Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Bertemu Kenalan Lama



Aran bersama kelompoknya terus bergerak menuju asal suara tersebut.


Ketika jarak mereka dirasa sudah cukup dekat, Aran mengajak yang lainnya untuk bersembunyi diatas sebuah pohon besar.


"Siapa mereka? kenapa mereka semua menggunakan topeng"


Aran melihat ada sekumpulan orang yang menggunakan topeng bertaring seperti setan yang sedang mengelilingi seorang gadis muda .


"Kalau tidak salah mereka adalah kelompok pembunuh bayaran yang baru berdiri disini, namun dalam sekejap sudah memiliki nama besar"


Namora langsung menjelaskan kepada Aran terkait apa yang diketahuinya.


"Darimana kamu mengetahuinya?"


Tanya Aran balik.


"Dari Teliksandiku yang suka menyamar menjadi rakyat biasa ataupun pedagang antar pulau. Karena kelompok mereka asalnya berada di pulau Jawa. Lalu mereka memindahkan basis mereka di Kerajaan Malaya dikarenakan kelompok mereka terus ditekan oleh kelompok Lingga yang tersebar hampir diseluruh Nusantara"


Aran baru ingat bahwa dulu ia pernah meminta senior Lingga untuk tidak lagi berbuat kejahatan sampai batas waktu yang ditentukan. Tidak disangka ternyata seluruh kelompoknya benar-benar mematuhinya.


Sebelum mengabdi di Kerajaan Samudera, nama besar Lingga dan kelompoknya sangatlah terkenal di Nusantara.


"Apakah kamu tau nama kelompok dan pemimpin mereka semua"


Aran bertanya sambil melihat kebawah, dimana ia melihat bahwa gadis yang sedang dikelilingi itu memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Karena Aran melihat bahwa gadis itu dapat mengimbangi para penyerangnya.


"Nama kelompok mereka adalah Topeng Siluman. Kelompok ini dipimpin oleh Braja bersaudara. Ki Braja Hitam, Braja Merah dan yang paling tinggi posisinya adalah Ki Braja Emas"


Mendengar nama Ki Braja membuat Aran mengenang sedikit masa lalunya. Apakah mereka adalah orang yang sama.


Ketika mereka sedang asik mengobrol, terdengar suara tawa yang tidak asing bagi Aran.


"Hahahaha, Tuan Putri. Sebaiknya kamu menyerah saja. Seluruh pengawalmu sudah mati, karena aku tidak ingin melukai kulit indahmu"


Dari balik pohon yang besar muncul sesosok pria yang sudah sangat Aran kenal. Aran bisa mengenalinya, karena pria tersebut tidak menggunakan topeng seperti yang lainnya.


'Lah, benar dia rupanya. Pantas suaranya tidak asing lagi'


Batin Aran.


"Aku tidak akan sudi menyerah kepada kalian. Para pengikutt Kerajaan Parsy busuk"


Gadis itu berkata dengan lantang tanpa rasa takut sedikitpun. Walau ia sendirian, namun jiwanya tidak pernah merasa gentar.


"Bagus sekali, bagus. Saya suka wanita sepertimu. Kamu akan menjadi hadiah yang sangat berharga untuk Jenderal Kanru dan Jenderal Tolu"


Ki Braja berkata sambil mengusap-usap jenggotnya dan membusungkan dadanya. Menandakan bahwa ia sangat bangga bisa mendapatkan buruan kelas kakap.


"Jenderal Tolu?"


Aran berkata pelan dan kemudian saling melirik kepada Varya dan Namora.


"Dari yang saya tau, terakhir saya kesini memang Kerajaan Parsy sedang menginvasi Kerajaan Malaya. Tapi saya tidak tau kelanjutannya seperti apa"


Kata Namora pelan.


Aran tidak mengetahui, bahwa setelah Jenderal Tolu meninggalkan Sumatra ia bergerak menuju Kerajaan Malaya. Karena disitu ada temannya yang bernama Jenderal Kanru.


Karena Jenderal Tolu merasa malu akan kekalahannya dengan Aran, maka ia memutuskan untuk menjajah negeri ini bersama Jenderal Kanru dan akan mengambil banyak harta dari kerajaan ini. Dan nantinya, semua harta tersebut bisa ia persembahkan kepada kerajaan sebagai hadiah darinya. Hal ini ia lakukan semata-mata hanya untuk memulihkan nama baiknya.


"Kalian semua mundur, biar aku yang menghadapinya"


Ki Braja Hitam langsung menyerang gadis tersebut. Dalam hitungan detik gadis itu langsung terpojok.


"Hahaha, sayang sekali bajumu sekarang sampai robek-robek seperti itu"


Dengan bangganya Ki Braja tertawa dengan sangat keras melihat lawannya yang kewalahan menghadapinya.


"Cuihh"


Gadis itu meludahi tanah.


