Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Membuat Kesal Seorang Gadis



Setelah cukup lama berjalan, jarak Aska dengan Aranya semakin dekat.


Wajah Aranya terlihat kesal, karena diikuti orang yang tidak jelas asal-usulnya.


"Orang ini, mau mengikutiku sampai kapan?" batin Aranya penuh kekesalan.


Tidak lama setelah itu, ada sebuah desa.


"Wah... Ternyata ada desa. Apa ini desanya?" batin Aska.


Desa tersebut bernama Desa Sipatuhu.


Aranya berjalan ke dalam desa sampai ujung sebrang desa. Di situ ada sebuah rumah. Aranya masuk ke dalam rumah tersebut. Di saat Aska akan mengikuti masuk, tiba-tiba Aranya langsung menutup pintunya dengan cepat dan keras hingga Aska hampir terbentur.


"Nenek... Aranya pulang...," teriak Aranya.


"Perempuan ini benar-benar bikin kesal aja...," batin Aska.


"Oh Aranya... Tumben masih siang sudah pulang," ucap Nenek Aranya.


"Iya Nek... Udah dapet buruannya. Lumayan besar," ucap Aranya.


"Sini kita makan," ucap Nenek Aranya.


"Iya Nek sebentar," balas Aranya.


Aska duduk di sebuah kursi panjang depan rumah Aranya dan bersandar ke bilik rumahnya.


Aska menghembuskan nafas lelah, lalu Aska berbaring dan tertidur.


***


Beberapa saat kemudian.


Aranya sedang beristirahat di dalam kamarnya. Tidak lama setelah itu, Kakek Aranya pulang dari sawah.


"Aranya... Aranya...," panggil Kakek Aranya.


Kakek Aranya berjalan ke tengah rumah dan di situ ada Nenek Aranya.


"Iya Kek... Ada apa?" tanya Aranya menghampiri Kakek.


"Siapa laki-laki yang ada di depan rumah?" tanya Kakek.


"Laki-laki... Siapa Kek?" ucap Aranya bertanya balik.


"Masa orang itu dari tadi masih ada di depan rumah," batin Aranya kaget sekaligus geram.


"Apa... Di luar ada laki-laki? Sedang apa?" tanya Nenek Aranya kaget.


"Iya... Ada di kursi sedang tidur. Kayaknya seumuran sama Aranya. Makanya Kakek bertanya sama Aranya," ucap Kakek Aranya.


Wajah Aranya terlihat kesal.


"Ga tau Kek. Aranya dari tadi ga bawa siapa-siapa," ucap Aranya sedikit grogi karena berbohong.


"Lihat dulu ke depan Aranya. Siapa tau itu teman kamu," ucap Nenek Aranya.


"Ga mungkin Nek... Aranya ga pernah punya teman," ucap Aranya berusaha menghindar.


Nenek Aranya bangun dari duduknya dan menarik Aranya dengan menggandeng tangannya.


"Ayo kita lihat dulu... Siapa tau laki-laki itu sedang butuh sesuatu." ucap Nenek Aranya.


Wajah Aranya terlihat kesal dan pasrah. Dengan berberat hati, Aranya pergi ke depan rumah bersama Neneknya dan diikuti Kakeknya dari belakang.


Nenek Aranya membuka pintu dan melihat ke sebelah kiri.


Ternyata benar, di situ ada seorang laki-laki yang sedang tertidur pulas.


"Ternyata benar, dia masih ada di sini," batin Aranya terkejut.


Nenek Aranya berjalan menghampiri Aska yang tengah tertidur, sedangkan Aranya dan Kakeknya melihat dari dekat pintu.


"Anak muda... Anak muda...," panggil Nenek Aranya membangunkan Aska dengan menggoyangkan kakinya.


Aska terbangun dari tidurnya.


Langsung menoleh ke arah Aranya, Nenek dan Kakeknya.


Aska langsung berdiri.


"Mohon maaf Nek, Saya ketiduran di depan rumah Nenek," ucap Aska memberi hormat.


"Tidak apa-apa... Bagaimana Anak muda ini bisa sampai di rumah Nenek?" tanya Nenek Aranya.


Aska memperkenalkan diri dan menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya antara Aska dan Aranya.


"Apa? Aku yang pertama melumpuhkannya. Jadi rusanya milikku," sahut Aranya berusaha memotong cerita Aska.


"Tapi aku yang pertama mengejarnya," balas Aska.


"Jadi saya mengikutinya sampai rumah Nenek," ucap Aska berusaha melanjutkan cerita.


"Maafkan cucu Nenek ya... Aranya memang seperti itu... Dia sangat keras kepala," ucap Nenek Aranya.


"Nenek aku ga salah... Dianya aja yang aneh. Masa ngeburu rusa cuma pakai golok, pendek lagi. Ga ada sejarahnya...," ucap Aranya kesal dengan nada tinggi, berusaha membela diri.


"Sudah-sudah... Ayo sini Aska masuk dulu ke dalam, nanti nenek buatkan makanan. Pantas saja terlihat lemas," ucap Nenek Aranya.


"Nenek...," teriak Aranya kesal dan tidak terima.


Aska mengikuti Nenek Aranya masuk ke dalam rumah. Pada saat berpapasan dengan Aranya dekat pintu rumah, Aska tersenyum meledek kepada Aranya.


Wajah Aranya semakin memperlihatkan kegeramannya.


