Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Seleksi Masuk Akademi II



"Semuanya, waktu istirahat habis. Cepat ikuti aku"


Kali ini Kakek Tua itu tidak berlari melainkan berjalan, sehingga orang-orang juga tidak terlalu terburu-buru.


Mereka terus berjalan hingga sampai di gerbang yang bertuliskan.


"Akademi Bimasakti"


Begitu mereka berjalan melewati gerbang, terlihatlah arena yang sangat besar dihadapan mereka, besarnya arena ini bahkan bisa menampung ribuan orang. Arena itu dikelilingi oleh pagar besi yang terlihat sangat kuat.


"Kalian semua, naiklah ke dalam arena tersebut"


Seluruh peserta mengikuti himbauan Pria Tua itu untuk menaiki arena. Aran dan teman-temannya juga langsung menaiki arena tersebut.


"Disini kalian akan bertarung bersama-sama. Boleh bertarung sendiri atau bertarung dalam team. Maksimal dalam satu team adalah 5 orang tidak boleh lebih. Kalian akan diberikan waktu 30 menit untuk membentuk team kalian masing-masing. Dimulai dari sekarang!"


Setelah Kakek Tua itu berkata, banyak orang yang mulai membentuk team mereka masing-masing. Aran yang sudah bertiga merasa tidak perlu lagi untuk membentuk team.


"Salam saudara"


Tiba-tiba terdengar suara disebelah Aran.


Aran lalu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Ya, ada yang bisa saya bantu"


Aran melihat bahwa paras orang yang memanggilnya ini sangat berwajah Nusantara. Ia datang dengan seorang wanita cantik yang juga berparas layaknya orang-orang dari Nusantara.


"Nama saya adalah Rumbun dan disebelah saya ini adalah teman saya bernama Srikandi"


"Salam kenal"


Sapa Srikandi kepada Aran dan yang lainnya.


"Ooh.. Perkenalkan, nama saya Aran dan mereka berdua adalah teman saya"


"Salam, nama saya Varya"


"Salam, nama saya Kim Taeyang. Kalian bisa memanggilku Taeyang"


Mereka semua lalu berdiri bersama-sama dan sedikit menjauh dari keramaian.


"Apa kalian ingin membentuk kelompok dengan kami"


Tanya Aran kepada mereka berdua.


"Ya kami berdua ingin bergabung dengan kalian"


Jawab Rumbun tanpa ragu.


"Apakah kalian dari Nusantara"


Tanya Aran kembali yang memang sudah penasaran akan asal dari teman barunya ini.


"Ya itu benar, kami berdua dari Nusantara. Saya berasal dari Kalimantan sementara Srikandi berasal dari Jawa, tepatnya Kerajaan Mahwapatih"


"Wow, bagaimana kalian akhirnya bisa bertemu. Jarak antara Kalimantan dan Kerajaan Mahwapatih tidaklah dekat"


Aran terkejut ternyata mereka berdua benar dari Nusantara.


"Kebetulan saya sedang berada di Kerajaan Mahwapatih. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke sini bersama. Seharusnya menurut rencana, kami juga berangkat bersama dengan perwakilan Kerajaan Samudera. Tapi info yang kami dapat bahwa perwakilan Kerajaan Samudera memutuskan untuk berangkat terpisah dari kami"


Mendengar perkataan Rumbun membuat Aran terdiam. Tidak disangka ternyata harusnya ia berangkat bersama mereka.


"Kalau boleh tau, kalian semua berasal dari mana ya"


Srikandi mencoba ikut berbicara dan bertanya kepada teman-teman barunya ini. Tatapannya pertama adalah kepada Varya.


"Ah, kalau saya memang dari daratan tengah"


Jawab Varya sambil sedikit tertawa.


"Kalau saya berasal dari negeri di semenanjung Korea"


Jawab Taeyang sambil tersenyum.


"Oooh begitu, kalau kamu"


Pertanyaan Srikandi ini juga mewakii pertanyaan Rumbun. Ia juga penasaran akan sosok pria berjubah dan bertopeng yang menurutnya sangat kuat. Karena Rumbun bisa merasakan bahwa Pria ini bukanlah pria sembarangan.


"Ahh, kalau saya"


Aran bingung ingin berkata apa, tapi ia juga tidak ingin berbohong dihadapan saudaranya yang berasal dari Nusantara.


"Saya di sini mewakili Kerajaan di Sumatra"


Jawab Aran. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak berkata bohong kepada saudara yang berasal dari tanah yang sama, Nusantara.


"Sumatra?"


Berkata Srikandi dan Rumbun berbarengan.


"Bukankah yang mewakili Sumatra itu adalah Kerajaan Samudera"


Kata Srikandi semakin penasaran kepada Aran.


"Kamu benar Srikandi. Juga yang saya tau, Kerajaan Samudera mengutus Mahapatihnya kesini"


Kata Rumbun menambahkan.


Kemudian Rumbun dan Srikandi saling bertatapan. Dalam hati mereka apakah mungkin bahwa pria dihadapan mereka ini adalah Mahapatih yang mereka tau.


"Apakah kamu ini adalah Ma.. Mahapatih Asura"


Kata Rumbun sedikit tidak percaya.


"Emm, banyak orang menyebut saya seperti itu"


Kata Aran menjawab Rumbun.


Jawaban Aran ini membuat Rumbun dan Srikandi merubah sikapnya.


