Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Seleksi Masuk Akademi VII



Situ Kong yang melihat kedua musuhnya sudah lemah langsung mengambil tindakan dengan melakukan serangan terakhir.


“Terimalah, Tapak Penghancur Gunung”


Sinar terang menutupi pandangan Varya dan Srikandi.


‘Berakhir sudah’


Batin Varya dan Srikandi.


Bang!


Varya dan Srikandi menunggu dalam diam sambil menutup mata. Mereka terus menunggu datangnya serangan itu, tapi entah kenapa serangan itu tidak pernah mereka rasakan. Karena penasaran, mereka berdua lalu membuka mata untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka begitu kaget melihat adanya seseorang yang berdiri di hadapan mereka.


“Aran”


Kata mereka berbarengan.


Mendengar namanya disebut, Aran hanya tersenyum menatap mereka berdua.


“Kalian berdua beristirahatlah. Biar aku yang melanjutkan sisanya”


Perkataan Aran ini membuat hati mereka begitu tenang. Dengan adanya Aran, mereka yakin bahwa mereka dapat memenangkan pertarungan ini.


“Kau, siapa kau! Kenapa kau dapat menangkis seranganku dengan mudah”


Situ Kong berkata sambil menunjuk ke arah Aran. Kini ia sedikit trauma dengan orang yang menggunakan topeng.


“Aku adalah aku, untuk apa kau tau siapa aku”


Jawab Aran semaunya.


“Brengsek kau! Semuanya, habisi dia”


Situ Kong memimpin semua kelompoknya untuk maju menerjang ke arah Aran.


Tanpa mengurangi kekuatan, kelompok Situ maju menyerang Aran dengan ganasnya.


Wussh


Tebasan pertama.


Wushh


Tebasan kedua.


Aran dapat menghindari semua serangan Keluarga Situ yang menggunakan berbagai macam senjata.


“Sialann, seandainya pedang milikku ada disini”


Berkali-kali Situ Kong mengumpat karena kehilangan pedang yang sangat ia sukai.


Aran yang mendengar umpatan Situ Kong hanya tersenyum sinis.


‘Huhuhu, seandainya kamu tau kalau pedangmu ada padaku’


Batin Aran.


“Gerak Langit”


Bukk


“Arghhh”


Teriak salah seorang penyerang yang langsung terlempar jauh keluar arena.


“Huhuhu, satu menghilang”


Kata Aran sambil terus bergerak menghindari serangan musuh.


“Sialann kau!”


Teriak Situ Jingmi. Ia begitu kesal terhadap Aran, karena kedatangan Aran merusak semua rencananya.


“Kena kau”


Wussh


Kali ini Aran menendang musuhnya yang lengah.


“Uaarrrgg”


Teriak salah satu kelompok Situ yang terkena tendangan Aran dan terlempar jauh.


“Satu lagi’


Aran langsung melakukan serangan beruntun dengan menyerang kembali salah satu musuhnya.


Bukk


“Arrghh”


Teriak seorang pria yang terkena pukulan Aran. Tapi pria ini tidak terlempar, melainkan diam sambil memegangi perutnya. Dalam sekejap tubuhnya ambruk ke lantai arena dan pingsan.


“Sekarang tinggal kalian berdua”


Kata Aran sambil menatap dua orang dari Keluarga Situ yang tersisa.


“Berlututlah seperti anjingg, maka aku akan mengampuni kalian”


Perkataan Aran yang merendahkan mereka ini membuat hati mereka panas terbakar.


“Brengsekk kau, aku tidak akan puas sebelum menghajarmu sampai cacat”


Situ Kong langsung bergerak cepat menyerang Aran. Melihat Kakaknya maju, Situ Jingmi juga ikut maju menyerang Aran.


“Heaaa”


Situ Kong dan Situ Jingmi kembali melakukan serangan cepat terhadap Aran. Tapi semua serangan mereka sia-sia, karena Aran malah mempermainkan mereka dengan melakukan serangan balasan yang tidak masuk akal. Seperti menampar wajah mereka atau menendang pantat mereka dari belakang hingga akhirnya mereka berdua jatuh tersungkur.


“Sudah saatnya kalian keluar dari arena ini”


Kata Aran.


Aran lalu bergerak cepat untuk melakuan pukulan terakhir yang akan membuat mereka berdua tertidur.


Bang!


“Maaf, aku tidak bisa membuat kamu menyingkirkan mereka”


Kata orang tersebut yang tidak lain adalah Xiao Jun.


“Kenapa kau menghalangiku”


Tanya Aran padanya.


“Karena Keluargaku dan Keluarga Situ adalah aliansi. Saya ditugaskan untuk menjaga kedua orang ini agar mereka berhasil masuk Akademi. Mohon berikan belas kasihmu pada mereka”


Kata Xiao Jun dengan sopan. Ia sangat berharap bahwa pemuda bertopeng dihadapannya ini mau memberinya muka untuk tidak membuat kedua orang Keluarga Situ yang tersisa tidak keluar dari arena.


“Jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan”


Jawaban dari Aran ternyata malah berbeda dengan harapannya.


“Jika begitu, maka aku akan bertarung denganmu”


Jawab Xiao Jun tanpa ragu.


Kini Aran dan Xiao Jun saling bertatapan.


Tidak lama datang Xiao Ling dan Xiao Fei di sisi Xiao Jun.


“Aku akan membantumu Kakak”


“Aku juga”


Kata Xiao Ling dan Xiao Fei berbarengan.


Melihat para anggota Keluarga Xiao berkumpul membuat Aran sedikit terdiam. Bagi Aran, seluruh Keluarga Xiao tidaklah ia takuti. Ia hanya tidak ingin melukai Xiao Ling.


Sejenak Aran melirik wajah Xiao Ling.


‘Kenapa gadis ini harus menjadi bagian dari Keluarga Xiao’


Batin Aran.


Aran lalu berdiri diam dihadapan Keluarga Xiao dan Keluarga Situ.


“Sudahlah lupakan”


Berkata Aran kepada mereka semua sambil membalik badannya dan berjalan ke tempat Varya dan Srikandi berada.


“Kakak, apa kita perlu menghajarnya. Pria itu sama sekali tidak menghormati kita”


Kata Xiao Fei kepada Xiao Jun.


“Jangan, percayalah padaku. Lebih baik kita tidak bermusuhan dengannya”


Jawab Xiao Jun sambil terus menatap Aran.


“Tapi Kakak..”


Xiao Fei tetap tidak terima dengan perkataan Kakaknya ini.


“Sudah diam, jangan diteruskan. Kedatangan kita kesini untuk mengikuti seleksi bukan untuk mencari banyak musuh”


Akhirnya semua orang mau mendengarkan perkataan Xiao Jun. Mereka lalu berkumpul bersama dan saling memulihkan kekuatan mereka. Tidak ada satupun orang yang berani mengusik mereka.


Aran juga sudah berada di tempat Varya dan Srikandi berada.


“Apa kalian tidak apa-apa”


Tanya Aran pada mereka semua.


“Tidak, kami tidak apa-apa. Ini hanya luka ringan, istirahat sebentar juga sembuh”


Varya berkata kepada Aran. Kini mereka mulai duduk bersama menonton pertarungan antara Taeyang dan Rumbun menghadapi Kelompok Parsy.


Dari kejauhan mereka melihat bahwa Taeyang dan Rumbun bertarung dengan sangat hebat. Koordinasi antara mereka berdua benar-benar sangat akurat. Kerjasama mereka berdua membuat kelompok Parsy dibuat kalang kabut.


“Sialan dua monyett ini, kerjasama mereka begitu kompak”


Berkata Pangeran Parsy kepada musuhnya.


“Kau memanggil kami monyet, dari pada kalian sekumpulan babii merah dungu. Badan kalian saja yang besar seperti babii, tapi otak kalian..”


Taeyang tidak mau melanjutkan perkataannya, membuat Rumbun penasaran. Bukan hanya Rumbun yang penasaran, sebenarnya kelompok Parsy juga penasaran, tapi mereka memilih diam.


“Seperti apa saudara, ayo lanjutkan perkataanmu”


Kata Rumbun kepada Taeyang. Kini posisi Taeyang dan Rumbun sedang dikelilingi oleh kelompok Parsy.


“Sama saja Saudara Rumbun, tubuhnya Babii yang tentu saja otaknya seperti babii. Apa kau pernah melihat babii otaknya keledai dungu seperti mereka”


Perkataan Taeyang membuat Rumbun tertawa.


“Hahaha, kamu bisa saja Saudaraku”


Obrolan Taeyang dan Rumbun membuat kelompok Parsy begitu murka. Siapapun yang dihina seperti ini pasti akan marah.


“Aku tidak akan pernah memaafkan kalian, sialaannn”


Teriak Pangeran Parsy dengan sangat keras.


“Semuanya serang mereka. Buat mereka menyesal telah berani menyinggung kita”


“Serangg”


Dengan komando dari Pangeran Parsy, seluruh kelompoknya kembali maju menyerang Taeyang dan Rumbun.


Di sisi arena, Aran bersama Varya dan Srikandi tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha, mulut Taeyang semakin kurang ajar. Siapa yang mengajarinya berkata seperti itu”


Kata Aran yang masih saja tertawa melihat ke arah Taeyang dan Rumbun.


“Tentu saja ia belajar darimu, memang siapa lagi orang yang hobinya membuat orang lain murka”


Perkataan Varya malah membuat Aran kembali tertawa lepas.


“Hahahaha”