
"Semuanya!! Beri hormat kepada Kepala Intelijen Sekte Pedang Iblis"
Langsung terdengar suara gemuruh semua orang yang ada disitu.
"Panjang umur Tuan Ghafar! Panjang Umur, jaya selalu Sekte Pedang Iblis"
Mereka semua juga menundukkan tubuh mereka ke arah Tuan Tua. Mereka yang hadir adalah petinggi Sekte Pedang Iblis.
Inilah peraturan yang ada di dunia jin, dimana yang kuat akan dihormati. Dengan hadirnya Alam Kaisar Iblis didalam sekte mereka, maka bisa dipastikan mereka akan menjadi sekte nomor satu di wilayah ini. Mereka semua begitu bahagia ketika mendengar kabar bahwa Tuan Ghafar telah berhasil naik level menjadi Kaisar Iblis. Berarti fenomena alam sebelumnya itu adalah dirinya.
Seorang pria yang terlihat sangat berwibawa dengan menggunakan jubah bersayap berjalan menghampiri Tuan Tua "Ghafar, tidak aku sangka keputusanmu untuk sementara menutup diri dari sekte adalah agar kamu bisa fokus menembus level kaisar"
Tuan Tua tertawa mendengar perkataannya "Ketua Zun terlalu memuji".
Mereka lalu tertawa bersama "Kenalkan dia adalah penolongku. Berkat dirinya, cucuku Eliza bisa sembuh dari penyakit" Tuan Tua mengenalkan Aran kepada Ketua Sekte Pedang Iblis.
"Hormat saya kepada Tuan" Aran memberikan hormatnya kepada Ketua.
"Tidak perlu sungkan, anak muda berbakat sepertimu sangat jarang ada di dunia ini" Kata Ketua "Apa kamu seorang tabib" Lanjut Ketua bertanya.
"Saya hanya sedikit mengerti ilmu pengobatan Tuan"
Ketua tertawa mendengarnya "Apakah kamu tau berapa banyak tabib sakti yang mencoba menyembuhkan penyakit cucu Ghafar, namun semuanya gagal"
Tuan Tua langsung menyudahi obrolan mereka semua "Mari-mari nanti saja dilanjutkan, kita mulai dulu jamuannya"
Mereka berjalan bersama ke kursi yang sudah disediakan, Aran juga melihat Bulan dan Bintang bersama Eliza dan Neneknya. Tempat duduk Aran sudah diarahkan bersebelahan dengan Tuan Tua.
Lalu mereka bersama-sama menyantap hidangan yang telah disediakan.
>>>
Kini Aran bersama Tuan Tua dan Ketua Zun berbicara bersama ditempat terpisah. Karena Ketua Zun penasaran dengan terobosan Tuan Tua, namun Tuan Tua tidak mengatakan rahasianya, ia lebih bercerita terkait rencananya untuk membalas dendam.
"Apa kau yakin akan melakukannya Ghafar?"
"Sangat yakin Ketua" Wajah Tuan Tua menunjukkan keseriusannya.
"Apakah kamu butuh bantuanku" Tanya Ketua Zun
"Tidak perlu, aku tidak ingin melibatkan sekte untuk urusan pribadiku. Cukup Aran yang akan menemaniku" Tuan Tua menepuk bahu Aran.
"Baiklah jika itu keputusanmu, tapi aku tetap akan mengirim seseorang jika keadaan tidak memungkinkan"
"Terserah kamu Ketua"
Acara begitu semarak, semua orang begitu bersuka cita.
Setelah perbincangannya dengan Ketua, Aran memutuskan untuk undur diri karena ia ingin menemui Bulan dan Bintang.
Melihat Aran berjalan ke arahnya, Bulan langsung menyapa Aran.
"Tuan, aku merasa kita sudah cukup lama tidak bertemu" Kata Bulan.
"Iya Tuan, kami berdua rindu Tuan" Bintang menambahkan.
Aran tersenyum mendengar mereka berdua berbicara. Tangan Aran mencubit pipi Bintang dengan gemasnya, membuat pipinya menjadi merah. Mereka bercengkrama bersama, rasanya sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Aran lalu meminta ijin kepada Tuan Tua untuk berjalan-jalan bersama dengan kedua saudaranya itu.
