
Keesokan harinya.
Aska berlatih kembali Ajian Panolak Hawa di tempat semula. Setiap kali mencoba Aska selalu gagal dan gagal. Namun, Aska terus berusaha.
Hari-hari Aska diisi dengan berlatih. Pada siang hari Aska melatih gerakan dasar silatnya secara bergantian Aska juga melatih Ajian Panolak Hawa. Pada malam hari Aska melatih gerakan tariannya dan menyempurnakan serangan serta pertahanan bertarungnya. Pada di setiap latihan Aska menyelipkan waktu untuk bersemedi guna memperkuat hawa energi tenaga dalamnya.
***
Enam bulan kemudian.
Di dataran pertengahan antara kedua Gunung Manglayang.
Ki Salawi menyerang Aska dengan Ajian Tapak Saketi. Sewaktu jurus tersebut mengenai Aska dan sedang terbawa kebelakang seperti angin, Aska memposisikan tanganya di depan perut dengan telapak tangan berhadapan. Setelah beberapa ketukan Aska melepaskan Ajian Panolak Hawa dengan membuka kedua tangannya ke samping. Efek dari melepaskan jurus tersebut, ke samping Aska seperti melepaskan hempasan angin. Dan Aska mendaratkan kakinya dari pengaruh Ajian Tapak Saketi dengan baik.
"Bagus Aska. Sekarang Ajian Panolak Hawamu sudah lebih baik dari sebelumnya," ucap Ki Salawi.
"Terima kasih Kek, atas pujiannya," ucap Aska memberi hormat.
"Tapi ingat, jangan merasa besar diri hanya karena lebih kuat dari sebelumnya. Dan terus latihlah semua gerakan silat dasarmu dan tambahkan gerakan silat jurus yang Kakek ajarkan. Perkuat pondasi kaki dan tangan serta serasikan gerakanmu seperti tarian yang selalu kamu latih," ucap Ki Salawi.
"Baik Kek," ucap Aska memberi hormat.
Hari sudah mulai sore. Aska dan Ki Salawi kembali ke rumah.
***
Sesampainya di rumah Ki Salawi.
Aska melihat Raka dan Yasa sedang terkapar di tanah dan tubuhnya di penuhi luka memar. Askapun berlari menghampiri Aska dan Yasa.
"Ada apa ini Raka Yasa? Kenapa kalian bisa terluka seperti ini?" tanya Aska cemas.
"Uhukkh... Aska mereka kembali lagi membawa banyak sekali orang," ucap Raka menahan rasa sakit.
"Dan mereka juga membawa Citta," ucap Raka.
"Apa? Kenapa mereka membawa Citta?" tanya Aska.
"Mereka bilang Kakek harus kesana mengambilnya sendiri," ucap Yasa.
"Aska selamatkanlah Citta. Dia terluka... Ukuhhk...," ucap Raka batuk kesakitan.
"Arrrrggghhhh...," Aska marah, darahnya mendidih dan langsung berlari ke tempat sekelompok orang yang menculik Citta yaitu kelompok perkumpulan macan kumbang.
"Uhhkk...," Raka dan Yasa berdiri dengan menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Mau kemana kalian?" ucap Ki Salawi.
"Kita mau menyusul Aska Kek," ucap Yasa.
"Mereka sangat kuat dan ada yang berasal dari padepokan gagak hitam Kek," ucap Yasa.
Ki Salawi terkejut mendengar nama padepokan gagak hitam, karena padepokan tersebut berisi orang-orang yang belajar ilmu hitam seperti kekebalan fisik pada tubuh.
"Kalian dengan luka seperti itu tidak akan membantunya. Biarkan saja Aska yang mengurus Citta, karena dia sudah cukup kuat," ucap Ki Salawi.
Ki Salawi mengobati luka pada tubuh Raka dan Yasa terlebih dahulu.
***
Dalam perjalanan ke tempat kelompok perkumpulan macan kumbang, Aska mengingat kata-kata Yasa saat bercerita di salah satu saung pesawahan.
"Aku, Raka sama Citta sudah berteman sejak kecil. Raka dari kecil sifatnya tidak pernah berubah selalu seperti anak-anak. Sedangkan Citta itu nakal sekali. Raka pernah menangis dipukul Citta," ucap Yasa.
"Hahahaha...," Aska ketawa mendengar Raka menangis dipukul Citta.
