Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Akademi Bimasakti III



Setelah bangun Aran langsung berlatih kembali di alam giok, dari seni beladiri, seni kuliner, meracik pil dan membuat wayn.


Untuk meracik pil, Aran sudah lancar dalam meracik pil level 3. Di waktu senggangnya Aran juga membuat beberapa masakan untuk di nikmati bersama di alam giok.


Tidak lupa Aran kembali menyusun semua stok racikannya. Aran juga coba menghitung stok berbagai macam olahannya. Dari anggur ruby, wayn, kopi svarga, Teh Laut Hitam, bom birahi, hingga pil.


Anggur ruby miliknya tumbuh begitu subur. Wayn miliknya kini sudah ada ribuan gallon atau drum, begitupun dengan bom birahi yang jumlahnya kini sangat banyak. Untuk teh dan kopi, Aran menyimpannya khusus di dalam botol-botol yang dilindungi oleh aura. Untuk Pil, Aran banyak membuat pil level 3 diantaranya, Pil Puasa, Pil Vitalitas, Pil Geulis (khusus wanita) dan Pil lainnya.


Setelah melakukan segala hal di alam giok, Aran memutuskan untuk kembali ke dunia nyata.


“Sekarang saatnya aku keluar”


Di dunia nyata Aran merasa bahwa tubuhnya kini begitu segar. Sambil menunggu waktu, Aran lebih memilih melakukan meditasi di dalam kamarnya hingga pagi menjelang.


Ketika matahari sudah mulai menampakkan wujudnya, Aran lalu keluar dari kamar dan berjalan-jalan di sekitaran tempat tinggalnya. Ia begitu kagum dengan pemandangan alam di tempat tinggalnya ini. Udaranya begitu sejuk dan lagi banyak bangunan-bangunan unik di tempat ini.


Ketika sedang memandangi keindahan alam ini, Aran merasakan luapan energy dingin di dekatnya. Karena penasaran ia mencoba untuk memeriksanya.


Begitu ia melihat energy tersebut, Aran langsung kaget. Ternyata itu adalah Xiao Ling yang sedang berlatih ilmu pedang.


‘Tidak disangka, aku bisa melihatnya berlatih seperti ini’


Batin Aran yang kini bersembunyi di atas pohon tinggi. Dengan mata surgawinya ia bisa melihat jelas Xiao Ling yang sedang berlatih di bawah.


Xiao Ling yang sedang berlatih merasakan ada yang memperhatikannya, kini persepsi batinnya sangat kuat semenjak ia kembali dari dunia jin.


“Siapa disana!”


Xiao Ling langsung melepaskan ilmu pedang es ke tempat yang di rasa ada yang mengintipnya.


Bang!


Tempat itu langsung membeku.


Xiao Ling langsung menghampiri tempat tersebut, sesampainya ia di tempat itu ia bisa merasakan hawa kehadiran manusia.


“Ada hawa manusia disini, Sialan! Siapa yang berani mengintipku”


Xiao Ling lalu bergerak mencari siapa orang yang berani mengintipnya. Tapi hasilnya nihil, ia tidak menemukan siapapun.


Di tempat yang jauh Aran hanya tersenyum melihat Xiao Ling yang sedang sibuk mencari orang yang mengintipnya.


“Aku sampai deg-deg an melihat ia yang tiba-tiba menyadari kehadiranku”


Kini Aran sudah berdiri jauh dari Xiao Ling, dengan jarak ini ia yakin Xiao Ling tidak akan bisa merasakan kehadirannya. Aran hanya menatap Xiao Ling dari pohon yang sangat tinggi.


*Semua yang pernah hidup lama di dunia jin pasti akan memiliki persepsi batin yang kuat*


Raja Naga langsung memberitahukan hal itu kepada Aran. Ia ingin agar Aran kedepannya lebih berhati-hati.


*Terima kasih Raja Naga atas informasinya. Tapi kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?*


Tanya balik Aran pada Raja Naga.


*Salah sendiri kamu tidak bertanya padaku*


Jawab Raja Naga.


*Laahh, bagaimana aku bertanya padamu kalau aku sendiri tidak mengetahui perihal ini*


*Nahh sama juga, bagaimana aku memberitahumu kalau aku tidak tau apa yang ingin kamu ketahui*


Mendengar jawaban Raja Naga ini Aran hampir jatuh dari pohon tempatnya bersembunyi.


*Sudah lupakan, aku ingin kembali ke rumah akademi*


Aran tidak menyangka bahwa kini Raja Naga sangat menyebalkan.


Sesampainya di rumah ternyata seluruh temannya sudah menunggu dirinya. Mereka semua sedang duduk di ruang tamu rumah.


“Dari mana saja kamu?”


Tanya Xiao Jun kepada Aran.


“Biasalah urusan anak muda”


Jawab Aran semaunya yang membuat Xiao Jun mengerutkan keningnya.


“Hei, jaga bicaramu pada Kakak Xiao Jun”


Teriak Xiao Fei yang memang dari awal sudah membenci Aran dan Taeyang.