Aran sekilas melihat Eliza disudut ruangan, Eliza yang melihat Aran hanya tersenyum lembut menatapnya. Ia ingin sekali bisa berbincang bersama Aran, tapi tidak pernah ada kesempatan. Karena Aran terus terlihat sangat sibuk, jadi ia hanya bisa menatap Aran meninggalkan pesta bersama Bulan dan Bintang.
"Tuan apakah kita akan tetap bersama selamanya" Bintang berkata di pangkuan Aran.
"Hmm, kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Rasanya sulit untuk kita bersama selamanya" Aran tidak ingin menyembunyikan kenyataan kepada mereka.
"Apakah manusia dan jin tidak bisa hidup bersama" Bulan menambahkan.
"Setiap makhluk hidup didunia ini memiliki aturannya masing-masing"
"Apakah Tuan akan kembali ke dunia manusia?"
"Iya, saya akan kembali"
"Apakah kami bisa ikut bersamamu Tuan"
"Aku tidak tau apakah aku bisa membawa kalian atau tidak"
Bulan dan Bintang tau bahwa tidak mungkin Tuannya bisa membawa mereka. Kedua bersaudara itu hanya bisa menundukkan kepalanya, mereka tidak ingin berpisah dari Aran.
Melihat raut wajah mereka, Aran lalu memutuskan untuk menghibur mereka berdua "Sudah lupakan itu dulu, apakah kalian mau aku buatkan masakan yang enak"
Masakan Aran sangatlah nikmat, Bulan dan Bintang tidak bisa melupakan masakan Aran yang begitu lezat. Setelah mencoba masakan Aran, semua masakan yang pernah mereka makan rasanya biasa saja.
"Mauuuu" Mereka berdua menjawab bersamaan.
Aran hanya tertawa melihatnya. Aran lalu mengajak mereka berdua pergi ke kamarnya. Kemudian Aran menyegel kamar tersebut agar tidak ada yang bisa memasuki kamarnya.
Karena kamarnya lumayan besar, Aran menutup dirinya dengan kain. Agar Bulan dan Bintang tidak melihatnya memasak. Tidak menunggu lama, Aran langsung mengeluarkan perlengkapan masaknya dari Alam Giok Langit, ia mulai memasak dengan cepat. Berbagai bumbu ia masukkan kedalam masakannya, terutama daging. Aran sangat tau bahwa Bulan dan Bintang sangat menyukai daging dan daging yang dimiliki oleh Aran sangatlah banyak. Karena di Alam Gioknya tersimpan banyak daging hasil berburunya selama ini.
Karena Aran Tau nafsu makan mereka sangat besar, Aran memutuskan untuk memasak daging yang sangat banyak. Bau harum langsung memenuhi ruangan itu, apalagi bumbu yang Aran miliki adalah bumbu legendaris yang ia miliki dari Raja Naga.
Masakan Aran membuat Bulan dan Bintang meneteskan liurnya "Tuan apakah masih lama, kami sudah tidak sabar. Baunya sangat harum" Bintang terus mendenguskan hidungnya.
"Sabar ya, sebentar lagi"
Tidak lama Aran keluar, membawa berbagai macam masakan. Baunya sangat harum membuat siapapun yang menghirupnya seperti terhipnotis.
Bulan dan Bintang sudah tidak sabar untuk segera menyantap makanan yang dibawa Aran, tapi mereka tidak berani melakukan itu.
Setelah Aran meletakkan makanan tersebut di meja makan, terlihatlah berbagai macam masakan di meja itu.
Ada sup daging, daging panggang dan berbagai macam olahan daging.
"Aku tau kalian sudah tidak sabar, makanlah dengan lahap"
Selesai berkata seperti itu tangan Bulan dan Bintang langsung bergerak cepat mengambil makanan dimeja "Kami makann" ucap mereka berdua, Aran hanya tertawa melihatnya.
>>>
Keesokan harinya, Aran pergi pagi-pagi sekali. Ia tidak ingin membangunkan Bulan dan Bintang yang terlihat tertidur sangat lelap.
"Sudah siap Aran?"
"Sudah Tuan"
"Mari kita pergi"
Seketika, sekelebat bayangan bergerak meninggalkan rumah Tuan Ghafar.