Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Kepergian Aran



\~*\~Note\~*\~


Harap siapkan tisue sebelum membaca ya..


>>>


Sinar terang itu terus menyelimuti seluruh Menara hingga beberapa menit lamanya.


Lambat laun cahaya menyilaukan itu semakin mengecil dan seperti terhisap oleh sesuatu hingga akhirnya menghilang dalam udara kosong.


“Hilang?”


Mereka semua menatap altar batu yang kini hancur porak poranda hanya menyisakan serpihan batu.


“Kemana perginya pemuda dan pedang bintang itu?”


Kata Kepala Sekolah, ia lalu berjalan ke tempat Aran berdiri sebelumnya. Tidak lama, Kepala Sekolah melakukan gerakan segel tangan.


“Teknik Intuisi”


Berkata Kepala Sekolah sambil memejamkan matanya. Ia mencoba menggunakan persepsi batinnya hingga tingkat maksimal untuk mencari keberadaan Aran.


Sebenarnya tidak hanya Kepala Sekolah dan para guru yang kebingungan. Para siswa yang hadir juga bingung dengan kejadiaan saat ini.


“Hahaha, aku yakin dia sudah hancur menjadi abu. Rasakan kau”


Tanpa malu Xiao Fei berkata dengan cukup keras.


“Sekali lagi kau berkata seperti itu, aku tidak akan segan untuk membunuhmu”


Berkata Taeyang sambil memancarkan niat membunuh yang tinggi.


“Kau fikir aku takut padamu, kini aku bersama Kakak Xiao Jun. Jadi tidak ada yang perlu aku takutkan”


Perkataan Xiao Fei ini membuat hati Taeyang semakin panas. Bagi Taeyang, Aran adalah saudara terbaik yang ia miliki. Tidak ada seorangpun yang boleh menghina Kakaknya. Bahkan jika itu Kaisar sekalipun, ia akan maju untuk menghajar orang yang berani berkata jelek terhadap Kakaknya.


“Brengsekk kau!”


Taeyang yang akan melesat maju langsung ditahan oleh Varya.


“Hentikan Taeyang”


Kata Varya mencoba menenangkan Taeyang.


Begitu juga di sisi Xiao Fei, di mana Xiao Jun sudah bergerak menutupi Xiao Fei dengan tubuhnya. Ia sudah bersiap untuk menghalau serangan Taeyang.


“Varya jangan menghalangiku?”


Kata Taeyang.


“Sabar Taeyang, aku yakin Aran masih hidup. Karena aku masih bisa terhubung dengan dirinya”


“Kamu terhubung dengan Hyung?”


Taeyang semakin bingung dengan perkataan Varya.


“Ah, sulit aku jelaskan. Intinya aku bisa merasakan bahwa Aran masih hidup”


Taeyang diam menatap perkataan Varya. Tapi karena ia tau bahwa Varya sudah mengenal Aran cukup lama , akhirnya Taeyang bisa mempercayainya.


“Baiklah, aku percaya padamu”


Kata Taeyang sambil tetap menatap benci ke arah Xiao Fei.


Sebenarnya Varya juga tidak yakin, tapi entah kenapa ia merasa bahwa Aran masih hidup. Karena segel yang Aran letakkan didalam dirinya masih ada.


“Taeyang, sebaiknya sekarang kita tetap bersikap tenang dan mempercayai perkataan Varya”


Kata Rumbun yang kini sudah berada di sisi Taeyang, begitupun dengan Srikandi yang juga berada di sisi Varya. Semua teman Aran kini berkumpul bersama-sama.


‘Kemana perginya dia’


Batin Xiao Ling. Kini Xiao Ling sudah yakin 100% bahwa pemuda bertopeng itu pasti Aran yang dikenalnya.


“Hilang, aku tidak bisa merasakan aura keberadaannya”


Kata Kepala Sekolah sambil menatap ke arah para guru yang lain. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


“Kepala Sekolah, bagaimana ini”


Seorang guru wanita yang terlihat muda dan cantik berkata kepada Kepala Sekolah. Sebelumnya ia menggunakan penutup wajah, tapi kini ia sudah memperlihatkan wajahnya.


“Entahlah Guru Lin, aku sudah menggunakan kemampuan terbaikku untuk melacak aura keberadaannya namun tetap nihil. Bahkan aku sudah melebarkannya sampai sejauh 5 km dari akademi tapi hasilnya tetap sama. Seolah-olah ia menghilang dari dunia ini”


“Apakah siswa itu mati dan jasadnya hancur sampai tidak tersisa?”


Tanya seorang guru yang lain.


