Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Konflik Antar Wanita



Bukan hanya para gadis yang terpesona, bahkan para pria juga mengagumi wajah rupawan Mahapatih.


Diantara para pria, hanya Patih Lawana yang belum pernah melihat wajah asli Mahapatih. Selama ini, yang ada difikiran Lawana sama dengan Namora. Bahwa Mahapatih adalah lelaki tua atau paling tidak umurnya tidak berbeda jauh dengan dirinya


"Mahapatih, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamu masih sangatlah muda. Aku benar-benar sangat mengagumimu, masih muda tapi sangat berbakat"


Patih Lawana berkata dengan tegas sambil memberikan hormatnya.


"Ah, Patih terlalu memuji"


Aran juga membalas hormat Patih Lawana.


"Emm, Mahapatih. Apakah kamu sudah memiliki kekasih"


Patih Lawana kembali berkata, Ia tanpa malu menanyakan hal tersebut kepada Aran.


Pertanyaan Patih Lawana membuat para wanita mengalihkan perhatiannya kepada Mahapatih.


Karena mereka juga ingin mengetahui, apakah sebenarnya Mahapatih memiliki seorang kekasih.


"Emm, kalau kekasih sampai saat ini saya belum memilikinya"


Perkataan Aran ini membuat para wanita tesenyum senang. Karena mereka merasa masih memiliki kesempatan untuk bisa mendekati Mahapatih.


"Syukurlah jika belum ada"


Patih Lawana reflek berkata seperti itu.


"Maksud Patih? saya benar-benar tidak paham"


Aran berkata sambil memakai kembali topeng gioknya.


Semua orang juga seperti Aran, menatap ke arah Patih Lawana. Mereka penasaran, apa maksud ucapannya itu.


"Emm, begini Mahapatih. Saya memiliki seorang anak gadis yang saya rasa umurnya tidak berbeda jauh dengan dirimu. Saya ingin menjodohkan anak saya denganmu"


Perkataan Patih Lawana ini membuat semua orang langsung menatap kosong ke wajah Patih Lawana. Tanpa ragu-ragu seorang Patih berusaha menjodohkan anaknya dengan Mahapatih.


Ketika Aran ingin berkata, terdengar suara Namora.


"Patihhh, jangan seenaknya menjodohkan anakmu dengan Mahapatih. Kamu fikir hanya anakmu saja yang mau mendekati Mahapatih"


Perkataan Putri membuat mereka memandang ke arahnya.


"Maksud Putri apa ya? wajar kan sebagai orang tua menjodohkan anaknya kepada seseorang yang hebat seperti Mahapatih. Apakah Putri juga menyukai Mahapatih"


Patih Lawana langsung bertanya pada Namora tanpa sungkan. Hal itu membuat wajah Putri Namora langsung memerah mendengar perkataan Patih Lawana.


"Jika memang iya kenapa, apakah salah jika aku menyukai Mahapatih"


Perkataan Namora yang tanpa ragu membuat tempat itu seketika hening.


Seorang Putri Kerajaan tanpa malu-malu mengungkapkan perasaannya. Jika para pria diluar sana mendengar Putri Namora seperti ini, mungkin mereka akan bunuh diri. Karena banyak pria yang sangat mengidolakan Putri Namora.


Raja Muda juga bingung harus berkata apa. Sangat jarang ia melihat adiknya bersikap seperti ini.


"Tuan, jika memang mereka semua para wanita memiliki kesempatan untuk bersamamu. Maka saya juga akan ikut bersaing"


"Varya, apa maksud ucapanmu. Kamu tidak mungkin mengikuti kegilaan ini kan"


Aran langsung menjawab perkataan Varya. Karena Aran tidak ingin Varya juga menyukai. Selama ini Aran hanya mengira bahwa wanita secantik Varya tidak mungkin menyukai pria sepertinya.


"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini Tuan. Ya, saya memang gila, karena saya sekarang sudah jatuh hati padamu"


Perkataan Varya membuat Aran semakin pusing, ia hanya bisa menunduk dan memegang keningnya dengan satu tangan.


Sementara Namora menatap Varya dengan tatapan sengit.


"Nona, kamu tidak pantas untuk bersama Mahapatih. Dulu kamu dan kelompokmu sudah terlalu banyak dosa. Jadi jangan harap bisa bersama Mahapatih yang bersih dan baik hati"


Namora berkata dengan sangat tajam, karena ia tidak ingin memiliki saingan seperti Varya.