"Bajingaann busuk. Mati kau"


Tidak ingin menyerah, gadis tersebut langsung menyerang Ki Braja Kembali. Tapi karena gadis itu sudah sangat kelelahan ditambah kemampuan Ki Braja yang jauh lebih tinggi darinya. Dalam sekejap ia sudah terjatuh di tanah tak berdaya.


"Hahaha"


Ki Braja kembali tertawa dengan keras.


"Lemparkan jaring padanya, agar ia tidak bergerak lagi"


"Baik"


Dengan patuh, para pengikut Ki Braja langsung maju kejadapan Gadis tersebut dan melemparkan jaring kepadanya.


Dilemparkan jaring yang sangat besar membuat gadis itu meronta untuk melepaskan diri. Tapi semakin ia bergerak jaring itu malah semakin mengikatnya.


"Lakukan pengikatan"


Teriak Ki Braja.


"Baikk"


Pengikutnya yang memegang jaring langsung memutari gadis tersebut. Semakin lama gadis itu semakin terkunci oleh jaring mereka, hingga akhirnya jaring itu melilit seluruh tubuhnya yang menyebabkan ia jatuh ketanah tidak bisa bergerak.


Teriak gadis itu dalam lilitan jaring.


"Hahahaha, teriaklah sepuasmu"


Ki Braja begitu senang saat ini karena bisa menangkap Putri Kerajaan Malaya yang selalu membangkang kepada Kerajaan Parsy.


"Bawa dia"


Kata Ki Braja Hitam menambahkan.


"Siap Tuan"


Para prajurit itu langsung bergerak ke arah Putri Kerajaan yang kini sudah tidak berdaya dalam lilitan jaring.


"Berhenti!"


Tiba-tiba didepan Putri tersebut berdiri sesosok makhluk berjubah hitam dan menggunakan topeng giok putih. Makhluk ini tidak lain adalah Aran.


"Kunyukk, siapa kau. Berani mengganggu urusan kami. Semuanya habisi dia"


Para pasukan Topeng Siluman langsung menyerang Aran bersama-sama.


"Bodoh"


Bang!


Bang!


Bang!


Dalam sekejap para penyerang Aran terpental jauh keudara terkena tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Aran.


Ki Braja yang melihat anak buahnya terpental dengan satu serangan membuat ia langsung siaga dengan memasang kuda-kuda perlawanan.


"Bangsadd, siapa kau"


Ki Braja begitu marah melihat anak buahnya hilang entah kemana.


"Hahahaha"


Aran hanya tertawa dihadapan Ki Braja.


"Kenapa kau malah tertawa hah!"


Ki Braja bingung dengan musuhnya ini. Kenapa ia malah tertawa keras dihadapannya.


"Apa kamu sudah melupakanku... Bambang"


Perkataan Aran langsung membuat Ki Braja bengong. Dengan serius ia menatap ke arah musuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Dalam seumur hidupnya yang ia ingat, hanya satu orang yang memanggil namanya dengan sebutan Bambang. Ki Braja sangat membenci pemuda yang dulu bertarung dengannya dan berhasil melarikan diri dari sergapannya. Selama itu pula ia terus mencari pemuda tersebut sampai ke pelosok-pelosok desa.


Tapi siapa disangka bahwa pemuda yang ia cari selama ini kini berada dihadapannya.


"Jadi ini benar kau, pria yang dulu melarikan diri dari pertarunganku setelah berkali-kali menghinaku. Hahahaha.. Bagus, bagus sekali. Aku tidak perlu repot-repot lagi mencarimu. Akhirnya dendam dihati ini terlampiaskan"


Ki Braja begitu senang melihat musuh yang selama ini ia cari akhirnya ditemukan.


"Aku jadi terharu mendengar kamu terus mencariku, sayang disini tidak ada bunga yang bisa aku berikan padamu. Oh ya, bagaimana kabar saudaramu si Kakek Tua Biadab berbaju merah itu. Apakah ia juga rindu kepadaku"


Aran terus saja menggoda musuh lamanya ini. Karena dengan begini ia bisa mengenang masa lalunya dulu saat melarikan diri bersama Berliana. Dulu ia memang masih lemah, tapi kali ini jelas berbeda.


"Kunyukkk, mulutmu benar-benar lancang. Berani memanggil saudaraku Ki Braja Merah dengan sebutan seperti itu. Mati kau!"


Ki Braja Hitam benar-benar begitu murka dengan perkataan Aran. Ia ingin sekali bisa mencabik-cabik mulut musuhnya ini yang begitu tajam.


"Kamu benar-benar emosian Bambang"


 


 


\~**Note**\~


Teman-teman pembaca.


Terima kasih banyak untuk doanya ya.


Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.


* Jangan lupa like dan koment.


* Vote jika memungkinkan.


* Follow Author.


* Terakhir\, mohon bantu share.


Salam hangat dari penulis.


Instagram :


@yukishinamt