"Ayo Aranya masuk," ajak Kakek Aranya.


***


Di dalam, tengah rumah Aranya.


Aska telah selesai makan dan mengobrol dengan Kakek dan Nenek Aranya.


Aska berhadapan dengan Nenek dan Kakek Aranya, sedangkan Aranya duduk bersembunyi di belakang Neneknya dengan wajah penuh kekesalan.


"Oh... Jadi Aska ini menyebrang dari Daratan Kashi ke Dasarna untuk mencari seseorang... Memangnya siapa orang yang sedang kamu cari Aska? Barang kali Kakek bisa membantu," ucap Kakek Aranya.


"Saya belum mengetahui siapa orang tersebut Kek. Yang saya tau hanya beberapa petunjuk dari catatan Kakek saya," balas Aska.


Kakek Aranya sedikit mengangguk-nganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, Aska menginaplah di rumah ini malam ini. Hari juga sudah mulai petang," ucap Kakek Aranya.


Aska membisu dan tersenyum memikirkan menginap atau tidaknya.


"Kakek... Ga usah... diakan orang asing. Lagian aku juga ga kenal sama sekali. Bagaimana kalau dia melakukan hal yang aneh di rumah ini," sahut Aranya berusaha menolak.


"Shut... Aranya jangan begitu, kasihan! Aska datang dari tempat jauh... Biarkan Aska menginap semalam di sini," sahut Nenek Aranya.


"Tapi Nek...,"


"Sudah-sudah... Kakek yang memutuskan. Malam ini Aska menginap di sini," sahut Kakek Aranya memotong ucapan Aranya.


"Saya tidak bisa menolak Kek," ucap Aska tersenyum malu tapi mau.


Aranya langsung memalingkan pandangan dengan wajah geram. Tidak terima dengan keputusan Kakeknya. Tapi Aranya tidak bisa membantah keputusannya.


Askapun memutuskan untuk menginap satu malam di rumah Aranya, dikarenakan hari sudah mulai petang.


***


Keesokan harinya.


Aska bangun pada pagi buta dan melatih pernafasannya di halaman rumah Aranya.


Mataharipun terbit.


Aska sedang duduk bersantai di kursi depan rumah Aranya.


"Mereka akan datang lagi hari ini. Sudah disiapkan buat diberikan kepada mereka?," tanya Kakek Aranya.


"Sudah... Ini rusa buruannya Aranya sama Aska kemarin," balas Nenek Aranya.


"Bagaimana bisa rusanya masih hidup?" tanya Kakek Aranya.


"Kemarin Aranya hanya membuatnya lumpuh," balas Nenek Aranya.


"Yasudah... Aranya jangan sampai keluar dari rumah," ucap Kakek Aranya.


"Iya...," balas Nenek Aranya.


Saat itu Aranya masih tertidur.


Aska tidak sengaja mendengar obrolan Kakek dan Nenek Aranya.


Karna Kakek dan Nenek Aranya mengira Aska sudah pergi ke sungai. Padahal Aska tidak langsung pergi ke sungai, Aska duduk berdiam diri di kursi depan rumah Aranya.


***


Beberapa saat kemudian.


Aska pulang dari sungai.


"Aska kemari... Kita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan," teriak Nenek Aranya dari depan pintu.


Dengan senang hati, Aska masuk ke dalam rumah. Menoleh kepada Aranya, begitupun Aranya menatap Aska dengan tatapan kesal.


Setelah selesai makan, Aska kembali duduk di kursi luar rumah Aranya.


Tidak lama kemudian, Aranya menghampiri Aska.


"Hei... Kenapa masih di sini? Pergi sana. Cari orang yang kamu bicarakan sama Kakek dan Nenek," ucap Aranya dengan ekspresi wajah malas dan geram.


Aska menoleh.


"Nanti aja... Sekarang lagi nyaman duduk di kursi ini," balas Aska.


"Aku bilang pergi... Ganggu aja. Udah ngerepotin masih aja ngerepotin," sahut Aranya.


"Memangnya kenapa? Nenek sama Kakek aja tidak mempermasalahkan," ucap Aska.


"Hm... Kamu memang orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang ya... Benar-benar orang yang licik. Sudah tau Nenek sama Kakek itu sangat baik dan suka merasa tidak tega. Kamu masih tenang duduk di sini," ucap Aranya kesal denga nada tinggi.


Aska kembali menoleh kepada Aranya, begitupun Aranya menatap Aska dengan tatapan geram.


Setelah beberapa ketukan saling menatap, Aska langsung pergi tanpa sepatah katapun.


Aranya manatap punggung Aska yang sedang pergi menjauh.


"Apa ucapanku terlalu kasar? Hm... Biarinlah, lagian itu juga demi kebaikannya," batin Aranya langsung masuk ke dalam rumah.


***


Beberapa saat yang lalu.


"Nek... Anak muda itu masih ada di depan," ucap Kakek Aranya dengan nada pelan.


"Apa? Kenapa bisa masih ada di depan," ucap Nenek Aranya terkejut.


"Tidak tahu... Suruh Aranya ke depan buat memerintahkannya pergi. Dia anak muda yang baik, jangan sampai terkena masalah," ucap Kakek Aranya.


Nenek Aranya langsung berjalan ke kamar Aranya. Dan memerintahkan Aranya untuk segera membuat Aska pergi dari halaman rumahnya.