parsy gugur ditangan Aran.


Sementara di pasukan aliansi, yang awalnya berjumlah 9.000, kini tersisa kurang lebih 4.500 orang. Sebelum kedatangan Aran, Pasukan Aliansi mengalami kekalahan dan banyak yang gugur. Karena awalnya memang Pasukan Aliansi tidak ada harapan menang dari Kerajaan Parsy yang sangat berpengalaman di medan perang.


"Kita menangg"


"Kita menang"


Para prajurit bersuka cita melihat pasukan musuh yang mundur dari medang perang.


Sementara, para Jenderal, Pangeran dan Komandan perang lainnya terus menatap sekeliling medan perang.


Tanah yang awalnya hanya ditumbuhi rumput dan pepohonan kecil, kini tertutup oleh ribuan mayat.


Kini pasukan aliansi berkeliling di medan perang, mencoba menyelamatkan beberapa saudara seperjuangan mereka yang masih hidup dan terluka. Sebagian lain, mengambil beberapa jarahan dan dikumpulkan di satu titik. Ada juga yang mengambil dan mengumpulkan tanda identitas pasukan, berupa lencana kecil yang di ikat di pinggang prajurit yang gugur.


Karena perang ini, Aran mendapat julukan baru.


~Asura sang Dewa Perang~


 


~Note~


Maaf hanya bisa update dikit, karena seharian ini saya banyak urusan di luar kantor.


Besok akan saya update kembali.


Terima kasih.