"Aska. Sejak ada kamu Citta sekarang menjadi lebih seperti perempuan dewasa. Bahkan saat kamu tidak ada sedang berlatih di gunung bersama Kakek, Citta sekarang sering mengalah jika mulai berdebat dengan Raka. Sepertinya dia punya rasa terhadapmu Aska," ucap Yasa.
***
Aska berlari sekuat tenanga dengan penuh amarah dan kekesalan.
Sampailah di depan pintu gerbang tempat kediaman kelompok perkumpulan macan kumbang.
"Siapa kamu? Kenapa memakai topeng? Apakah kamu Ki Salawi?" tanya salah satu penjaga gerbang.
Tanpa banyak membuang waktu, Aska menerjang dan menyerang kedua penjaga tersebut. Hanya satu gerakan membuat kedua penjaga berbadan besar itu terkapar.
Aska mendobrak pintu gerbang yang cukup besar yang terbuat dari besi itu dengan Jurus Tapak Sakti dan membuat pintu tersebut terbuka lebar hingga hampir lepas dari pengaitnya.
Aska terkepung.
Tidak lama setelah itu, setelah Aska memasuki halaman tempat tersebut, keluarlah dari sebuah ruangan di depan Aska orang-orang yang membawa Citta.
Melihat kondisi Citta sangat memprihatinkan, sekujur tubuh dipenuhi luka memar serta darah dekat mulut dan mulut Citta disumpal menggunakan kain, Bahkan Citta masih sadarkan diri dan menagis. Hal itu membuat amarah dan kekesalan Aska semakin besar.
"Apakah kau Ki Salawi?" tanya salah satu orang berbadan berotot dan cukup besar yang membawa Citta diantara lain yaitu ketua dari kelompok perkumpulan macan kumbang yang bernama Gigha.
"Kenapa kau memakai topeng? Bukalah jika kau Ki Salawi, aku hanya menginginkan mayatmu. Tukarlah dengan gadis ini," ucap Gigha.
Aska berdiam diri dan mematung saat ketua kelompok perkumpulan macan kumbang bertanya.
Aska berdiam diri dikarenakan ia menangis melihat kondisi Citta seperti itu.
"Tangkap dia dan bawa kehadapanku," ucap Gigha.
Beberapa orang di sebelah pinggir Aska berlari dan langsung menyerang Aska. Aska menahan serangan pertama dan membalas memukul dengan keras hingga orang tersebut terpental. Melihat hal tersebut beberapa orang yang akan menyerang Aska tersebut berhenti.
"Menarik... Mari kita buat permainan... Hahaha... Yang berhasil menangkapnya aku jadikan tangan kananku dan mendapatkan seperempat dari penghasilan kita," ucap Gigha.
"Hehehe... Jarang-jarang ketua membuat hadiah seperti ini," ucap salah satu orang di pinggiran tempat itu.
Mendengar hal tersebut, semua orang di sana menyerang Aska.
Pertarungan sengitpun terjadi. Aska membuat orang-orang yang menyerangnya terkapar hanya dengan dua sampai tiga gerakan silat dasar. Tinggal tersisa dua orang. Orang pertama yang tersisa menyerang Aska dengan menendang menerjang ke depan. Aska menghindari dengan santai serangan tersebut lalu Aska menyerang balik secara langsung menggunakan siku tangan kanan. Orang terakhir menyambung menyerang Aska di saat melihat Aska sedikit lengah setelah memukul orang terakhir pertama dengan memukul kebagian kepala Aska. Aska menghindari serangan tersebut mengelak ke sebelah kiri lalu menyerang balik dengan menendang kepala orang tersebut dengan tendangan menyilang belakang, hingga memuat orang tersebut terpental, jungkir balik dan terkapar.
"Hahaha benar-benar kuat seperti yang dirumorkan. Kau mengalahkan hampir empat puluh orang anak buahku dengan cepat," ucap Gigha.
"Mari kita lihat. Apakah kamu masih memiliki tenaga untuk melawan anak buahku yang ini," ucap Gigha.
Keluarlah orang-orang dari belakang Gigha. Orang-orang tersebut adalah murid dari Padepokan Gagak Hitam, begitu juga ketuanya Gigha berasal dari padepokan tersebut. Bahkan menjadi salah satu murid terkuat di Padepokan Gagak Hitam.