“Kau sepertinya yang perlu di jaga, karena perilakumu seperti anjing liar”


Jawaban Aran ini langsung membuat Xiao Fei naik pitam.


“Sialann!!”


Xiao Fei langsung melancarkan pukulannya kepada Aran.


Dengan mudahnya Aran menghindari serangan Xiao Fei yang mudah terbaca dan langsung menendang pantat Xiao Fei hingga ia terjungkal.


Brughhh


“Arggghh, brensekkk kau Aran”


Teriak Xiao Fei.


“Sudah-sudah hentikan, apa yang sudah kalian lakukan ini. Kita semua adalah teman satu rumah”


Kini Xiao Jun langsung menengahi pertengkaran mereka.


“Hei, Kakak Xiao.. Kau harus bisa menjaga adikmu yang sangat liar itu”


“Hyung-nim, kamu sangat keren”


Kata Taeyang sambil tertawa pelan.


“Ssstt, jika mereka mendengarmu. Kau bisa di gigit anjing liar itu”


Perkataan Aran ini kembali membuat Taeyang tertawa. Mereka lalu berjalan bersama meninggalkan rumah tersebut.


“Hyung, saat kamu pergi ada pengawal akademi yang meminta kita untuk datang ke Menara latihan”


“Apa kamu tau dimana Menara itu”


“Tentu saja aku tau. Aku sudah melihat denah akademi yang ada di lemari kamar kita”


Jawab Taeyang tegas.


“Apa kamu tidak melihatnya Hyung?”


Kata Taeyang menambahkan.


“Hehehe, tidak. Aku belum membuka lemari”


Jawab Aran sambil tertawa pelan.


“Lalu apa yang kamu lakukan semalaman”


Taeyang malah curiga dengan Aran, apa dia semalaman hanya tidur saja. Rasanya orang seperti Aran tidak mungkin tidur semalaman.


“Sudah lupakan, ayo cepat kita menuju Menara latihan”


“Siap Hyung”


Aran dan Taeyang lalu berjalan bersama menuju Menara latihan. Saat berjalan menuju Menara seringkali mereka berpapasan dengan para siswa lain yang sudah lebih senior.


“Hei kalian anak baru”


Teriak seorang pria yang sedang duduk bersama kelompoknya.


Aran dan Taeyang tidak menanggapi panggilan pria itu, mereka terus berjalan tanpa mengindahkannya.


“Hei kalian berdua! Apa kalian tuli hah!”


Kini salah seorang temannya yang memanggil Aran dan Taeyang.


“Hyung-nim, sepertinya mereka memanggil kita. Apa yang harus kita lakukan”


Kata Taeyang sambil melirik ke arah para pemanggilnya.


“Sudah, diamkan saja. Anggap saja yang memanggil adalah gembel gak ada akhlak. Tidak perlu kita tanggapi”


“Baik Hyung”


Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan mereka.


“Kakak, sepertinya anak baru itu tidak menghargai kita”


“Ayo kejar mereka”


Kelompok itu lalu berlarian mengejar Aran. Hingga akhirnya mereka berhasil mengejar Aran dan Taeyang.


Kelompok itu langsung mengelilingi Aran dan Taeyang, agar mereka berdua tidak bisa melarikan diri.


“Hei kalian berdua, apa kalian berdua ini tuli tidak mendengar panggilan kami”


Salah satu pria berkata sambil menunjuk kepada Aran.


“Oooh jadi kalian memanggil kami, bilang donk dari tadi jangan teriak-teriak doank seperti di hutan. Kami berdua ini punya nama, mana kami tau kalian memanggil kami”


“Gak usah banyak omong kau! Memangnya kami tau nama kalian”


Teriak pria yang lain.


“Ya karena itu, tidak usah memanggil kalau memang tidak tau nama kami”


Jawab Aran dengan santainya.


“Kurang ajar ini anak ya, bosan hidup kau hah!”


Ia berkata sambil mendorong tubuh Aran. Tapi ketika ia mendorongnya, ia seperti mendorong batu besar yang tidak bisa digerakkan sama sekali. Malah yang ada dia seperti terdorong balik.


‘Sialan anak ini, kenapa tubuhnya keras sekali’


Batinnya.


“Jika kalian tidak ada urusan lagi, kami akan pergi. Ayo Taeyang”


Kata Aran sambil mengajak Taeyang pergi.


Respon Aran ini tentu saja membuat kelompok itu murka.


“Benar-benar kurang ajar kau!”


“Semuanya, hajar mereka!”


Dari kejauhan, Xiao Fei, Xiao Jun dan Fuma dapat melihat bahwa Aran dan Taeyang sedang mendapat masalah.


Xiao Fei tentu saja begitu senang melihatnya, ia lalu berkata kepada Kakaknya.


“Kakak, lihat Aran dan Taeyang disana. Sepertinya mereka memiliki masalah terhadap para senior”


Dalam hati Xiao Fei, ia berharap para senior itu mau menghajar Aran.