Pendekar Nusantara

Pendekar Nusantara
Treasure



Ghafar memanggil salah satu murid Senior di Sekte Tengkorak Hitam.


Maksud dirinya memanggil murid tersebut adalah untuk menanyakan keberadaan ruang harta yang dimiliki oleh Sekte Tengkorak Hitam. Baginya, untuk apa ia meratakan sekte jika tidak sekalian mengambil keuntungan.


Salah seorang murid senior menghampir Ghafar.


"Tuan, apakah Tuan memerlukan saya"


"Ya"


"Apa yang bisa saya bantu"


Murid itu begitu hormat berkata dihadapan Ghafar.


"Apakah kamu mengetahui, dimana ruang harta Sekte Tengkorak Hitam"


"Ya, saya mengetahuinya Tuan.


"Bagus, bawa kami kesana"


"Baik Tuan"


Ghafar lalu mengajak Aran untuk mengikuti murid tersebut.


Mereka berjalan menuju kebelakang sekte. Dimana, dibelakang sekte terdapat beberapa goa. Tapi dari sekian banyak goa, hanya ada satu goa yang benar. Karena gua lainnya adalah goa jebakan yang didalamnya terdapat jebakan racun dan hewan buas.


"Disini Tuan"


Murid itu berhenti didepan salah satu goa yang tertutupi oleh dedaunan yang sangat lebat. Bahkan nampak seperti tidak terurus. Mungkin tidak ada yang tau bahwa tempat ini adalah ruang harta, selain murid inti sekte.


Ghafar berjalan menuju goa yang dimaksud dan berhenti didepannya.


"Ada array formasi pelindung goa"


"Benar Tuan, hanya Ketua dan Wakil Ketua yang bisa memasuki gua ini"


Berkata murid senior dihadapan Ghafar.


Aran menatap array formasi dihadapannya, lalu ia berkata "Tuan, kita sudah membunuh Ketua dan wakil ketua sekte. Bagaimana kita bisa memasukinya sekarang" Padahal dalam hatinya Aran yakin, dengan kemampuan mata surgawi ia mampu membuka formasi ini.


"Kalau tau begini aku tidak akan membunuh mereka dulu"


Ghafar hanya bisa mengelus jenggotnya.


"Apa dengan levelmu tidak bisa membuka segel ini"


"Tidak bisa Aran, array formasi ini tidak akan bisa dibuka selain pemilik kunci. Walau Kaisar Iblis sekalipun yang memaksa untuk membukanya. Skema Array ini sangatlah rumit, salah perhitungan bisa melukai diri sendiri"


Aran hanya mengangguk mendengarkan perkataan Ghafar.


"Jika aku bisa membukanya, apa yang akan kau berikan padaku"


Mendengar Aran, Ghafar hanya menatapnya dengan bingung.


"Aku akan menikahkan cucuku padamu"


"Hahahaha"


Aran hanya tertawa mendengarnya "Itu mah maumu Tuan"


"Bajingann cilikk sombong"


Ghafar menendang pantat Aran yang terus tertawa.


Senior Tengkorak Hitam hanya menatap bingung melihat mereka berdua.


"Tidak ada yang bisa membuka ini Tuan, jika tidak memiliki segel kunci"


Jawab murid senior kepada Aran dan Ghafar.


"Apakah kau berani bertaruh?"


Tanya Aran kepada murid tersebut "Ah, sekalian denganmu Tuan. Apakah kamu juga berani bertaruh"


Ghafar menatap Aran.


"Huh, baik aku terima. Jika kau bisa membuka segel ini aku akan memberikan pedang neraka padamu. Aku tau kau sangat menginkan pedang pusaka yang kudapat dari Sekte Hantu Hitam. Namun jika kau kalah, kau harus menikah dengan cucuku. Bagaimana menurutmu"


"Ok, Setujuu"


"Lalu, bagaimana denganmu"


Aran berkata kepada murid senior sekte.


"Jika Tuan bisa membukanya, saya akan berlutut dan memanggil tuan Ayah"


"Hahahahhaa"


"Deall"


Aran berkata dengan keras.


"Jika aku kalah, aku juga akan melakukan hal sebaliknya padamu"


"Sudah cepat buktikan pada kami, jika kau memang mampu"


Aran lalu berjalan ke pintu masuk goa.


"Mata Surgawi"


Seketika Aran bisa melihat garis-garis emas formasi yang saling terkait satu sama lain.


'Oooh, ternyata ini seperti benang kusut. Hebat juga yang membuat formasi ini' Berkata Aran didalam hatinya.


*Hahaha\, sombong sekali kau anak muda*


*Eh Raja Naga\, kau mendengar kata hatiku rupanya. Hahaha\, jadi malu*


Tanpa bantuan mata surgawi, mana mungkin Aran dapat melihat susunan formasi dihadapannya ini. Dia sangat berterima kasih kepada Kedua Raja Naga, karena ilmu hebat yang diberikan kepada dirinya.


Aran sekarang mulai menggunakan aura naga biru untuk membuka segel dihadapannya.


"Aran, auramu lebih terlihat seperti api yang memiliki kesadaran"


Ghafar terus menatap apa yang dilakukan oleh Aran. Gerakan tangan Aran sangat cepat. Walau Ghafar bisa melihat gerakan yang dilakukan Aran, namun tetap saja untuk bisa melakukan hal yang sama rasanya sangatlah sulit.


"Apa-apaan anak ini, pola yang dilakukannya sangat sulit dan begitu banyak kombinasi"


Ghafar akhirnya menyerah dan lebih baik menunggu saja sampai Aran selesai.


Bang!


Segel terbuka disertai dengan sinar cahaya yang keluar cukup terang dari pintu masuk gua.


"Beres"


Ucap Aran.


"Sudah selesai Aran"


Tanya Ghafar karena melihat Aran yang sudah tidak melakukan gerakan tangan lagi.


"Sudah, silahkan masuk"


Dipimpin oleh Aran, mereka semua lalu memasuki goa tersebut. Walau awalnya ragu namun melihat Aran masuk dengan santainya membuat mereka menjadi yakin bahwa segel ini sudah hilang.


Ketika mereka semua sudah memasuki goa, Aran langsung berhenti dan tersenyum.


"Ada apa Aran, kenapa kau tersenyum"


Ghafar menatap Aran dengan bingung.


"Sepertinya ada yang melupakan janjinya tadi"


Berkata Aran dihadapan mereka berdua.


"Janji apa ya?"


Tanya Ghafar.


"Tidak usah pura-pura lugu Tuan"


Mendengar perkataan Aran, murid senior yang berada disebelah Ghafar langsung berlutut dihadapan Aran.


"Ayah"