"Salam hormat saya Mahapatih"


"Apa yang kalian lakukan"


Aran lalu membantu mereka untuk tidak memberikan hormat kepada dirinya.


"Ingat, jangan pernah katakan kepada yang lainnya bahwa saya ini adalah Mahapatih"


Beruntung di tempat itu sangat ramai, jadi banyak orang yang tidak peduli dengan kegiatan ditempat Aran. Mereka lebih memperdulikan tentang seleksi masuk Akademi saat ini.


"Mahapatih? Apa itu Mahapatih"


Tanya Taeyang kepada teman-temannya. Ia yang hidup jauh dari Nusantara dan hanya sebagai rakyat jelata tidaklah paham tentang strata dalam Kerajaan.


"Mahapatih adalah gelar pejabat tinggi yang diberikan langsung oleh Raja Muda. Juga, Mahapatih Asura adalah orang nomer dua di Kerajaan Samudera. Kejayaan Kerajaan Samudera tidak lepas dari peran Mahapatih Asura. Saya adalah salah satu orang yang mengagumi kehebatan Mahapatih"


Rumbun berkata dengan begitu bangga. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan panutannya ditempat ini.


"Hyung-nim. Aku tidak menyangka bahwa kamu adalah orang yang memiliki jabatan tinggi. Apa mulai sekarang aku memanggilmu Mahapatih juga"


"Jika kamu memanggilku dengan sebutan itu, maka aku tidak akan pernah menjadi saudaramu lagi. Ini juga berlaku untuk kalian semua"


Jawab Aran sambil memperhatikan semua temannya ini.


"Baik Hyung-nim"


"Siap"


Teman-teman Aran akhirnya memutuskan untuk menutupi jati diri Aran.


"Waktu habis"


Terdengar teriakan Kakek Tua yang berdiri di atas batu besar.


"Semuanya tolong dengarkan baik-baik perkataan saya"


Para peserta lalu menghadap ke arah Kakek Tua itu.


"Sekarang adalah seleksi terakhir. Saya ingin memberitahukan kepada kalian semua bahwa kuota siswa akademi kali ini hanyalah 50 orang. Untuk itu, kalian yang berada di arena ini akan memperebutkan kuota tersebut dengan cara saling bertarung. Peraturannya satu, tidak boleh membunuh. Silahkan mulai"


Setelah Pria Tua itu berkata, semua orang langsung bersiap dan waspada terhadap sekelilingnya.


"Serang!"


Beberapa kelompok yang sudah tidak sabar segera melakukan penyerangan terhadap kelompok lainnya.


Bang!


Bang!


Berbagai kesaktian mulai saling beradu ditempat ini.


Ada juga yang masih belum melakukan pertarungan, termasuk kelompok Aran.


Aran bersama kelompoknya lebih memilih diam sambil menunggu.


"Hyung-nim, apa kita tidak melakukan penyerangan?"


Taeyang berkata kepada Aran, ia sudah sangat penasaran ingin mencoba hasil dari latihan kerasnya bersama Kumbang.


"Sabar, biarkan mereka saling bertarung"


Aran lebih memilih untuk bersabar dan mengamati jalannya pertarungan. Tiba-tiba pandangan mata Aran tertuju pada Xiao Ling. Aran melihat tidak ada yang berani menyerang kelompok Keluarga Xiao. Begitupun dengan kelompok Kerajaan Parsy, Lady Octavia dan juga kelompok Keluarga Situ.


Punggawa Keluarga Situ adalah Situ Kong yang didampingi oleh seorang pria yang memiliki aura sangat besar.


Akhirnya ada kelompok yang melirik ke tempat Aran.


"Serang mereka"


Sekelompok orang tersebut langsung maju menerjang Aran.


"Serahkan mereka semua padaku"


Teriak Taeyang yang langsung maju menerjang musuh-musuhnya. Tanpa ragu Taeyang mengeluarkan pedang miliknya.


"Seni Pedang Bayangan Tingkat 2"


Taeyang merasa hanya perlu menggunakan tingkat dua untuk mengalahkan musuh-musuhnya.


Trang!


Trang!


"Uaaarrrrgggh"


"Aarrgghh"


Beberapa orang langsung ambruk, sementara yang lainnya berhasil bertahan meski senjata ditangan mereka semuanya rusak.


"Seni Pedang yang mengagumkan"


Kata beberapa orang yang melihat kemampuan Taeyang.


"Sekali lagi"


Taeyang langsung bergerak cepat melumpuhkan sisa orang yang menyerangnya.


"Jatuhlah!"


Serangan kedua Taeyang membuat para musuhnya terjatuh. Karena membunuh dilarang, maka Taeyang hanya melumpuhkan mereka saja. Setelah melumpuhkan semua penyerangnya ia kembali berdiri disisi Aran.


"Kemampuanmu semakin hebat"


Kata Varya kepada Taeyang.


"Hehe, terima kasih Varya. Ini semua berkat bimbingan Senior Kumbang"


Taeyang merasakan sendiri manfaat dari latihan yang dialaminya bersama Kumbang. Perkataan Taeyang ini dibalas senyuman oleh Varya. Ia juga merasakan sendiri peningkatan kemampuannya yang didapatnya dari latihan bersama Putih.


Srikandi dan Rumbun benar-benar kagum dengan kemampuan pedang Taeyang. Mereka bersyukur bisa satu kelompok dengan Aran.