“Kemungkinan itu bisa saja terjadi, tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan seperti itu. Bakat Dewa tapi malah hancur. Bahkan kejadian itu terjadi di depan mataku dan aku hanya diam saja tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya? Aku benar-benar merasa gagal menjadi seorang pemimpin akademi ini”


Kepala Sekolah benar-benar menyesal telah menghilangkan bakat langka yang kemungkinan hanya ada dalam 10.000 tahun sekali.


“Uaaarrghhhhh”


Kepala Sekolah langsung melepaskan auranya ke langit hingga menembus atas Menara.


“Hah, hahh”


Setelah melampiaskan kekesalannya, kini ia mencoba mengatur nafasnya dan berusaha menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk.


Tanpa menoleh kepada siapapun, Kepala Sekolah berjalan pergi dengan wajah penuh penyesalan. Ia sudah tidak bergairah lagi untuk terus mengikuti acara ujian bakat ini.


“Kepala Sekolahhh”


Teriak salah seorang guru yang lain. Tapi seorang guru langsung menghalanginya dan berkata padanya untuk tidak mengganggu Kepala Sekolah dulu.


“Biarkan Kepala Sekolah menenangkan dirinya dulu”


Kemudian semua guru sepakat untuk tidak mengganggu Kepala Sekolah.


Kini semua guru kembali menatap ke arah para siswa.


“Kalian para siswa baru, kami para guru telah menilai seluruh kemampuan kalian. Untuk itu masing-masing dari kalian akan memiliki guru yang berbeda-beda”


Setelah berkata, para Guru mulai menentukan untuk memiliih para siswa inti yang akan dilatihnya.


>>>


Hingga berhari-hari keberadaan Aran benar-benar menghilang tanpa jejak. Bahkan Akademi sampai membuat team khusus untuk melacak keberadaan Aran tapi hasilnya tetap nihil.


Diantara semua orang, Kepala Sekolah adalah orang yang paling merasa bersalah. Ia sampai mengurung dirinya di ruang khusus, siapapun tidak ada yang boleh mengganggunya.


“Aku benar-benar menyesal, seandainya aku tidak meremehkannya dan memasang pelindung kuat. Pasti siswa itu akan selamat”


Penyesalan tinggalah penyesalan.


>>>


Di dalam asrama pria.


“Hyung-nim”


Taeyang terus mengurung dirinya di kamar, ia hanya keluar untuk melakukan latihan bersama Guru yang telah memilihnya. Setelah latihan ia hanya akan menyendiri di hutan belakang akademi atau kembali ke kamar untuk berdiam diri.


“Aran, Kamu adalah Hyung terbaik yang aku miliki”


Taeyang terus menerus bersedih di dalam kamarnya. Kadang ketika malam datang ia akan sembunyi-sembunyi keluar kamar untuk berkeliaran melampiaskan penyesalan di hatinya. Entah itu pergi ke kota untuk menghajar orang jahat atau sekedar berlatih ke hutan untuk menghajar beberapa hewan buas.


>>>


Di luar Akademi yang jauh dari asrama. Terlihat tiga orang yang sedang berdiri menatap langit.


Mereka adalah Rumbun, Srikandi dan Varya. Sebelumnya mereka bertiga berjanji bahwa di hari ke tujuh setelah Aran menghilang, mereka akan berkumpul bersama di tempat ini. Hanya Taeyang yang tidak datang karena ia tidak ingin bertemu dengan siapapun.


“Tuanku, aku yakin kamu pasti masih hidup. Dimanapun kamu berada, kamu tetaplah Tuanku. Selamanya”


Berkata Varya sambil berlutut menatap langit. Tak terasa ada butiran air mata yang sudah membasahi pipinya. Banyak sekali kenangan antara dirinya dan Aran, hingga ia akhirnya jatuh cinta kepada Aran. Kini ia merasa seperti kehilangan seorang kekasih yang sangat dicintainya.


Berbeda dengan Varya dan Taeyang. Rumbun dan Srikandi adalah teman yang baru mengenal Aran, meski mereka merasa kehilangan tapi perasaan mereka tidaklah sedalam Taeyang dan Varya.


“Mahapatih, meski kita belum lama saling mengenal. Tapi aku merasakan kehangatan pertemanan setiap kali bersamamu”


Berkata Rumbun sambil berlutut menatap langit.


“Kamu adalah teman yang selalu menjaga kami semua, kamu adalah pemimpin yang berhati mulia. Aku yakin dimanapun kamu berada, kamu akan tetap menjadi yang terbaik”


Kata Srikandi menambahkan.


Setelah itu mereka mengucapkan doa bersama-sama.


Setelah berdoa, mereka bertiga kemudian melepaskan lampion kertas untuk diterbangkan ke langit malam.


“Kami semua akan selalu menunggumu"


"Aran"