"Bersama Mahapatih? Hahaha.. Asal kamu tau Putri Yang Agung. Saya sudah tinggal serumah dengan Mahapatih"


Varya tertawa menandakan dirinya lebih baik dari Namora. Jadi ia tertawa puas meledek.


"Sialaaann, kamu berani denganku. Apakah kamu ingin mati hahh!"


Namora menjawabnya dengan berdiri dan menunjuk ke arah Varya. Kini suasana diruangan semakin panas. Para lelaki hanya bisa bengong melihat persaingan dua wanita cantik ini.


"Siapa yang takut padamu Tuan Putri. Hahaha.. Walaupun kamu Tuan Putri demi Mahapatih saya rela mati"


Mendengar pengikutnya berkata seperti itu membuat Aran menjadi semakin pusing.


"Diam kau! baru tinggal serumah saja sudah senang. Kau itu hanya pelayannya saja, wanita sepertimu tidak pantas bersamanya"


Namora terus saja mengejek dan berkata tajam kepada Varya. Karena ia benar-benar tidak rela Mahapatih bersama Varya.


"Pantas atau tidaknya itu bukan urusanmu. Huh! Asal kamu tau yah. Saya pernah terbang bersama Mahapatih sambil dipeluknya"


Mahapatih sampai terjatuh dari duduknya mendengar ucapan Varya. Ia tidak menyangka bahwa Varya akan sampai sejauh ini.


Aran lalu buru-buru kembali duduk dan menunduk sambil memberikan isyarat tangan bahwa ia tidak apa-apa.


Mereka semua hanya diam melihat Mahapatih seperti itu.


"Mahapatih, apa benar kamu mengajaknya terbang sambil memeluknya"


Namora berkata sambil menatap ke arah Mahapatih.


Mendengar dirinya dipanggil Aran hanya menatap kosong ke arah Namora.


"Ah itu.."


Aran bingung harus berkata apa. Ia takut perkataannya malah akan membuat seseorang tersinggung.


"Tuan, mohon jawab jujur. Saya tau kamu adalah Tuanku yang paling jujur"


Varya kembali berkata yang membuat hati Namora bertambah panas. Sementara Aran rasanya ingin menutup mulut Varya dengan kain, agar tidak terus berkata yang membuat suasana semakin runyam.


"Iya itu benar, dulu saya menggendongnya. Tolong bedakan definisi antara memeluk dan menggendong. Dulu saya seperti itu karena saya ingin membawa Varya kembali ke tempat saya. Karena ia adalah pengikut baru saya, jadi saya akan perkenalkan kepada pengikut saya yang lainnya"


Aran berusaha menjelaskan kepada para wanita, agar mereka tidak semakin emosi. Jadi sebisa mungkin Aran berkata dengan perlahan-lahan tanpa menyinggung siapapun.


"Hei! dengar kau perempuan sialann, Mahapatih hanya menggendongmu. Kamu hanya pelayannya, jadi tidak usah kepedean"


Namora sebenarnya merasa iri dengan Varya yang bisa diajak terbang bersama Mahapatih. Tapi untuk menutupi kemarahannya ia terus meledek Varya.


"Terserah apa yang mau kamu katakan padaku. Intinya saya sudah pernah digendong Mahapatih dan diajak terbang berkeliling negeri"


Varya kembali memanasi Namora. Entah kenapa hatinya sekarang ini menjadi begitu emosi.


"Kauuu!"


Namora benar-benar menahan amarahnya yang akan segera meledak.


Raja Muda, Lingga dan Patih Lawana mulai ketakutan melihat adegan dihadapan mereka ini yang semakin lama semakin panas.


"Kau apa hah! kamu fikir Tuanku akan mengajakmu terbang juga. Jangan mimipi kamu. Sampai seribu purnama juga saya yakin kamu tidak akan pernah mengalaminya"


Perkataan Varya kali ini benar-benar berhasil membuat hati Namora meledak.


"Sialaannnn"


Brakkk!


Namora menghancurkan meja dihadapannya dengan satu pukulan. Hal itu membuat semua orang langsung berdiri menjauh dari meja.


Kini hanya tinggal Varya dan Namora yang saling menatap.


"Kita bertanding, siapa yang menang boleh melakukan apapun kepada yang kalah"


"Oke, siapa takut"


Jawab Varya kepada Namora.


"Adikk hentikan, jangan seperti ini"


Raja Muda berusaha menghentikan pertarungan antara Adiknya dan Varya. Namun jawaban dari para gadis membuat nyalinya langsung ciut.


"Diammm!"


Kata Varya dan Namora berbarengan.


"...."


 


\~**Note**\~


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt