
Aran terus terdesak oleh dorongan bola api. Ia tidak menduga bahwa tekanan dari bola api ini mampu membuatnya kewalahan.
Semua orang kini menatap ke arah Aran, tidak ada satupun yang berani membantunya karena takut terkena dampak dari kedua ilmu.
*Putih\, bagaimana keadaan Ze*
*Tuan\, Ze sudah aman dan sedang meditasi untuk memulihkan kondisinya*
*Bagus\, kamu cepat kesini*
*Siap Tuan*
Akhirnya Aran memutuskan untuk memanggil Putih. Karena ia merasa tenaganya terkuras habis untuk menghalau serangan bola api ini. Tapi karena jaraknya sangat jauh, butuh waktu untuk Putih sampai ditempat Aran. Sebelumnya, Putih memilih menjauh dan mencari tempat yang sepi demi menjaga keselamatan Ze.
Aran begitu khawatir dengan bola api dihapannya ini, karena jika bola api ini menyentuh tanah maka ditakutkan akan merusak seluruh ekosistem yang ada di tanah ini.
"Bajingaann sialan kau Hongli. Jika aku berhasil selamat dari sini, aku akan meratakan Sektemu"
Aran begitu marah terhadap Hongli, namun Hongli hanya menatap puas ke arah Aran. Karena dendam dihatinya kini sedikit menghilang.
"Mati kau Mahapatih. Tidak peduli apa yang kau katakan, karena sebentar lagi kau akan menjadi abu"
Hongli tertawa sangat puas melihat musuhnya sudah hampir mati.
"Kumbang, cepat habisi mereka semua. Ah, sisakan satu untuk aku siksa nanti"
"Laksanakan Tuan"
Pembicaraan Kumbang dan Mahapatih membuat semua orang kembali memfokuskan perhatian mereka ke arah Kumbang. Mereka sempat lupa tentang keberadaan Kumbang.
"Mau apa kau.. berhenti disana"
Wanita yang paling suka menghina Kumbang kini ketakutan melihat Kumbang yang mendekatinya.
Sementara Hongli hanya bisa melihatnya, karena ia sama sekali sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak. Tubuhnya sudah mulai menyusut efek dari segel terlarang yang dilakukannya.
"Berhenti kau Iblis, jangan dekati saudaraku"
Pria yang sebelumnya terlempar oleh Kumbang berusaha mati-matian untuk berdiri dan menghalangi jalan Kumbang.
"Berisik kau"
Kumbang bergerak dengan sangat cepat dan kembali menampar pria tersebut.
Plakk
Sekali tampar pria itu langsung terlempar jauh kedalam hutan.
Hanya suara tamparan Kumbang dan jeritannya saja yang terdengar.
Untuk hidup dan matinya tidak ada yang mengetahui.
"Kakakkkk"
Saudara wanita itu menangis melihat Kakak laki-lakinya terlempar jauh.
Kini hanya tinggal kedua wanita yang berada di hadapan Kumbang.
Kumbang lalu kembali bergerak ke arah wanita yang paling sering menghina dirinya dan Tuannya.
Dalam sekejap Kumbang sudah berada di belakang gadis itu dan memegang lehernya.
"Kau wanita yang paling kejam, selama ini kau sering menyiksa dan membunuh orang. Aku bisa mencium bau darah kematian dari tubuhmu. Entah berapa ratus orang yang mati karenamu. Asalkan kau tau, kami Suku Kegelapan bisa melihat aura pembunuhan dari setiap orang. Dan aura itu sangat disukai oleh kami, karena dengan menyantap orang yang penuh dosa maka kemampuan kami akan meningkat drastis"
Kumbang langsung membuka mulutnya dan menggigit leher wanita itu.
Arrrggghhhhh
"Tooo.. toolloongg aku"
Gadis itu berusaha melepaskan cengkraman Kumbang yang begitu keras. Ia juga melirik ke arah Kakak pertamanya.
Namun Kakak pertamanya hanya meliriknya sekilas dan membuang mukanya. Ia sama sekali tidak peduli dengan jeritan kesakitan saudara perempuannya.
Gadis itu kembali mengingat kekejamannya selama ini. Ia memang sering membunuh orang yang tidak disukainya. Bahkan ia pernah meminta bantuan Sektenya hanya untuk membunuh seluruh keluarga yang telah menyinggungnya. Kini ia meratapi semuanya dengan kesedihan.
Sementara saudara perempuannya yang berada didekatnya hanya tertunduk menangis dengan menutup kedua matanya. Ia begitu ketakutan dengan semua yang terjadi dihadapannya ini.
Kumbang terus menghisap darahnya dan juga intisari tubuh gadis tersebut sampai kering dan habis. Hingga akhirnya gadis itu menghilang dari pandangan semua orang.
Jeritan pilunya juga sudah tidak terdengar lagi.
Semua yang menonton perbuatan Kumbang langsung bergidik ngeri. Bulu kuduk mereka semua berdiri karena ketakutan.
Tidak disangka ternyata Mahapatih memiliki pasukan sehebat ini.
Mulai sekarang tidak akan ada yang berani mencari masalah dengan Mahapatih.
"Ingatkan aku untuk tidak mencari masalah terhadap Mahapatih. Begitu juga dengan kalian"
"Baik Nona"
Gadis Pasifik Inn yang berada diatas burung, mengingatkan seluruh pengikutnya untuk tidak membuat masalah kepada Mahapatih. Karena didalam hatinya ia begitu ketakutan melihat kekejaman Kumbang.
"Brengsekk kau Mahapatih, aku benar-benar sangat ingin melihatmu mati. Kalian begitu kejam terhadap saudaraku. Lihatlah bola api itu, ketika ia menyentuh tanah maka ledakannya akan menghancurkan tanah ini ratusan kilometer"
Hongli melampiaskan kemarahannya ke arah Mahapatih, namun Mahapatih hanya meliriknya dengan dingin.
Aran masih berusaha untuk menghentikan bola api ini, karena jika ia gagal maka akan timbul ribuan korban jiwa.
"Kau pria bajingann tak tau malu. Menggunakan cara ini hanya untuk membunuhku. Sebelum berkata kejam kepadaku, fikirkan dulu sekejam apa dirimu pada orang lain yang telah menjadi korban kebiadaban kalian. Jika aku berhasil selamat dari sini, aku bersumpah akan meratakan Sekte keparattmu dengan tanah"
~Note~
Mohon maaf, untuk beberapa hari kedepan, setiap chapter yang saya tulis akan lebih sedikit dari sebelumnya. Hal ini karena kesibukan ditempat saya bekerja.
Mohon maaf jika kurang berkenan dan mohon maaf juga jika banyak typo. Saya menulis ini disela-sela jam istirahat.
*Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
*Terakhir, mohon bantu share.
Terima kasih ^^
Instagram :
@yukishinamt