
Setelah berhasil meyembuhkan Eliza, Aran keluar dari kamar itu meninggalkan Eliza dan keluarganya. Aran keluar dari kamar dan berjalan jalan dihalaman belakang rumah, ia ingin menghirup udara segar di luar.
"Aran"
Aran menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Tuan Tua"
Aran langsung memberi hormat kepadanya.
"Tidak perlu terlalu sopan Aran, terima kasih banyak sudah menyelamatkan cucuku"
Tuan Tua berjalan kesisi Aran dan mengajaknya duduk di bangku taman. Mereka lalu duduk bersama. Di pandangan Kakek Tua atau Tuan Tua, Aran adalah pemuda yang sangat hebat, selama ini ia tidak pernah memiliki hubungan baik dengan manusia. Baru kali ini ia mengenal manusia seperti Aran. Manusia yang memiliki kemampuan tinggi, bahkan didunianya tidak ada tabib yang bisa menyembuhkan cucunya selama ini.
Entah mereka benar-benar tidak bisa atau mereka berpura-pura. Tuan Tua tidak mau memikirkan itu semua.
"Tuan, sepertinya kamu banyak pikiran?"
"Ah iya Aran, ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya"
"Jika Tuan ingin bercerita, ceritakan kepada saya saja Tuan. Saya siap mendengarkan" Aran tersenyum dihadapan wajah Tuan Tua.
"Ah tidak perlu, saya akan membereskannya sendiri. Ngomong-ngomong, Aran cacing ini akan diapakan?" Tuan Tua mengeluarkan 2 botol yang berisi cacing racun.
Melihatnya kedua botol itu Aran lalu berkata pada Tuan Tua.
"Tuan, cacing itu bisa kamu gunakan kembali. Tinggal kamu suntikkan sedikit tenaga dalammu kedalam botol itu, lalu kau bisa perintahkan dia"
"Benarkah"
"Tentu saja, kamu bisa menggunakan itu untuk membalas dendam kembali, aku jamin setelah masuk kedalam tubuh, cacing itu akan sulit dikeluarkan. Bahkan aku tidak yakin bisa mengeluarkannya kembali, mengingat cacing ini cukup pintar"
Mendengar penejelasan Aran, ada sedikit senyuman di wajah Tuan Tua.
Aran juga merasakan merinding ditubuhnya "Tuan Tua, jika kamu ingin membalaskan dendam. Bagaimana jika aku ikut membantumu"
"Hah, kamu serius Aran" Tuan Tua terkejut mendengar perkataan Aran, namun didalam hatinya ia cukup senang jika Aran mau pergi bersamanya.
"Saya serius Tuan, lebih cepat lebih baik"
"Baiklah Aran, sepertinya saya tidak perlu sungkan. Bagaimana jika besok pagi kita pergi kesana"
"Baik Tuan Tua" Jawab Aran sambil memberikan hormatnya.
Setelah itu mereka berbincang-bincang terkait clan yang akan mereka hadapi nantinya. Clan yang meracuni Eliza termasuk 10 Clan besar di wilayah ini. Tapi Tuan Tua pesimis bisa membalaskan dendamnya. Karena dia mengalami kemacetan dalam kultivasinya, dia masih belum bisa menembus ke tingkatan yang lebih tinggi.
Sementara di pihak musuhnya juga tingkatannya sama dengannya, namun mereka lebih kuat karena banyaknya anggota yang tingkatannya tinggi. Jika ia ingin menyerang mereka, paling tidak degan bantuan Aran mereka bisa imbang. Lain halnya jika ia bisa menembus tingkatannya, maka semua itu bisa menjadi lebih mudah.
"Jadi Tuan mengalami kemacetan untuk menembus tingkatan?"
Aran mencoba memeriksa tubuh Tuan Tua dengan mata surgawinya. Ia melihat didalam tubuhnya, ada beberapa organnya yang rusak.
'Sepertinya ini luka lama' Batin Aran
Aran melanjutkan memeriksa tubuh Tuan Tua. Ia juga melihat, didalam tubuh Tuan Tua ada beberapa sisa-sisa racun.
Merasakan pandangan Aran, Tuan Tua langsung berkata "Apa yang kamu lihat Aran, aku tau kamu sedang memeriksa tubuhku"
"Maaf Tuan Tua, saya melakukannya tanpa ijin"
"Tidak apa-apa Aran. Saya jadi ingin tau, apa yang kamu temukan didalam tubuhku ini. Dan apakah kamu punya solusi agar saya dapat melakukan terobosan"
Aran tersenyum didalam topengnya, sampai sekarang ia belum memperlihatkan wajah aslinya . Setiap makhluk hidup pasti ingin berkembang dan maju, begitupun dirinya. Aran hanya berharap bahwa kemampuannya ini bisa membantu semua orang yang memiliki hati yang baik.
"Ada banyak penyumbatan di 360 titik meridian kamu Tuan. Dan juga, ada sisa-sisa racun didalam tubuhmu. Belum lagi luka dalam di beberapa organmu, itu semua menghambat dirimu untuk menembus batasanmu"