Aska berlari ke depan begitu juga para anak buah tersebut. Namun Aska tidak melawan, melainkan Aska meloncat ke atas dengan menolakan tangan ke pahu anak buah Gigha tersebut lalu meloncat dan menendang ke arah ketua kelompok perkumpulan macan kumbang. Serangan Aska ditahannya dengan mudah lalu Aska langsung memutar tendangannya menjadi tendangan silang belakang. Saat melancarkan serangan kedua, kaki Aska di tangkap dan dicengkram, lalu Aska dilemparkan sampai ke dekat pintu gerbang. Pada saat terlempar di udara, Aska memutar balikan badannya dan mendarat dengan baik.
"Ternyata kau tangguh juga ya... Serang...," ucap Gigha.
Anak buahnya dari padepokan Gagak Hitam berkumpul dan menyerang secara bersamaan. Pada saat mereka menghampiri Aska, Aska mengeluarkan Ajian Tapak Saketi dengan cukup kuat hingga mereka semua terpental sampai depan ketua kelompok perkumpulan macan kumbang.
Secara langsung, Aska berlari dan meloncat lalu melancarkan tendang kaki kanan yang sama seperti pada sebelumnya. Sewaktu Gigha akan menahan tendangan Aska, Aska menghentikan serangannya dan langsung memutar badan ke bawah dan menendang kaki Gigha hingga terjatuh.
Secara langsung Aska menyerang lagi. Namun, Aska berhenti sewaktu serangan Aska hampir mengenai Gigha karena diancam menggunakan Citta.
"Berhenti atau nyawa gadis ini melayang," ucap anak buah Gigha yang memegang Citta.
Askapun berhenti. Lalu dengan cepat Gigha memukul Aska saat lengah dengan keras hingga Aska terpental.
Aska kebingungan, karena sulit sekali melawan orang itu jika diancam dengan sandra.
Aska menarik nafas untuk menenangkan pikirannya lalu menutup mata. Pada saat Aska membuka mata seluruh orang yang menahan Citta sudah terkapar dilantai dan Citta sudah berada di tangan Ki Salawi.
"Siapa kau?" ucap Gigha.
Tanpa membuang waktu Aska langsung memukul mundur Gigha dengan Jurus Tapak Sakti.
"Hahaha... Lumayan kalian sudah membuatku kesal... Sekarang aku akan mulai serius," ucap Gigha mengambil kuda-kuda pembuka.
Aska menggunakan kuda-kuda pembuka tarian silat dasar bunga mawar. Setelah saling membuka kuda-kuda, keduanya menyerang. Mudah sekali bagi Aska menghindari serangannya karena lambat. Namun, setelah dipukul berkali-kali Gigha tidak tumbang-tumbang.
***
Beberapa hari yang lalu. Sewaktu Aska sedang berlatih.
"Aska ingatlah, sekuat apapun orang di dunia ini, tetap bisa dikalahkan jika kamu lebih kuat dari orang tersebut," ucap Ki Salawi.
***
Setelah mengingat ucapan Ki Salawi, Aska menyerang dengan kekuatan penuh. Gigha menyerang dengan pukulan, Aska menahan dan menghindar sedikit lalu menerjang kedepan menggunakan jurus Tapak Sakti. Setelah terkena serangan Aska, Gigha langsung menyerang kembali dengan cepat. Aska mengelak dan menyerang lagi dengan Jurus Tapak Sakti. Aska terus menerus menyerang dengan Jurus Tapak Sakti hingga akhirnya Gigha merasakan sakit dari serangan Aska.
Gigha terlihat marah dan berlari mengarah kepada Aska. Secara cepat Aska mengeluarkan Jurus Jeblag dengan mengerahkan seluruh hawa energi tenaga dalamnya. Jurus Jeblag Aska mengenai telak dan membuat Gigha terpental sampai menghantam dinding dengan keras dan langsung terkapar.
Dengan sedikit tenaga Aska berjalan menghampiri Citta, begitu juga Citta berjalan sempoyongan dan menjatuhkan diri kedalam pelukan Aska. Citta menangis, air matanya bercucuran membasahi pipinya. Lalu Aska mengelap air matanya.
"Sudah jangan menagis. Aku ada disini," ucap Aska.
Setelah itu Aska membawa pulang Citta dengan menggendonganya diikuti Ki Salawi dari belakang.
Perjalanan pulang Aska diiringi matahari senja yang membuat suasana menjadi hangat.