Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kembali



"Bagus, aku akan transfer sebagian pemahaman agar membantumu memahami buku yang akan aku berikan" Seketika muncul sinar terang memasuki kening Aran.


Aran merasakan berbagai macam pemahaman Akupuntur dan memasak dipikirannya.


"Ambillah buku ini" Dari ruang hampa keluar dua buku untuk Aran. Aran langsung mengambilnya.


Ketika Aran baru berjalan terdengar Putih berkata padanya


*Tuan, dimana kamu. Apa Tuan baik-baik saja*


*Putih, saya baik-baik saja. Saya sedang berada di tempat yang aman. Jika sudah memungkinkan saya akan ketempatmu. Katakan pada yang lain juga mengenai keadaanku*


*Baik Tuan*


Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Putih, Aran lalu berjalan ke tempat yang dirasanya nyaman, lalu ia duduk membaca buku tersebut.


Raja Naga hanya mengawasinya.


Di alam itu hanya ada dua tumbuhan.




Pohon Afrodisiak




Pohon Anggur Ruby




Anggur Ruby memiliki kandungan yang sangat bagus untuk tubuh manusia.


Di sela-sela latihan, Aran mencoba membuat minuman dari anggur ruby. Ia pelajari itu dari buku seni kuliner yang didapatnya.


Seiring berjalannya waktu, Aran mulai memahami buku buku tersebut. Raja Naga juga berkali-kali membantunya untuk lebih memahami seni akupuntur. Karena seni ini sangat penting untuk dirinya dimasa depan. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk seni ini.


3 minggu sudah berlalu, Aran belajar dialam ini. Namun sama juga ia sudah belajar 3 jam di alam nyata.


"Leluhur itu benar-benar gila. Sampai segitunya ia mencari aku" Aran menggelengkan kepalanya.


*Jika aku menjadi Leluhur Tua, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan mencari walau sampai ke ujung dunia* Tiba-tiba Raja Naga berbicara kepada Aran.


*Hahaha, untungnya kamu bukan dia. Hufft* Aran mengusap dadanya. Jika Raja Naga yang mengejarnya, kemungkinan untuk selamat adalah zero.


Aran perlahan-lahan berjalan menyusuri tempat yang sudah hancur ini. Sejauh mata memandang hanya ada tanah kosong yang hancur dimana-mana.


"Hmm, sepertinya keadaan sekarang ini kurang baik. Aku sebaiknya meninggalkan tempat ini" Aran memutuskan untuk pergi dari tempat itu sejauh mungkin.


*Putih aku akan menuju ketempatmu*


*Baik Tuan, kami semua menunggumu*


Aran melanjutkan perjalanannya dengan berlari, ia bisa merasakan keberadaan Putih lewat jiwanya yang terhubung.


Berhari-hari Aran berlari sampai ia melintasi gunung-gunung tinggi. Sesekali Aran berburu hewan dan memasaknya. Ia kapok jika harus membeli makanan di alam ini. Karena rasanya seperti bangkai.


Berkat seni kuliner yang dipelajarinya, ia bisa memasak makanan yang enak dan lezat.


Disuatu malam ditengah hutan dan didalam gua, Aran mencoba memasak daging rusa. Dengan berbagai macam rempah rempah ia mulai memasak daging tersebut. Air anggur yang sudah didiamkan dialam giok ia gunakan untuk menjadi bumbu pelengkap. Baunya yang harum memenuhi hutan.


"Kakak bau ini sangat lezat" seorang anak kecil berbicara kepada kakaknya.


"Iyah, bau ini begitu nikmat. Siapa yang memasak ditengah hutan begini"


"Kakak, bagaimana jika kita coba cari tau"


Mereka berdua memutuskan untuk mencari asal dari bau harum tersebut.


Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah gua yang didalam terlihat terang.


Aran sebenarnya sudah mengetahui kedatangan mereka, tapi Aran tetap diam. Persepsi batinnya sudah mencakup wilayah yang cukup jauh.


Kedua makhluk tersebut memasuki gua, mereka berjalan perlahan-lahan takut mengganggu Aran yang berada didalam gua.


"Permisi Tuan, apakah kami boleh masuk kesini" Ucap yang lebih tua dengan sopan.


Aran sekilas melirik mereka, ia tersenyum dibalik topengnya.


"Silahkan masuk, tidak perlu malu-malu. Buat diri kalian nyaman" berkata Aran dengan ramah.