
"Aku yang melakukannya"
Ghafar berkata dengan lantang. Dulu memang ia sangat takut dengan Ketua Tengkorak Hitam. Tapi sekarang tentunya berbeda. Bagi Ghafar, makhluk dihadapannya ini tidak lebih dari semut.
"Ohh, ternyata kau Ghafar. Berani sekali kau seperti ini sekarang"
Ketua Sekte memandang Ghafar dengan niat membunuh. Tidak disangka makhluk dihadapannya ini yang dulu sangat menghormatinya kini berani melawan.
"Aku tidak mau banyak bicara, kedatanganku kesini ingin bertanya satu hal. Apakah Tetua Rinto ada disini?"
"Untuk apa kau mencarinya Ghafar"
"Karena aku akan menyiksanya sampai mati"
"Hahahahha"
Ketua Sekte tertawa dengan sangat keras "Sombong sekali kau Ghafar. Setelah tidak bertemu beberapa tahun, kau jadi besar kepala"
Ghafar tidak ingin membalas perkataannya. Sekarang yang ada dipikirannya adalah meratakan sekte ini dengan tanah. Sampai saat ini Ghafar masih menekan aura Kaisar Iblisnya.
"Tidak usah banyak omong, cepat bawa Tetua Rinto kedapanku. Karena dengan itu aku akan membiarkan mayatmu utuh"
"Benar-benar bosan hidup kau Ghafar"
Ketika Ketua Sekte akan menyerang Ghafar, tidak jauh dari tempatnya berdiri ada suara yang memanggil Ghafar.
"Siapa yang mencariku"
Makhluk jin lain dateng ketempat itu dan berdiri disebelah Ketua Sekte.
"Ohh, ternyata kau Tuan Ghafar. Ada urusan apa kau mencariku" Sambil ia melihat sekelilingnya, ia kaget melihat banyaknya anggota sekte yang mati dengan tubuh mengenaskan.
Ghafar langsung mengeluarkan cacing racun dan memperlihatkannya kepada Rinto.
"Apa kau tau ini apa"
Tentu saja Rinto tau benda yang dikeluarkan oleh Ghafar.
"Itu cacing racun pelumpuh, dari mana kau mendapatkannya tuan"
Walau Rinto tidak takut dengan Ghafar, tetapi ia tidak mau racun miliknya diketahui.
Ketua Sekte juga kaget melihat racun cacing yang diperlihatkan oleh Ghafar.
"Ghafar, dari mana kau mendapatkan cacing racun itu. Itu adalah senjata rahasia milik sekte kami. Siapa yang sudah memberikannya kepadamu"
"Huh, kau bisa menanyakan itu kepada Tetua Rinto"
Ghafar berkata sambil menatap penuh kebencian kepada Rinto.
Kini semuanya melihat kearah Rinto.
"Ahh sepertinya disini ada kesalahpahaman, dulu memang cacing racunku sempat hilang. Ternyata sekarang ada padamu Tuan Ghafar"
Rinto masih mencoba menutupi kesalahannya, jadi ia mencoba mencari pembenarannya sendiri. Mana mungkin ia mengakui bahwa racun itu dia yang memasukkannya kedalam tubuh Eliza, cucu Ghafar.
"Sepertinya kau tidak mau mengakuinya Rinto. Apa perlu aku masukkan cacing ini ketubuhmu"
Ghafar tersenyum sinis menatap Rinto.
Melihat drama ini, Aran hanya tersenyum dibalik topengnya. Ia tidak ingin mencampuri urusan dendam tuannya.
"Ghafar jangan kurang ajar kau. Kau sudah membunuh banyak anggota sekteku. Sekarang juga aku akan membunuhmu"
Ketua Sekte sudah tidak peduli masalah antara Ghafar dan Rinto. Sekarang ini yang dia inginkan adalah kematian Ghafar.
"Tidak perlu banyak omong, jika kau memang mampu membunuhku, maka lakukanlah"
"Sialannn kau"
Aran hanya tersenyum sinis melihat kedatangan Ketua Sekte.
"Bodohh"
Ghafar hanya melirik melihat kedatangan Ketua Sekte 'kau terlalu menganggap tinggi dirimu Khifar, justru makhluk yang bersamaku ini adalah penjelmaan iblis yang sesungguhnya' Batin Ghafar.
Ketika jaraknya sudah dekat, Aran mengeluarkan aura segel naga level 6 nya.
"Heaaaaa"
Setelah itu Aran bergerak ke arah serangan Khifar.
"Tapak Tengkorak Sembilan Racun"
Keluar asap hijau dari tangan Khifar menuju Aran.
Aran juga tidak tinggal diam melihat kedatangan serangan Khifar, Ia lalu mengeluarkan jurus saktinya.
"Ajian Naga Puspa!"
Sinar biru keluar dari telapak tangannya. Aran menggunakan ajian ini karena ajian ini dirasa lebih efektif untuk menghadapi racun dibandingkan Ajian Karang Wesi yang sifatnya merusak dan menghancurkan tanpa adanya perlindungan kepada pemilik ajian.
Kedua ajian sakti bertemu diudara.
Bang!
Suara benturannya sangat keras sampai menimbulkan riak energi disekitarnya. Setelah sinar dan asap menutupi wilayah itu, terlihat Aran dan Khifar yang sama-sama terlempar.
Aran mundur 3 langkah setelah bentrokan kedua ajian, sementara Ketua Sekte Khifar menahannya dam hanya mundur dua langkah.
"Ketua menang!"
Semua anggota Tengkorak Hitam yang melihatnya tertawa puas. Mereka akhirnya bisa membalas semua perlakuan Aran dan Ghafar.
Sementara Ketua Sekte hanya menatap Aran dalam diam.
Aran juga hanya menatap Ketua Sekte dan tersenyum "Tidak perlu ditahan"
Hoaakk
Ketua Sekte memuntahkan banyak darah, beberapa pembuluh darahnya pecah dan banyak organ dalam tubuhnya terluka. Tidak disangka dalam hidupnya ia akan kalah bahkan terluka oleh makhluk yang berada di level bawah.
"Kau terlalu sombong Khifar, Makhluk yang kau hadapi itu sebenarnya menekan kekuatan aslinya"
Ghafar mencemooh Khifar yang begitu sombong dengan kekuatannya.
"Cuih, tidak kusangka kau membawa makhluk selicik ini ke hadapanku"
Khifar meludah ke tanah, ia begitu benci menatap Aran dan Ghafar.
"Kau terlalu naif Khifar. Menghadapinya saja kau tak sanggup, bagaimana kau menghadapiku"
Ghafar langsung mengeluarkan kekuatan aslinya sampai ke titik puncak.
Wuzzzhhhhh
Aura megahnya menyelimuti lingkungan sekitar sekte. Auranya hangat namun penuh niat membunuh.
"Ini aura Kaisar Iblis, ssejak kapan kau menembus ranah ini"
Kini Khifar, Rinto dan anggota Sekte Tengkorak Hitam begitu takut menatap Ghafar.
Mereka tidak menyangka bahwa makhluk dihadapannya ini sudah menembus ranah Kaisar Iblis. Hanya makhluk bodoh yang mau mencari gara-gara dengan level Kaisar Iblis.
Ghafar tersenyum sinis menatap mereka semua.
"Kini saatnya kalian semua mati!"