
Aura yang memancar dari tubuh Aran benar-benar menindas.
Auranya berwarna hitam bercampur merah membuat keberadaannya semakin menyeramkan.
Belum lagi wujud Aran yang benar-benar berbeda.
Rambutnya yang berwarna putih menjadi panjang dan berkibar tertiup angin. Topeng giok Aran yang pecah karena tekanan aura menyebabkan wajah asli Aran terlihat jelas. Keningnya yang memiliki permata biru bersinar terang. Belum lagi bola mata Aran yang dalam mode siluman sebelumnya berwarna merah, kini muncul simbol bintang kecil di tengah matanya. Bahkan bintang itu terlihat seakan-akan berputar pelan.
Sementara di bagian tubuhnya kini tertutupi armor naga berwarna hitam dengan gurat-gurat naga berwarna merah melingkari tubuhnya. Bahkan sekarang di punggung Aran muncul sayap berwarna kombinasi hitam dan merah.
Mereka yang berada disana begitu kagum melihat wujud Aran yang seperti ini.
"Aran, apa ini benar-benar Aran yang aku kenal dulu"
Sambil memegang dadanya yang berdebar kencang, Berliana hanya bisa bergumam pelan.
Sementara Lingga dan yang lainnya merasa merinding melihat wujud Mahapatih.
Begitupun dengan gadis pasifik inn, ia begitu terpesona dengan penampilan Aran saat ini. Ia bahkan sampai berdiri diatas burungnya dan mencoba lebih mendekat ketempat Aran.
"Mahapatih, kau satu-satunya pria yang membuatku berdebar-debar"
Gadis pasifik inn hanya bisa berkata pelan, tapi perkataannya bisa didengar oleh para pengawalnya.
Pengawalnya juga kaget mendengar pernyataan Nona mudanya ini. Karena yang mereka tau selama ini, bahwa Nona mudanya ini belum pernah tertarik dengan pria manapun. Apalagi statusnya yang begitu tinggi di Kerajaan membuat gadis itu menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Tuanku"
Kumbang dan Putih berusaha berjalan menghampiri Aran dengan tubuh mereka yang sangat lemah bahkan kini tubuh mereka telah menyusut.
Meski tubuh mereka begitu lemah, namun melihat wujud Tuannya yang seperti Dewa membuat mereka sangat menghormati Aran. Mereka sangat mengagumi Aran karena bagi mereka Aran sangat mirip pemimpin masa lalu mereka.
"Putih, Kumbang. Beristirahatlah dulu dan makan ini"
Dengan tangan kanannya, Aran melemparkan sekantong anggur ruby kepada mereka berdua.
Sementara tangan kiri Aran masih menahan bola api.
"Baik Tuan. Terima kasih"
Kumbang dan Putih lalu duduk memakan anggur ruby pemberian Aran. Setelah memakannya mereka lalu melakukan meditasi untuk memulihkan kondisi mereka secepatnya.
Dengan tatapan dinginnya, Aran menatap ke arah Hongli. Ditatap oleh Aran membuat jiwa hongli terguncang, Hongli merasa dirinya seperti ditatap oleh iblis kejam.
Setelah sekejap menatap Hongli, Aran kembali menatap bola api yang kini ia tahan hanya dengan salah satu tangannya.
"Ajian Naga Langit, hancurkan"
Bang!
Dari tubuh Aran keluar aura Naga berwarna biru hitam yang langsung membungkus bola api itu. Dalam sekejap, bola api itu dibungkus dengan auranya. Terlihat jelas bagi mereka semua bahwa aura naga Aran seperti hidup dan terus menekan bola api tersebut.
Ajian Naga Langit Aran trus membungkus bola api hingga ukurannya semakin mengecil dan lambat laun menghilang.
Kini, semua orang menatap kosong ke arah Aran.
Berbagai macam pertanyaan ada di pikiran mereka masing-masing.
Setelah berhasil menghilangkan bola api yang sangat membahayakan seluruh alam ini, Aran lalu berjalan pelan ke arah Hongli.
Kedatangan Aran membuat Hongli jatuh lemas di tanah. Ia terduduk di tanah sambil menunduk. Ia benar-benar sudah merasa putus asa dan ingin segera mengakhiri hidupnya.
Dari balik bajunya, Hongli mengeluarkan pisau kecil. Ia lalu menusukkan pisau itu ke arah jantungnya.
Sebelum pisau itu menyentuh jantungnya, tiba-tiba ada sebuah rantai yang mengikat dirinya yang menyebabkan ia tidak bisa bergerak sama sekali. Hongli lalu melihat rantai hitam itu berasal dari tangan Aran.
"Biarkan aku mati"
Hongli berbicara dengan menatap kearah Aran.
"Mati?. Kau fikir kau layak mati semudah itu"
Aran menatap dingin ke arah Hongli.
"Apa yang mau kau lakukan padaku. Aku sudah kalah dan sekarang aku tidak memiliki kekuatan sama sekali"
"Rantai yang mengikatmu adalah rantai pengikat sukma"
Rantai yang Aran gunakan ini adalah Senjata Iblis yang didapatnya dari Ze, namun Aran bersama Raja Naga Iblis sudah meningkatkan kemampuan Rantai ini.
"Segel!"
Setelah perkataan Aran, rantai itu langsung melilit seluruh tubuh Hongli. Kepala rantai itu masuk kedalam tubuh Hongli dan mengikat sukmanya. Jiwa Hongli perlahan-lahan ditarik keluar dari tubuh fana nya.
"Aarrrgggghhhhhh"
Jeritan kesakitan yang begitu keras dan memilukan langsung membuat suasana di wilayah ini mencekam. Mereka semua merinding melihat proses penarikan sukma yang dilakukan oleh Aran.
"Tooollooonngg, ampuni aku Mahapatih. Berikan aku kematian yang mudah"
"Arrgghhh, sakittt.. Toolllooongg"
Ratapan Hongli hanya dijawab dengan tatapan dingin Aran.
Hongli terus menjerit kesakitan membuat semua yang menonton peristiwa tersebut merinding hebat.
Tapi, Aran tidak peduli dengan jeritan Hongli. Hingga akhirnya sukma Hongli keluar dari tubuh fananya. Wujud sukma Hongli seperti hantu karena hanya berupa bayangan yang terikat rantai.
Aran lalu menariknya dan memasukkannya kedalam botol yang sudah disiapkannya.
Kini suara jeritan Hongli sudah tidak terdengar lagi. Dalam sekejap wilayah itu langsung sunyi mencekam.
Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sama sekali.
"Kalian semua yang berada disini. Ini peringatan untuk kalian semua. Siapapun yang berani mencari masalah di seluruh Nusantara. Maka bersiaplah, karena aku akan bersikap kejam kepada mereka"
Perkataan Aran yang begitu tenang sebenarnya membuat mereka terasa terintimidasi. Karena entah bagaimana, suara Aran ini mampu memasuki relung jiwa mereka.
Semua yang menonton Aran kini merasakan ketakutan didalam jiwa mereka.
Setelah kejadian ini, hanya orang bodoh yang mau mencari perkara dengan Aran.
"Aku tidak akan pernah mencari masalah dengan Mahapatih. Hari ini juga kita pergi meninggalkan negeri ini"
Jendral Tolu yang terkenal berani dan kejam saja sampai merinding hebat melihat metode penyiksaan yang dilakukan oleh Aran.
'Menarik sukma keluar, sialan. Aku tidak mau mati seperti itu'
Jenderal Tolu hanya bisa berkata didalam hatinya.
Jenderal Orda dan Jenderal Tolu memutuskan untuk tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke negeri ini lagi. Ia juga akan berbicara dengan Raja Kerajaan Parsy terkait peristiwa yang mereka alami disini.
Setelah mendengar perkataan Aran, para penonton pertarungan langsung memberi hormat kepada Aran dan pergi meninggalkan tempat itu. Mereka tidak mau berlama-lama berada di tempat ini karena takut Aran berubah fikiran dan mulai menargetkan mereka.
"Ia benar-benar layak menyandang nama Dewa Perang Asura"
Di ketinggian langit, seorang Kakek tua yang penampilannya mirip seperti pertapa menatap ke arah Aran.
~Note~
*Jangan lupa like dan koment.
*Vote jika memungkinkan.
*Follow Author.
*Terakhir, mohon bantu share.
Mohon maaf sebelumnya, besok saya libur update ya.
Terima kasih ^^
Instagram :
@yukishinamt